[FF] Coffee Of Love – Part 5 Crushing


Annyeong…

Happy Reading ajah ^^

==========================

Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 5 – Crushing

(Author POV’s)

Sudah empat hari berlalu dan namja cantik itu belum menemukan tempat baru untuk tinggal. Ia sudah mulai tidak tahan dengan sikap dingin dan menyebalkan dari seorang namja yang menolongnya. Walaupun Jaejoong menganggap bahwa namja jangkung bermata musang itu baik tapi namja itu tidak pernah sedikit pun bersikap baik terhadapnya. Malah sering kali hal yang dilakukannya membuat Jaejoong kesal. Contohnya saja sekarang, membuatnya menunggu berjam-jam di depan tempat kursus music karena Yunho berjanji akan menjemputnya jika pulang terlalu larut.

“Ish! Mana sih manusia itu!” Gerutu Jaejoong menghentakkan kakinya kesal. Di jalan yang sudah mulai sepi Ia masih saja berdiri menunggu menahan dinginnya angin yang berhembus.

“Boo! Cepat naik!” Tiba-tiba suara bass menyapa telinganya. Jaejoong menoleh dengan muka masam. Menatap sosok tinggi dalam balutan jaket kulit di atas motornya.

“Kau sudah telat dua jam Jung Yunho! Dua jam! Kalau tidak ingin jemput tidak usah memaksakan diri!” Sungut Jaejoong kesal sembari menghampiri Yunho. Namja berkulit tan itu hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.

“Bawel!” Ucapnya. Membuat wajah Jaejoong memerah menahan rasa kesalnya. Entah mengapa sekarang. Detik ini. Ingin rasanya Ia mencakar-cakar wajah kecil di depannya lalu menangis sepuasnya.

“Mau naik tidak?” Tanya Yunho menatap wajah cantik di sampingnya yang tengah menatapnya kesal. Jaejoong mengepalkan tangannya kesal. Sungguh sangat kesal.

“Tidak! Sana pulang!” Bentak Jaejoong akhirnya berjalan pergi meninggalkan Yunho yang terdiam melihat sosok ramping itu mulai menjauh. Namja itu pun memutar arah motornya dan mengikuti sosok itu.

“Kau marah?” Tanya Yunho tanpa rasa bersalah. Jaejoong hanya berjalan dengan cepat tanpa mau menoleh. Berusaha menutupi matanya yang mulai sembab karena kekesalannya yang sudah mulai memuncak

“Boo?” Panggil Yunho lagi memberhentikan motornya di depan Jaejoong. Membuat namja cantik itu terpaksa menghentikan langkahnya.

“Iya! Aku marah! Puas!” Bentak Jaejoong kesal. Yunho menatap wajah indah di depannya yang sudah tampak kemerahan. Hidungnya pun kini berubah menjadi merah.

“Kau menangis ya?” Tanya Yunho lagi. Membuat Jaejoong kehabisan kata-kata untuk menghadapi sikap tidak sensitive dari namja ini.

“Lupakan Yun~” Ucap Jaejoong lirih lalu meneruskan langkahnya. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti oleh sergapan tangan besar yang menahan tangannya. Jaejoong menoleh dan menatap Yunho. Namja bermata musang itu hanya menggerakkan kepalanya agar Jaejoong segera menaiki motornya.

“Pulang, sudah malam.” Ucap Yunho datar. Jaejoong menghela nafasnya pelan. Walaupun kesal akhirnya Ia menurut juga untuk menaiki motor Yunho.

*Sesampainya di Apartment*

Yunho segera menggelar futon tanpa berkata apa-apa begitu juga dengan Jaejoong yang hanya terdiam sejak tadi.

“Tidurlah dengan nyaman.” Ucap Yunho sembari membawa selimutnya pergi keluar.

“Mau kemana?” Tanya namja cantik itu bingung.

“Tidur, di tempatnya Changmin.” Ucapnya datar. Jaejoong mengerutkan dahinya. Nyaris seminggu Ia tinggal di sini tapi Ia tidak tahu siapa yang disebut oleh Yunho.

“Changmin?” Tanya Jaejoong bingung.

“Nde~tetangga depan kamar. Kalau kau tidak pernah melihatnya seminggu ini. Ia tengah berlibur ke rumah neneknya.” Ucap Yunho lagi.

“Lalu kau akan tidur dimana?” Tanya Jaeejoong lagi.

“Di kamarnya. Aku membawa kunci apartmentnya untuk jaga-jaga. Sudah istirahatlah! Jalja~” Ucap Yunho beranjak dari tempatnya. Namja berwajah bak malaikat itu hanya terdiam menatap Yunho berjalan keluar kamar. Sedih juga sakit. Entahlah tapi ada rasa yang bergemuruh dari di dalam dadanya. Jaejoong terpekur duduk di atas futon tanpa mau memejamkan mata barang sedikitpun. Kesal iya kesal tapi kenapa namja itu tidak pernah bersikap seperti bahwa Ia merasakan sesuatu.

Ckrek!

Jaejoong segera menoleh saat matanya menangkap sosok yang tengah berlarian di kepalanya melangkah masuk.

“Belum tidur?” Tanya suara itu yang hanya di balas gelengan kepala oleh Jaejoong. Sosok itu segera merebahkan dirinya di samping Jaejoong.

“Pemanas di kamar Changmin mati jadi aku pindah. Lebih baik kau tidur.” Ucap Yunho lagi membalik tubuhnya membelakangi Jaejoong yang tengah terperangah.

“Tetap saja menyebalkan!” Gerutu Jaejoong sembari merebahkan tubuhnya kesal.

“Kau bilang apa?” Tanya Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong kembali terlonjak kaget.

“Anniya.” Ucap Jaejoong cepat.

“Mian.” Sahut Yunho. Jaejoong terdiam kaku mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir hati milik Yunho. Selama Ia tinggal bersama namja ini tidak pernah Ia mendengar Yunho mengucapkan Terima kasih atau pun kata maaf.

“nde~” Sahut Jaejoong singkat.

“Jalja~” Ucap Yunho lagi. Jaejoong hanya terdiam.

*Pagi hari*

Namja berkulit tan itu terbangun karena mencium sesuatu yang menggelitik hidungnya. Sambil mengerjap-ngerjapkan mata musangnya yang kecil Yunho seakan menangkap sesosok mahluk dengan sebuah telinga besar di kepalanya. Namja itu menggosok matanya untuk menjernihkan penglihatannya.

“Hya! Sedang apa kau!?” Pekik Yunho melihat sosok yang tengah memasak di dapur menggunakan piyama yang memiliki tudung berupa kepala hamtaro.

“Sudah bangun?” Tanya Jaejoong melirik sekilas ke belakang. Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat pemandangan di depannya. Bingung dan aneh melihat seorang namja dengan pakaian seperti itu.

“Dasar aneh!” Sungutnya pada diri sendiri lalu bergegas membereskan futon dan memasukkannya ke dalam lemari. Setelah itu Yunho pun masuk ke dalam kamar mandi.

(Jaejoong POV’s)

Aku tengah menyiapkan sarapan untuk kami berdua di hari sabtu yang cerah ini. Walaupun di luar salju cukup lebat dan cuaca sangat dingin.

“Yun sara~~” Aku menggantungkan perkataanku tatkala melihat tubuh setengah telanjang berkulit tan itu keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk.

“Wae?” Tanyanya polos sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Aku menggeleng gugup melihat pemandangan itu di depanku. Aku menelan salivaku saat namja manly itu mengibaskan rambut basahnya.

“Ya! Kau kenapa?” Tanya Yunho lagi membuatku terkejut. Aish pabonya aku!

“Kau! Kenapa tidak pakai baju di dalam!” Perintahku pada namja yang dengan santainya membuka lemari baju dan mengambil dalamannya.

“Ini kan apartment ku! Sesuka ku dong! Lagian kau juga namja kan.” Jawabnya datar sembari melepaskan handuk yang digunakannya. Aku pun tercengang menatap tubuh polos di hadapanku. Jantungku nyaris copot melihat pemandangan yang terhampar di hadapanku. Tapi sedetik kemudian keningku berkerut saat melihat guratan memanjang di tulang belikatnya. Seperti tanda bekas operasi.

“Kau melihat apa?” Tanya Yunho lagi-lagi membuatku terlonjak kaget. Namja itu berbalik kehadapku sembari mengenakan kaos oblong putih. Aku pun kembali melihat guratan itu di dadanya.

“Anni.” Kataku cepat-cepat memalingkan wajah ke tempat lain. Aku takut wajahku yang memanas ini akan terlihat olehnya.

“Bubur ya? Tumben memasak lagi.” Tanyanya kemudian setelah duduk di meja makan. Aku hanya mengangguk kikuk melihatnya. Aku memasak lagi karena ucapannya semalam. Pendek tapi berarti.

‘mian’

“Kau kenapa hah? Wajahmu merah begitu.” Ucap namja itu membuatku semakin malu di buatnya. Aku menunduk tidak berani menatap wajah kecil di hadapanku yang tengah menatapku.

“Ck! Dasar aneh!” Decaknya melanjutkan makan. Kami pun makan dalam diam. Hanya terdengar bunyi sendok yang berbenturan .

“Masakanmu enak.” Ucap Yunho tiba-tiba membuatku menoleh kearahnya. Namja itu hanya menatapku dingin dengan sepasang mata coklat miliknya.

“M-mwo?” Tanyaku memastikan bahwa pendengaranku masihlah baik. Kemarin Ia mencaci masakanku dengan bilang tidak enak. Sekarang Ia bilang enak.

“Kau sudah mendengarnya kan.” Lanjutnya lagi tanpa emosi. Sungguh namja yang sangat dingin.

Tok tok tok

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Yunho pun segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu.

“Min, sudah pulang?” Tanya Yunho pada seseorang di luar. Aku pun ikut bangkit dan menghampiri Yunho yang tengah berbincang dengan seseorang. Aku mengenali sosok tinggi kurus seperti tiang listrik ini. Anak yang mengekor pada Yunho saat pertama kali Ia bertemu.

“Boo, ini Changmin.” Ucap Yunho memperkenalkanku pada namja yang ternyata bernama Changmin.

“Annyeong~ Kim Jaejoong imnida.” Ucapku memperkenalkan diri pada namja yang masih terlihat kekanakan itu.

“Shim Changmin imnida. Bukankan hyung yang bekerja di Coffee Cojjee itu kan?” Tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk

“Oh kekasihmu hyung?” Tanya Changmin pada Yunho dengan polosnya.

“Ha!? Yang benar saja! Dia namja.” Ujar Yunho. Aku terdiam entah kenapa hati ini sakit seperti tertusuk-tusuk. Kalau aku namja kenapa? Kau tidak suka padaku? Kenapa saat itu kau menciumku? Banyak pertanyaan tiba-tiba berputar di otakku tapi aku hanya memendamnya saja.

“Ara ara! Aku hanya mau kunci apartmentku kembali.” Ucap Changmin kemudian. Yunho pun menyerahkan kunci kamar Changmin.

“Gomawoyo hyung. Annyeong~” Pamit namja jangkung itu. Yunho pun menutup pintu dan aku segera membereskan piring-piring kotor dan segera mencucinya.

“Kau ada rencana?” Suara Yunho membuatku terlonjak. Sejak kapan Ia berdiri di belakangku? Aku menggeleng.

“Mau jalan-jalan?” Tanyanya lagi. Seketika aku berhenti dari kegiatan mencuciku dan berbalik menghadapnya.

“Jalan-jalan?” Tanyaku menyakinkan. Dia hanya mengangguk dengan tatapan yang sama. Datar. Selalu seperti itu.

“Nde~” Ucapku akhirnya.

*Di sebuah taman yang tertutup salju

(Author POV’s)

Butiran salju itu mulai berjatuhan di sebuah taman dimana terlihat sesosok mahluk indah tengah duduk di sebuah bangku taman. sosok cantik itu menatap telapak tangannya yang sengaja ditengadahkan. memperhatikan bulir2 salju yang jatuh ke telapak tangannya yang dibalut sarung tangan berwarna merah muda.

“Sedang apa?” Tiba-tiba sebuah suara manly mengagetkannya. namja cantik itu mendongak dan mendapati sosok jangkung tengah berdiri di hadapannya dibalut mantel coklat yang agak lusuh. penampilannya sungguh sangat acak-acakan.

“Melihat salju.” Jawab namja cantik itu singkat.

“Konyol!” Cibir namja jangkung itu lalu duduk di samping sang namja cantik. Tapi namja cantik itu tidak membalas cibiran sang namja jangkung. Tidak ada gunanya menanggapi perkataan bodoh dan menyakitkan dari seorang namja bermarga Jung di sebelahnya.

“Boo?” Panggil suara manly itu lagi. mau tidak mau namja cantik yang dipanggil ‘Boo’ itu menoleh. terkejut saat wajah Yunho berada sangat dekat di hadapan wajahnya. nafas hangat namja bermata musang itu bisa sangat dirasakan pemilik wajah feminis itu. bibirnya kelu untuk menggerutu kala wajah itu makin mendekat seraya dengan debar jantungnya yang semakin tidak terkendali.

“Hahahahahahaha wajahmu bodoh sekali Jaejoong!” Tawa Yunho segera pecah ketika melihat semburat merah muda terpancar di wajah mulus Jaejoong. Namja jangkung itu bangkit sambil terus tertawa.

“Ternyata kau ingin aku cium ya! hahahaha!” Tawa meledek makin terdengar keras. membuat Jaejoong menahan kesalnya dalam hati. setitik airmata hampir jatuh karena rasa malunya kenapa wajahnya harus memerah.

“Mati saja kau Jung Yunho pabo!!! menyebalkan!!!!” Teriak Jaejoong berlari dari hadapan namja musang itu yang seketika menutup mulutnya untuk berhenti tertawa.

Jaejoong pun berlari sejauh mungkin dari jangkauan Jung Yunho. Hatinya sakit. Sudah cukup sakit untuk mendengar tiap kata pedas yang meluncur dari bibir namja berwajah kecil itu. padahal Ia sudah senang diajak jala-jalan oleh namja pasif itu. tapi apa? Jung Yunho itu tetap saja membuatnya kesal. tapi yang membuatnya lebih sakit adalah ucapannya tadi pagi.

‘Ha!? Yang benar saja! Dia namja.’

Jaejoong serasa ingin menangis sekeras-kerasnya. Menangisi kebodohannya membiarkannya jatuh terlalu dalam dalam hipnotis Yunho. Sepasang mata musang yang berwarna coklat telah membuatnya menyukai namja tampan yang sebenarnya masih sebuah misteri untuknya. Tapi Ia jatuh cinta dengan cepat. Tanpa Ia sadari Ia mulai menyukai  Yunho yang menyebalkan sejak…

‘…Jadi aku menciummu agar kau diam.’

Jaejoong menghentikan langkahnya di sebuah jembatan di atas anak sungai yang membeku. Ia terdiam sejenak mengatur nafasnya yang menderu kelelahan sebelum melanjutkan langkahnya yang gontai. Masih merutuki kebodohannya menyukai namja yang bahkan tidak menyukainya sama sekali.

“Boo!!” Jaejoong segera menoleh saat sebuah suara memanggilnya dari kejauhan. Ditatapnya siluet yang perlahan mulai jelas. Sosok tinggi besar dengan sebuah mole di atas bibir kirinya.

“Hosh~hosh~ kau ini~hosh” Ucap Yunho terengah-engah saat berusaha menjajari langkah Jaejoong. Jaejoong hanya terdiam memandang namja di sampingnya.

“Aku hanya bercanda!” Omelnya kemudian sembari menatap doe eyes di hadapannya. Jaejoong hanya terdiam.

“Mian.”

DEG

Kata itu lagi. Kata yang sangat jarang dikeluarkan oleh seorang Jung Yunho. Kata-kata yang singkat tapi mampu membuat pertahanan Jaejoong luluh lantah. Jaejoong menatap kedua mata musang di hadapannya. mencari ketulusan dari kata singkat itu.

“Nde~” Ucap Jaejoong akhirnya. Ia tidak bisa menebak isi hati Yunho. Bahkan matanya pun terlihat tanpa emosi. Datar. Dingin. Penuh mistery.

“Hati-ha~”

Brukk!

Sebelum Yunho selesai bicara Ia sudah melihat tubuh mungil itu tergelincir es yang diinjaknya. Membuat wajah cantik itu meringis menahan sakit.

“Appoo~” Isaknya merasakan kakinya berdenyut-denyut nyeri.

“Sudah kubilang hati-hati!” Gerutu namja jangkung itu melangkah ke hadapan Jaejoong dan berjongkok memunggungi Jaejoong.

“Mwo?” Tanya Jaejoong bingung.

“Cepat naik! Cerewet!” Gerutu Yunho lagi. Jaejoong pun menuruti suruhan Yunho dan segera naik di punggungnya. Yunho pun menggendong Jaejoong di punggungnya.

“Jalan itu lihat-lihat! Matamu kan besar!” Omel Yunho lagi.

“Nde~” Jaejoong hanya mengiyakan perkataan Yunho yang sebenarnya pedas. Jaejoong pun merapatkan pelukannya di leher Yunho karena angin dingin yang tiba-tiba berhembus. Membuat hidung mungilnya mencium aroma manly dari tubuh Yunho. Aroma yang hanya Ia hirup saat malam. Saat Ia dan Yunho tertidur dalam satu futon.

“Dingin ya?” Tanya Yunho saat Jaejoong memeluk lehernya erat. Jaejoong hanya mengangguk.

“Kau sepertinya tidak tahan dingin ya?” Tanya Yunho lagi. Jaejoong terdiam. Sebenarnya Ia memang tidak tahan jika terlalu dingin itu akan membuatnya mimisan hebat.

“Boo?” Panggil Yunho saat tidak ada jawaban dari belakang sana.

“Nde~jika terlalu dingin aku tidak bisa.” Jawab Jaejoong.

“Dekap saja yang erat.” Ucapan Yunho membuat semburat merah yang tidak bisa dilihat namja musang itu muncul di pipi mulus Jaejoong. Namja cantik itu pun mempererat pelukannya pada leher Yunho.

*Apartment Jung Yunho*

“Berikan kakimu yang sakit!” Perintah Yunho saat sudah menurunkan Jaejoong dari punggungnya di teras apartment. Jaejoong pun mengangsurkan kakinya yang sakit. Nampak pergelangan kaki Jaejoong yang bengkak dan membiru.

“Tahan sedikit!” Perintah Yunho lagi mulai memijat bagian itu. membuat tetesan airmata terjun bebas dari sudut mata Jaejoong.

“Sudah jangan cengeng! Masih sakit!?” Tanya Yunho dengan dinginnya. Jaejoong hanya menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya karena rasa ngilu di kakinya.

“Yakin?” Ulang Yunho  melihat ekspresi Jaejoong yang nampak tidak baik-baik saja.

“Nde~ sudah lebih baik.” Ujar namja mungil itu.

“Kalau begitu kau bisa naik tangga sendiri kan!?” Ujar namja bermata musang itu melenggang masuk menaiki tangga menuju lantai tiga tanpa mempedulikan bibir Jaejoong yang mengerucut kesal.

“Dasar tidak punya hati!” Rutuknya sebal dan mulai berjalan dengan tertatih menaiki tangga.

TBC

Gimana?

Mian kalo pendek yaa >.<

Leave Comment Please ^0^/

7 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 5 Crushing

  1. Hi,,q bru bc neh fanficx..rapel ja y komenan..
    Mzh pnasarn knp si jung dingin gt?tp jg da prhatian..

  2. thor ini kependekan aduh ~~~~~
    kapan babeh gue gak bersikap dinggin sama emak gue,kapan ~~~????

  3. Yun punya semacam trauma yaa jadi sikapnya dingin kaya gitu? Hemmm banyak2in sabar aja buat jae ngadepin yun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s