[FF] Jingga – Chapter 1/5


Title     : Jingga – Yunjae

Author : Beth – @beth91191

Chapter: 1/5

Genre   : Angst, Romance , Slightly Genderswitch (Jenis kelamin Jaejoong tidak terlalu penting di sini)

Rate      : T

Cast      : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, Changmin

 

JINGGA

by. Beth – @beth91191

 han

==START STORY==

(Jaejoong POV)

Senja menggelanyut sendu menggantung manis. Awan putih berpadu langit yang biru, tampak mempesona kala jingga menunjukan salam perpisahan. Malu-malu Sang Mentari meninggalkan rona kemerahannya, hendak kembali keperaduan kalah bersaing dengan rembulan. Burung-burung berkicau bergerombol. Berlari kesana kemari tanpa arah, meliuk-liuk di lelangitan bebas. Mereka terus bernyanyi dan menari, kadang membentuk formasi yang begitu menakjubkan. Benar-benar seni senderatari yang diajarkan Sang Alam. Angin bertiup sepoi-sepoi. Menyejukan dan menentramkan hati. Terduduk aku di rerumputan di tepi sungai Han yang begitu bening dan tampak tak berujung. Gemericik air dan harum-harum musim semi membuat suasana kian damai.

Seharusnya.. aku tak pernah bisa merasakan keindahan dunia ini. Seharusnya aku tak pernah bisa melihat ketenteraman sudut Korea ini. Aku Kim Jaejoong pernah mengalami kebutaan sejak berumur lima tahun karena kecelakaan mobil bersama keluargaku. Sebenarnya luka-luka yang kuderita tidaklah separah kedua orang tuaku, melainkan hanya lecet-lecet biasa. Namun pecahan kaca telah merusak korneaku dan akupun menjadi buta, hingga suatu saat aku melakukan transplantasi donor kornea.

Seorang anak kecil yang mengalami kebutaan di usia sebegitu muda, tak akan mampu mengalami mimpi seperti orang kebanyakan, hanya kegelapan yang tanpa warna yang bisa dimimpikannya. Namun pengecualian untukku. Aku sering memimpikan wajahnya jauh sebelum aku mengenalnya.

==FLASH BACK==

 

(Jaejoong POV)

221.. 222.. 223.. 224.. 225…

Tibalah aku di depan Seoul Hospital. Seperti biasa aku akan menghitung berapa jumlah langkah yang harus aku tempuh dari halte bis tempat aku turun. Tepat 225 langkah ke arah utara, maka sampailah aku kemari.

Aku merasa sangat bahagia hari ini. Dokter Jung Yunho mengabarkan bahwa nomer antrianku telah tiba. Aku disuruh datang hari ini untuk melakukan check-up mata pra-operasi transplantasi donor kornea. Aku telah menunggu nomer antrian ini bertahun-tahun lamanya sejak aku masih duduk di bangku SMA. Sekarang tinggalah aku menanti seseorang yang baik hati yang ikhlas mendonorkan matanya setelah ia meninggal. Jahat memang rasanya aku mengharap-harap seseorang segera meninggal hanya agar dia dapat segera memberikan kornea nya itu. Tapi sungguh bukan itu maksudku. Meninggalkan atau ditinggalkan orang tersayang adalah hal yang menyakitkan, aku mengerti itu, walau aku belum pernah mengalaminya. Tapi bukankah kematian adalah takdir? Dan kebutaanku ini juga adalah takdir? Lalu jika suatu hari nanti aku menerima donor kornea dari seseorang yang telah meninggal,juga lah sebuah takdir? Aku hanya bisa berdoa untuk siapapun kelak yang menjadi pendonorku, dia akan bahagia di surga sana atas kebaikannya yang belum tentu rela dilakukan oleh orang lain.

Annyeonghaseyo Kim Jaejoong-shi.” Sapa satpam rumah sakit dengan ramahnya ketika melihat kedatanganku.

Aku memang tidak dapat melihat wajahnya tapi aku telah begitu hafal dengan suaranya. Mungkin karena aku cukup sering bekerja sosial beberapa tahun belakangan ini menjaga bayi-bayi yang sedang di rawat di rumah sakit.

Annyeonghaseyo..” Jawabku sambil tersenyum dan sedikit membungkukan tubuhku.

“Hari ini jadwal kerja sosial Jaejoong-shi ya?” Tanyanya sambil terdengar berjalan mendekatiku.

“Bukan. Saya mau check-up mata. Nomer antrian operasi transplan saya telah tiba. Dokter Jung Yunho sudah datang?” Tanyaku balik padanya.

“Ohh.. Syukurlah.. Akhirnya Jaejoong-shi akan dapat segera melihat. Iya, Dokter Jung sudah tiba sejak pagi-pagi sekali.” Jawabnya ramah,”Mari saya antarkan sampai depan ruangannya.” Ucapnya memberi bantuan.

“Tentu.. Jeongmal khamsahamnida.” Jawabku.

-oOo-

(Jaejoong POV)

Kami berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Jung Yunho. Setibanya di depan ruangannya..

“Kita sudah tiba di depan ruangan Dokter Jung, Jaejoong-shi.” Ucapnya padaku.

Jeongmal khamsahamnida. Mianhaeyo sudah merepotkan.” Sahutku.

“Ah, gwaechana Jaejoong-shi. Membantu orang lain kan kewajiban setiap manusia. Kalau begitu saya pamit  kembali bertugas.” Jawabnya diikuti suara langkahnya yang mulai menjauh.

Akupun mengetuk pintu ruangan Dokter Jung Yunho.

Tok..tok..tok..

Tak ada jawaban dari dalam?

Dimana Dokter Yunho?

Kembali kuketuk pintu ruangannya.

Tok..tok..tok..

“Jaejoong-shi.” Panggil seseorang padaku. Sepertinya aku juga mengenali suaranya.

“Perawat Changmin?” Tanyaku memastikan.

“Iya, saya. Mianhaeyo, Dokter Jung sedang rapat staf dadakan sekitar sepuluh menit yang lalu. Mungkin satu jam lagi beliau baru kembali ke ruangannya.”Jelasnya.

“Oh,benarkah? Baiklah kalau begitu..” Sahutku lesu tak mampu menutupi kekecewaanku.

Akupun melangkah mengayun-ayunkan tongkatku menepuk lantai. Beginilah orang buta sepertiku jika hendak berjalan. Tanpa tongkat ini, bisa-bisa aku menabrak sesuatu atau justru terjatuh. Aku benar-benar tergantung pada benda ini, setidaknya hingga aku bisa melihat kembali. Dan ketika aku sudah begitu bersemangat berangkat ke rumah sakit, Dokter Yunho justru sedang ada rapat. Tak apa, Jaejoong, tak apa. Kau harus bersabar.

Aku terus berjalan melewati lorong-lorang hingga terdengar suara anak-anak berlari-lari sambil berteriak-teriak. Sepertinya aku tahu dimana ini. Kulangkahkan kakiku meraba jalan. Selangkah demi selangkah aku menapak. Bisa kurasakan empuk-empuk rerumputan terasa nyaman di bawah sana. Aku terus berjalan, namun tiba-tiba..

“Hati-hati kak.. ” Seru beberapa anak kecil yang membuatku terkejut. Belum sempat aku berpikir apa maksud dari kata-kata itu, dan..

DUKKK…

“Ahh..” Seruku pelan sambil pasrah menjatuhkan diri ke tanah.

“Kalian, main bola hati-hati! Tidak kasihan dengan kakak ini, ha?” Suara seorang pria setengah berteriak dengan suara paraunya.

Geruduk..geruduk..

Bisa kudengar langkah kaki beberapa orang berlari ke arahku.

“Kau baik-baik saja?” Tanya pria yang itu.

“Kakak baik-baik saja?” Tanya beberapa anak kecil dengan cemas,”Kakak tidak kenapa-kenapa kan kak?”

Aku berusaha mendudukan tubuhku sambil memegang kepalaku yang terasa sedikit pening.

“Kau baik-baik saja?” Diulanginya pertanyaannya.”Apa perlu kita check ke klinik?” Tanyanya bernada khawatir.

“Mmm.. Gwaechana, aku baik-baik saja.” Sahutku sambil berusaha mencari-cari tongkatku.

Kucari-cari di sekitarku. Namun kemudian, “Ini tongkatmu. Mari aku bantu berdiri.” Ucapnya sambil meletakan tongkatku di tanganku dan membopong tubuhku bangkit.

Jeongmal khamsahamnida.” Ucapku pada pria itu.

Gwaechana,” jawabnya cepat, “Tuh kan. Kalian lihat. Karena tidak hati-hati main bolanya, kakak ini jadi jatuh.” Ucapnya pada anak-anak itu.

“Sudahlah.. Gwaechana.” Sahutku menenangkan.

“Ayo cepat kalian minta maaf padanya.” Perintah pria itu tegas..

Jeongmal mianhaeyo ya kak..” Ucap mereka bersama-sama.

“Apa? Aku tidak dengar!” Seru pria itu lagi.

Jeongmal mianhaeyo ya kak…..” Ucap mereka lebih keras.

“Iyaa.. Iyaa.. Kakak maafkan. Sudahlah kalian kembali bermain sana.” Jawabku sambil tersenyum.

Aku bisa membayangkan tampang mereka pasti lucu-lucu yah, apalagi saat minta maaf seperti ini. Andai aku bisa melihat.

“Kakak ini lelah, kalian mainan saja sana.” Ucap pria itu lagi.

“Baik.. Dadah kakak..” Sahut anak-anak itu diikuti langkah mereka yang pergi menjauh.

Kini tinggalah aku dan pria yang menolongku tadi.

Jeongmal khamsahamnida tuan….” Seruku terputus.

“Yoochun. Park Yoochun. Panggil saja Yoochun.” Ucapnya.

“Yoochun-shi, gomawoyo..” Ucapku lagi.

“Mmmm.. Mungkin kau ingin duduk di bangku taman?” Tawarnya padaku.

“Tentu, aku kemari memang ingin duduk di bangku taman.” Jawabku.

“Mari kalau begitu kita duduk di sana.” Ajaknya padaku sambil langsung meraih tanganku.

Aku sedikit terkejut dibuatnya. Tapi tak ada alasan bagiku untuk menolak genggaman tangannya. Tangannya terasa begitu nyaman dan hangat. Jari-jarinya ramping namun tetap terkesan maskulin. Mungkin tangan ini tercipta memang untuk menggenggam tangan orang lain, melindungi dengan kelembutan dan kehangatan.

Kami berduapun berjalan menuju bangku taman dan terduduklah kami disana. Sesaat setelah aku nyaman berada di bangku taman itu, barulah dia melepaskan tangannya itu.

Jujur aku merasa aneh dengan suasana yang timbul saat ini. Aku sering berjumpa dan berinteraksi dengan banyak pria, satpam, penjaga toko, penjual makanan, dokter, dan lain sebagainya. Namun bukan dalam situasi seperti ini. Aku benar-benar merasa canggung. Sempat selama beberapa saat kami terdiam satu sama lain, tak saling berucap dan berkata, hingga akhirnya..

“Kau kemari sendirian?” Tanyanya membuka percakapan.

“Iya..” Jawabku lirih.

“Untuk bertemu dengan dokter Yunho?” Tebaknya kali ini.

“Benar..” Sahutku cepat.

“Aku melihatnya masuk ke ruangan rapat tadi. Ada perlu apa memangnya?” Tanyanya lagi padaku.

“Kau mengenalnya?” Tanyaku padanya belum menjawab pertanyaannya.

“Aku cukup kenal dengan beberapa dokter disini.” Jawabnya cepat.

“Kenal? Kau dokter disini?” Seruku menebak.

“Dokter?” Tanyanya balik.

“Iya.. Dokter?” Kuulangi pertanyaanku.

“Mmmmm…” Belum selesai ia menjawab.

“Bodohnya aku, kenapa perlu bertanya seperti itu. Sudah pasti kau seorang dokter. Kau memangnya dokter apa?” Tanyaku lagi dengan antusias.

“Dokter apa?” Dia tak langsung menjawab.

“Iya dokter apa?” Kuulangi pertanyaanku.

“Jantung?” Jawabnya lirih.

“Wahhh.. Keren.. Dokter Yoochun, perkenalkan Kim Jaejoong imnida. Bangapseumnida.” Ucapku sambil tersenyum.

“Ohh.. Nde.. Bangapta...” Jawabnya ramah.

Aku selalu terkesan dengan pekerjaan dokter. Mereka pintar, baik dan selalu membantu orang lain. Pekerjaan mereka mulia walau tak mudah. Menjaga yang sehat jangan sampai sakit dan yang sakit jangan sampai meninggal, sungguh tidaklah mudah.

“Kalau begitu, lain kali aku berobat ke Dokter Yoochun dapat diskon ya?” Celetukku bercanda.

Namun sedetik dua detik kemudian aku tersadar, bahwa kata-kataku itu benar-benar bodoh dan memalukan. Bagaimana bisa aku bicara seperti itu pada orang yang baru aku kenal. Aku terlalu antusias sepertinya. Aishhh.. Aku malu sekali.. Aku yakin wajahku pasti memerah seperti kepiting rebus. Walau aku tak mengerti apa maksudnya, tapi orang-orang yang menyadari aku malu, pasti akan bicara seperti itu.

“Diskon?? Hahaha..” Ucapnya diikuti tawa renyahnya.

Aku benar-benar malu dan tak berani mengangkat wajah. Kusembunyikan wajahku ini dengan menunduk-nundukannya, berharap dia tak menyadarinya.

Mianhaeyo.” Ucapku lirih.

“Hahaha.. Mianhaeyo untuk apa?” Tanyanya sambil menghentikan tawa sejenak.

“Aku telah bicara tidak sopan. Seharusnya aku tak boleh bicara seperti itu. Mianhae.” jawabku sambil berusaha mengubur dalam-dalam rasa malu yang sudah terlanjur muncul ini.

“Hahaha… Kau tak perlu merasa sungkan padaku. Dan kau tahu,” ucapnya terhenti.

“Apa?” Tanyaku lirih.

“Kau tampak begitu memerah saat malu, seperti langit yang memerah kala senja, begitu indah, begitu cantik. Dan aku suka.” Ucapnya serius  dengan suara yang sedikit berat dan kali ini tak ada sama sekali tawa terdengar darinya.

Apa??? Dia bicara apa barusan??

Jantungku seakan ingin meloncat keluar ketika mendengarnya.

Aku tak mengerti dengan kalimat terakhirnya. Lebih tepatnya kata terakhir dari kalimat itu.

Aku tak mengerti atau mungkin memang aku yang tak ingin mengerti. Orang cacat sepertiku yang bukan siapa-siapa ini tak berani berangan tinggi. Apalagi dia adalah dokter yang pastilah berstatus sosial tinggi dan berintelektual tinggi. Mana mungkin orang setinggi dia bisa memuji dan suka pada orang cacat sepertiku. Tak mau aku jadi pungguk yang merindukan bulan. Biarkan pungguk tetap menginjak tanah seperti sedia kala. Tiba-tiba suasana kembali mencanggungkan di antara kita. Kami kembali membisu satu sama lain. Ini semua gara-gara aku. Andai aku tak berbicara aneh.

Sesaat setelah dia bosan dalam kebisuan ini..

“Tak apa aku memberimu diskon. Asal kau membawakan ramen untukku.” Ucapnya kembali membuka pembicaraan.

“Ramen?” Tanyaku bingung.

“Aku suka sekali ramen. Tapi tak ada yang mau membawakannya untukku ke rumah sakit. Dan aku tak ada kesempatan untuk mampir ke kedai ramen. Jadilah aku hanya bisa menahan liur saat melihat iklan ramen di TV. Hahaha.. Aku bercanda. Abaikan.” Ucapnya kembali bisa memecah kebekuan.

“Baiklah. Lain kali akan aku bawakan ramen buatanku yang terkenal kelezatannya di kalangan teman-teman dan keluargaku.” Ucapku sempat terlupa apa yang telah terjadi.

“Benarkah? Wah.. Aku ingin sekali.” Serunya dengan suara uniknya yang mulai terasa nyaman di telingaku.

“Tentu..” Jawabku cepat.

Sejak saat itu aku sering mengobrol dengan Dokter Yoochun kalau aku sedang melakukan persiapan operasi dengan Dokter Yunho, atau saat sekedar melakukan kerja sosialku menjaga bayi-bayi itu. Akupun sering membawakan ramen kesukaannya itu. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin membantunya yang begitu ingin makan ramen namun terlalu sibuk hingga tak sempat mengunjungi kedai ramen. Aku begitu merasa nyaman saat berbicara dengannya. Dia selalu menjadi pendengar yang baik dan pemberi saran yang bijak, menurutku. Dia juga selalu bisa membuat suasana menjadi hangat. Kepribadiannya pun juga sangat baik. Aku bisa membayangkan pasti dia adalah orang yang tampan. Walau aku tak mengerti arti tampan itu apa, yang jelas dia sempurna bagiku.

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

Suatu hari..

Aku berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit. Aku sudah mulai hafal jalanan menuju taman rumah sakit dengan cukup lancar. Sebelumnya jalanan yang sanggup aku hafal hanyalah jalan menuju ruang perawatan bayi-bayi. Ya, selama ini, sebelum aku mendapat kepastian donor kornea, aku pergi ke rumah memang hanya untuk membantu merawat bayi-bayi yang di rawat disini. Aku suka sekali ketika berinteraksi dengan manusia-manusia mungil yang menggemaskan itu. Namun belakangan ini alasan aku mengunjungi rumah sakit selain untuk bertemu dengan Dokter Yunho tentang operasiku, aku kemari juga untuk menemuinya, Yoochun. Kuharap hari ini dia meluangkan waktu untukku, seperti yang biasa dia lakukan.

Sebagai dokter, dia benar-benar sibuk sepertinya. Apa lagi dia adalah seorang dokter jantung. Bukannya penyakit jantung telah menjadi pembunuh nomer satu di dunia. Wajar saja jika seorang dokter jantung hanya memiliki waktu luang beberapa jam saja saat sore hari untuk menemuiku. Aku mengerti dan memahaminya.

Kini, terduduklah kami bersama di bangku taman. Kami yang masih enggan bicara satu sama lain, hanya terdiam dalam kesunyian senja. Suasana senja kala itu terlalu menentramkan untuk dinikmati sembari bicara. Apalagi baginya yang bisa melihat betapa indahnya pemandangan jingga.

Detik dan menit kian berlalu, cukuplah sudah kami berada dalam diam tanpa kata, mulailah ia membuka percakapan di antara kami.

“Jaejoongie..” Ucapnya menyebut namaku dengan suara seraknya yang khas. Entah sejak kapan ia memiliki panggilan itu untukku. Jujur, hanya orang tuaku yang pernah memanggilku dengan panggilan Jaejoongie, bukan Jaejoong.

“Iya.” Jawabku pendek.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanyanya padaku.

 

TO BE CONTINUED…

Hi, Beth imnida.

Long time no see… Ada yang kangen ga?? ‘-‘)/ hehehe

Katanya Yunjae, tapi kok malah Chunjae sih… Sabar ya kaka, baca aja chapter berikutnya.. Dijamin puas (?) ‘-‘v

Mohon leave comment nya dong kaka.. Kaka baik deh.. *kedip2* hahahaha

Jeongmal gomawoyo for reading & leaving comment ^^

Saranghanda <3

7 thoughts on “[FF] Jingga – Chapter 1/5

  1. yunho belum nongol y??? cuma namanya aja yg numpang lewat…
    koq q mlh mikirny yoochun bkn dokter y? dia g jawab klo dia dokter sih… cuma blg jantung?
    q mikirnya mlah dia pasien penyakit jantung. tpi, emang gapapa klo skit jantung mkan ramen?
    alah….. q mkin ngelantur.
    next…..

  2. yunho belum nongol y??? cuma namanya aja yg numpang lewat…
    koq q mlh mikirny yoochun bkn dokter y? dia g jawab klo dia dokter sih… cuma blg jantung?
    q mikirnya mlah dia pasien penyakit jantung. tpi, emang gapapa klo skit jantung mkan ramen?
    alah….. q mkin ngelantur.
    next…..

  3. yaaaahhhh yunpa masih diumpetin sama author nim~~~
    chapter berikutnya yunpa keluar nih? serius? beneran? ga boong kan? #plak

    disitu chun dokter? tapi ko ga yakin yah,, apa dia itu pasien bukan dokter~~~
    ahhh entahlah, liat aja nanti sebenernya gimana😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s