[FF] Jingga – Chapter 2/5


Title     : Jingga – Yunjae

Author : Beth – @beth91191

Chapter: 2/5

Genre   : Angst, Romance , Slightly Genderswitch (Jenis kelamin Jaejoong tidak terlalu penting di sini)

Rate      : T

Cast      : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, Changmin

JINGGA

by. Beth – @beth91191

han

(Jaejoong POV)

Kini, terduduklah kami bersama di bangku taman. Kami yang masih enggan bicara satu sama lain, hanya terdiam dalam kesunyian senja. Suasana senja kala itu terlalu menentramkan untuk dinikmati sembari bicara. Apalagi baginya yang bisa melihat betapa indahnya pemandangan jingga.

Detik dan menit kian berlalu, cukuplah sudah kami berada dalam diam tanpa kata, mulailah ia membuka percakapan di antara kami.

“Jaejoongie..” Ucapnya menyebut namaku dengan suara seraknya yang khas. Entah sejak kapan ia memiliki panggilan itu untukku. Jujur, hanya orang tuaku yang pernah memanggilku dengan panggilan Jaejoongie, bukan Jaejoong.

“Iya.” Jawabku pendek.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanyanya padaku.

“Bertanya apa?” Tanyaku balik.

“Mmmm… Kau sudah berapa lama mmm.. seperti ini..” Ucapnya ragu-ragu namun kemudian,”Buta maksudmu?” Tanyaku padanya.

“Iya, itu maksudku.” Sahutnya merasa tak enak padaku.

“Jangan merasa seperti itu padaku. Aku tidak apa-apa. Aku sudah buta sejak usia 5 tahun. Sudah terlalu lama aku buta, sampai-sampai tak banyak ingatan tentang warna dan bentuk yang mampu aku ingat. Bahkan saat tertidur dan bermimpi sekalipun, hanya gelap yang bisa kudapatkan.” Jawabku sedikit menghela nafas panjang.

“Benarkah kau tak pernah melihat sesuatu di dalam mimpimu?” Tanyanya lagi.

“Mmmmm.. Rasanya tak pernah. Tapi tunggu..” Ucapku tiba-tiba teringat aku pernah memimpikan seseorang.”Pernah seorang pria muncul dalam mimpiku dulu. Namun belakangan ini aku tak pernah memimpikan wajahnya lagi.” Ucapku membayangkan wajahnya.

“Wajah seseorang?” Tanyanya ingin tahu.

“Iya, seorang pria. Tapi aku tak mengenalnya sama sekali.” Sahutku.

Appamu? Saudara laki-lakimu?” Tanyanya lagi.

“Entahlah juga. Aku sudah lupa wajah mereka.” Jawabku lirih.

“Maafkan aku. Sudahlah, nanti setelah kau bisa melihat, kau pasti akan tahu siapa dia.” Ucapnya padaku membesarkan hatiku.

“Iya.. Aku begitu penasaran, siapa dia sebenarnya? Tapi mungkin juga dia Appaku.” Jawabku sambil berusaha membayangkan wajah dalam mimpiku itu.

“Sudahlah jangan dipaksakan, bagaimana kalau kita ganti topik? Lalu kalau boleh tahu, setelah kau bisa melihat tak lama lagi, apa yang ingin kau lakukan?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Setelah bisa melihat? Mmm.. Aku ingin melihat bunga-bunga di taman. Pasti indah sekali ya bunga-bunga itu. Bewarna-warni, cantik, lembut, dan harum.” Jawabku sambil menerawang dalam kegelapan.

“Lalu apa lagi yang ingin kau lihat?” Tanyanya terus ingin tahu.

“Aku ingin melihat awan-awan dari atas pesawat. Aku tak pernah naik pesawat dan ingin sekali naik pesawat. Pasti indah sekali kalau melihat awan-awan apalagi dari atas sana.” Jawabku bersemangat.

“Apa lagi-apalagi?” Tanyanya lagi padaku penuh antusias.

“Ahh iyaa.. Aku ingin melihat pemandangan Seoul di malam hari. Lampu-lampunya pasti indah. Laluuu.. aku juga ingin melihat lampu-lampu yang ada di taman hiburan.” Sahutku cepat.

“Wahh.. Ada lagi yang ingin kau lihat? Apa hanya itu saja?” Tanyanya tak kunjung usai.

“Tentu saja tidak. Aku ingin melihat lukisan yang indah, wajah Appa dan Umma, wajah teman-teman dan semua orang yang kukenal, serta yang pasti aku ingin sekali bisa melihat wajah Dokter Yoochun yang..” Jawabku yang kini terlihat terlalu antusias hingga kemudian kusadari aku hampir saja menunjukan perasaanku pada bagian akhir kalimatku.

Jaejoong… Kau benar-benar tidak bisa menjaga kata-kata. Bagaimana kalau dia menjauh dariku gara-gara perkataanku itu.

“Yang-apa??” Tanyanya penasaran.

“Sudahlah, kenapa kau bertanya-tanya terus?” Ucapku membuatnya berhenti membicarakan hal itu.

“Benarkah kau ingin melihat wajahku?” Tanyanya tergelak.

“Iya..” Jawabku lirih sembari menundukan kepalaku menantinya bereaksi.

“Terima kasih.” Ucapnya terdengar senang. Benarkah dia tak merasa aneh karena kata-kataku?

“Wajahku seperti apa ya? Mmmm.. Kalau wajahmu diumpamakan seperti senja kala matahari tenggelam yang cantik dan indah, anggap saja wajahku seperti matahari terbit. Karena setiap ada matahari terbit, pasti akan ada matahari tenggelam. Begitu juga sebaliknya. Keduanya beriringan bersama selamanya. Dan aku harap kita akan seperti itu.” Ucapnya yang membuat seakan tersedak.

Apa maksud dari kata-katanya? Kenapa dia berkata seperti itu? Ahhhhh… Apa jangan-jangan dia … ? Kenapa dia bisa … ? Aku benar-benar takut bersangka-sangka. Aku takut apa yang aku sangkakan, bukanlah yang sebenarnya. Buru-buru kembali kupendam pikiran-pikiran yang mulai bermunculan di otakku itu. Yang aku tahu aku merasa nyaman dengan bagaimana hubungan kami saat ini. Aku tak akan berharap lebih. Cukup seperti ini, aku sudah sangat bahagia.

Tapiii… aku senang sekali mendengar kata-katanya. ‘Keduanya beriringan bersama selamanya. Aku harap kita bisa seperti itu.’. Akupun juga berharap kita dapat seperti matahari terbit dan matahari tenggelam.

Kami kembali diam menyusun sepi. Terlalu canggung bagiku untuk berkata-kata. Mungkin begitu juga dengannya. Maka biarkan senja ini berakhir dengan diam. Itu lebih baik. Setidaknya aku merasa lebih nyaman untuk hanya diam saat ini. Mentari senja memang dapat membuat tubuhku hangat. Namun dengan bersamanya, hatiku-lah yang terasa hangat. Kami terus duduk bersama di bangku taman, hingga malampun memisahkan kami berdua.

-oOo-

(Jaejoong POV)

 

Hari ini tumben sekali Yoochun mengajakku pergi ke taman yang biasa aku lewati saat akan berangkat ke rumah sakit. Sekitar pukul sepuluh pagi dia akan menjemputku di rumah. Aku sudah sangat berdebar-debar saat ini. Membayangkan ada dia akan menjemputku ke rumah, benar-benar membuatku gelisah.

Kutekan jam meja yang berada di sebelahku.

‘Sepuluh a.m.’ bunyinya menunjukan pukul berapa saat ini.

Kenapa dia belum datang juga? Aku masih terduduk di atas tempat tidurku memeluk boneka lumba-lumba biru kesayanganku, sembari menunggu Ummaku memberitahu apabila ada tamu untukku. Musik dari rumah tetangga yang menemani saat-saat penantianku ini. Aku menunggu selama beberapa lama dan tiba-tiba..

“Jaejoongie ada tamu..” Seru Ummaku dari balik pintu.

“Ohh.. Iya Umma..” Sahutku cepat sambil bangkit dari tempat tidur.

Buru-buru kuraih tas kainku. Kurapikan sedikit rambutku yang mungkin mulai berantakan. Kusemprotkan parfum sedikit ke tubuhku di beberapa tempat. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan dengan kerasnya. Tenanglah Jaejoong, ini hanyalah jalan-jalan di taman.

***

Setibanya di ruang tamu.

“Selamat pagi Jaejoongie.” Sapanya dengan suara yang begitu khas.

“Selamat pagi, Dok..” Jawabku lirih.

“Mmm.. Bisakah kau panggil namaku saja?” Tanyanya.

“Baiklah, Yoochun.” Ucapku ragu-ragu menyebut namanya,”Oya, Umma kenalkan dia Park Yoochun, dokter Jantung di rumah sakit tempat aku akan melakukan operasi transplan kornea.” Jelasku saat teringat ada Umma di dekat kami.

Annyeonghasimnika. Perkenalkan Park Yoochun imnida.” Ucapnya begitu sopan.

“Oh, ini pemuda yang sering kau ceritakan Jaejoong?” Tanya Umma yang membuatku malu.

Kenapa Umma perlu bicara seperti itu. ‘Pemuda yang sering kau ceritakan’? ‘Sering’?? Yoochun jadi tahu kalau aku sering membicarakannya dengan Umma gara-gara Umma bicara seperti itu kan.

“Benarkah dia sering membicarakan tentangku?” Sahutnya tak percaya.

“Iya.. Dia selalu bercerita di rumah sakit ada dokter tampan yang baik dan…” Belum selesai Umma berkata,

Umma…..” Seruku sebal.

“Lihatlah dia malu Yoochun.” Tawa Umma bersamaan dengan Yoochun yang membuatku kian malu.

Untuk apa Umma perlu berbicara seperti itu di depannya? Umma sengaja membuatku malu di depannya ya? Umma benar-benar kelewatan.

“Sudahlah Umma..” Ucapku memelas.

“Baiklah.. Baiklah.. Umma minta maaf. Oya, kalian mau pergi kemana?” Tanya Umma pada kami.

“Mungkin kami hanya akan berjalan-jalan di taman dekat sini, ahjuma.” Sahut Yoochun tanggap.

“Ohh.. Baiklah. Hati-hati. Jaga Jaejoongie baik-baik ya, Yoochun?” Ucap Umma padanya.

“Baiklah ahjuma.” Jawabnya.

“Satu lagi, jangan pulang malam-malam.” Ucap Umma lagi.

“Baik Umma.. Kalau begitu kami pamit pergi dulu. Annyeong..” Jawabku.

Annyeonghasimika ahjuma. Sebelum jam sepuluh, Jaejoong sudah akan saya antarkan pulang.” Ucap Yoochun yang kemudian membimbingku jalan keluar.

Lalu berjalanlah kami bersama, menyusuri jalan-jalan kota Seoul, menikmati sinar mentari yang belum terlalu terik ini, menuju taman yang sedari kemarin dia maksudkan.

-oOo-

(Yoochun POV)

Tibalah sudah kami di taman. Banyak anak-anak dan orang tua nya sedang bermain-main disana. Banyak pula pasangan muda-mudi yang tengah asyik bercengkerama di beberapa sudut taman. Kulihat Jaejoong begitu senang dalam kekosongan tatapannya. Dia berusaha mendengarkan semua aktifitas yang tengah terjadi di sekitarnya. Sesekali dia menoleh ke kanan untuk lebih fokus mendengar suara seorang ayah yang memanggil anaknya, sesekali dia menoleh ke arah kiri untuk fokus mendengar suara anak-anak bermain kejar-kejaran. Senyumnya berpendar di bibir merahnya. Pipinya sedikit merona terkena sinar Sang Mentari. Rambut lembutnya tertiup angin sepoi-sepoi. Cantik… Sempat selama beberapa detik aku terkesima dengan keindahan yang ia sampaikan. Namun kemudian kudapatkan kembali kesadaranku yang sempat melayang melesat jauh terjebak dengan kecantikannya.

“Kau bisa naik sepeda, Jaejoong?” Tanyaku yang membuatnya tertegun.

“Tidak. Memang kenapa?” Sahutnya cepat.

 

***

“Aaaaaahhhhhhhh…” Dia berteriak sekencang-kencangnya ketika kami menuruni jalanan nan miring dengan menaiki sepeda.

Kubonceng dia depanku. Kubiarkan sepeda melaju dari atas ke bawah tanpa aku mengayuhnya. Sengaja kubiarkan dia menikmati hembusan angin yang mengenai wajahnya. Rambutnya tertiup angin sesekali mengenai wajahku. Harum-harum rambutnya semerbak bagaikan harum bunga mawar di taman. Begitu menenangkan dan menenteramkan. Kudengar dia tertawa dalam senangnya. Aku ikut bahagia ketika melihatnya bahagia. Mungkin tak seberapa kebahagiaan yang bisa kubagi, tapi akan selalu kubuat kau bahagia karenaku, Kim Jaejoong.

-oOo-

 

(Yoochun POV)

 

Berhentilah kami istirahat sejenak, dibawah sebuah pohon yang lebat dan rindang. Matahari bersinar cukup terik, walau saat ini mulai condong ke arah barat. Kuparkirkan.                                                                                        sepedaku tepat di sebelah kami. Begitu sejuknya disini, anginpun bertiup halus membelai wajah. Kutatap kembali sosok Jaejoong yang berada tak jauh dariku ini, lekat-lekat. Pria bertubuh kecil itu tengah berdiri kelelahan di sebelahku. Senyuman tipis masih terhias di bibirnya. Beberapa peluh menetes di ujung keningnya. Pipinya memerah terkena sinar Sang Mentari.

“Jaejoongie.. Kau lelah?” Tanyaku padanya mengingat kami telah bersepeda bersamanya berkeliling taman selama beberapa jam lamanya.

“Sedikit, tapi tak masalah.” Jawabnya cepat.

“Apakah kau senang?” Tanyaku lagi.

“Tentu saja senang sekali. Rasanya asyik ketika tadi kau melajukan sepeda menuruni jalanan curam. Jantung ini serasa jatuh ke bawah. Berdebar-debar luar biasa tapi menyenangkan. Seruuu.. Apalagi angin juga berhembus keras mengenai wajahku. Seperti seseorang yang tengah terbang. Seperti naik pesawat saja, walau sebenarnya aku tak pernah tahu rasanya naik pesawat itu. Ahh, menyenangkan sekali.” Ceritanya dengan senyuman lebar menghiasi bibirnya. Terlihat sekali kalau dia bahagia hari ini,”Terima kasih, Yoochun.” Ucapnya lirih kali ini.

“Sama-sama,” jawabku cepat, “Oya, kau ingin sesuatu yang menyenangkan lainnya?”

“Apa lagi kali ini?” Tanyanya antusias.

***

“Wahhhhh.. Enak ya..” Ucapnya sambil menikmati es krimnya.

“Kau suka?” Tanyaku lagi.

“Suka sekali. Sudah lama rasanya aku tidak membeli es krim. Apalagi ini es krim vanilla strawberry kesukaanku. Benar-benar enak,” ucapnya padaku, “Hari ini aku benar-benar senang.”

“Kalau begitu, mari kita nikmati es krim sambil melihat bunga.” Kataku yang langsung membuatnya bingung.

“Melihat… bunga??” Tanya nya tak mengerti.

Dengan perlahan, kuraih tangannya dan kutuntun menuju sekumpulan bunga-bunga. Terlihat dia ragu-ragu, namun dia tetap ikut melangkah bersamaku, sambil sesekali mengecap manis es krim yang tengah dibawanya.

***

“Kita di tengah taman bunga sekarang?” Tanyanya sekilas.

“Iya..” Jawabku lembut, “Dan bunga-bunga disini indah sekali.”

“Benarkah? Sayang aku tak bisa melihatnya.” Sahutnya lesu.

“Maafkan aku bukan maksudku begitu.” Ucapku selalu merasa tak enak padanya jika telah berbicara menyangkut tentang penglihatannya.

“Tak apa. Rasanya benar-benar tak ada yang tersisa dibenakku apa arti dari kata indah itu.” Ucapnya yang terdengar begitu menyesakan.

“Kalau begitu ijinkan aku membagi keindahan itu bersamamu.” Jawabku sambil menariknya duduk di rerumputan.

Awal mulanya dia sedikit terkejut tiba-tiba aku menariknya seperti itu, namun sedetik kemudian ia hanya diam mengikutiku saja untuk duduk disana. Kami berdua terduduk di rerumputan yang hijau dan segar dengan bunga-bunga berbagai warna nan indah terhampar di depan kami, serta langit kemerahan kala senja menjadi latar kami. Sesekali angin berhembus diikuti tawa kecil burung-burung yang berterbangan kesana-kemari. Kubiarkan dia menikmati sore yang indah ini dan kemudian..

“Coba kau sentuh bunga ini.” Kataku seraya meletakan sekuntum bunga yang kupetik di telapak tangannya.

Tanpa berkata disentuhnya kelopak bunga itu. Dirabanya perlahan, diusapnya seluruh permukaannya.

“Bagaimana? Lembut bukan?” Tanyaku.

“Iya lembut. Apa warna bunga ini?” Tanyanya balik.

“Warnanya jingga. Jingga seperti langit kala senja, jingga seperti langit kala matahari terbit, dan jingga seperti wajahmu saat tersipu malu.” Ucapku yang langsung membuatnya langsung tersipu malu seperti apa yang baru kukatakan. Semakin ketara rona kemerahan dari wajahnya itu, yang membuatnya makin ayu.

“Bagaimana? Kau bisa membayangkannya? Sesuatu yang lembut dan bewarna indah. Berkumpul bersama di taman-taman dan menyebarkan harum yang menyegarkan. Apa yang kau rasakan jika melihat hal seperti itu?” Tanyaku lagi.

“Mmm… Senang? Dan tenang?” Ucapnya sedikit tak yakin.

“Iya rasa senang dan tenang itu yang akan kau rasakan jika melihat sesuatu yang indah. Begitu juga yang sedang kurasakan setiap menatapmu.” Ucapku jujur.

Lihatlah… wajahnya kian merah sekarang. Ditundukannya wajahnya menyembunyikan rasa malunya.

“Tenanglah tak lama lagi kau pasti akan bisa memahami apa yang sering kusebut indah itu, Jaejoongie.” Sahutku menenangkannya.

Dia tak menjawab apa-apa. Sepertinya dia masih merasa salah tingkah sendiri dengan kejujuran yang aku sampaikan. Ahh.. Menggemaskan sekali.

Kubiarkan dia menikmati kediamannya. Mungkin itu yang membuatnya nyaman saat ini. Namun kuberanikan diri untuk meraih tangannya perlahan. Kuletakan tangannya diatas tanganku kiriku dan kukatupkan tangan kananku di atas tangannya, hingga kini tangannya tepat berada di antara kedua tanganku.

“Aku berjanji akan membuatmu bahagia, Kim Jaejoong.” Ucapku mantap.

“…”

Dia tak bergeming sedikitpun, masih ditundukannya wajah cantiknya itu. Sesaat kami terdiam masing-masing dengan tangan kami masih terkait. Masih enggan rasanya untuk melepaskan genggaman tanganku ini.

Hingga akhirnya dia berkata, “Tunggu, kau dengar sesuatu Yoochunie?” Tanyanya berusaha memfokuskan pendengarannya.

“Apa?” Aku ikut mendengarkan.

“Ada suara musik. Suara biola. Kau dengar?” Tanyanya lagi.

“Ahh iya. Aku tahu sepertinya sumber suara itu. Kau mau kesana?” Tanyaku balik.

“Mau..” Sahutnya cepat.

Akupun berdiri sambil membantunya bangkit. Kugenggam tangannya erat menuju arah sumber suara biola yang mengalun indah itu. Kami terus berjalan mendekati, dan kini kami telah berdiri di depan seorang pemain biola amatiran yang sedang mencari sesuap nasi di taman. Dia tengah memainkan lagu-lagu romantis dengan begitu indahnya, beberapa orang berdiri terpukau di dekatnya mendengarkan nada demi nada yang ia mainkan dengan apiknya. Kutatap wajah Jaejoong yang begitu terpukau. Sesaat setelah si pemain biola itu berhenti menyanyikan sebuah lagu, kudekati dia dan berbisiklah aku. Pemain biola itu tampak mengerti dengan apa maksudku. Diangguk-anggukannya kepalanya, dan kemudian..

***

(Jaejoong POV)

Setelah pemain biola itu menyelesaikan permainan apiknya, kudengar suara seseorang tengah berbisik-bisik. Siapa itu yang berbisik-bisik? Yoochunkah? Namun tak lama kemudian sang pemain biolapun berkata, “Setelah ini saya akan memainkan sebuah lagu melegenda yang sangat manis. Dipersembahkan untuk manusia terindah di muka bumi ini, Kim Jaejoong.”

DEG!!

Apa? Aku??

“Dari seseorang yang begitu menganggumimu..”

Jangan-jangan Yoochun yang meminta lagu ini pada pemain biola ini.

Ada apa ini?

“Lagu ini berjudul, Saranghamnida..” Ucap pemain biola itu lagi.

Apa??!

Saranghamnida?

Kenapa yoochun memilih lagu ini? Apakah dia ingin berkata bahwa dia ….

Jantungku berdebar-debar sendiri saat ini. Seribu pertanyaan menjejali otakku.

Kudengar pengamen jalanan itu mulai memainkan biolanya. Nada demi nada ia mainkan dengan lembut dan apik, begitu indah, indah dan indah. Aku menikmati setiap nadanya, melayang menyusup angkasa hingga ke langit ke tujuh, begitu merdu bak juntaian sutera nomer satu. Aku tersanjung, terpesona, terkesima atau apalah istilahnya. Yoochun meminta pemain jalanan ini menyanyikan lagu ‘Saranghamnida’ untukku tentu aku tersanjung. Tapi…

Apa lagi saat ini?? Betapa makin terkejutnya aku ketika kudengar suara Yoochun yang mulai menyanyikan lagu itu. Dia menyanyi…untukku?

….

TO BE CONTINUED…

Hi, Beth imnida. ‘-‘)/

Ciehhh ciehhh Yoochun nyanyi.. Ciehhh..

Hahahaha mana Yunjae nyaaaaa??? Sabar ya kaka.. Ada kok.. Tenang aja..

Mohon leave comment nya dong kaka.. Kaka baik hati dan suka menolong serta tidak sombong deh.. *kedip2* hahahaha

Jeongmal gomawoyo for reading & leaving comment ^^

Saranghaeeeeee❤

2 thoughts on “[FF] Jingga – Chapter 2/5

  1. ciee chun so sweet banget sama jaema ciee~~~
    aduin sama junchan nihhh~~~

    mana yunjaenya? mana? manaaaaa??? #plak
    huweee~ ngeliat chunjae hati yunpa teriris2 *ehh
    ditunggu yunjae momentnya author nim🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s