[Oneshoot] Tumpahan Rindu Dalam Telepon by Clownfish


Title : Tumpahan Rindu Dalam Telepon

Genre : Romance

Rate : T

Length : One shoot

Blurp : Jaejoong dan Yunho merupakan pasangan gay selebritis yang sulit memiliki waktu senggang untuk dihabiskan bersama. Satu-satunya cara untuk meleburkan rindu adalah telepon. Ah, bukan sekedar telepon.

Author : ClownFish

a/n : saya sadar, judul fict ini sangat…. *brb dari muntah di toilet*

Tumpahan Rindu Dalam Telepon

                “Kau di sana?” suara di seberang telepon terdengar cemas.

Jaejoong mengapit teleponnya di antara bahu dan telinga ketika dia sibuk dengan ponsel lain di tangan, mengetik beberapa pesan. Sambil berusaha tenang, dia menjawab datar, “hm, menunggumu.”

“Kau bercanda… sedang apa?”

Seorang penata hias sedari tadi berdiri di belakang Jaejoong menerima ribuan perintah yang tak bisa ditolak, berusaha mengabulkan setiap keinginan sang artis. Sementara itu, Jaejoong sibuk berkaca diri pada cermin setinggi si penata hias, menilai tentang seberapa pantas dirinya dengan gaya rias yang baru.

“Mengecat rambut.”

“Lagi?”

“Iya. Aku bosan warna merah.”

“Apa aku juga harus mengubah warna rambutku? Kau mengubahnya menjadi apa?”

“Mmm…”

“Merah jambu?”

“Gila!” Jaejoong menyembur tak suka.

“Oh, pasti… itu warna warni? Perpaduan hijau kebiruan dan…. Pirang. Benar kan?”

“Kenapa kau memilih warna seperti itu?”

“Ah, aku melihat gambar di komputer Ji-Hye kemarin. Warnanya cantik. Ji-Hye bilang, itu dari chalk hair yang sedang trend dan warna-warna terang seperti itu menjadi favorit. Aku suka warna kilat biru ponimu. Itu seperti warna buatan chalk hair. Kenapa tidak menggunakannya setiap hari?”

“Itu akan membosankan, Yun…”

“Jadi, warna barumu apa?”

Jaejoong memukul tangan si penata rias yang tidak sengaja menyodok sisir terlalu kasar di kepala Jaejoong. Kemudian tanpa suara, hanya gerakan tubuh saja, Jaejoong meminta si penata rias menyimpan dua telepon genggam di tangan Jaejoong ke meja. Si piñata rias segera melaksanakannya terburu-buru dalam tangan yang sudah penuh oleh gunting dan sisir.

“Hmm… tidak benar-benar baru.” Jaejoong mengalihkan posisi telepon di bahunya ke telinga yang lain, memegangnya secara benar dan lebih nyaman kali ini. “Aku pernah menggunakan warna ini sebelumnya. Aku hanya bosan dengan warna merah kemarin.”

“Begitu kah?” Yunho menjawab sekenanya, sebelum dia mengalihkan topik pembicaraan, “kenapa lagu terbarumu harus another girl?”

“Tidak mungkin another guy kan?”

Jaejoong menemukan bayangan si penata rias di kaca sedang menahan tawa tanpa berhenti bekerja mengatur rambut Jaejoong. Kedua bahu perempuan itu bergetar seolah-olah mendengar lelucon hebat. Di bagian pemikiran lain, Jaejoong mengira-ngira si piñata rias itu kurang-lebih mengerti apa yang sedang dibicarakannya dengan Yunho di telepon. Sontak Jaejoong melempar sisir ke wajah si penata rias tersebut, tidak terlalu keras, tapi cukup supaya membuat si penata rias kembali serius bekerja.

“dan lagumu rock. Kau tahu, aku lebih suka suaramu yang dulu.”

“Sekarang aku berubah. Suaraku yang dulu spesial. Karena setiap hari aku selalu bersamamu, dan setiap hari menjadi special.”

“Kau terdengar jauh lebih seperti laki-laki sekarang.”

“Aku laki-laki!”

“Hahaha iya, maksudku kau memang laki-laki. Tapi, aku lebih suka Kim Jaejoong yang dulu…”

“Ya sudah, cari saja Kim Jaejoong Yang Dulu. Namaku hanya Kim Jaejoong.”

“hahaha perubahanmu bagus kok. Jadi, mereka benar-benar yakin kita tidak pacaran. Yaahh… untungnya kau tetap kau, Sayang… tukang marah, cerewet, pencemburu…”

“Kenapa kau selalu jahat padaku? Mengejekku melulu.”

“Aku tidak jahat. Aku memberimu kalung edisi terbatas lho…”

“Terbatas? Maksudmu kalung Toho 3rd Live Tour yang dijual ke seluruh dunia? Dan lagi, ini bukan darimu. Ini dari Changmin.”

“Changmin tidak menyukainya. Jadi dia berikan padaku, lalu aku berikan padamu.”

“Kau seperti tidak mengenal Changmin, Beibiiiii… begitulah cara dia memberi hadiah. Tapi… kenapa harus merchandise dari album kalian? Ini barang gratis kan? Pelit sekali. Setidaknya belikan aku sesuatu yang lebih berharga.”

“Hei, itu berharga. Aku dengar kata CEO, harganya 50 dollar.”

“Astaga… celana dalamku lebih mahal dari itu.”

Kali ini si penata rias tidak bisa menahan dirinya sendiri. satu ledak tawa terdengar dan kontan Jaejoong cepat berdiri, menyambar majalah di meja lalu menggulungnya kilat sebelum dia pakai untuk memukul kepala si penata rias.

“Hahaha tapi kau masih memakainya kan?” Suara Yunho di ujung sana terdengar ceria.

“Ini pemberian Changmin. Tidak mungkin aku menyimpannya saja.” Jaejoong kembali duduk cemberut, mengabaikan raut masam si penata rias.

“Kapan kau akan ke apartemenku?”

“Aku yang seharusnya bertanya begitu. Kenapa aku yang selalu ke apartemenmu? Mengendarai mobil jelek dan mengendap-ngendap seperti pencuri.” Jaejoong mengerlingkan mata, mengingat seberapa sering harga dirinya seolah-olah dirobek setiap kali berhadapan dengan seorang Jung Yunho. Tak terhitung berapa kali Jaejoong menukar-beli mobil bekas murah yang dia gunakan tiap kali mengunjungi Yunho. Butuh penyamaran ekstra seperti manusia biasa supaya tak satu pun fans mengenalinya.

“Sayaaang… aku tidak mungkin mengizinkanmu mengemudikan lamborgini ke apartemenku. Aku bisa membayar penjaga keamanan, tapi apa kata fans…”

“Kau lebih memilih fans dari pada aku.”

“Aku selalu memilihmu. Fans tidak bisa dibandingkan denganmu.”

“Bodoh. Kau harus memilih fans. Tanpa fans, kau tidak bisa makan. Memangnya siapa yang membayar apartemenmu jika mereka tidak membeli tiket konsermu, hah?”

“Ya ampun… Sayaaang…”

“Hahahaha…”

“Nanti malam aku ke apartemenmu, ya?”

“Mmmm…”

“Kenapa? Aku jarang ke apartemenmu kan? Atau teman-temanmu akan main lagi ke apartemenmu? Hm, baiklah…”

“Bukan..”

“Lalu?”

“…” Jaejoong tak menjawab. Hening beberapa waktu lama, tidak ada yang berani memulai. Bising suara hair dryer tiba-tiba terdengar jelas. Si penata rias menyisir rambut Jaejoong sepuluh kali ekstra hati-hati sekarang. Karena hilangnya suara Jaejoong seakan sebuah pertanda buruk.

Hingga salah satu dari mereka memulai kembali dalam nada rendah, nyaris berbisik, “aku merindukanmu…. Jae…”

“Hm?”

“Aku ingin menciummu…” suara berat itu berbisik dalam desah. Seperti jika Yunho berbicara langsung, Jaejoong bisa merasakan nafas hangat Yunho, dan imajinasi gila tentang jari-jari Yunho yang merayap di punggung Jaejoong membuat darah mendesir, atau ketika Yunho mengendus leher Jaejoong dan terus naik sampai bibir mereka bertemu untuk sebuah ciuman bernafsu.

“Hm.” Jaejoong membalas pendek di tengah-tengah imajinasi brutalnya.

“Jae…”

“Hm?”

“Sampai nanti… aku harus pergi sekarang.”

Shit! Jaejoong mengutuk dalam hati. Baru saja dia akan memulai sesuatu fantastis menggunakan suara Yunho. “Kemana?”

“Tidak tahu. Menejer memanggilku. Aku pergi bersama Changmin.”

“Hm.”

“…”

“Yun?”

“Ya?”

“Kau benar-benar harus pergi sekarang?”

“Iya.”

“Sampai nanti… hati-hati di jalan!”

Sambungan telepon diputus.

Jaejoong menatap layar ponselnya tidak puas. Kemudian beralih ke cermin di seberangnya, menemukan mata si piñata rias tengah melihat kea rah Jaejoong.

“Apa?” Kata Jaejoong judes, “dia bukan pacarku. Aku berbicara dengan teman terbaikku.”

***

                Yunho memainkan ponsel dalam genggangman tangan, memutar-mutarnya tanpa gairah. Baru saja Yunho memiliki percakapan paling membosankan yang dia pernah lakukan bersama Jaejoong. Padahal itu adalah telepon pertama selama sebulan ini setelah pertemuan terakhir mereka dua bulan lalu.

Tak lama kemudian, ponsel Yunho berdering menampilkan satu pesan gambar masuk dan itu dari Jaejoong. Pesan itu berbunyi, Sayang, nanti malam ada wine di apartemenku. Aku tidak mau mabuk sendirian…

“Hyung, kau kenapa?” Changmin yang duduk di sebelah Yunho memperhatikan tiba-tiba wajah rekan bernyanyinya itu berubah merah, agaknya cemas kalau-kalau rekannya itu sakit. “Kau baik-baik saja?”

Yunho mengangguk singkat tanpa berhenti menunduk memperhatikan layar ponselnya.

“Kau tidak mabuk kan?”

Yunho menggelengkan kepala.

“Sebentar lagi kita berangkat.”

Menejer –Hyung baru saja masuk ke dalam mobil, duduk di kursi sopir, siap mengantar Yunho dan Changmin ke gedung SM ketika tiba-tiba Yunho berseru meminta menunda jadwal keberangkatan.

“Aku harus pergi ke toilet. Perutku sakit…” kata Yunho sambil buru-buru berlari keluar mobil tanpa menunggu persetujuan dari Menejer-hyung.

Menejer –hyung melempar tatapan bertanya kepada Changmin yang tak banyak Changmin gubris dengan berkata, “aku tidak yakin dia benar-benar sakit perut.” Changmin dan Menejer-hyung memperhatikan Yunho yang berlari tergesa-gesa kembali ke apartemen sambill sesekali melihat layar ponselnya.

Sayang, nanti malam ada wine di apartemenku. Aku tidak mau mabuk sendirian…

END OF STORY (Kecuali anda membayangkan apa yang terjadi pada Yunho di toilet, dan apa yang terjadi pada Jaejoong nanti malam) LOL

a/n : ini demi apaaaaa… judulnya berasa ALAY ala SINETRON T____T

Please leave ur comment readers ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s