[FF] Jingga – Chapter 3/5


Title     : Jingga – Yunjae

Author : Beth – @beth91191

Chapter: 3/5

Genre   : Angst, Romance , Slightly Genderswitch (Jenis kelamin Jaejoong tidak terlalu penting di sini)

Rate      : T

Cast      : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, Changmin

 

JINGGA

by. Beth – @beth91191

 han

(Jaejoong POV)

Setelah pemain biola itu menyelesaikan permainan apiknya, kudengar suara seseorang tengah berbisik-bisik. Siapa itu yang berbisik-bisik? Yoochunkah? Namun tak lama kemudian sang pemain biolapun berkata, “Setelah ini saya akan memainkan sebuah lagu melegenda yang sangat manis. Dipersembahkan untuk manusia terindah di muka bumi ini, Kim Jaejoong.”

DEG!!

Apa? Aku??

“Dari seseorang yang begitu menganggumimu..”

Jangan-jangan Yoochun yang meminta lagu ini pada pemain biola ini.

Ada apa ini?

“Lagu ini berjudul, Saranghamnida..” Ucap pemain biola itu lagi.

Apa??!

Saranghamnida?

Kenapa yoochun memilih lagu ini? Apakah dia ingin berkata bahwa dia ….

Jantungku berdebar-debar sendiri saat ini. Seribu pertanyaan menjejali otakku.

Kudengar pengamen jalanan itu mulai memainkan biolanya. Nada demi nada ia mainkan dengan lembut dan apik, begitu indah, indah dan indah. Aku menikmati setiap nadanya, melayang menyusup angkasa hingga ke langit ke tujuh, begitu merdu bak juntaian sutera nomer satu. Aku tersanjung, terpesona, terkesima atau apalah istilahnya. Yoochun meminta pemain jalanan ini menyanyikan lagu ‘Saranghamnida’ untukku tentu aku tersanjung. Tapi…

Apa lagi saat ini?? Betapa makin terkejutnya aku ketika kudengar suara Yoochun yang mulai menyanyikan lagu itu. Dia menyanyi…untukku?

Suaranya serak dan uniknya begitu lembut dan indah. Dinyanyikannya lagu itu begitu sempurna. Aku tak mengerti dan tak berani mengerti apa alasan dia menyanyikan lagu ini untukku. Tapi yang pasti aku bahagia.. Sangat..

-Saranghamnida by Tim-

 

(Romanization)

 

Nabbayo cham geudaeraneunsaram

Heorakdo eopsi wae naemam gajyeoyo

Geu dae ddaemune nan himgyeoge salgomanitneun de

Geu daen moreujanayo

 

Alayo naneun aniran geol

Nungiljulmankeum bojalgeot eobdangeol

Daman gaggeumssik geujeo geumiso

Yeogi naegedo nanwojul sun eobnayo

Birok sarangeun anirado

 

Eonjenga hanbeonjjeumeun dolahbwajugetjyo

Haneopsi dwieseo gidarimyeon

Oneuldo chama motan gaseumsok hanmadi

Geudae saranghamnida

 

Eojedo chaeksange eopdeuryeo

Geudael geurida jamdeuleotnabwayo

Nuneul ddeoboni nunmule noga heuteojyeoitdeon

Sirin geudaeireum gwa heotdoen baraembbuninnakseoman

 

Eonjenga hanbeonjjeumeun dolahbwajugetjyo

Haneopsi dwieseo gidarimyeon

Oneuldo chama motan gaseumsok hanmadi

Geudae saranghamnida

 

Ijen neomunado naege iksukan

Geudae dwitmoseubeul barabomyeo

Heureuneun nunmulcheoreom sorieopneun geumal

Geudae saranghamnida

 

(English Trans)

 

So bad..a person a like you..

Why did you take my heart without my permission?

I’m living with so much difficulty

But you don’t even know.

 

I know.. that it’s not me

That im not worthy enough foreven a blink of your eye

But sometimes cant you shareyour smile with me too?

Even if its not love

 

Please turn back just once sometime

If I wait endlessly like this today

Again its the one word in my heart that I cant keep inside

I love you.

 

Yesterday, I layed my head on my desk

And I think I fell asleep grieving for you

When I opened my eyes, thetears had smudged

Your name and hopeless doodles

 

Please turn back just once sometime

If I wait endlessly like this today

Again its the one word in myheart that I cant keep inside

I love you.

 

As I look at your back image which I got so used to

I say those silent tear-like words,

I love you.

 

-oOo-

 

Malamnya…

“Aku pulang..”

“Sekarang jam berapa?”

“Kau bisa lihat sendiri.”

“Aku tanya sekali lagi padamu, sekarang jam berapa?”

“…”

“Kau tak dengar kata-kataku?!”

“Hampir jam dua belas.”

“Kau memangnya habis dari mana baru pulang hampir jam dua belas malam?”

“Jalan-jalan.”

“Jangan bilang dengan gadis itu?”

“Iya, dengannya.”

“Ck! Benar dugaanku. Berapa kali aku bilang, hentikan hubunganmu dengan gadis itu. Aku tak masalah kau jalan-jalan dengannya, aku tak masalah kau membina hubungan dengannya, aku senang-senang saja saja, tapi kau kau harus selalu ingat …”

“Aku bosan!!”

“Bosan?! Maksudmu apa?”

“Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya bosan seperti ini, kau mengatur-aturku seakan-akan aku anak kecil. Aku sudah dewasa. Kau harus ingat itu.”

“Dewasa?! Hah! Dewasa darimana jika sampai usiamu saat ini kau terus merepotkanku?!”

“Merepotkanmu? Sejak awal aku tak butuh kau dan apapun yang kau lakukan. Aku bisa mengurus hidupku sendiri. Jadi sebaiknya berhentilah peduli padaku dan merasa terepoti olehku.”

“Heh aku belum selesai bicara! Hey!! Kemari.. Cepat kemari! Kau tak dengar aku bicara? Aku belum selesai bicara!”

“…”

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

Kami tengah duduk bersama di kedai ramen. Terdengar sekali dia senang hari ini, akhirnya ada kesempatan juga untuknya mengunjungi langsung kedai ini. Ramen adalah makanan kesukaannya. Tapi kalau bukan aku yang memasakan ramen untuknya, sepertinya dia tak akan makan ramen selamanya. Sebetulnya banyak ramen-ramen instan yang dijual di pasaran. Tapi dia selalu bilang, ramen instan itu tak baik untuk kesehatan. Yayaya. Dia dokter, dia benar-benar memperhatikan mana yang sehat, mana yang buruk.

Dia tengah menyantap ramennya dengan lahap. Akupun ikut menikmati ramenku perlahan. Sesekali kuteguk minuman yang disajikan pelayan.

“Bagaimana? Kau suka,Yoochun-ah?” Tanyaku di sela-sela makan.

“Suka sekali. Terimakasih kau mengajakku makan disini.” Ucapnya senang.

“Kalau begitu, segera habiskan.” Kataku sambil menyeruput kuah ramen.

“Tentu, tapi tunggu.” Sahutnya cepat.

“Apa?” Tanyaku sedikit terkejut.

Tiba-tiba kurasakan tangannya sudah berada di pipiku. Diusapnya lembut di sana, di sekitar bibirku perlahan. Apa makanku seperti anak kecil hingga meninggalkan noda disana? Aku terkejut dalam maluku. Pipiku pasti sudah memerah lagi saat ini. Diusapnya terus disana, seakan-akan dia mengusap bukan membersihkan sesuatu. Kurasa tangan hangatnya terlalu lama menyentuh pipiku. Seharusnya aku merasa terganggu atau entahlah, tapi kenyataannya kenapa aku justru merasa senang saat ini? Ingin rasanya ia terus membelai wajahku.

Sedetik.. Dua detik.. Tiga detik..

“Maaf.. Maaf.. Maaf.. Bukan maksudku.. Ada kuah ramen tadi disana.” Ucapnya cepat sambil menarik tangannya.

“Tidak apa-apa.” Jawabku tersenyum kecil.

“Maaf.. Sekali lagi maaf. Ayo cepat kita selesaikan makan kita. Aku ingin mengajakmu ke sesuatu tempat.” Ucapnya mengalihkan pembicaraan.

“Kemana?” Tanyaku bingung. Aku kira kita hanya akan makan siang ramen di kedai saja, ternyata…

***

“Hwaaaaa…” Teriakku sekeras-kerasnya saat jetcoaster melewati jalan menurun.

Kami terus melaju melewati jalanan rel meliuk ke kanan meliuk ke kiri. Seru sekali. Sensasi yang ditimbulkan ketika menukik, membelok tajam ke kanan dan ke kiri, benar-benar luar biasa. Aku terus berteriak senang sampai ingin habis saja suara ini.

***

Setibanya di bawah..

“Terima kasih Yoochun, kau mengajakku ke taman bermain.” Ucapku padanya.

“Sama-sama. Selama kau senang, aku ikut senang.” Jawabnya tulus.

Hari ini kami telah menaiki banyak wahana mulai dari yang yang biasa saja hingga yang menegangkan. Semuanya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Apalagi karena ada dia bersama ku. Hari telah beranjak petang. Matahari mulai berganti rembulan. Rasanya baru sesaat yang lalu kami tiba di tamah hiburan ini, ternyata kami sudah asyik bermain empat jam lamanya. Memang kami baru berangkat kemari setelah makan siang, dan sekarang aku menyesalinya. Jika tahu kalau kita akan ke taman hiburan, tentu aku akan memaksa berangkat pagi-pagi sekali.

“Kau tak lelah Jaejoong?” Tanyanya padaku.

“Sedikit.” Jawabku cepat.

“Bagaimana kalau kita mencari minuman lalu duduk sesaat?” Tawarnya padaku.

“Baiklah.” Kamipun berjalan dengan dia menuntun di depan. Kupegangi ujung kaosnya dari belakang dengan dia sebagai penunjuk jalan.

***

Beberapa saat kemudian..

“Ini minumlah.” Ucapnya sembari menyerahkan sebotol minuman ke tanganku. Kuraih botol itu, kubuka perlahan dan kuteguk sedikit.

“Terima kasih.” Kataku padanya.

Kamipun kembali berjalan menuju tempat duduk. Tangan kiriku memegang botol, tangan kananku memegang tongkat. Tak bisa lagi aku memegang ujung kaosnya. Aku hanya mengandal pendengaranku pada langkah kakinya yang berada di sebelahku ini.

“Kau tahu, Yoochun-ah..” Ucapku membuka percakapan.

“Apa?” Jawabnya lirih.

“Aku belum pernah ke taman hiburan seumur hidupku dan ini pertama kalinya.” Kataku padanya.

“Benarkah? Baguslah saat ini berarti kau sudah pernah.” Jawabnya sambil terus melangkah di sebelahku.

“Iya, saat naik kicir-kicir dan jetcoaster tadi itu benar-benar menegangkan, tapi menyenangkan. Di rumah boneka tadi, walau aku tak melihat bentuknya, tapi mendengar cerita dan lagu-lagu yang diputar begitu lucu. Lalu saat masuk rumah hantu tadi, walau hanya mendengar suaranya aku sudah sangat ketakutan, beruntunglah aku tak bisa melihatnya. Dan satu yang paling aku ingat, saat naik kincir angin. Wah benar-benar menyenangkan di atas sana. Sepertinya aku harus segera naik pesawat sungguhan agar aku bisa merasakan rasanya naik pesawat. Kau pernah naik pesawat, Yoochun?” Tanyaku padanya.

Dia tak menjawab. Aku terus berkata hingga tersadar bahwa tak ada dia lagi di sebelahku.

“Yoochun, kau dimana?” Tanyaku padanya sambil berusaha mencari-cari sosoknya.

Kuarahkan tongkatku kesana kemari mencari keberadaannya. Tanganku berusaha meraih, kalau-kalau dia berada tak jauh dariku.

“Yoochun, jangan main-main. Kau dimana?” Tanyaku mulai ketakutan.

Yoochun bukan tipe orang yang suka bercanda dan mempermainkanku dengan kekuranganku yang tak bisa melihat ini.

“Yoochun.. Kau dimana, Yoochun? Yoochun..” Ucapku terus memanggil-manggilnya.

Tak ada sahutan darinya. Kenapa dia meninggalkanku sendirian disini seperti  ini? Sebenarnya sudah bertahun-tahun aku tidak masalah bepergian kemanapun sendirian. Aku sama sekali tak takut, toh aku punya tongkat yang bisa membantuku berjalan dan mulut untuk bertanya arah. Tapi entah mengapa sejak sering berjalan dengannya aku jadi ketakutan saat ini, saat berada di tempat asing sendirian, tanpa dirinya. Aku takut kehilangan dirinya. Aku benar-benar ketakutannya hingga tak sanggup lagi untuk melangkah. Kakiku bergetar hebat dan terasa begitu lemah. Bersimpuhlah aku di jalanan karena kedua kakiku tak sanggup lagi menahan rasa takutku.

“Yoochun..” Panggilku lirih seraya memelas. Air mata menetes dari sudut mataku.

“Yoochun.. Yoochun….”

Terus kupanggil-panggil namanya di jalanan yang sepi itu. Aku benar-benar ketakutan dan putus asa. Terus kupanggil-panggil namanya entah sudah berapa lama, rasanya serak sudah suaraku.

Yoochun.. Kau dimana?

Aku takut.. Aku takut.. Aku takut..

Yoochun..

Air mata telah membasahi wajahku sedari tadi, aku terisak-isak sambil terus berusaha memanggil namanya,  hingga tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan hangat dari belakang sana.

“Jaejoong..” terdengar sebuah suara yang amat sangat ingin kudengar sedari tadi, yang membuatku begitu ketakutan jika tak mendengar suara itu.

“Yoochun.. Kau kemana saja?” Tanyaku ditengah isakanku sambil mempererat pelukan tangannya.

“Maafkan aku.. Maafkan aku.” Ucapnya lirih.

“Aku setengah mati takut kehilanganmu. Jangan tinggalkan aku lagi. Kumohon..” Pintaku padanya dengan terus menangis.

“Tentu. Aku akan selalu di sisimu, selamanya.” Jawabnya sambil meletakan kepalanya dibahuku dan menempelkan pipinya dengan pipiku. Maafkan aku, maafkan aku..” Diulang-ulanginya kata-kata maafnya benar-benar merasa bersalah.

Aku harap dia memenuhi janjinya itu. Aku tak ingin kehilangan dia lagi untuk selamanya. Cukup beberapa saat saja dia pergi dari sisiku, aku sudah merasa hancur dan tak sanggup berdiri sendiri. Bagaimana jika suatu hari nanti dia menyadari bahwa aku bukanlah wanita yang pantas untuknya. Akankah dia meninggalkanku. Yoochun, kumohon tetaplah disisiku selama-lamanya.

-oOo-

 

Sebelumnya..

Kami tengah berjalan berdua menuju kursi taman terdekat. Kulihat sesekali dia meneguk minuman yang baru saja kuberikan. Kuperhatikan lekak-lekuk wajahnya lekat-lekat, ‘Cantik…’ gumamku dalam hati.

Namun, ada apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba begitu pusing? Kenapa penglihatanku menjadi buram?

Ahh.. Kepalaku sakit sekali..

Langkahku terhenti. Kugenggam erat-erat apapun yang ada di sebelahku yang berhasil aku jangkau. Kakiku terasa sulit untuk melangkah. Tanganku bergetar saat berusaha aku mengambil seseuatu dari dalam tasku.

Ya Tuhan, jangan.. Jangan sekarang.

Kuambil beberapa bulatan putih dari sebuah botol kecil yang kubawa dalam tas ku. Kumasukan ke mulutku dan berusaha kutelan cepat-cepat tanpa perlu menggunakan air. Ahh! Air.. Air.. Aku perlu air. Sulit sekali untuk menelannya tanpa bantuan air. Aku berjalan setengah menyeret kakiku menuju keran air yang ada disana. Tubuhku sudah begitu lemah untuk berjalan sediakala, kaki kiriku sudah nyaris mati rasa. Keringat dingin sudah mengalir membanjiri tubuhku.

Sesampainya aku di kran air, cepat-cepat kunyalakan dan kuminum tanpa berpikir apakah air itu baik diminum atau tidak. Kutelan obat itu cepat-cepat.

Saat ini tengah terduduklah aku di jalanan. Penglihatanku masih terlalu buram dan tubuhku terlalu mati rasa untuk berjalan. Kuatur nafasku yang terasa lemah ini.

Jaejoong.. Jaejoong.. Mana dia? Dia dimana?

Dia pasti khawatir, kebingungan, dan ketakutan sendirian. Kumohon, cepatlah. Aku harus segera menemuinya. Kumohon..

-oOo-

 

TO BE CONTINUED…

Hi, Beth imnida. ‘-‘)/

Duh duh duh… Chunjae makin so sweet aja yahhhh…. Yunjaenya mana yah kaka? Pentungin aja authornya pentungin aja ~ xD

Sabar ya kaka.. Dijamin puas (?)

Mohon leave comment nya dong kaka.. Kaka baik deh.. Nanti yang comment bisa ikut undian berhadiah Jaejoong *ehh* hahahaha

Jeongmal gomawoyo for reading & leaving comment ^^

Saranghamnida❤

One thought on “[FF] Jingga – Chapter 3/5

  1. wahhhh ini lama2 jadi ff chunjae bukan yunjae wkwkwk
    tuh kan bener chun sakit, apa nanti chun yang donorin matanya ke jaema~~~~
    aish jaema sampe segitunya kehilangan chun, yunpa udah keluar tanduk itu~~~
    hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s