[FF] Jingga – Chapter 4/5


Title     : Jingga – Yunjae

Author : Beth – @beth91191

Chapter: 4/5

Genre   : Angst, Romance , Slightly Genderswitch (Jenis kelamin Jaejoong tidak terlalu penting di sini)

Rate      : T

Cast      : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, Changmin

 

JINGGA

by. Beth – @beth91191

han

Sebelumnya..

(Yoochun POV)

Kami tengah berjalan berdua menuju kursi taman terdekat. Kulihat sesekali dia meneguk minuman yang baru saja kuberikan. Kuperhatikan lekak-lekuk wajahnya lekat-lekat, ‘Cantik…’ gumamku dalam hati.

Namun, ada apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba begitu pusing? Kenapa penglihatanku menjadi buram?

Ahh.. Kepalaku sakit sekali..

Langkahku terhenti. Kugenggam erat-erat apapun yang ada di sebelahku yang berhasil aku jangkau. Kakiku terasa sulit untuk melangkah. Tanganku bergetar saat berusaha aku mengambil seseuatu dari dalam tasku.

Ya Tuhan, jangan.. Jangan sekarang.

Kuambil beberapa bulatan putih dari sebuah botol kecil yang kubawa dalam tas ku. Kumasukan ke mulutku dan berusaha kutelan cepat-cepat tanpa perlu menggunakan air. Ahh! Air.. Air.. Aku perlu air. Sulit sekali untuk menelannya tanpa bantuan air. Aku berjalan setengah menyeret kakiku menuju keran air yang ada disana. Tubuhku sudah begitu lemah untuk berjalan sediakala, kaki kiriku sudah nyaris mati rasa. Keringat dingin sudah mengalir membanjiri tubuhku.

Sesampainya aku di kran air, cepat-cepat kunyalakan dan kuminum tanpa berpikir apakah air itu baik diminum atau tidak. Kutelan obat itu cepat-cepat.

Saat ini tengah terduduklah aku di jalanan. Penglihatanku masih terlalu buram dan tubuhku terlalu mati rasa untuk berjalan. Kuatur nafasku yang terasa lemah ini.

Jaejoong.. Jaejoong.. Mana dia? Dia dimana?

Dia pasti khawatir, kebingungan, dan ketakutan sendirian. Kumohon, cepatlah. Aku harus segera menemuinya. Kumohon..

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

 

Di museum..

Kupegang erat tangannya, tak kubiarkan dia pergi lagi saat ini. Aku tak peduli dengan apa yang dia pikirkan, atau orang lain pikirkan. Aku tak peduli dengan rasa rendah diri yang selama ini bersemayam di hatiku ketika bersanding dengannnya. Yang aku tahu, tak akan mungkin baginya menghabiskan waktu bersamaku jika tak memiliki perasaan yang sama denganku. Tak akan mungkin ia mau memelukku dan menggandeng tanganku jika memang tak ada rasa di dalam hatinya. Tak perlulah cinta itu diucapkan, hanya dengan kami berdua sama-sama merasakannya di dalam hati itu sudahlah lebih dari cukup.

Berjalanlah kami saat ini, melewati lorong-lorong museum yang sepi dan dingin. Musik-musik lembut dari pengeras suara terdengar sayup. Masih terus kugenggam erat tangannya saat ia menjelaskan apa saja yang terpajang disana. Sepertinya kini ia sadar akan ketakutanku yang berlebih akan kehilangan dirinya. Ditepuk-tepuknya punggung tanganku pelan dengan tangannya yang lain.

“Tenanglah. Aku tak akan kemana-mana.” Ucapnya lirih.

Aku tak menanggapi perkataannya tetap kugenggam erat tangannya. Kamipun terus berjalan melewati lukisan demi lukisan dan dia kembali menjelaskannya satu persatu tanpa benar-benar kupahami arti dari masing-masingnya. Walaupun begitu aku masih sangat antusias mendengarkannya bicara. Entah kenapa aku yang buta tertarik untuk pergi ke museum lukisan. Aku selalu ingin bisa melukis. Suatu hari nanti, aku harus bisa memuseumkan lukisanku, walaupun hanya museum pribadiku. Pasti menyenangkan jika kita bisa melukis dan menikmati lukisan kita.

“Kau ingin bisa melukis, Jaejoong?” Tanyanya tiba-tiba padaku seakan-akan membaca pikiranku.

“Ha, kau tahu darimana?” Tanyaku balik sedikit terkejut.

“Hanya menebak. Tapi benar kan?” Sahutnya cepat.

“Iya, aku ingin bisa melukis sesuatu yang indah dan memuseumkan lukisan-lukisanku.” Jawabku mantap.

“Memuseumkan? Kau yakin?” Tanyanya lagi.

“Iya memajangnya di museum. Memang terdengar aneh ketika seseorang yang telah begitu lama buta, dengan percaya-dirinya ingin memuseumkan lukisannya kelak? Tapi itulah salah satu impianku dan kau jangan menertawakannya!” Ucapku sedikit sebal mengetahui reaksinya.

“Aku tak menertawakanmu dengan impian indahmu itu. Sedikitpun tidak.” Jawabnya yang membuatku sedetik kemudian merasa bersalah telah berburuk sangka.

“Benarkah?” Tanyaku lagi.

“Tentu. Setiap orang berhak memiliki mimpi. Kau berhak memimpikan apapun di dunia ini yang ingin kau gapai atau lakukan. Aku justru punya impian yang gila.” Ucapnya serius.

“Apa memangnya?” Tanyaku ingin tahu.

“Mari aku tunjukan..” Ucapnya sambil menarikku entah kemana.

 

***

Beberapa saat kemudian..

Kurasakan angin malam bertiup lembut menyusup melewati setiap pori kulitku. Terasa sedikit dingin tapi menyegarkan. Samar-sama musik dari dalam ruangan museum masih terdengar, berbaur dengan suara orkestra jangkrik dari kejauhan sana. Sepertinya aku tahu ada dimana kami saat ini. Ya, kami berada di balkon gedung museum, menatap keluar entah tak tahu apa alasannya mengajakku kemari.

“Lihatlah..” Ucapnya padaku.

“Apa?” Tanyaku masih belum mengerti.

“Lihatlah itu mimpiku.” Ucapnya lagi.

“Dimana? Apa?” Tanyaku bingung dalam kebutaanku.

Kemudian diraihnya tanganku diangkatnya tinggi terus hingga mengarah ke condong atas.

“Langit?” Tanyaku makin tak mengerti.

“Iya langit. Aku ingin sekali bisa keluar angkasa sana. Berada di antara planet planet dan bintang-bintang. Melihat lebih dekat ciptaan Yang Maha Kuasa. Menyeberangi ruangan hampa udara, melayang-layang di atas sana, bermain-main dengan benda-benda yang tak banyak orang bisa lakukan, itu pasti menyenangkan sekali.” Ucapnya yang membuatku ternganga.

“Wahhh.. Itu impian yang keren sekali.” Sahutku terpukau.

“Keren kan? Dan sampai detik ini, aku yakin akan bisa keluar angkasa.” Jawabnya yakin.

“Setelah mendengar ceritamu itu, aku merasa impianku tak ada apa-apanya. Sangat mudah sekali untuk bisa sekedar memuseumkan lukisanku kelak.” Kataku menyadarinya.

“Benar, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, Kim Jaejoong. Tetap peganglah mimpimu itu dan gapailah suatu saat nanti. Aku akan tetap mendukungmu. Asal kau bahagia, aku juga akan bahagia.” Ucapnya yang membuatku kembali tersenyum.

“Terima kasih, kau selalu bisa mengatakan sesuatu yang bisa membuatku senang dan tenang. Terima kasih, Park Yoochun.” Kataku padanya.

“Tentu tapi tunggu.. Jam berapa saat ini?” Ucapnya tiba-tiba panik.

“Ha?” Sahutku tak mengerti.

“Jaejoong, sekarang sudah jam 11 malam ternyata. Terlalu asyik mengobrol denganmu hingga tak sadar museum telah tutup.” Ucapnya yang akhirnya bisa membuatku panik.

Kudengar langkahnya menghampiri pintu tempat kami keluar ke balkon ini. Dibukanya berkali-kali handle pintunya, namun sepertinya pintunya sudah terkunci. Langkahnya terdengar tergesa-gesa kesana-kemari seakan mencari celah untuk pergi dari balkon ini sembari sesekali berteriak mencari pertolongan. Namun kemudian…

“Pintunya terkunci.” Ucapnya kecewa sambil kembali menghampiriku dengan langkah lunglai. Di raihnya tanganku lembut dan genggamnya erat, “Maafkan aku. Ini semua gara-gara aku.” Ucapnya lirih.

“Jangan menyalahkan diri sendiri. Tak apa-apa.” Jawabku menenangkannya.

“Maaf..” Diulanginya lagi perkataannya.

“Sudahlah. Besok pagi pasti ada yang membukakan kita pintu.” Ucapku menenangkannya.

“Kalau begitu, mari kita duduk di sebelah sana. Sepertinya lebih hangat di sebelah sana. Selain itu, nanti kalau ada penjaga yang lewat, kita bisa melihatnya dari sana.” Ucapnya sambil menuntunku menuju tempat yang ia maksud.

Kini, terduduklah kami di lantai yang cukup dingin dan bersandar pada dinding yang juga terasa dingin ini. Kugenggam erat tangannya dan sedikit merapat aku ke arahnya.

“Kau kedinginan, Jaejoong?” Tanyanya padaku.

“Sedikit.” Jawabku sedikit serak.

Terasa genggaman tangannya sesaat terlepas, terdengar ia sibuk dengan sesuatu dan kemudian diselimutinya tubuhku dengan jaket yang semula ia kenakan. Hangat, benar-benar hangat.

“Terima kasih.” Ucapku lirih.

Kembali diraihnya kedua tanganku, digenggam erat keduanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya merapatkanku ke arahnya. Kusandarkan kepalaku di pundaknya dan kutekuk kakiku agar lebih menghangatkanku lagi. Sungguh saat ini aku merasa sangat hangat, bukan hanya karena dia yang telah begitu menjaga agar aku tak merasa kedinginan, tetapi juga karena ada semacam kembang api yang meledak-ledak di dalam hatiku. Aku benar-benar merasa bahagia dapat bersama dengannya, suatu kebahagiaan yang sederhana namun tak terkira rasanya. Sesaat aku khawatir dan panik terkunci di balkon ini, namun entah mengapa aku tak lagi merasakannya ketika mengingat ada dia bersamaku. Aku yakin asal dia selalu di sisiku, semua akan baik-baik saja. Tak ada hal lain yang kuinginkan selain dirinya di dunia ini. Aku terlalu bersyukur bisa terus bersamanya.

-oOo-

Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku dan hanya gelap dan gelap yang kudapatkan. Berada dimana aku? Kenapa aku tertidur di lantai yang dingin ini? Sebuah jaket menyelimutiku? Dimana ini? Yoochun? Iya aku bersama Yoochun terkunci di balkon museum taman hiburan tadi. Lalu dimana dia sekarang? Berusaha kuraih sekitarku. Tak ada dia disana.

“Yoochun.. Yoochun..” Panggilku mencarinya.

Namun tak ada jawaban yang kudapatkan. Apakah dia meninggalkanku sendiri, lagi? Tidak.. Dia tak akan seperti itu.

“Yoochun..” Panggilku mulai ketakutan.

“Tenanglah, aku tak kemana-mana, Jaejoong. Aku disini.” Ucapnya sambil terdengar langkahnya mendekatiku.

“Yoochun.. Kau disana?” Tanyaku berusaha menemukan sosoknya.

Diraihnya tanganku dan dibantunya aku berdiri. “Maaf.. Aku hanya ingin melihat matahari terbit. Aku kira kau masih tidur dan tak tega rasanya membangunkanmu. Jadi sengaja kubiarkan kau tetap tertidur.” Jelasnya padaku.

“Matahari terbit?” Tanyaku lagi.

“Iya. Tak lama lagi matahari terbit. Kau ingin merasakannya?” Tanyanya balik.

“Tentu, ingin sekali aku merasakan detik-detik saat matahari terbit.” Jawabku.

Dituntunnya aku berjalan menuju pinggir balkon. Digenggamnya erat tanganku dengan hangatnya. Udara dingin pagi begitu terasa. Sayup-sayup kudengar suara kicauan burung yang sedang berterbangan. Angin semilir berhembus halus. Kini berdirilah kami di pinggir balkon.

“Bagaimana matahari terbit itu? Gambarkanlah.” Ucapku sambil menerawang dalam kegelapan.

“Gambarkan?” Tanyanya padaku.

“Iya.. Aku ingin mengetahuinya.” Sahutku cepat.

“Hmm.. Matahari terbit, bewarna jingga yang indah seperti indahnya jingga saat matahari tenggelam. Munculnya matahari menyinari bumi sembari menyalurkan seluruh kehangatannya dan memberi semangat pada seluruh makhluk.” Jelasnya padaku.

“Indah? Aku ingin sekali bisa melihat keindahan matahari terbit. Kau pernah bilang anggap saja wajahmu seperti matahari terbit. Kalau begitu aku lebih tertarik untuk melihat wajahmu dibandingkan melihat matahari terbit itu sendiri. Pasti kau jauh lebih indah.” Ucapku lirih pada bagian akhirnya.

“Tidak, di dunia ini, kaulah hal terindah yang pernah kulihat.” Katanya sambil menghadapkanku padanya.

“Yoochun..” Ucapku lirih sambil menundukan kepalaku.

“Jaejoong..” Desahnya pelan.

Tiba-tiba perasaan aneh menghinggapiku. Hatiku sudah berdebar-debar tak karuan. Nafasku terasa begitu berat. Aku tak tahu apa nama perasaanku ini. Bahkan untuk menggambarkannya aku tak sanggup. Aku tak bisa melihatnya namun aku bisa merasakannya, aku merasakan bahwa dia tengah menatapku tajam dan dalam, dengan begitu hangatnya hingga tak lagi kurasakan dingin pagi karenanya.

Perlahan kedua tangannya menyentuh lenganku dengan lembutnya. Didekatkannya tubuhku ke arahnya. Kicauan burung terasa berhenti di telingaku dan hembusan angin tak lagi terasa. Yang mampu kudengar saat ini hanyalah suara jantungku yang membahana memenuhi relung hatiku. Sedikit demi sedikit mampu kurasakan hembusan nafasnya menyentuh kulit wajahku. Begitu hangat dan semakin mendebarkanku. Kupejamkan mataku sekalipun jika kubuka mata ini tak akan bisa kumelihat wajahnya. Kutundukan kepalaku setunduk-tundukan. Namun kini kurasakan dia tengah membelai wajahku dengan tangan kanannya. Di angkatnya daguku sedikit ke atas. Dengan sangat perlahan dan perlahan, dikecupnya bibirku begitu lembut dan begitu hangatnya.  Seketika aliran listrik menyebar ke seluruh tubuh beserta seluruh kehangatan yang ia salurkan melalu ciumannya ini. Begitu dalam dan begitu indah.

Sungguh, Tuhan, aku mencintainya. Sangat, sangat mencintainya. Tak ingin aku berpisah darinya seumur hidupku. Aku benar-benar mencintainya demi seluruh hal yang ada di dunia ini, untuk saat ini dan selamanya.

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

“Apa dok??” Seruku terkejut.

“Keluarga pasien ini menginginkan anaknya untuk segera dioperasi transplan kornea. Karena dia harus segera masuk ke sekolah penerbangan. Aku telah menjelaskan bahwa kita harus menuruti antrian. Tapi dia tetap saja memaksa. Aku katakan padanya, sebenarnya tidak apa, asal semua yang dia lompati antriannya setuju.” Jelas Dokter Yunho padaku.

“Begitu kah?” Tanyaku sedih.

“Kebetulan pihak rumah sakit telah menghubungi semua pasien, dan mereka setuju-setuju saja. Lalu bagaimana denganmu Jaejoong?” Tanya Dokter padaku.

Kuhembuskan nafas panjang, “Tak apa dok. Hanya tertunda sementara saja. Dia lebih butuh untuk segera melihat dibandingkanku.” Jawabku pasrah sambil tersenyum masam.

“Benarkah itu Jaejoong?” tanyanya menyakinkanku, namun kujawab pertanyaanya dengan hanya anggukan lemah dariku, “Kau orang yang baik. Tenanglah, setelah operasi anak ini nanti sore. Segera akan kucarikan donor untukmu, bahkan ke rumah sakit di luar kota sekalipun.” Ucap Dokter Yunho membesarkan hatiku.

“Baiklah Dok. Terimakasih. Kalau begitu saya pamit.” Ucapku sambil memberinya salam dan beranjak pergi.

Aku berjalan melewati lorong rumah sakit dengan langkah berat. Aku sudah menunggu orang tuaku memiliki biaya dan mengantri urutan operasi bertahun-tahun lamanya, dan saat hari dimana aku akan menerima donor, ada saja hal yang membuatnya tertunda.

Sabar Jaejoong.. Sabar.. Mungkin aku masih belum siap saja untuk melihat dunia saat ini. Tapi Dokter Yunho berjanji untuk segera mencarikan aku donor kornea bukan? Bersabarlah saat ini, untuk kebahagiaan nanti.

Aku berjalan terhuyung-huyung menuju taman rumah sakit dan terduduklah aku di bangku taman. Berkali-kali kuhembuskan nafas panjang. Aku sedih tapi aku tak boleh egois, aku ingin marah tapi aku harus sabar, aku ingin segera bisa melihat tapi aku harus membantu anak itu. Semua terasa berkecamuk di dadaku.

Park Yoochun mana? Dimana dia? Aku membutuhkannya saat ini. Aku yakin dia bisa memberi saran bijaknya lagi kali ini. Aku yakin dia bisa menghibur kegundahanku. Aku yakin dia bisa membuatku merasa lebih baik.

Mana dia?? Mana?

Aku terus menunggu, menunggu dan menunggu. Aku menunggu kedatangannya untuk memberiku semangat menghadapi hal ini.

Tapi kemana saat ini? Tak seperti biasanya dia tak meluangkan waktu untukku? Apakah dia sibuk? Tapi… hal mungkin saja. Bagaimanapun juga dia adalah dokter yang mana memiliki kesibukan sendiri, maka dari itu, dia tak ada waktu kemari menemuiku saat ini.

Fyuh…

Aku tak sanggup lagi menahan gejolak di hati ini. Air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk mataku, akhirnya jatuh juga membasahi pipi. Disaat seperti ini, disaat aku membutuhkannya dia tak ada di sisiku. Pikiran-pikiran buruk mulai merayapiku. Seharusnya sejak awal aku sadar dia hanya menganggapku pasien biasa seperti pasien lain pada umumnya. Tak mungkin dia menganggapku lebih. Dia yang begitu sempurna mana mungkin melirikku yang jauh dari kata sempurna. Wajar saja dia lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan menghabiskan waktu bersamaku yang cacat ini.

Aku terus menangis di taman rumah sakit ini yang terasa mulai sepi. Haripun semakin menjelang malam. Matahari perlahan tapi pasti mulai kembali ke peraduannya. Para pasien satu-persatu kembali ke kamarnya masing-masing, sedangkan para keluarga pamit undur diri karena jam besuk akan segera habis. Tak banyak lagi orang yang berkeliaran di taman. Tinggalah burung-burung berkicauan di langit dan angin lembut yang menemaniku. Maka biarkan aku menumpahkan perasaanku ini sepuas hatiku. Hatiku benar-benar sedih saat ini, bukan hanya karena operasi transplanku yang tertunda, tapi juga karena aku baru saja menyadari bahwa selama ini aku bodoh telah berani berangan tinggi untuk bersanding dengan Yoochun, maksudku Dokter Park Yoochun yang terhormat.

Biarlah.. Biarlah aku menangis. Ijinkan aku menumpahkan perasaanku ini. Walau sesungguhnya aku masih berharap dia berada disebelahku saat ini.

 

***

 

(Yoochun POV)

Andai kau tau, aku disebelahmu Jaejoong..

Aku telah duduk disini, disebelahmu, disisimu, sejak sebelum kau dating ke taman ini. Aku tahu apa yang terjadi. Aku sempat diberbicara dengan Dokter Yunho tentang operasi transplan korneamu yang tertunda. Aku yakin kau pasti merasa sedih sekali saat ini, begitu juga aku. Dan aku yakin kau pasti merasa hancur karena hal itu, dan lagi-lagi begitu juga aku. Aku ingin menghiburmu, menenangkanmu, menepuk bahumu bahkan memelukmu. Tapi akan sangat egois bagimu, kalau aku terus membiarkanku mendekatimu.

Aku menyayangimu Jaejoong. Aku mencintaimu. Sangat. Sejak kau baru menjadi pekerja social di rumah sakit ini, aku sudah mengamatimu dari kejauhan. Dan saat pertama kali aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan karena paras cantikmu, bukan karena keindahan fisikmu, tapi karena kepribadianmu. Kau cantik luar dalam, Jaejoong. Aku mencintaimu hingga hampir gila. Tapi aku tak boleh egois. Aku tak bisa terus membiarkan perasaan itu tumbuh dihatimu, seperti apa yang sudah terlanjur tumbuh dihatiku, mengakar menghujam hingga kedasarnya.

Mianhaeyo Kim Jaejoong. Mianhaeyo.

Kau pasti akan mengira aku jahat dan tak peduli lagi padamu. Kau pasti sakit hati karena aku tiba-tiba menghilang dari kehidupanmu. Tapi percayalah itu lebih dari pada rasa sakit yang bisa timbul disaat semuanya sudah begitu terlambat. Aku bukan pria sebaik apa yang kau kira Kim Jaejoong. Aku tak pantas untukmu. Sama sekali.

***

Kulihat air matanya berlinang jatuh membasahi pipi meronanya. Hatiku sakit. Benar-benar sakit. Sakit yang kurasakan terasa begitu mempilukan. Begitu sakit hingga dadaku terasa sangat sesak dan tertekan. Tak ada yang bisa kulakukan. Terdiam aku seribu bahasa di sebelahnya. Dia terus menangis dengan Sang Senja menghias di depan sana. Jangan menangis Senja-ku. Aku tahu ada kalanya malam akan datang. Namun matahari telah berjanji akan terbit esok hari.

Tenanglah Jaejoong, walau kita tak dapat bersama, aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia.

-oOo-

(Jaejoong POV)

Hari ini aku kembali datang ke rumah sakit. Bukan karena aku ada janji dengan Dokter Yunho atau untuk kerja sosial. Tak ada alasan lain untukku pergi kemari selain untuk menemui Yoochun. Ditanganku kupegang sebuah kotak makanan berisi ramen. Ramen buatanku pastinya. Dia pasti senang melihat aku membawakan ramen untuknya. Aku harap dia muncul hari ini. Setiap hari aku menunggu dari pagi hingga hampir petang. Tapi dia tak juga datang.

***

Apakah hari ini dia tetap tak juga datang? Hari sudah mulai menjemput malam. Aku menyerah lagi untuk hari ini. Akupun memutuskan untuk pulang dan mencoba kembali esok hari.

***

Aku terus mencoba nya selama beberapa hari terakhir ini.

Mana dia?

Mana?

Kenapa dia tiba-tiba menghilang seperti ini?

Apa aku perlu bertanya kepihak rumah sakit?

Apa aku perlu meminta perawat atau siapa memanggilkannya?

Lalu kalau dia sudah berada disini apa yang akan kulakukan?

Aneh rasanya kalau dia memang sengaja menghindariku tapi aku justru memintanya menemuiku.

Lalu, aku harus bagaimana?!

Aku bingung..

Sarannya lah yang selalu paling bijak bagiku. Namun kini aku justru tak bisa bertemu dengan Sang Pemberi Saran.

Lalu, aku harus bagaimana?!

Aku bingung..

***

Setiap hari beginilah selalu aku lakukan. Berangkat dengan penuh harapan, dan pulang dengan kekecewaan mendalam. Aku tak juga kunjung bertemu dengannya.

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

Aku tengah berada di suatu tempat yang asing bagiku. Aku tak tahu ini dimana? Tapi terdengar suara deburan ombak dari kejauhan. Kakiku menyandung-nyandung sesuatu yang terasa begitu lembut dan dingin. Suara burung-burung berkicau di langit. Angin bertiup halus dan menyejukan.

Apa ini?

Apa?

Apakah yang terasa begitu nyaman dan lembut dikakiku ini namanya pasir?

Kupendarkan penglihatanku ke sekitar..

Apakah yang bergulung-gulung dikejauhan sana itu namanya ombak?

Lalu… Apakah yang berjejer di sebelah sana itu yang disebut pohon kelapa?

Dan… Apakah yang terbang kesana kemari itu yang disebut burung?

Jangan-jangan… Apakah ini yang namanya pantai?

Wah…

Indah. Indah sekali.

Pasti sesuatu yang bercahaya di ufuk barat itu yang disebut matahari.

Aku begitu terkagum-kagum dengan seluruh keindahan yang tiba-tiba kulihat ini. Betapa luar biasanya ciptaan Yang Maha Kuasa. Begitu indah. Sangat.Kulihat sekelilingku dengan penuh kekaguman. Hingga tiba-tiba perhatianku terusik oleh suara seorang pria yang memanggil namaku.

“Jaejoong..” Panggilnya lembut padaku.

Aku menoleh ke arah sumber suara. Kudapati sesosok pria yang selama ini selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Namun mengapa, entah sejak kapan, aku tak pernah lagi memimpikannya. Lalu kenapa saat ini dia tiba-tiba berdiri di hadapanku?

“K..k..kau siapa?” Tanyaku padanya.

Dia tak menjawab, hanya tersenyum lembut padaku. Tetap seperti itulah senyumannya, senyumannya yang dulu, tak berubah sedikitpun, tetap seperti yang pernah muncul dalam mimpi-mimpiku. Mata indahnya, wajah menawannya dan senyuman tulusnya, dia benar-benar nyata.

“Mmmm.. K..kau siapa?” Tanyaku lagi kali ini.

Dia tetap saja diam tak menjawab. Namun terlihat dia mengangkat tangan kanannya ke atas, dengan jari telunjuknya menunjuk pada hamparan langit di kejauhan sana. Kulemparkan pandanganku pada apa yang tengah dia tunjuk. Ya, langit yang indah. Aku tak pernah tahu selama ini apa arti indah itu. Tapi sekali melihatnya aku langsung tahu, ini benar-benar indah.

Pasti ini yang sering disebut Yoochun sebagai jingga.

Tunggu… Jingga?!

Yoochun??

Aku kembali menoleh ke arah pria itu. Namun yang kudapati samar-sama ia menghilang dengan sangat perlahan. Dia terus tersenyum padaku dengan senyuman malaikatnya. Tapi tunggu.. Tunggu.. Aku belum sempat mengetahui namamu.

Siapa sebenarnya kamu?

Siapa??

***

DEG!

Aku tersentak, aku terbangun. Hanya gelap dan hitam yang kudapati. Ternyata aku bermimpi, mimpi yang sangat indah. Apakah suatu saat nanti jika aku bisa melihat, hal seindah itukah yang muncul dalam penglihatanku? Kalau begitu aku harus segera bisa melihat, aku ingin melihat betapa indahnya dunia ini. Aku ingin melihat langit dan pantai seperti yang ada di dalam mimpiku. Aku juga ingin melihat wajah Yo…

Kring.. Kring.. Kring…

Teleponku berbunyi. Kuraba-raba meja yang berada di sebelah tempat tidurku. Kuraih gagang teleponku dan kutekan tombol angkat yang seperti biasa aku lakukan saat mengangkat telepon.

Yabuseyo..” Salamku.

“Jaejoong? Aku Yunho.” Sahut seseorang di seberang sana.

“Dokter?” Tanyaku bingung sambil menekan tombol jam mejaku.

Pukul satu a.m.‘ Bunyi jam itu.

Mianhae aku meneleponmu lewat tengah malam.” Sahutnya.

“Iya, ada apa, Dok?” Tanyaku lagi.

“Ada donor kornea untukmu. Bisakah pagi ini kita lakukan operasi transplantasi kornea?” Tanyanya yang membuatku tiba-tiba terkejut tak percaya.

Benarkah akhirnya ada donor kornea untukku? Benarkah ini nyata? Benarkah aku akan dapat segera melihat? Benarkah ini bukan mimpi??

“Jaejoong, istrirahatlah cukup. Pukul 10 pagi ini, datanglah ke rumah sakit. Kita akan lakukan operasi donor kornea pagi ini juga. Selamat malam.” Ucap dokter Yunho sambil memutuskan teleponnya.

Ya Tuhan.. Terima kasih Tuhan. Penantianku bertahun-tahun berakhir juga. Besok aku akan menjalani operasi transplantasi kornea.

Aku akan segera bisa melihat.

Aku akan segera bisa melihat…

Umma.. Appa..

Segera kuberitahu pada Umma dan Appa-ku tentang berita membahagiakan ini. Dokter Yunho menyuruhku untuk istirahat cukup, tapi aku justru antusias mengabari berita membahagiakan itu pada seluruh sanak keluarga dan teman-temanku. Bagaimana bisa aku tidur nyenyak jika hatiku berdebar-debar bahagia seperti ini.

Terimakasih Tuhan, terima kasih..

-oOo-

TO BE CONTINUED…

Hi, Beth imnida. ‘-‘)/

Jeng.. jeng.. jeng… mulai kebaca belum jalan ceritanya.. “Asyik” deh chapter berikutnya. Ditunggu ya kak ^^

Mohon leave comment nya dong kaka.. Semoga ketemu / ketemu lagi sama bias nya deh… *kedip2* hahahaha

Jangan lupa follow @Fanficyunjae ya kak, kalo mau follow @beth91191 juga boleh ~ :*

Jeongmal gomawoyo for reading & leaving comment ^^

Saranghanda❤

2 thoughts on “[FF] Jingga – Chapter 4/5

  1. wlw bnyak moment chunjae, tapi ni tetep yunjae, kan?
    ap donor korneanya jae tu bang uchun? jdi chun g mo bkin jae lbh skit klo smpe jae ska k chun, krn chun sakit?*soktau*

  2. chun meninggal kah? trus dia yang donorin kornea buat jaema?
    yunjaenya mana nihhhh? cuma dichap akhir ajaa? huft yaudin, yang penting endingnya yunjae forever~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s