Love.. What To Do (chapter 1) by: parkririn


Love.. What To Do

By : parkririn1611

Chapter 1

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

Author kembali membawakan fanfic baru ^^ semoga kalian suka ! Maaf jika jelek ya L mohon kritik dan sarannya~~

***

(Jaejoong POV)

Halo. Namaku Kim Jaejoong. Orang-orang biasa memanggilku dengan Jaejoong.

Aku seorang lelaki. Tinggi. Memiliki kulit sebersih porselen. Memiliki wajah yang cantik. Memiliki keahlian memasak. Memiliki pekerjaan sebagai koki disebuah restoran Eropa. Dan memiliki seorang kekasih bernama Jung Yunho.

Ah~~ Kalian pasti memiliki 2 pertanyaan, mengapa wajahku cantik dan mengapa pacarku seorang lelaki juga, benar kan?

Memiliki wajah cantik bagiku itu bukan sepenuhnya bencana, itu merupakan anugerah juga. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu dan bahkan jika teman-temanku sering menggoda wajah cantikku, aku tidak marah. Wajahku tidak sepenuhnya cantik, beberapa teman wanitaku juga sering menyebutku tampan. Haha.

Mengapa aku memiliki seorang kekasih lelaki? Aku pikir itu hak. Maksudku begini, itu kan semua pilihan orang (dan termasuk hak) untuk memilih siapa yang akan menjadi kekasih mereka dan hak setiap orang untuk bahagia dimana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Jadi bagiku tidak masalah juga memiliki Jung Yunho dalam hatiku.

Kalian tahu kenapa? Karena kekasihku sangat tampan ^^ Dia bekerja sebagai CEO sebuah perusahaan besar di Seoul. Mm~ kalian pasti penasaran bagaimana ceritanya aku dan dia bisa menjadi sepasang kekasih?

Begini ceritanya…

Hari itu Seoul begitu dingin dan jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Karyawan lain sudah pulang dan aku masih terdiam di depan pintu masuk restoran di tempat aku bekerja. Banyaknya pelanggan hari ini membuat bahu dan pinggangku seakan mau patah. Belum lagi ditambah dengan Chef Jang yang hari ini begitu senewennya dengan pekerjaan para koki.

Aku ingin segera pulang. Tapi entah mengapa kakiku ingin berjalan-jalan sebentar, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju apartemenku. Sambil berjalan aku teringat dengan keluargaku yang berada di Busan. Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka sudah tidur? Aku sangat merindukan adik-adik perempuanku dan ibuku. Merindukan tawa dan kasih sayang mereka.

Ayahku sudah meninggal karena kecelakaan ketika aku masih remaja. Ayah adalah sosok yang sangat aku banggakan, begitu pula dengan ibuku. Ibu merawat ku dan kedua adikku sendiri. Aku merasa bersyukur bisa mendapat pekerjaan layak di Seoul, sehingga setiap bulan bisa membantu kebutuhan rumah dan ibuku.

“Ah, jika aku sedang di rumah, pasti ibu akan membuatkanku sup ayam di malam yang dingin begini..” ucapku sambil menggosok-gosokkan telapak tangan bersamaan.

Ketika melewati taman, aku melihat seorang lelaki sedang duduk dibangku taman dan kepalanya tertunduk. Aku pikir dia orang gila, tapi mana mungkin orang gila berpakaian rapi dan membawa sekotak kado pangkuannya? Aku mendekati lelaki itu dan menepuk bahunya.

“ Dia tidur?” gumamku.

Aku kembali menepuk berulang bahu lelaki itu dan sepertinya dia mulai sadar.

“Permisi, kau tertidur di sini. Apa tak sebaiknya kau pulang? Di sini begitu dingin” ujarku.

Lelaki itu mendongakkan kepalanya dan melihatku dengan heran. Ommo~ lelaki ini tampan sekali. Alisnya tebal dan tegas. Matanya seperti mata musang. Bibirnya tipis. Wajahnya maskulin. Aku merasakan sepertinya dadaku berdesir melihat ketampanannya.

“Siapa?” tanya lelaki itu.

Aku mengusap tengkukku, “Ah, aku Kim Jaejoong, aku hanya sedang lewat dan melihatmu sepertinya tertidur di bangku ini. Tidakkah kau pulang? Oh, atau kau sedang menunggu seseorang?”

Lelaki itu berdiri dan merenggangkan badannya. Badan lelaki ini begitu atletis sekali sih?

“Aku sedang menunggu orang tapi sepertinya dia tidak akan datang. Oh ya, siapa namamu tadi?”

“Kim Jaejoong”

Lelaki itu mengulurkan kotak kado yang dia bawa tadi, “Terima kasih sudah membangunkanku. Ini untukmu saja. Namaku Jung Yunho”

“Apa? Untukku?” tanyaku.

“Ya, untukmu. Ambilah.”

Aku mengambil kotak itu dan membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasih. Yunho tersenyum dan mengusap kepalaku sekilas lalu pergi kearah yang berlawanan denganku. Apa yang dia lakukan? Mengusap kepalaku? Memangnya aku anak kecil? Ah~ tapi dia begitu tampan dan manis, mengapa hatiku berdesir begini?

Sesampainya di apartemen, aku mengambil kado yang diberikan Yunho tadi. Kotak yang tidak terlalu besar, berwarna merah dan berpitah putih. Aku mulai membukanya dan.. ini? Kemeja putih? Memangnya dia mau memberi kado untuk siapa sebenarnya? Ini kan kemeja laki-laki.

Aku memakai kemeja itu dan bercermin. Sangat pas dibadanku dan nyaman. Tapi kenapa Yunho ingin member kado kemeja ini kepada orang yang dia tunggu? Memangnya orang yang dia tunggu itu seorang lelaki? Ah, aku ini banyak bertanya sekali..

“Siapa sebenarnya dia ini?” tanyaku dalam hati.

Aku melipat kemeja itu dan menaruhnya di lemari. Dan berharap suatu hari dapat bertemu kembali dengan Yunho. Eh, bertemu dengan dia lagi? Untuk apa? Dahiku berkerut memikirkan perkataanku barusan. Yunho tampan, tapi apakah dia gay sepertiku? Karena jujur saja aku ini gay.

Beberapa hari kemudian…

Seperti biasanya, pagi-pagi aku akan datang ke restoran dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaianku dengan pakaian koki. Kemeja putih dan apron hitam sudah ku kenakan, tak lupa ku selipkan pita berwarna biru di kerah kemejaku. Sambil berjalan menuju dapur, aku menyapa para karyawan yang lain.

“Morning, Jae..” Sapa seseorang di balik meja chef.

Itu Chef Jung. Dia kepala chef di sini dan juga pemilik restoran ini sebenarnya. Dia tampan. Dan sangat berkharisma. Pernah tinggal di Italia selama 10 tahun. Skill memasaknya? Sudah tidak diragukan lagi diseluruh Seoul ini. Tiga tahun yang lalu dialah yang mengajakku untuk bekerja direstorannya. Saat aku sedang kebingungan mencari pekerjaan, dia menanyakanku apakah aku ini bisa memasak atau tidak. Dia membawaku ke restoran ini dan memintaku memasak untuknya. Besoknya, karirku sebagai koki di sini dimulai dari sebagai asisten koki.

Tidak ada yang bisa menebak Chef Jung. Bahkan aku pun juga terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran dan kepribadiannya. Tampak dari luar dia sangat baik dan maskulin. Tapi hatinya? Tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan kekasihnya. Entah dia sudah memiliki seorang kekasih atau belum, tapi selama ini semua orang karyawan di sini tidak pernah melihat dia berdua dengan seorang gadis. Padahal para pelanggan restoran ini banyak yang menyukainya, tapi aku rasa dia sama sekali tidak tertarik.

“Aneh sekali..”

“Apanya yang aneh?”

“Eh?” aku menolehkan kepala. Ternyata tadi gumamanku terdengar oleh chef.

Chef Jung memiringkan kepalanya, “Ada apa, Jae?”

“Ani~..” aku terkekeh.

Chef Jung berjalan kearahku dan memegang kepalaku.

“Hari ini ada reservasi dari CEO sebuah perusahaan ternama dan juga duta besar dari Indonesia, tolong kau yang tangani pesanan mereka ya?” tanya chef.

Aku mengangguk,”Siap, chef!” seruku.

Jam makan siang pun datang dan restoran kami mulai dipenuhi oleh pelanggan, mulai dari karyawan kantoran sampai pejabat, yang kelaparan setelah penat setengah hari bekerja dan mengatasi urusan mereka masing-masing. CEO dari Cassiopeia Construction dan duta besar Indonesia pun sudah datang dan memesan makanan utama siang ini, Abacchio al forno atau daging domba panggang dengan rosemary yang didatangkan langsung dari Roma.

Sebenarnya aku sudah sering melayani pesanan para pejabat, tapi entah mengapa aku masih saja gugup dan takut bila masakanku memiliki kekurangan.

“Abacchio al forno!” Ting. Seru chef sembari menekan bell.

Aku harap masakanku sempurna. Ketika kembali memasak untuk pesanan selanjutnya, Chef Jung memanggilku dan berkata bahwa duta besar Indonesia ingin bertemu denganku. Jadi aku merapikan pakaianku dan berjalan menuju ruang utama restoran dan menemui tamu penting siang sini.

“Good afternoon, Sir. My name is Kim Jaejoong, I’m the chef that receiving your order. May I help you, Sir?” sapaku dengan sikap sopan.

“Ah~ so you’re the chef? I just want to say that your dish is very very perfect. “ puji duta besar Indonesia sambil menepuk ringan tanganku.

Aku membungkukkan badan,”Thankyou, Sir”

“Right, Mr. Jung?”

Duta besar Indonesia bertanya untuk memastikan dengan seseorang yang duduk membelakangiku, itu pasti CEO Cassiopeia Construction, pikirku. Lelaki itu memiringkan badannya tersenyum kepada duta besar Indonesia dan kemudian menatapku. Entah mengapa tapi aku merasa kalau bibirku mulai menyunggingkan senyum lebar. Ini keberuntungan ya?

Orang itu terlihat biasa saja dan tersenyum,”Annyeonghaseyo, Jaejoong-ssi” sapanya.

Aku menganggukan kepala.

“Annyeonghaseyo, Jung Yunho..”

***

Sebenarnya entah mengapa aku menyunggingkan senyum selebar ini saat aku tahu tamu penting siang ini adalah Jung Yunho. Dua minggu setelah pertemuan tidak sengaja itu dan baru sekarang kami bertemu lagi. Dia tetap saja tampan seperti malam itu. Hanya saja sekarang dia kelihatan sangat berwibawa dengan menggunakan setelan jas hitam dengan kemeja biru muda di dalamnya.

“Both of you are friends?” tanya duta besar Indonesia yang sepertinya sedikit terkejut mengetahui Yunho mengenalku.

“Ne. He is my friend..” jawab Yunho.

Setelah pertemuan kami yang kedua kalinya itu, aku semakin terpikirkan tentang Yunho. Tentang dia yang ternyata CEO sebuah perusahaan besar. Tentang dia yang begitu tampan, yang begitu maskulin. Argh! Kenapa aku jadi memikirkannya terus?!

Aku sedang mengambil tas di dalam loker dan bersiap untuk pulang. Bahan-bahan untuk besok sudah setengah disiapkan, jadi aku tidak perlu berangkat terlalu terburu-buru besok pagi. Begitu mengucapkan selamat malam pada petugas keamanan yang bertugas malam itu, aku keluar dan menuju halte bus di depan sebuah minimarket.

Aku menunggu bis terakhir malam itu lewat dan tak sengaja mataku berhenti pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari halte. Mobil mahal, pikirku. Mobil sedan mewah berwarna hitam dengan body yang mulus dan super bersih mengkilap. Ah, pasti orang ini sangat kaya. Andai saja aku bisa membeli mobil seperti itu. Aku pasti akan mengajak ibu dan kedua adikku jalan-jalan berkeliling Seoul.

Aku menghembuskan nafas,”Berjuanglah, Kim Jaejoong.. Aja aja fighting!!” seruku.

“Sedang menunggu bis?”

“Ommo.. !”

Aku terlonjak kaget mendengar seseorang yang tiba-tiba munsul disampingku dan mengajakku berbicara. Mataku membulat lebar dan bibirku sedikit terbuka melihat siapa ternyata orang itu. Itu Jung Yunho.

“Sedang menunggu bis ?” ulangnya..

Aku tersadar dan segera menjawab pertanyaanya,”Ah, ne. Kau, apa yang sedang kau lakukan di sini, Yunho-ssi ?”

Yunho menyodorkan sekotak kecil susu strawberry kearahku.

“Minum cepat”

“Mwo ? Ini ? Untukku maksudnya ?’ tanyaku.

“Tentu. Kajja, ayo minum..” perintahnya.

Dengan canggung aku mengambil kotak susu itu dari tangannya dan mulai meminum susu itu dengan sedotan. Diam-diam ku perhatikan melalui sudut mataku, Yunho sepertinya sedang melihatku. Aku mencoba perlahan menoleh kearahnya dan benar saja dia sedang memperhatikan ku ternyata.

“Ada apa ? Kenapa melihatku begitu ?”

Yunho hanya tersenyum dan mengusap kepalaku seperti pertama kalinya kita bertemu. Dia ini hanya dengan menyentuh kepalaku begini saja sudah cukup membuat jantungku berdebar-debar. Aish~ jangan membuatku menjadi gugup begini, Yunho-ssi.

“Kau.. Seperti gadis kecil ya..”

Aku melongo. Gadis kecil katanya ? Aku ini laki-laki tahu ! Aku memanyunkan bibirku ke depan, sebagai tanda aku merasa tidak senang dengan panggilan gadis kecil. Bukannya minta maaf, Yunho malah tertawa dan menarik tanganku dan kemudian menyuruhku mengikutinya.

(End of Jaejoong POV)

***

(Author POV)

Malam itu Yunho pulang larut dari kantornya. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan dia tidak ingin hari liburnya nanti terganggu dengan pekerjaan yang belum selesai. Pukul 22.00 dia keluar dari basement kantor dan pulang menuju rumahnya. Rasanya setelah sampai di rumah dia ingin sekali berlama-lama berendam air hangat. Kepalanya sedikit pusing dan bahunya tearasa begitu pegal. Apalagi kedua kakinya, rasanya sudah ingin lepas saja karena seharian ini dia berjalan mengunjungi proyek-proyek yang sedang ia kerjakan.

Dia haus. Jadi Yunho memutuskan untuk berhenti di minimarket di dekat halte bus untuk sekedar membeli minuman. Begitu keluar dari minimarket, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan. Sudah malam, tapi sepertinya Seoul baru akan ramai dengan hilir mudiknya orang-orang yang menikmati malam dengan pergi ke club, pikirnya.

Yunho melangkahkan kakinya menuju mobil, tapi kemudian terhenti karena dia melihat sesosok lelaki yang sedang berdiri di halte bus. Lelaki cantik yang ditemuinya dua minggu yang lalu dan tadi siang. Ia jadi teringat dengan pertemuannya tadi siang. Saat sedang mendengarkan duta besar Indonesia memuji koki yang menyiapkan hidangan mereka, Yunho tahu dari suaranya koki itu sepertinya Kim Jaejoong. Orang yang membuatnya merasa seperti tersihir oleh kecantikan sekaligus sorot matanya yang begitu hangat. Yunho terpikat oleh pesona lelaki cantik ini pada pandangan pertamanya.

“Sedang menunggu bis?”

Jaejoong terlihat sedikit terlonjak melihat Yunho yang tiba-tiba muncul disampingnya,”Ommo!”

Yunho memperhatikan Jaejoong yang sepertinya kaget karena melihatnya. Bahkan saat kaget pun laki-laki ini tetap cantik, batin Yunho.

“Sedang menunggu bis?” ulang Yunho, karena Jaejoong tak kunjung menjawabnya tadi.

“Ah, ne. Kau, apa yang sedang kau lakukan di sini, Yunho-ssi ?”

Tanpa menjawab pertanyaan Jaejoong, Yunho menyodorkan sekotak kecil susu strawberry yang di belinya tadi. Sepertinya rasa haus Yunho menghilang setelah melihat Jaejoong. Yang dia rasakan sekarang hanya kehangatan yang menyusup dalam dirinya begitu melihat mata Jaejoong. Seperti menemukan kenyamanan di dalam sana.

“Minum cepat” perintah Yunho.

Jaejoong terlihat kaget,“Mwo? Ini? Untukku maksudnya?”

“Tentu. Kajja, ayo minum..” perintahnya Yunho lagi.

Yunho memperhatikan Jaejoong yang perlahan meneguk susu itu menggunakan sedotan. Bibirnya yang tipis dan merah. Dia kelihatan seperti gadis kecil yang manis, pikir Yunho geli. Merasa diperhatikan, Jaejoong menoleh kearah Yunho dan bertanya mengapa Yunho memandangnya seperti itu. Tapi Yunho tidak menjawab. Yunho ingin mengantarnya pulang, dengan cepat Yunho menarik tangan Jaejoong dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

“Ini mobilmu?” tanya Jaejoong.

Yunho menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya melewati jalan besar kota Seoul yang cukup ramai. Tidak menjawab pertanyaan Jaejoong, Yunho malah sesekali memandangi Jaejoong yang sepertinya sedang kebingungan.

“Rumahmu dimana?”

“Rumahku di Busan. Aku tinggal di apartmen di daerah Myeong-dong.”

“Kau tinggal sendiri? Sudah berapa lama kau di Seoul?” tanya Yunho.

Jaejoong mengusap hidungnya,”Ya aku tinggal sendiri. Aku baru tiga tahun tinggal di Seoul.”

“Kau bekerja di retoran itu? Sebagai koki?”

Jaejoong mengangguk mengiyakan.

“Kau CEO dari perusahaan Cassiopeia Construction itu?” tanya Jaejoong.

Yunho lagi-lagi tidak menjawab dan kembali menyetir hingga akhirnya sampai di depan pintu masuk apartemen tempat Jaejoong. Apartemen itu hanya bangunan apartemen yang kecil namun sangat terawat. Disetiap balkonnya terdapat berbagai macam bunga yang ditanam di dalam pot-pot kecil. Sepertinya bangunan apartemen ini juga baru dicat, terlihat warnanya yang masih terasa fresh dengan kombinasi warna biru langit dan hijau muda yang membuat bangunan ini tak tampak seperti bangunan tua. Bangunan ini terlihat sangat hommy sekali.

“Jadi kau tinggal di sini, Jae ?” tanya Yunho sembari memasukkan tangannya ke saku celana.

“Ne. Terima kasih kau sudah mengantarku pulang dan memberiku susu tadi, Yunho-ssi” ujar Jaejoong sambil membungkukkan badannya.

“Jaejoong-ssi, kau punya kekasih ?”

Pertanyaan Yunho barusan seperti menohok Jaejoong. Jaejoong jadi kelihatan begitu gugup karena ditanya seperti itu.

“Itu.. Aku belum punya kekasih..”

“Baguslah..”

Jaejoong mendongakkan kepalanya melihat respon Yunho yang lega mendengar jawabannya tadi.

Yunho meletakkan tangannya di kepala Jaejoong,”Besok kau mau berkencan denganku selepas kau bekerja?”

“Mwo?!’

To be continued..

Hahahahaha ^^ bagaimana ? masih banyak kekurangan bukan ?

Apa kalian penasaran dengan cerita selanjutnya ? Mohon tunggu dengan sabar ya ^^

4 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 1) by: parkririn

  1. Suka bnget,dingin sekali yunho ungkapin perasaannya,tp keren to the point. Lanjutin ya..thx u!

  2. ehm, yeah…di awal paragraf dimana jj mengenalkan diri lumayan bkin aku ngikik, bgaimana tidak klo dia dg bangganya blg klo dia berwajah cantik…* biasanya `kan marah^^

    well, seperti yg kita tau ..”surely jaejoong is the cutes one”

    Anyway..slm knl n happy new year^-^
    thanks for this cute story
    aku akan mampir lagi..

    -Bearkiss-

  3. Karakter jae disini ngegemesin bgd deh🙂 apalagi kalo pas nanya ke yunho dan ga d jawab
    Heehehehe
    Dilanjut ya ….gomawo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s