[FF] Jingga – Chapter 5/5


Title     : Jingga – Yunjae

Author : Beth – @beth91191

Chapter: 5/5 END

Genre   : Angst, Romance , Slightly Genderswitch (Jenis kelamin Jaejoong tidak terlalu penting di sini)

Rate      : T

Cast      : Yunho, Jaejoong, Junsu, Yoochun, Changmin

 

JINGGA

by. Beth – @beth91191

 han

(Jaejoong POV)

Benarkah akhirnya ada donor kornea untukku? Benarkah ini nyata? Benarkah aku akan dapat segera melihat? Benarkah ini bukan mimpi??

“Jaejoong, istrirahatlah cukup. Pukul 10 pagi ini, datanglah ke rumah sakit. Kita akan lakukan operasi donor kornea pagi ini juga. Selamat malam.” Ucap dokter Yunho sambil memutuskan teleponnya.

Ya Tuhan.. Terima kasih Tuhan. Penantianku bertahun-tahun berakhir juga. Besok aku akan menjalani operasi transplantasi kornea.

Aku akan segera bisa melihat.

Aku akan segera bisa melihat…

Umma.. Appa..

Segera kuberitahu pada Umma dan Appa-ku tentang berita membahagiakan ini. Dokter Yunho menyuruhku untuk istirahat cukup, tapi aku justru antusias mengabari berita membahagiakan itu pada seluruh sanak keluarga dan teman-temanku. Bagaimana bisa aku tidur nyenyak jika hatiku berdebar-debar bahagia seperti ini.

Terimakasih Tuhan, terima kasih..

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

Keesokan paginya..

Aku tengah berbaring di atas meja operasi. Ketakutan dan kegelisahan berkecamuk di hatiku. Apakah operasi akan terasa sakit? Apakah operasi ini akan berjalan lancar? Apakah setelah operasi aku akan segera bisa melihat? Tapi aku harus melawan perasaan takut ini. Aku harus berani. Rasa takut sementara yang aku rasakan ini tak akan ada apa-apanya dibanding dengan peraaan bahagia yang akan kurasakan setelah operasi ini berjalan dengan sukses. Keluarga dan teman-temanku banyak berpesan.

‘Semangat Jaejoong, anak Umma! Semangat!’

 

‘Kau jangan takut. Tenanglah ini hanya operasi kecil. Tak lebih menyakitkan dibanding saat Umma memukul Appa, saat Appa ketahuan mabuk-mabukan.’

 

‘Kau akan dapat segera melihat kembali, Jaejoong. Dan kita akan jalan-jalan ke kota, menonton film di bioskop dan melihat konser-konser sepuasnya.’

 

‘Kau akan tertidur sementara Jaejoong-ah dan saat terbangun, kau sudah bisa melihat dunia. Berjuanglah!’

“Bagaimana Jaejoong? Kau siap?” Ucap dokter yang mengingatkanku kembali bahwa aku tengah berada di ruang operasi, “Mari kita lakukan operasi ini saat ini juga. Tenang dan tidurlah..” Ucap Dokter Yunho sesaat sebelum aku sedikit demi sedikit tak sadarkan diri.

 

***

 

-oOo-

(Jaejoong POV)

Beberapa hari kemudian..

Tepat seminggu sejak aku melakukan operasi donor kornea. Kata Dokter Yunho, kornea ini dan mataku dapat cepat sekali beradaptasi. Tak perlu waktu lama untuk menghilangkan iritasinya, mata baru-ku ini, siap untuk menjalankan fungsi semestinya kembali.

“Perawat Changmin, bisa kau tutup gorden dan matikan lampunya.” Perintah Dokter Yunho.

“Baik dok.” Jawabnya cepat sambil melakukan apa yang diperintahkan.

***

“Jaejoong. Kau sudah siap untuk bisa melihat?” Tanya Dokter Yunho memastikanku.

“Siap, sangat siap, Dok.” Jawabku berusaha siap namun tetap diikuti jantungku yang terus berdebar tidak karuan.

“Setelah kubuka perban ini, bukalah matamu secara perlahan, sangat perlahan. Kalau kau merasa sakit atau terlalu silau, jangan kau paksa dahulu untuk melihat. Kita jalani semuanya, sesiap matamu saja. Kau mengerti?” Tanyanya memastikan aku mengikuti instruksinya.

“Baik.. dok..” Jawabku sudah benar-benar tak sabar.

Tanganku terasa begitu dingin, kuremas tangan Ummaku yang ada di sebelahku.

Umma dan Appa disini nak.” Ucap Ummaku yang mampu menenangkan hatiku.

“Mari kita buka perbanmu.” Kata Dokter Yunho sambil mulai membuka perlahan perban ini dibantu oleh perawat Changmin.

Sedikit demi sedikit perban terbuka. Tak sabar aku untuk segera melihat wajah Appa dan Ummaku yang sudah 16 tahun tidak kulihat. Kebutaan yang kualami sejak usia 5 tahun, membuatku tak banyak mengingat wajah mereka berdua.

Sedikit demi sedikit, Perlahan tapi pasti, selembar demi selembar perban ini mulai terbuka. Hingga terlepaslah semua perban itu dan tersisa dua buah kapas yang tertempel di kedua mataku. Dokter Yunho membuka keduanya dengan sangat perlahan. Saat ini perban dan kapas sudah terbuka seutuhnya.

“Jaejoong, bukalah matamu perlahan pada hitungan ketiga ya.” Ucap Dokter Yunho lembut.

Aku mengangguk pelan perlahan, namun jantungku berdebar kian cepat.

“1..”

Apakah operasi ini berhasil?

“2..”

Apakah aku benar-benar bisa melihat kembali?

“3..”

Kubuka mataku perlahan sekali…

Bisa kurasakan cahaya masuk menyusup ke dalam pupil kornea mataku. Terasa begitu hangat di dalam sana. Berusaha kubuka mataku lebih lebar. Kudapati sosok-sosok yang masih belum kupahami apa itu. Semua masih terlihat buram.

“Akk..” Aku merasa sedikit sakit pada mataku. Kututup kembali kedua mataku erat-erat.

“Jaejoong..” Appa dan Umma berseru memanggil namaku.

“Kau merasakan sakit, Jaejoong? Jangan kau paksakan, jika memang kau belum siap.” Kata Dokter Yunho padaku.

“Boleh aku mencoba membuka mataku kembali,dok?” Tanyaku tak menyerah pada dokter.

“Kau yakin tidak apa-apa?” Tanyanya balik.

“Yakin sekali. Aku sudah menunggu sekian lama untuk bisa melihat, tak mungkin aku menunggu lebih lama lagi. Ijinkan aku mencobanya lagi.” Ucapku setengah memohon.

“Baiklah.” sahut Dokter sedikit ragu.

Kembali kucoba membuka kedua mataku. Perlahan, sangat perlahan. Kali ini sinar yang masuk terasa lebih nyaman di mataku. Kubuka terus dan terus, hingga akhirnya bayangan buram samar-samar semakin menjelas. Tak menyangka aku keburaman penglihatan-ku bisa memudar secepat ini. Beberapa sosok wajah muncul dihadapanku. Dan entah mengapa, tanpa perlu waktu lama aku langsung bisa mengenali wajah wanita tengah baya yang menatapku dengan mata sembabnya dan sebuah senyuman tersungging dibibirnya itu.

Umma?” Seruku.

Disebelahnya terdapat seorang pria tengah baya, berwajah teduh dengan guratan-guratan tua mulai mengisi wajahnya.

Appa?”

“Kau bisa melihat kami dengan jelas nak?” Tanya mereka berdua padaku.

“Iya.. Sangat jelas. AppaUmma.. Aku rindu melihat wajah kalian.” Seruku sambil berpelukan dengan mereka berdua.

Tak mampu lagi kubendung airmata bahagia ini. Aku benar-benar bersyukur atas penglihatan yang Tuhan berikan padaku. Aku berjanji akan menjaga mata ini sebaik-baiknya dan akan kugunakan mata ini untuk hal-hal bermanfaat. Ditengah berpelukan melepas kebahagiaan dengan kedua orang tua-ku, kutatap wajah pria menatap ke arahku dengan seorang pria lainnya yang terlihat lebih muda berdiri di sebelahnya.

Khamsahamnida Dokter Yunho. Khamsahamnida perawat Changmin.” Ucapku pada mereka berdua. Sekilas kulihat Dokter Yunho tersenyum padaku. Aku tak sanggup berkata-kata lagi, aku hanya bisa membalas senyumannya dengan senyuman terbaikku.

Jeongmal khamsahamnida..”

-oOo-

 

(Jaejoong POV)

Sebulan kemudian..

Kata Dokter Yunho ini merupakan check up pasca operasi terakhirku, jika kali ini hasilnya baik-baik saja, maka operasiku bisa dikatakan 100% sukses dan aku tak perlu lagi melakukan check up ke rumah sakit.

“Bagaimana hasilnya, Dok?” Tanyaku sambil duduk di kursi pasien di hadapannya.

“Sangat baik. Menurutku jarang ada pasien yang bisa begitu cocok dan mudah beradaptasi dengan donor korneanya, seperti dirimu.” Jawabnya.

“Benarkah?” Tanyaku lagi.

“Selamat Kim Jaejoong, operasi donor kornea-mu 100% sukses dan kau benar-benar telah menjadi seseorang yang bisa melihat saat ini.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Betapa senangnya aku mendengar perkataannya. “Jeongmal khamsahamnida Dokter.” Tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih sambil menjabat tangannya dan sedikit menundukan kepalaku.

“Kau pasti bosan bertemu denganku terus beberapa bulan ini.” Sahutnya yang membuatku geli.

“Bagaimana bisa bosan? Tanpa dokter mana mungkin saya bisa melihat. Dokter bercanda saja. Lucu sekali.” Aku tertawa kecil dibuatnya. Diapun ikut tertawa lepas  dengan tawa khas-nya yang terasa hangat di telingaku, sesekali diapun juga tersenyum padaku.

Tawa dan senyumnya terlihat begitu tulus, ramah dan hangat. Melihatnya wajahnya terasa begitu nyaman dan meneduhkan. Aku benar-benar menganggapnya seperti kakakku. Anak tunggal seperti ku tak pernah merasakan perhatian seorang kakak, seperti yang ia berikan. Kamipun mengobrol selama beberapa saat sambil membahas cara untuk terus menjaga kesehatan mata.

 

***

Beberapa saat kemudian..

Aku dan Dokter Yunho berdiri di depan ruangannya. Hendak pamit aku untuk pulang. Akan ada makan malam spesial bersama kedua orang tua-ku untuk merayakan operasi transplantasiku yang telah berhasil ini.

“Kau akan pulang setelah ini?” Tanya Dokter Yunho padaku.

“Iya, Dok. Akan ada perayaan kecil-kecilan di rumah. Apa dokter berkenan hadir? Umma pasti senang sekali kalau Dokter mau hadir juga.” Jawabku sambil tersenyum malu.

Dia membalas senyumku sekilas. Dilihatnya jam tangannya sendiri.

“Mmmm.. Malam ini?” Tanyanya balik.

“Iya. Kenapa? Dokter sibuk?” Tanyaku lagi.

“Tidak. Tapi… Mmmm.. Akan aku usahakan datang. Tapi mungkin sekitar jam 7 atau 8 tidak masalah?” Tanyanya padaku.

“Tentu tidak masalah, Dok. Baiklah kalau begitu, saya pamit pulang, harus mengambil pesanan kue. Permisi, Dok.” Ucapku sambil berbalik dan berjalan hendak meninggalkannya. Senyuman malu masih terhias di bibirku. Aku senang sekali dia mau menghadiri makan mala mini. Akan kukenakan pakaian terbaikku untuk menjamunya malam ini.

Selangkah.. Dua langkah.. Tiga langkah.. Aku berjalan meninggalkan Dokter Yunho, namun tiba-tiba kudengar… “Dokter Yoochun..” Seru Dokter Yunho yang membuatku terperanjat kaget.

Yoochun??

Dia disini? Di rumah sakit ini?

Selama ini dia ada di rumah sakit ini tapi tak pernah menemuiku?

Dia tiba-tiba menghilang begitu saja dari hidupku seenaknya. Mau dia apa sebenarnya selama ini? Dia pikir dia siapa bisa bersikap seperti itu padaku? Dia pikir aku tak punya hati seperti dirinya? Dia pikir ditinggalkan tanpa alasan yang jelas, seperti yang telah dia lakukan padaku, itu tidak menyakitkan, ha?

Segera aku berbalik. Kudapati seorang pria tegap berdiri di hadapan Dokter Yunho namun memunggungiku. Kumelangkah perlahan mendekati mereka. Hatiku sudah berdebar-debar bukan main. Semarah-marahnya aku padanya, tetap saja aku begitu penasaran bagaimana wajah pria jahat yang tiba-tiba meninggalkanku tanpa alasan ini. Ingin sekali aku memakinya, pria kurang ajar yang telah membuatku jatuh cinta padanya dan kemudian menghilang begitu saja.

“Yoochun..” Ucapku serak.

Dokter Yunho menyadari kehadiranku di belakang mereka.

“Jaejoong? Kenapa  kau masih disini?” Tanya dokter Yunho padaku.

Tak kudengarkan apa yang Dokter Yunho katakan. Aku terlampu penasaran dengan sosok Yoochun. Waktu terasa begitu melambat. Kulihat pria itu membalik badannya secara perlahan. Sangat perlahan hingga rasanya aku mau meledak dibuatnya harus begitu penasaran seperti ini. Sangat lambat dan akhirnya kini dia menatapku dengan senyuman ramah di bibirnya.

“Iya. Ada apa?” Tanya pria itu padaku.

Aku tertegun, terkejut, terdiam mematung tak sanggup berkata-kata.

“Nama Anda Kim Jaejoong kan? Anda pasien Dokter Yunho? Anda kan yang melakukan operasi transplantasi kornea itu? Dokter Yunho sering bercerita tentang Anda. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya padaku bertubi-tubi dan aku masih tak mampu  merespon. “Perkenalkan, Park Yoochun imnida. Annyeonghasimnika.” Ucapnya lagi sambil sedikit membungkukan tubuhnya.

Benarkah dia Park Yoochun??

Yoochun yang kukenal selama ini?

Yoochun yang selalu mendengar semua keluh kesahku dan memberi saran yang sangat bijak?

Yoochun yang selama ini aku nanti kehadirannya?

Yoochun yang telah merebut hatiku…?

Kuamati wajahnya lekat-lekat..

Bukan!!

Dia bukan Yoochun!

Walau aku tak pernah melihat wajahnya, tapi aku mengenal suaranya dengan sangat baik. Aku mengenal cara bicaranya dengan sangat baik. Suaranya Yoochun yang kukenal terdengar serak namun begitu lembut dan mendamaikan.

Pria ini bukan dia!!

Mianhaeyo, saya salah orang.” Ucapku sambil buru-buru berlari meninggalkan mereka berdua.

“Jaejoong.. Jaejoong..” Suara dokter Yunho memanggil-manggilku.

Air mata mulai memenuhi pelupuk mataku. Berlari aku menuju taman rumah sakit dan terduduklah aku di bangku taman yang telah lama tidak kusinggahi itu, sejak aku melakukan operasi transplantasi ini, sejak aku mulai membencinya, sejak aku mulai belajar melupakannya dan membuangnya seluruh kenangannya dari hidupku.

Langit menjelang senja hendak menjemput Sang Rembulan. Lukisan Tuhan terlihat memukau dari sini. Rumah sakit yang terletak di dataran tinggi, membuat hamparan kota Seoul terbentang luas di bawah sana. Gunung Namsan menjulang di kejauhan. Awan-awan, beburungan, dan angkasa terlihat begitu jingga.

Jingga…

Jingga?!

Jingga haa?!!

Percuma saja jingga tampak indah tapi hanya bisa mengingatkanku padamu, pria jahat yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari hidupku, setelah berhasil mencuri hatiku. Aku kembali menangis di bangku ini. Kutumpahkan segala perasaan sedih yang sempat teredam karena kebahagiaan operasi transplantasiku. Aku menangis dengan sangat kencang hingga bahuku berguncang. Aku terus menghujatnya di dalam hati hingga aku dikejutkan dengan tepukan ringan di bahu kananku. Seketika aku mencari tahu siapa yang tengah menepukku itu.

“Dokter Yunho?” Seruku ketika kudapati dia yang tengah berdiri disebelahku.

Aku begitu malu terlihat lemah dengan keadaan seperti ini. Buru-buru kuseka airmataku. Diapun berpindah duduk sebelahku.

“Ambilah..” Ucap Dokter Yunho sambil mengulurkan sepucuk sapu tangan padaku.

Mianhaeyo.” Sahutku sambil meraih sapu tangan itu dan menyeka air mataku yang tersisa.

“Aku tahu mengapa kau menangis.” Ucapnya sambil menatap ke langit, “Kau pasti membencinya.” Ucapnya lagi yang membuatku tertegun.

“Maksud Dokter?” Tanyaku benar-benar tak paham.

“Aku mengenal baik seseorang yang telah membuatmu menangis itu.” Jawabnya lirih.

“Jadi dokter tahu kenapa aku menangis?” Otakku penuh dengan pertanyaan saat ini.

“Pria yang kau maksud adalah Kim Junsu. Mahasiswa kedokteran. Usia nya sebaya denganmu. Kau dan dia sering menghabiskan waktu bersama di bangku ini. Terkadang aku melihat kalian dari kejauhan, mengobrol dan tertawa bersama sepanjang sore. Dia pria yang sangat baik, cerdas, dewasa dan ramah. Dia ingin sekali menjadi dokter jantung seperti Dokter Yoochun. Oleh karena itu dia mengaku dirinya sebagai Dokter Yoochun padamu. Kalian sudah kenal beberapa bulan yang lalu. Tapi tiba-tiba dia mencampakanmu begitu saja. Benar begitu bukan?” Jelasnya mengagetkanku dan sama sekali tak mengurangi sedikitpun pertanyaan di benakku.

“Dokter mengenalnya?” Tanyaku lirih.

“Bagaimana mungkin aku tak mengenalnya. Dia adik kandungku.” Jawabnya yang membuatku tersentak tak percaya.

Benarkah mereka bersaudara? Benarkah sebenarnya selama ini aku berada tak jauh darinya?

“Ayah kami bermarga Jung, tapi sejak ayah meninggal, Ibu menikah dengan Tuan Kim. Namun di kalangan kolega dan partner kerja aku lebih suka menggunakan marga Ayah kandung kami, Jung, Jung Yunho. Dan Junsu lebih suka menggunakan marga Ayah tiri kami.” Ucapnya lagi.

“Jadi… Benarkah kau kakaknya?” Tanyaku lirih.

“Benar. Aku kakaknya.” Jawabnya sedikit bergetar.

“Lalu dimana dia? Dimana? Kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa berkata apa-apa padaku? Kenapa dia tega meninggalkanku saat aku membutuhkannya? Kenapa dia tak bisa sebaik kau, kakaknya, Dokter? Kenapa?” Seruku sambil menatap tajam ke arah Dokter Yunho.

Dokter menatapku sekilas dan kembali melemparkan pandangannya.

“Karena dia mencintaimu Jaejoong.” Jawabnya yang langsung membuatku terdiam.

DEG!!

Apa yang Dokter Yunho katakan? Bagaimana bisa dia mencintaiku tapi justru meninggalkanku? Tidak mungkin tidak mungkin! Aku begitu lelah dijejali pertanyaan-pertanyaan ini hingga mau meledak saja otakku.

“Bagaimana mungkin dia mencintaiku?” Tanyaku tertunduk bingung.

“Sangat besar cintanya padamu. Hingga aku tak menyangka kenapa seseorang bisa mencintai yang lain terlampau besarnya. Aku akan sangat bahagia jika dia tetap disini bersamamu. Tapi …” Belum sempat ia selesai berkata.. “Dimana dia sekarang?” Tanyaku memotong bicaranya.

Dia menatapku sekilas. Matanya sudah terlihat sangat berkaca-kaca. Ada apa ini? Kenapa pria kuat seperti Dokter Jung Yunho sampai ingin menangis? Dimana sebenarnya Junsu? Dimana dia hingga membuat kakaknya hendak menangis?? Kulihat Dokter Yunho mengangkat tangan kanannya dan perlahan menunjuk ke arah langit senja kemerahan yang terbentang di depan sana.

“Aku tak mengerti!” Seruku sesak sambil menahan tangisku yang sempat terhenti.

“Saat ini, dia telah berada disana.” Jawabnya yang sama sekali tak ingin kumengerti apa artinya itu, “Dia sudah sekarat saat pertama bertemu denganmu. Malam saat kuhubungi kau, bahwa kau mendapat donor kornea, saat itulah malam terakhirnya di dunia ini.  Dan kau tahu, matamu adalah hadiah terindah yang pertama dan terakhir darinya, Jaejoong.” Ucapnya yang saat itu juga meremukan hatiku hingga hancur tak berbentuk.

“Junsu?” Ucapku lirih.

Jadi sebenarnya…. Junsu… Kau telah memberikan apa yang paling kuinginkan dihidupku selama ini, sebelum akhirnya kau pergi meninggalkanku sendiri. Aku sangat ingin menangis, sangat, namun air mata ku tak sanggup menetes. Apa ini yang dikatakan kesedihan yang terlampau mendalam hingga tak bisa aku untuk menangis. Seluruh tubuhku terasa lemas tak sanggup menerima kenyataan yang ada. Dokter Yunho dengan cepat berusaha memegangiku.

“Jaejoong..” Ucapnya yang masih terdengar olehku.

Kim Junsu.. Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Kenapa?

Sebegitu besarnyakah cintamu padaku?

Lebih baik kau menjadi pria kurang ajar seperti pikiran yang selama ini tertanam di otakku, dari pada aku harus tahu, bahwa kau terlampau mencintaiku hingga rela memberikan matamu ini padaku.

Ingin rasanya semua ini sekedar mimpi belaka, dan saat aku terbangun hanya gelap yang kudapati. Itu jauh lebih baik. Asalkan kau selalu tetap disisiku, Junsu.

Junsu..

Kau jahat..

Jahat..

Kau jahat karena telah membuatku begitu mencintaimu dengan segala kebaikanmu.

Junsu, saranghaeyo..

-oOo-

==END FLASHBACK==

 

(Jaejoong POV)

Air mata kembali menetes lembut dari ujung mataku dan kemudian jatuh membasahi kertas gambar yang tengah aku pegang erat. Begitu tersentuhnya aku dengan kebaikannya. Mata ini adalah miliknya. Aku bisa melihat dengan matanya. Seharusnya aku tak akan pernah bisa melihat indahnya dunia ini. Seharusnya aku tak akan pernah bisa menjadi seorang pelukis seperti saat ini. Namun, berkat matanya-lah aku bisa menikmati keindahan jingga yang selalu dan selalu ia katakan.

Masih enggan rasanya untuk melanjutkan lukisan yang tertunda ini. Mataku masih tertuju pada hamparan senja di atas sungai Han ini. Terlampau indah untuk kunikmati sendiri.

“Nyonya Kim..” Panggil seseorang dibelakangku.

Kuseka air mataku yang sempat terjatuh, kumenoleh dan kulemparkan senyum termanisku.

“Junsu.. Kim Junsu, kemarilah duduk di sebelahku.” Ucapku riang.

“Lihatlah.. Aku bawa ramen. Ramen kesukaanku. Satu untukku, satu untuk Umma. Dokter Yunho yang belikan.” Ucap bocah kecil tampan ini padaku.

Kembali kumenoleh ke belakang.

Gomawoyo Appa.” Ucapku pada seorang pria yang tengah berdiri di belakangku.

“Sama-sama, yeobo. Makanlah sebelum keburu dingin.” Ucapnya sambil ikut duduk disebelah kami, “Hey anak kecil. Kenapa kamu suka sekali panggil Appa dengan sebutan Dokter Yunho?”

“Appa kan memang dokter. Salah ya kalau aku panggil Appa, Dokter Yunho?” Tanya bocah ini polos, “Kalau sudah besar nanti aku tidak mau jadi dokter mata kayak Appa. Tidak keren. Aku ingin jadi dokter jantung saja.” Serunya begitu menggemaskan dan membuat kami berdua tergelak tawa.

Ya, saat ini aku telah menikah dengan Kim Yunho atau Jung Yunho, sama saja bagiku, apalah arti dari sebuah marga. Anak kami laki-laki berumur enam tahun, bernama Junsu, Kim Junsu. Aku harap dia bisa sebaik pamannya, yang mencintai seseorang dengan sangat tulus dan selalu berbuat baik pada siapa saja.

Junsu.. Lihatlah.. Aku telah bahagia saat ini. Kau juga bahagia disana?

-oOo-

==END STORY==

 

Jingga by. Beth (@beth91191) – 30 Juni 2012

namsan

Annyeonghaseyo… Beth imnida.. ^^

Akhirnya tamat juga FF ini. Bagaimana kaka, angstnya dapet ga? Romancenya dapet ga? Endingnya gimana puas kan? Sempet bingung nentuin tokoh ini. Sempet ganti2 posisi antara Yunho, Yoochun & Junsu. Akhirnya ya beginilah, walo kisah cinta yang yang ditonjolin tentang Sujae yang penting Yunjae happy end kan. hehehe.

Semoga FF ini bisa berkenan di hati kaka-kaka pembaca yahhh❤

Mohon leave commentnya ya kak, sebagai apresiasi atas karya author..🙂

Jangan lupa follow @Fanficyunjae yah dan yang mau kenal author lebih baik bisa follow @beth91191. Baik kok orangnya, suka menabung dan tidak sombong. Sapa aja aku di sana yah & let’s be friend ~ \(^.^)/

Terima kasih banyak yah kaka kaka pembaca udah luangin baca FF sederhana aku ini sampai tamat. Tunggu aja karya aku berikutnya. Dan mohon doanya, smoga aku bisa lancar TA & cepet lulus yah. Aamiin.

Kaka-kaka pembaca baik deh. Ketjup ahhhh :*

Saranghanda❤

2 thoughts on “[FF] Jingga – Chapter 5/5

  1. kena bgt
    knapa junchan munculnya bnyk tpi terslubung(?) sih??? mpe q kira tu bnran chunnie…..
    mlah om jidat asli yg namanya ngeksis(?) tpi cma secuil perannya. bang chami juga…..
    lumayn bkin orang nangis nih… apa q yg terlalu sensitif? yg pnting ni dh end dg mengesankan…..

  2. jadi selama ini yang sama jaema junchan bukan chun?
    ahhh ceritanya bener2 ga ketebak,, daebak author nim~~~

    endingnya kalo kata aku kurang tuntas, kurang gimana gitu~~~
    hehe
    tapi ga masalah sii, ceritanya bagus ko aku suka😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s