[YUNJAE] Shining Christmas


Title                       : Shining Christmas

Genre                   : Romance

Rate                       : K+

Length                  : 1/1

Blurp                     : “Memangnya siapa yang akan menikah denganmu? Lagipula kartu itu bukan untukmu.” Kataku.  “Jika kau tidak keberatan… jadilah gay seumur hidup… bersamaku.” Yunho mengaduk-aduk isi saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang langsung membuat jantungku terpacu. Aku mengenal bentuk dan warna kotak itu.

Tetapi, Yoochun mengirimiku pesan, “hyung, sebaiknya kau putus saja dengan Yunho.” Pesan itu dikirim saat aku dalam perjalanan kembali ke Seoul, dan itu terasa seperti Yoochun mengatakannya tepat di telingaku, terngiang-ngiang jelas dalam pikiran.

Author(s)            : @nokomori / clownfish & kohan44

 

Shining Chirstmas

                Langit saat itu muram. Aku mulai cemas kalau-kalau dia menitikkan air mata. Sekalipun begitu, aku tidak sampai mempercepat langkah. Tiba-tiba aku senang melihat pemandangan muram itu. Mungkin juga aku berharap hujan segera turun untuk melahapku.

Sepatu bootsku kotor, lumpur kering menempel. Aku telah mengunjungi rumah kakakku yang jauh di pedesaan sana hanya demi menceritakan kepadanya, “kakak, aku membenci Jung Yunho.” Sekarang aku kembali di Seoul, berpakaian musim dingin dan wajah hampir seluruhnya tertutupi masker dan kacamata hitam.

Ah, aku seorang selebriti dan kadang-kadang fakta itu membuatku ingin operasi plastik menjadi seseorang baru yang jauh-jauh dari ketenaran. Karena kenyataan menyeretku pada fakta lain, aku tidak bisa hilang ingatan.

Yoochun mengirimiku pesan, “hyung, sebaiknya kau putus saja dengan Yunho.” Pesan itu dikirim saat aku dalam perjalanan kembali ke Seoul, dan itu terasa seperti Yoochun mengatakannya tepat di telingaku, terngiang-ngiang jelas dalam pikiran.

Keyakinanku untuk menuruti perkataan Yoochun datang-pergi silih berganti. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku membenci Jung Yunho, tapi aku tak mau mengakhiri hubungan ini. Sekalipun sesak nafas menekanku untuk memanggil Yunho di telepon, berteriak kepadanya, “mulai hari ini kau dan aku berakhir!” tetapi sebagian diriku yang lain menjerit-jerit berontak, aku tak menginginkan perpisahan.

Yunho meneleponku tadi pagi, sebelum aku berangkat ke rumah kakak, dia membatalkan pertemuan kami nanti malam. Panggilan itu berdurasi tak lebih dari satu menit. Aku tidak mendengar nadanya terburu-buru, karena itu aku merasa sakit dan takut… apakah perlahan-lahan aku di dalam dirinya mulai pupus?

Aku seorang selebriti, begitu pun Yunho. Kami tak punya intensitas waktu tertentu untuk bertemu secara langsung. Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali kami saling berjabat tangan. Aku bahkan hampir lupa bagaimana wangi tubuh Yunho.

Di sini, dimana aku berada jauh dari sisinya, selalu mengira-ngira apa gerangan yang sedang dilakukan Yunho? Baju apa yang dia kenakan? Sedang bersama Changmin kah dia? Atau seseorang lain? Laki-laki atau perempuan? Apakah dia juga memikirkanku? Karena aku seperti tak memiliki jeda untuk membersihkan pikiran darinya.

Tapi mungkin… segalanya akan berakhir mulai saat ini.

Teleponku bergetar. Foto dan nama Yunho tertera di sana. Aku mengusap permukaan layar ponsel, lalu terdengar sapaan dari seberang, “hallo?” suara perempuan. Terdengar halus.

“Apakah Yunho sudah mati?” kataku lurus.

“Eh? Maaf?”

“Telepon aku lagi jika dia sudah mati.”

.

.

Ruangan itu tidak lebih luas dari kamar mandiku. Bahkan bathub milikku lebih nyaman dari pada sofa miliknya. Aku merasa sangsi harus menduduk kursi berbulu tipi situ, dan juga merasa kasian kepada permadani kumal yang menjilat sepatu bootsku. Tapi aku tidak bisa terus mengobrol sambil berdiri dan mengabaikan keramahan wanita di hadapanku.

Seekor kucing melintas di dekat kaki meja. Bulu ekornya yang lebat menabrak betisku dan aku terkesiap kaget karenanya.

“Oh, Nekomi, kemari…” kata wanita itu sembari membuka kedua tangannya, mempersilahkan kucing putih Himalaya itu naik ke pangkuan. Melihat mereka berdua, aku teringat Jiji yang tidak pernah mau duduk di pangkuanku sejak dia mengenal Yunho.

“Nyonya Kwan,” aku menyela  kaku dengan lagam sopan yang tak pernah biasa aku buat, “apakah anda benar-benar akan menikahkan putri anda dengan…” kalimatku terhenti melihat kerut ekstrim di kening wanita paruh baya itu. Dia bergerak perlahan, menelusuk mataku sambil mengusap-usap bulu lebat si kucing.

“Kau siapa?” tanyanya, pertanyaan yang belum ku jawab sejak pertama kali dia mempersilahkanku masuk. “Kau… Kau pacar Hye Seo dari Seoul?”

Buru-buru aku menggeleng, berusaha mencegah salah paham secepat mungkin.

“Jika kau bukan pacarnya, tentu Hye Seo akan menikah dengan Jung Yunho.”

Penggabungan dua nama itu dalam satu kalimat selalu sukses menghempasku pada satu cerita yang paling aku benci. Dulu, saudari-saudariku memfavoritkan kisah Cinderella, dan aku pun demikian. Kini, tak ada satu bagian pun dari kisah Cinderella yang kusukai. Karena aku tahu bagaimana perasaan saudari-saudari tiri Cinderella. Aku repot-repot dari Seoul, meninggalkan beberapa aktifitas artis, menelepon ke sana ke mari untuk sebuah alamat dari rumah tua di ujung jalan desa Dong-Han, perbatasan akhir dari Gwang-Ju, bagian terisolasi jauh dari perkotaan, karena Jung Yunho akan menikahi satu-satunya gadis di rumah ini.

“Tidak bisakah putrimu menikah dengan laki-laki lain?”

Dia tersenyum ramah ke arahku tanpa berhenti menggoda si kucing dengan jari jemari lentiknya. Kucing itu menggeram senang tiap kali dagunya digaruk. “Jika putriku tidak mengabdi kepada keluarga Jung, maka dia tidak akan menikahi Jung Yunho.”

Dadaku mencelos ringan. Bukan karena merasa lega, tetapi aku mendapat kepastian dari dugaan yang menakutkan, aku tidak bisa menghentikan pernikahan ini, dan jantungku semakin bergetar takut ketika teringat secarik kertas di mobil, kartu natal yang akan kuberi kepada Yunho setelah mendengar dia berjanji akan melamarku di hari natal. Esoknya, kami berencana mengabari Changmin, Yoochun dan Junsu, dan keluarga kami. Setelah natal, kami akan memperjuangan segalanya demi sesuatu yang bisa menyatukan kami. Tapi kini, segalanya akan musnah. Natal nanti tidak akan berarti apa-apa kecuali harapan yang mati.

“Nak, wajahmu pucat. Kau baik-baik saja?”

.

.

Aku, sebagai sahabat terbaik Jung Yunho, di undang ke kediaman keluarga Jung untuk makan malam bersama calon menantu mereka. Aku datang bersama senyuman terbaikku dan kado-kado untuk setiap anggota keluarga, termasuk si calon menantu. Meskipun mereka semua menyalamiku dengan ramah tamah, menjamu sebaik mereka menyajikan masakan untuk raja, tetap yang kurasakan di lidah atas semua makanan mewah yang ku telan adalah hambar.

Ji-Hye—adik kandung Yunho—duduk tepat di sebelahku setelah kami selesai makan. Di sisiku yang lain, di kursi berbeda yang hanya untuk satu orang saja, Yunho duduk di sana, kedua orangtua Yunho sibuk bercakap-cakap dengan ibu si calon menantu, sementara si calon menantu duduk bersebelahan dengan Ji-Hye.

“Kau baik-baik saja?” kata Hye Seo—si calon menantu—kepada Ji-Hye.

Ji-Hye mengangguk kecil dan tetap menundukkan kepalanya dalam. Di antara ruang sempit yang memisahkan kami, Ji-Hye diam-diam menarik celana jinsku, seolah-olah dia menggenggam tanganku erat untuk menahan jerit. Semua orang berharap sorakan kencang dari Ji-Hye, semua orang mengetahui Ji-Hye si periang. Namun, satu-satunya orang yang tak banyak bicara malam ini adalah Ji-Hye.

Yunho tidak berkata apa-apa selain bergerak gusar, menghindari kontak mata denganku. Aku, sesekali mendengar percakapan para orangtua dan berusaha menarik mereka mengikutsertakan kami dalam percakapan, supaya atmosfir kaku ini pecah.

“Ah, jadi, Jaejoong-ssi ini sahabat Yunho?” kata ibu Kwan Hye-Seo. “Pantas saja kau mengunjungi rumah kami beberapa waktu lalu.”

“Ya, tentu. Aku tidak sabar ingin mengetahui calon istri sahabat terbaikku.” Nyonya Kwan menyeringai, aku melihat senyumannya sebagai seringai. Suara ramahnya minggu lalu masih terngiang di telingaku ketika dia bercerita, “…Yunho mendonorkan darahnya untuk Hye Seo. Padahal, kudengar dia sangat sibuk sekali. Pasti membutuhkan banyak darah untuk beraktifitas. Yunho bukan hanya pangeran, dia malaikat.” Lalu ku bayangkan, ada bagian Yunho yang mengalir dalam Hye Seo. Mungkin rasa cemburu ini tidak masuk akal, tapi itu membuatku gila. Yunho adalah milikku, dan sudah begitu sejak dulu. Yunho tidak boleh dibagi dengan siapapun.

Ia masih tersenyum ramah kepadaku sambil mengelus bulu ekor kucing di pangkuannya, dan aku tetap menafsirkan senyuman itu sebagai kelicikan.

Aku tidak tahu kenapa aku harus memaksakan diri datang kemari. Ji-Hye melarangku berulang kali. Gadis yang selalu tahu masalah antara aku dan Yunho itu, dia yang kini masih mencengkram jinsku, berkata serak di telepon, “pulanglah, oppa! Pulang! Kau tidak akan bisa menemuinya…”   Dia bersi keras mengusirku hingga aku tiba di depan pintu keluarga Jung. Aku melihat mata basahnya dan bibir bergetar membisikkan, “untuk apa oppa ke sini?”

Aku, dengan suara bangga dan wajah ceria menjawab, “sahabat terbaikku bertunangan hari ini.” Kemudian dia berbalik, berlari memasuki rumah dan tak terlihat lagi sampai Nyonya Jung memanggilnya untuk makan malam.

Sekarang aku di sini, berada di tengah-tengah keluarga yang hendak bersatu tak lama lagi. Di jari manis Yunho dan Hye Seo melilit kilau perak bukti ritual penyatuan mereka telah setengah berjalan. Aku berseru riang, mempertanyakan bagaimana mereka mendapatkan cincin secantik itu dan berpura-pura iri ketika aku ingin memotong tiap jari Hye Seo menjadi dadu lalu merebusnya dalam golakan amukan. Ingin kutunjukkan kebencian yang meluap-luap. Pahit-manis kisah asmaraku bersama Yunho telah dikalahkan oleh gadis yang aku rasa dia tak mengetahui wangi kesukaan Yunho. Tetapi gadis yang tak mengetahui apa-apa tentang Yunho itu, dialah yang akan menjadi istri Yunho, bukan aku.

Aku berakhir mengusap sedih batu safir di jari Hye Seo, masih berpura-pura mengaguminya sambil bercakap-cakap pendek, “aku juga menginginkan calon istri secantik dirimu.”

“Kau harus segera menikah juga, Jaejoong.” Dia balas tersenyum. Sebuah senyuman yang ku rasa memang semua Kwan di belahan dunia memiliki keramahan yang sama. Mereka tergambar seperti bunga kamelia, cerah berseri. Jika aku punya kesempatan, akan ku beri satu warna pada wajah itu, yaitu merah menyala, darah yang akan menyurutkan rona merah jambu di pipinya.

“Hye Seo-ah, Jaejoong tidak akan menikahi gadis manapun.” Yunho menyela, menatap langsung kepada Hye Seo, melewati aku yang berada di antara mereka seolah-olah aku adalah angin lalu, sekalipun bibirnya menyebutkan namaku dalam kalimat yang membuat hatiku percaya aku hanya akan menikahi satu laki-laki, dan itu adalah Yunho. Kalimat itu juga memecah belah hatiku, memperlihatkanku kenyataan sebenarnya.

Aku masih menyimpan kartu natal yang akan kuberikan untuk Yunho dan video ucapan natal dari Yunho untukku di mobil meskipun harapanku akan segera pupus.

Hye Seo berbaur dengan mudah bersama semua orang. Keluarga Jung menerima Kwan Hye Seo tanpa mengingat latar belakangnya yang terdahulu sebagai pekerja paruh waktu di kediaman keluarga besar Jung. Mereka cair dalam satu wadah. Semesta bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaranku berkembang mekar. Hidup tak selamanya sama. Ada bagian saat lonjakan besar cepat terjadi, dan lonjakan itu sedang terjadi saat ini.

Hidungku tersengat, panas menjalar ke mata, menengadahkan kepala, aku tak kuat lagi menahan air mata. Tanpa sadar aku berseru keras tak jelas, “Sepertinya aku harus pergi. Menejer… menejer… meneleponku.” Aku mengayun-ayun ponsel di genggaman taman yang jelas layar ponsel tersebut gelap gulita.

“Senang bertemu dengan kalian, Hye Seo, dan Nyonya Kwan.” Suaraku makin tak karuan bunyinya. Gelombang tangis dan nada serak menyergap dalam waktu sama. Mataku berlarian ke segela arah, kemanapun kecuali Yunho.

Ku lihat punggung Ji-Hye bergetar. Rok putih di pangkuannya tiba-tiba bercorak bulat-bulat kecil yang lama kelamaan melebar menjadi besar. Basah.

“Maafkan aku, Tuan dan Nyonya Jung. Aku akan datang di pesta pernik… pesta… ugh, selamat natal semuanya! Hahaha…”

Aku melihat kerut tidak mengerti di raut muka Hye Seo. Gadis itu merangkul bahu Ji-Hye ketika aku berlari meninggalkan ruangan.

.

.

Hyung, jika pergi minum, kabari aku. Aku akan segera menyusul, pesan terakhir dari Yoochun. Dia tahu apa yang terjadi. Aku yakin, dia mengetahuinya tanpa aku bercerita apapun. Aku ingin pergi minum bersamanya, atau siapapun. Tapi… perasaan ini terlalu penuh dan sesak untuk melakukan hiburan di keramaian pub. Jadi, aku datang kemari, di akhir jalan kota Seoul, jauh dari hiruk pikuk lalu lintas.

“I..i-ini..Jung…Jung..Yun…”

LCD tv di sebelahku tetap menyala dan sesekali mengeluarkan kilat. Dia bahkan masih bersuara setelah beberapa bagiannya remuk. Aku baru saja menghancurkannya karena tak suka melihat video Yunho terus terputar di sana.

I..i-ini..Jung…Jung..BRAK! Satu pukulan terakhir dan tv itu benar-benar mati. Begitupun dengan ponsel yang kugunakan sebagai pemukul.

“JUNG YUNHO SIALAN!!” Aku meraung sekeras yang bisa dilakukan pita suara.

“Hei, kenapa memanggil namaku seperti itu?” Yunho tiba-tiba muncul di jendela. Aku terkesiap melihat penampakan tiba-tibanya. Lalu buru-buru aku menaikkan kaca jendela. “Eh, tunggu! Tunggu! Tunggu!”

Yunho menjulurkan kedua tangannya, menahan kaca dan aku bersi keras menutup jendela sampai tangannya terjepit.

“Aw! Aw! JAEJOONGIE!!”

“Ah! Maaf! Maaf!” Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Mendengar suara kesakitan Yunho, otomatis aku menurunkan kaca lagi. Ketika kusadari apa yang aku lakukan, aku segera berbalik membelakanginya, menutupi wajahku yang berantakan.

“Hei, lihat aku!” Yunho menarik sikuku. Tapi aku menjauh dari pintu. Saat itulah Yunho meraih tombol kunci pintu, secara reflek aku menghalanginya. Sayangnya, dia terlalu cepat. Pintu telah terbuka dan kami berakhir berebut pintu seperti anak kecil merebutkan sebatang lollipop. Perebutan itu berakhir dengan kemenangan Yunho. Karena aku tak mau menggores kuku-kuku yang baru selesai dilukis.

Kami berhadap-hadapan, aku duduk di kursi pengemudi dan dia berdiri sangat dekat denganku.

“Demi Tuhan, Boo… kau seharusnya tidak pergi dengan cara seperti itu di hadapan orangtuaku. Ji-Hye menangis, dia berisik sekali dan terus memukuliku. Hye-Seo juga menangis dan seluruh perempuan di rumahku menjadi gila! Tapi apa yang lebih gila dari mereka? Itu KAU! Kau menyetir seperti orang mabuk! Kau merepotkanku. Aku harus mengejarmu ketika aku dikejar polisi karena aku menabrak mobil mereka saat menyusulmu. Apa kau tidak mendengar sirine polisi? Aku harap tidak ada satu pun fans yang melihat mobil berkilaumu. Astaga… untuk  apa kau gunakan Lamborghini ke rumahku?”

Dan orang ini, yang sedang berbicara dengan aksen Gwangju, yang seolah-olah tiap katanya tak memiliki spasi dan tak segan mengutarakan kemarahannya kepadaku, aku sangat mencintainya. Dia mengejarku ketika kupikir dia telah menjadi milik orang lain.

“Ya ampun… apa lagi sekarang?” dia terdengar lebih tenang kali ini. Wajahnya mendekat ke wajahku, memperhatikan sesuatu yang tidak kuketahui. “Kenapa kau menangis?” Untuk sesaat aku terhenyak. Benarkah aku sedang menangis?

“Kau pembohong! Pelanggar janji! Pengkhianat!!” balasku kasar.

“Beraninya kau mengataiku seperti itu! Bagian mana dariku yang pengkhianat?!” suaranya makin tinggi, terdengar garang. Aku tahu, dia sangat marah.

“itu!” mataku menunjuk tangan kiri Yunho, dimana tersemat kilauan cincin pertunangan di sana.

“Oh, ini?” dia mengangkat jari manisnya. “Ini hanya cincin…” dia melepas cincin itu, lalu membuangnya ke sembarang arah.

“Astaga!” jeritku ngeri.  “Jung Yunho, kau sangat gila! Cepat cari cincin itu!”

“Untuk apa aku mencarinya?!”

“Itu cincin pertunanganmu!”

“Aku sudah katakan padamu, Hye Seo menangis. Kau tahu kenapa? Karena aku membatalkan pertunangan kami!”

Dan kepalaku tertunduk. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain menangis. Aku sudah berfikir untuk mencampakkan Yunho, mengikuti saran Yoochun. Itu karena Yunho tak juga menemuiku setelah aku berkali-kali memintanya. Yunho tetap menghindariku, menolak seribu panggilanku dan tiba-tiba aku mendapat kabar pertunangannya. Bagaimana bisa aku tidak menggila gara-gara itu semua?

Aku seharusnya teguh pada keyakinanku, bahwa Yunho tidak akan pernah mengecewakanku. Dia selalu bersamaku selamanya.

“Hei, kenapa kau menangis lagi?”

Yunho mengangkat daguku sampai mata kami sejajar. Semakin jelas gura-gurat wajahnya, dan bisa kutemukan banyak noda yang aku yakin fans nomor satu pun belum pernah melihat noda itu di wajah Yunho. Aku merasa sangat terpilih, hanya aku yang bisa mengetahui hal terkecil tentang Yunho.

Isakku tidak berhenti sampai Yunho menutupnya langsung dimulutku oleh bibirnya. Kedua tangan panjangnya melingkar erat di tubuhku. Di antara bising hembusan angin, ku dengar irama jantung. Entah itu milikku, atau miliknya.

“Ya ampun!” pekiknya tiba-tiba. “Ada apa dengan tv-mu?”

Aku hanya tersenyum menghindari jawaban. Kami pasti bertengkar lagi jika dia tahu alasannya.

“Apa ini?” dia meraih kartu A4 di meja mobil.

“Jangan!” aku merebutnya kilat dari tangan Yunho. Merobeknya buru-buru ke dalam sobekan yang paling kecil, lalu memasukkannya ke laci mobil.

“HAHAHAHAHA” Yunho tertawa lantang. “Aku membaca isinya sedikit!” tawanya masih menggema dan semakin parah. “Merry, Christmas my husband…” dia mengulangi sepenggal kalimat isi kartu natalku. “Memang aku kan yang pantas menjadi suami?”

Ya, kami pernah memperdebatkan siapa yang pantas memiliki suami dan istri. Posisi itu tidak menentukan posisi kami di ranjang, melainkan posisi yang akan mengatur kehidupan rumah tangga kami kelak.

“Memangnya siapa yang akan menikah denganmu? Lagipula kartu itu bukan untukmu.”

Yunho menyeringai. Kedua bahunya bergetar menahan tawa. Bahkan dia terang-terangan menutup seringainya dengan tangan, mengetawaiku dengan cara yang lebih kasar daripada tertawa terbahak-bahak.

“Hentikan itu, Jung Yunho!”

Yunho mengangguk patuh sekalipun sisa-sisa seringai di mulutnya belum sirna semua. “Jika kau tidak keberatan… jadilah gay seumur hidup… bersamaku.” Yunho mengaduk-aduk isi saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang langsung membuat jantungku terpacu. Aku mengenal bentuk dan warna kotak itu.

“Tapi, walaupun kau keberatan,” Yunho melanjutkan kalimatnya, “kau tetap harus menikah denganku.”

Dia membuka kotak itu dan senyum riang dari sepasang cincin berukuran hampir sama menyambutku. Malam hari itu dingin dan gelap, tetapi kedua cincin tersebut bersinar terang mengalahkan bulan. Air matapun berlinangan, aku tidak bisa menahannya. Mereka jatuh begitu mudah.

“Hei, jangan menangis!”

Aku menggeleng kepala kuat-kuat, aku tidak mau menuruti perintah Yunho. Tidak untuk sekarang. Jadi, Yunho menciumku lagi.

Merry Christmas…”

.

.

END

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s