F(Love) Chapter 2


F(Love)

Chapter : 2 / ?

Rating : T, PG, to NC (perhaps?)

Genre : Romance, family, friendship

Cast : YunJae, TH5K, Yunho x (upcoming character)😛

Disclaimer : YunJae belongs to shipper, TH5K belongs to cassie and God, Changmin belongs to me. :p Story is mine.

Warning : Bahasa sastra yang muter-muter. Suka misterius. New author. Bakal lama di update. Campus life.

Summary : Di dunia ini, semua hal bisa dirumuskan, atau begitu menurut seorang Jung Yunho, seorang anak yang kelewat rajin. Tapi benarkah begitu? Apa jadinya kalau, Kim Jaejoong, orang yang selalu membuatnya melawan pahamnya sendiri datang? When love makes no more equation.

——————————————————————————————————————————————————————–

Aku ikut!” Itulah pertama kalinya Yunho memutuskan sesuatu tanpa memikirkannya sama sekali.

 

“Memangnya kau bisa bernyanyi?” Changmin bertanya dengan sinis.

 

“Tidak sih, pokoknya aku ikut!” Yunho berkata dengan nada bersemangat.

 

“Bagus… Kau direkrut. Yang penting ada niat… hehehehe” Junsu berkata dengan nada sungguh-sungguh.

 

‘Apa yang telah kau pilih Jung Yunho!!!’ Sekali lagi tanpa Yunho sadari seseorang bergumam untuknya dari jauh.

— f(love) —–

“Hajimemashite… Jung Yunho desu… Yoroshiku onegaishimasu…”*

Kehadiran ‘anggota baru’ itu tak alang mengundang bisik-bisik ribut dari seluruh anggota klub vocal dan tari. Bagaimana tidak? Jung Yunho ‘yang itu’?! Benar-benar Jung Yunho ITU?!

Junsu tertawa cekikikan sendiri melihat reaksi seluruh orang yang hadir di ruangan saat itu.

“Ada apa dengan ekspressi wajah kalian itu, heum?” Junsu tertawa halus lagi,

“A… Betsuni senpai…”*

Mereka tidak bisa bilang “Apa yang sedang terjadi, apakah kiamat sudah dekat sehingga seorang JUNG YUNHO ikut klub tari dan vokal?!?!?!” , kan?

“Aku tau pasti kalian sedikit terkejut dengan kedatangan anggota baru kita hari ini, atau mungkin, tidak sedikit?” Junsu tidak bisa menahan tawanya melihat wajah bodoh yang terpampang di depan wajahnya.

“Sebelum kita membagi latihan kita berdasarkan pembagian suara kita masing-masing seperti biasanya, berdasarkan keputusan bersama, setiap anggota baru harus bernyanyi untuk penempatan suara. Karena itu, silahkan Yunho-ssi, kami persilahkan untuk bernyanyi.”

Seketika tenggorokan Yunho menjadi kering. Bernyanyi adalah suatu hal terakhir yang telah ia tinggalkan setelah kejadian ayahnya memarahinya habis-habisan lantaran ia lupa mengerjakan PR nya akibat bermain music dan belajar lagu baru yang berujung kematian  orangtuanya hari itu, 10 tahun yang lalu.. Yunho tercekat, ketakutan membayanginya dan sepersekian detik, ia merasa air mata akan jatuh tumpah tetapi berhasil tertahan. Yunho hampir saja berjalan menuju ke arah pintu keluar ketika,

“Sumimasen…” Yunho merasakan pipinya memerah dan memanas. Sejak kejadian di taman hari itu, belum pernah ia bertemu dengan Jaejoong lagi walaupun ia telah hampir gila mencari tahu apa arti kata-kata Jaejoong waktu itu.

“E… eh? Yunho-kun?” Jaejoong sendiri tersentak kaget dan terkejut.

“Osoi-naa*” Junsu berdecak tidak percaya. “Kau tidak seperti dirimu hari ini Kim Jaejoong. Jya…Kau tidak terlalu terlambat. Anak baru kita ini akan menampilkan sesuatu yang spesial untuk kita semua, ne, Yunho-kun?”

Yunho bergidik sendiri. Tidak mungkin dia berkata barusan dia hendak berlalu meninggalkan tempat itu, kan? Pandangannya tertumpu kepada gitar yang tergeletak di depan papan tulis tepat di sebelah kanan pintu. Ide kamuflase pun muncul. Dengan cepat diraihnya gitar itu.

Seluruh mata di ruangan itu masih tetap memandang Yunho dengan penasaran, ingin tahu apa yang mungkin dilakukan oleh bocah kutu buku satu itu.

Yunho duduk dan tangannya mulai bergetar. Dia harus mengakui dia sedikit berterima kasih kepada rasa ingin tahunya yang sempat membawanya pada kemampuan bermain gitar yang tidak seberapa.

Semua mata terpaku kepadanya, mengantisipasi apa yang kira-kira akan diperbuatnya. Dan semua nafas tertahan ketika perlahan tapi pasti, suara Yunho keluar, melafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang terbilang sempurna untuk standar orang Jepang.

“L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you adore and

Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don’t break it
Love was made for me and you”

Yunho membenarkan posisi duduknya lagi… Dalam hati dia merasa sangat gugup tetapi juga tiba-tiba merasa sangat tampan ketika mata Jaejoong-nya tidak bergeser sedikitpun dari dirinya.

‘Apakah aku setampan itu Joongie-ah?’ Yunho terkikik sendiri membayangkan betapa narsisnya dirinya saat itu.

Sembari terus memainkan interlude lagu, Yunho menengadah dan mata Yunho bertemu dengan mata Jaejoong. Si cantik itu tentu saja langsung malu dan memerah tetapi tidak langsung serta merta membuang muka.

‘Kawaiiiiiii’ Yunho berteriak dalam hati, persis seperti fangirl.

“L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very, very extraordinary
E is even more than anyone that you adore and

Love is all that I can give to you
Love is more than just a game for two
Two in love can make it
Take my heart and please don’t break it
Love was made for me and you

Love was made for me and you
Love was made for me and you”

Yunho menyelesaikan lagunya dengan baik dan dia berdiri, sedikit membungkuk, memberi hormat. Seluruh ruangan terdiam selama kira-kira 30 detik sebelum akhirnya suasana pecah dengan tepuk tangan bergemuruh.

Yunho hanya menatap mereka bingung. Diliriknya Yoochun yang menghampirinya

“Dude! Kenapa tidak bilang kau pintar menyanyi dan bermain gitar seperti itu!” Yoochun berkata sambil menepuk kepalanya. “Dan jangan lupakan kau pandai berbahasa Inggris!”

Yunho hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Kakkoi naaa” Yunho tersentak ketika tiba-tiba suara lembut menyerusuk di antara keramaian. Jaejoong… Jaejoong-nya!

Sepersekian detik seluruh tepuk tangan dari audiens sama sekali tidak terpengaruh untuknya. Saat itu yang  terlintas di kepalanya hanya betapa indahnya senyum Jaejoong-nya dan betapa ia berharap dapat menyanyikan 1 album penuh supaya ia dapat melihat senyum itu berulang-ulang!

“Selamat Yunho! Kau mengisi posisi baritone mulai dari sekarang!” Junsu berkata dengan nada ceria, kalau tidak mau dibilang teriak, yang sukses menarik Yunho kembali ke dalam dunia nyata.

“Baiklah semuanya… Ayo kita berlatih sekarang! Tenang ayo tenang!”

  — f(love) —

“Sa, otsukaremashita* . Selamat menikmati liburan kalian!! Jangan makan terlalu banyak gorengan dan minum terlalu banyak es, okay!!” Junsu berkata dengan nada riang gembira padahal orang-orang sudah menjauh dari pintu entah sejak kapan.

“Yamete* Kau hanya akan menghabiskan suaramu, baka*!* Yoochun menepuk pundak Junsu

“Ne.. Ne… Jja, ayo kita pulangg, nee?” Junsu bergelayut manja di lengan Yoochun. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukannya jika tidak lagi banyak orang yang memperhatikannya.

“Saa, ayo kita pulang juga Jaejoong-hyung…” Changmin berdiri hendak menghampiri Jaejoong.

Yunho hanya melihat itu dalam diam, tetapi mulutnya seakan telah mengisyaratkan kata-kata tertentu, tetapi tentu saja, ia masih terlalu takut untuk mengajak Jaejoong pulang.

“Oi, tiang! Kau lupa kalau kau meninggalkan catatanmu di kamarku terakhir kali kau menginap? Jangan lupakan juga pakaian kotormu yang bau sekali itu! Kau pikir aku mau mencucinya untukmu?” Junsu berkata dengan gemas ke arah Changmin.

“O… Oh iya ya.. Hehehee..” Changmin berkata dengan wajah dibuat sepolos mungkin.

“Aku bisa pulang sendiri kok Min… Kau ke tempat Junsu-ah saja, otte?” Jaejoong berkata sambil tersenyum manis.

“Shirreo! Aku tidak mau ada bahaya terjadi kepadamu Jae-hyung!” Changmin menolak dengan keras.

“Dengar ya bocah… Aku ini namja, n-a-m-j-a! Aku bisa melindungi diriku sendiri kalau kau mau tahu, jadi berhentilah memperlakukanku seperti anak bocah berumur 3 tahun!” Jaejoong menyahut dengan nada tidak terima.

“Tapi kau pernah hampir diculik, hyung! Aku tidak mau lagi itu terjadi!”

“Chang,”

“Biar aku yang mengantarnya pulang.” Yunho yang melihat perdebatan mereka segera berdiri dan menawarkan diri. Tentu saja dia menghitung ini sebagai pucuk dicita ulam tiba tetapi selain itu, dia memang murni ingin mengantarkan Jaejoong dengan aman dan selamat.

“Kau, memangnya kau bisa?”

“Sudahlah! Biarkan saja Jaejoong dengan Yunho pulang bersama. Kau bahkan bukan kekasih Jaejoong jadi biarkan saja Jaejoong pulang dengan Yunho! Cepatlah, aku bosan. Aku harus mengantar si bebek ini dan kau tidak membuat semuanya lebih baik!” Yoochun mendesis perlahan. Demi apapun, Yunho dapat melihat Yoochun mengedipkan sebelah matanya ke arahnya dan tentu saja dibalas dengan anggukan kecil terima kasih.

“Ta, tapi…”

Ucapan Changmin tidak pernah selesai karena Junsu segera menarik Changmin meninggalkan tempat itu disertai gerutuan tidak setuju dari Changmin.

 —- f(love) —–

“Jadi… Kau serius ikut klub ini Yunho-ya?” Jaejoong memulai pembicaraan.

Baru sejak 2 menit berlalu mereka berada di dalam mobil Yunho.

“N… Ne… Memangnya kenapa?”

“Kau tidak pernah tampak seperti seseorang yang suka ‘kegiatan seperti ini’ di mataku. Apa yang tiba-tiba membuatmu terpikir mengikutinya?” Jaejoong menatap Yunho dengan penuh ketertarikan.

Tenggorokan Yunho menjadi kering dan hatinya berulang kali berbisik

‘Tentu saja kau cantik…’

Tetapi tak mungkin kan dia berkata begitu?

“A.. Aku rasa aku butuh suasana baru. Kau tahu kan, ini bukan semester pertamaku lagi di sini dan aku membutuhkan suasana dan atmosfir baru yang lebih menantang, yang memaksaku melakukan sesuatu yang awalnya membuatku takut…” Yunho berkata setelah berpikir keras akan jawaban paling masuk akal yang bisa diberikannya.

“Ahhh.. Sou ka?*” Jaejoong menangguk-angguk perlahan.

“Jae, aku tahu kita belum lama mengenal, tetapi bolehkah aku bertanya suatu hal kepadamu?” Yunho bertanya takut-takut.

“Tentu saja! Ada apa?” Jaejoong berkata dengan nada bahagia yang sama.

“Chang, Changmin bilang kau pernah hampir diculik. Kapan? Bagaimana bisa?”

Detik berikutnya Yunho berpikir untuk mengubur dirinya sendiri karena ia mendapati perubahan ekspresi Jaejoong menjadi ekspresi yang sedih.

“K.. Kau tidak harus membicarakannya kalau kau tidak mau, kau tau?” Yunho berkata dengan nada serba salah.

“Tidak apa-apa… Aku sudah tidak terlalu memikirkannya juga… Hehehe. Baiklah. Aku sendiri bingung harus mulai dari mana. Saat aku baru masuk di sini, aku benar-benar buta dengan keadaan Jepang juga arah-arah. Suatu malam, aku sedang berjalan sendirian karena paginya mobilku mogok dan aku tidak membawa uang untuk naik bis. Pikirku, toh aku hanya perlu jalan kaki dua halte. Tetapi di situlah semuanya hampir terjadi. Seorang pria bertanya alamat padaku. Sudah kukatakan bukan kalau itu adalah masa-masa awal aku berada di Jepang? Mana aku tahu tentang alamat. Saat kubilang dengan halus bahwa aku tidak tahu alamat itu, dia memaksaku dan tidak mempercayaiku. Saat aku hendak berjalan meninggalkannya, tanganku ditarik dengan paksa ke dalam mobil dan tak lama setelah itu, bagaikan malaikat dari surga, Changmin datang bersama dengan Yoochun dan Junsu. Junsu berteriak histeris dan Changmin serta Yoochun memukuli orang-orang yang ternyata lebih dari satu itu. Aku terlalu takut untuk membuka mata dan tanpa sadar ternyata aku pingsan. Ketika terbangun aku sudah berada di apartemen mereka dan Changmin bertanya berulang kali apakah aku baik-baik saja dan mengomeliku panjang lebar.” Jaejoong berhenti sejenak dan tersenyum.

“Aku yang kesal karena merasa didikte habis-habisan protes tentu saja, dan saat itulah Changmin tidak sengaja mengeluarkan bahasa Korea sehingga aku tahu bahwa dia juga orang Korea dan dia khawatir setengah mati melihatku saat itu. Aku jadi merasa bersalah juga dengannya dan Yoochun serta Junsu. Dia membuatku berjanji untuk tidak pernah pulang sendirian. Sejak hari itu, aku tidak pernah pulang sendirian karena aku tidak mau membuat sahabat-sahabatku khawatir. Kata Junsu aku terlalu cantik sehingga memaksa ahjussi gatal di Jepang untuk menculikku padahal aku kan tampan…” Jaejoong cemberut dan merajuk.

Yunho yang melihat itu secara refleks menggerakan tangannya dan mencubit pipi Jaejoong perlahan.

“Kau… Kau lucu sekali tahu! Kalau aku ahjussi itu pasti aku juga akan menculikmu dan kujadikan pajangan”

Jaejoong tersentak dan pipinya bersemu merah, sekali lagi.

Melihat itu, Yunho menjadi salah tingkah sendiri.

“E.. Eh, maksudku…”

“Ohhh jadi ternyata kau itu ahjussi pervert ya… Hmm, aku penasaran apakah dongsaeng di kampus kita masih tetap menyukaimu kalau mereka tahu kenyataan tentangmu! Hmmmm…” Jaejoong tersenyum jahil.

“Yaaa!” Yunho berteriak tidak terima.

“Kenapa, kenapa kau tidak trauma pulang sendiri?” Yunho bertanya lagi dengan nada penasaran.

“Kau tahu? Trauma adalah bentuk paling menyedihkan di bumi. Trauma berarti kau tidak percaya kehendak Tuhan indah untuk hidupmu. Trauma berarti kau menyimpulkan semua akan selalu sama dan tidak berubah menjadi lebih baik, bahwa segala hal terjadi karena kesalahan. Padahal tidak ada dua hal sama persis yang terjadi dua kali, sama saja tidak ada dua orang sama persis di dunia ini. Ketika kejadian itu berakhir, aku bersyukur. Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku sedekat ini dengan Changmin, Yoochun, dan Junsu. Kalau aku trauma berkepanjangan, mungkin aku akan menyimpulkan semua hal menakutkan, padahal itu tidak benar. Lihat saja, aku baik-baik saja, aku terlindungi. Trauma tidak akan pernah membawaku kemanapun selain kepada kekhawatiran tak berarti, jangan-jangan itu malah menutup kesempatan-kesempatan indah yang Tuhan berikan untukku.”

Yunho tertegun. Dia seperti baru belajar kultum dengan Jaejoong.

“Eh iya Jaejoong, kau belum memberitahuku di mana apartemenmu…”

“Ahh iya!”

——- f(love) —————

Yunho tidak bisa berhenti tersenyum membayangkan apa yang terjadi semalam di antara dirinya dan Jaejoong. Bagaimana mungkin ia tidak bahagia mengingat Jaejoong tersenyum seperti gadis desa termanis.

‘Arigatou Yunho-ya’

Dan saat itu, segala drama siang konyol berkelebat di kepala Yunho dan dia harus mengakui bahwa memang semanis itu saat kau mengalaminya sendiri.

Demi apapun, Jaejoong, Kim Jaejoong adalah seorang pria dan Yunho merasa seperti remaja SMA tanggung yang sedang jatuh cinta kepada perempuan muda!

“Yunho hyung, Yunho hyung, panggilan kepada Jung Yunho!”

Yunho tersentak dari lamunannya.. Ughhh, dongsaeng nya yang satu ini selalu saja masuk ke dalam arena bahagianya dan menghancurkan semuanya.

“Apalagi Karam? Aku sudah memenuhi panggilanmu siang ini, aku sudah melatih calon peserta, dan aku sudah membahas soal dan menemanimu membahas soal selama berjam-jam, apakah itu kurang?” Yunho mulai gusar. Sudah 2 jam berlalu sejak seluruh rangkaian kepentingan –atau begitu menurut Karam – berakhir tapi tak kunjung berakhir celotehannya yang tentu saja membuat dia muak.

“Kau kenapa sih hyung? Emosimu tidak stabil lagi…. Yang ini bagaimana cara mengerjakannya?”

Yunho menghela napas.

“Dengar, aku selalu seperti ini, dan perhatikan soalnya baik-baik! Ini sama dengan cara mengerjakan soal nomor 2 yang tadi sudah kuulang sampai 10 kali!”

“Ne.. hyung…”

DRRT! DRRT!

Yunho membuka hp nya dan sontak senyum sumringah memenuhi wajahnya.

From : Jaejoongie

Junsu mencarimu di ruang musik sekarang, Jung Yunho. Kuharap kau tidak terlambat. Junsu akan sangat menakutkan seperti bebek mengamuk. Kekekeke ^^

“Mau ke mana hyung?” Karam terlihat kaget saat Yunho mengambil jaketnya dengan terburu-buru dan berdiri menuju arah pintu keluar perpustakaan.

“Aku ada urusan. Jja…”

“Hyung…” Tetapi pintu perpustakaan telah tertutup. Karam hanya menggelengkan kepalanya perlahan.

— f(love) ——

Yunho berjalan cepat – kalau tidak mau dibilang berlari – menuju ruang musik dan senyumnya langsung terkembang mengalahkan nafasnya yang terengah-engah. Jaejoong menyambutnya dengan senyum terindahnya di sana.

“Ada apa, Jae?”

Jaejoong tersentak dan melihat ke arah Yunho dengan tatapan yang tak bisa dipahaminya.

Astaga!

“Ehh.. Maksudku Jaejoong, ada apa?”

“Kekeke.. Tidak apa-apa… Aku malah ingin kau terus memanggilku seperti itu Yun. Hehehe. Oh iya, Junsu bilang kau disuruh menghadapnya sekarang. Dia ada di dalam.”

‘Kenapa aku seperti melakukan kesalahan membunuh orang sih?’

“Ne.. Aku masuk ya.”

“Mau kutemani?” Jaejoong menawarkan diri.

“Boo.. Boleh…”

—— f(love) ———–

“Seleksimu belum selesai. Sekarang aku akan memutar satu lagu dan kau harus menari free style selama 1menit!” Junsu berkata dengan nada tegas.

‘Mati aku!

“Ta.. Tapi aku tidak bisa menari Junsu…”

Terlambat. Musik sudah mengalun perlahan, sepertinya intro nya saja.

“Hajime!” Junsu berkata perlahan namun tegas, seakan mengisyaratkan ‘aku tidak suka dibantah.’

Yunho terdiam, beberapa memori mengalun perlahan di kepalanya.

Dan detik ia mengerjapkan matanya, 1 menit nya telah berakhir menyisakan Junsu yang cengo dengan apa yang telah terjadi.

“Itu… Itu tadi martial arts kan, dan beberapa teknik atraksi dasar?” Junsu berkata seakan tak percaya dari apa yang dilihatnya.

“Sepertinya kau membuat Junsu terkejut Yunho-kun. Kau harus mulai menjelaskan padanya sekarang.” Jaejoong berbisik perlahan dari tempatnya berdiri.

“A… Aku… Aku pernah belajar beberapa martial arts Junsu-ah… Tetapi aku tak pernah belajar menari sekalipun dalam hidupku, aku serius! Maafkan aku, aku siap,”

“Bicara apa kau?! Kau bahkan belum pernah belajar menari?! Ya ampun! Kamus-kamus dan rumus bodoh itu telah membutakan dan mungkin hampir membuat otak kananmu karatan tahu! Kau itu art genius! Seharusnya kau tidak pernah mengesampingkan kerja otak kananmu seperti itu!” Junsu mengomel sendirian.

“Maksudmu?”

“Tuh kan! Dasar bodoh!” Junsu berdiri dan berkacak pinggang, gemas sepertinya.

“Kau bahkan belum pernah menari tetapi tarianmu bisa seindah itu! Dengarkan aku ya, kau itu art genius! Kau bisa menghubungkan irama, dan gerakan menjadi satu.Itu yang diperlukan penari! Jiwa mereka menyatu dengan koreo, dan irama! Kau, kau telah melakukannya tadi! Dan kau bahkan tidak menyadarinya, ada apa denganmu, huh?!”

“Woah! Woah! Junsu-ah! Kuhargai semangatmu tetapi kau membuat bintang kita ini ketakutan.” Jaejoong menenangkan Junsu setelah dengan sedikit tergesa menghampiri tempatnya duduk.

“Iyakah? Maafkan aku…” Junsu terlihat merasa bersalah sekali.

“Daijoubu desu yo*” Yunho tersenyum simpul.

“Sudah kuputuskan, kau akan bergabung bersama kami berlima mewakili universitas ini untuk lomba tingkat internasional 3 bulan lagi!” Junsu berkata lagi dengan bersemangat.

“E.. EHH?!?!?!?!”

 ——– f(love) ———

Sejak hari itu, Jaejoong, Yunho, Changmin, Yoochun, dan Junsu menghabiskan banyak waktu bersama untuk berlatih. Dimulai dengan vokal kemudian koreografi. Melelahkan tetapi terasa sangat menyenangkan, untuk Jung Yunho terutama.

Tidak pernah seumur hidup dia merasa sangat berarti, sangat diinginkan, sangat dicintai, dan sangat mencintai apa yang dikerjakannya.

Namun ada yang selalu mengganjal baginya, Changmin. Pria jangkung itu selalu baik kepadanya saat Jaejoong tidak ada. Saat mereka belajar mata kuliah pun Changmin memberi masukan untuk Yunho.

Tetapi cerita selalu berubah ketika Jaejoong datang.  Changmin menjadi pria yang sepertinya bahkan dapat membunuhnya dengan sekali tatapan matanya. Duduk dan membayangkannya saja sudah mengerikan bagi Yunho.

Bicara soal Jaejoong, namja cantik itu selalu membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya lantaran berdebar terlalu keras.

Cinta? Yunho tidak mau mengakuinya.

Yunho banyak belajar bahwa Jaejoong hidup di lingkungan keluarga yang kompleks, mungkin tidak jauh berbeda dengannya. Punya 2 pasang orangtua, masa kecil menyedihkan, tetapi Yunho tidak berani mencari tahu lebih jauh daripada itu.

Yunho takut Jaejoong menangis.

Dalam beberapa bulan terakhir ini pula Yunho selalu mengalokasikan waktunya untuk menguping tentang apa yang orang pikirkan tentang dirinya.

‘Yunho senpai itu kutu buku yang dingin’

‘Yunho senpai mana perduli denganmu walaupun kalian berkencan’

‘Yunho itu tampan tapi anti sosial…’

Awal-awalnya Yunho sering sekali mendengarkan hal-hal serupa itu tetapi semakin lama, semua orang selalu menatapnya kagum saat berjalan di lorong.

Kabar bahwa Yunho bergabung klub elite seperti vokal dan tari itu cepat sekali menyebar. Video nya menari dan menyanyi entah mengapa sudah berada di smartphone milik hampir seluruh universitas.

Yunho berubah. Banyak sekali orang yang sekarang tak lagi ragu untuk mengajaknya berbicara dan sekedar berbasa-basi.

Seorang Kim Jaejoong, atau mungkin cintanya untuk Kim Jaejoong membuatnya berubah, menjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya!

 ————- f(love) ————

“Hai cantik. Apa kabarmu?”

2 detik yang lalu telepon masuk ke hp Jaejong dan saat melihat nama siapa yang tertera di layar, tak sedikitpun terpikir di kepalanya untuk menunggu.

“Yunho-ah! Sudah kubilang aku ini tampan!”

“Biar kutebak, saat ini kau pasti sedang mengerucutkan bibirmu kan? Hahahaha”

Jaejoong bersemu merah dan terdiam.

“Ahhh putri cantik sepertinya sedang memerah karena malu! Awas jangan sampai semerah strawberry busuk!” Dari seberang sana Yunho kembali menggodanya.

“Aku tidak cemberut dan aku tidak semerah strawberry busuk!”

“Awww berarti kau memang benar-benar malu kan??” Yunho kembali menggodanya.

“Yah! Kututup teleponnya sekarang ya kalau kau hanya mau menggodaku.”

“Arraseo araseeo… Jangan ngambek dong… Aku mau bilang kalau tempat minum mu tertinggal di mobilku.”

“Ahh jinjjah?! Mianhae…” Jaejoong bergumam dengan nada rendah.

“Apakah aku setampan itu sampai setiap kali aku mengantarmu pulang ada saja yang tertinggal? Map-mu, file musik-mu, kotak makanmu, bahkan gitarmu!”

“Siapa yang bilang kau tampan? Pede sekali! Iyaa iya aku salah. Maafkan aku ya. Terkadang aku terlalu senang sampai,”

Jaejoong merutuki omongannya. Apakah dia baru saja mengatakan sesuatu yang berbahaya?

“Terlalu senang? Hayooo apa ituuu?”

“Aku sungguh-sungguh akan menutup teleponnya sekali lagi kau menggodaku tuan Jung. Jadi apakah kau menelponku hanya untuk mengabariku tentang botol minum itu?”

“Tidak sepenuhnya benar. Besok pagi kau berangkat dengan siapa ke tempat latihan?”

“Sepertinya kali ini aku mau berangkat bersama Changmin, Yunho-ah. Sudah terlalu sering aku melupakannya. Dulu setiap pagi aku selalu berangkat bersamanya dan setiap pulang kuliah kita selalu bersama. Tetapi belakangan kau hampir selalu ada bersamaku, benar-benar di sampingku saat aku berangkat pagi dan pulang kuliah. Aku tidak enak dengan Changmin. Otte?”

“Seharusnya Changmin mengerti….” Yunho berkata dengan nada yang mendadak gusar.

“Tidak Yunho. Aku yang salah tidak menghubunginya. Terima kasih sudah menawariku. Kali ini aku tidak bisa. Maaf ya…”

“Tidak apa-apa.” Yunho membalas dengan nada datar.

“Selamat malam Yunho. Maafkan aku ya…”

KLIK!

Sambungan terputus bahkan sebelum Yunho sempat membalas.

Sepertinya Jung muda tidak bisa tidur malam ini…

————- f(love) ——————

Jam telah menunjukkan pukul 7 malam dan lima orang pria, 3 di antaranya tampak single, menikmati hidangan mereka. Latihan telah berakhir 2 jam yang lalu dengan tidak mulus. Hari ini semuanya kacau. Yunho melupakan nada-nadanya, Changmin menghancurkan koreo, Jaejoong yang tergeletak serba salah di tengah-tengah mereka. Malam minggu dan liburan, Junsu memutuskan untuk mengajak makan bersama.

Yang paling tinggi, Changmin tentu saja, mengunyah makanannya seakan-akan ia ingin mencabik-cabik orang yang ditatapnya dari setiap gigitan makanannya, siapa lagi kalau bukan Jung Yunho?

Yunho yang merasa risih dilihat seperti itu hanya terdiam dan mengunyah pula makanannya yang sebenarnya rasanya seperti tersangkut di tenggorokannya. Changmin mungkin lebih muda darinya tetapi tatapannya bahkan tidak kurang seram dibandingkan neneknya yang dulu ia lawan saat disuruh tidur siang.

“Changmin, makan makananmu dengan benar.” Jaejoong menegurnya perlahan. Agaknya Jaejoong mengerti tatapan tajam Changmin membuat bulu kuduk Yunho meremang dan wajahnya berkeringat dingin.

“Sejak kapan kau diterima di antara kami seperti ini?” Changmin mengunyah makanannya dan menatap tajam pada Yunho.

“Hey magnae! Jaga ucapanmu! Kita akan bekerja sama dalam beberapa waktu ke depan.” Yoochun menegurnya.

“Bekerja sama? Tidak pernah dalam sejarah kau mengijinkan rookie sepertinya bergabung bersama kita. Hanya karena dia mengajari kita kalkulus tidak berarti dia menjadi sahabat kita kan?”

“Changmin-ah! Kendalikan emosimu…” Junsu membujuknya perlahan.

“Yunho ya, kau mau tambah?” Seluruh mata tertuju kepada Jaejoong yang terlihat asik sedang menyuapi Yunho.

Yang menjadi objek perhatian tiba-tiba tertunduk malu dan terlihat gelisah.

“AISH!” Changmin berdiri dan menggeser kursinya, kalau tidak mau dibilang menendangnya.

“Changmin-ah! Matte!!*” Jaejoong berdiri dan mengejar Changmin dari belakang.

Yunho hanya menatap aneh, dan tanpa ia sadari hatinya berdebar perlahan. Cemburu, atau cinta, atau possesif? Mana Yunho paham.

“Kuharap kau memahami dia Yunho-ah. Changmin orang yang baik. Dia mengatakan apa yang dipikirkannya tetapi dia tak pernah menyangkal kata-katanya sendiri. Namun terkadang kata-katanya salah, dan sepertinya, dia juga tak suka apa yang dianggapnya miliknya pergi kepada orang lain.” Yoochun berkata dengan nada lirih dan amat perlahan.

“Miliknya? Jaejoong maksudmu?”

Junsu menangguk lemah.

“Kau tahu, dia tidak pernah mengakuinya dengan jujur tetapi sepertinya, Changmin mencintai Jaejoong.”

Yunho menolehkan pandangannya ke arah pintu kaca yang masih mempertontonkan Jaejoong dan Changmin yang berkejar-kejaran.

Tanpa ia sadari, tangannya mencengkeram dan mengeras di bawah meja.

——- f(love) ———-

“Changmin-ah, matte!!*” Jaejoong memekik.

“Pergi sana.” Changmin berkata dengan nada dingin.

“Kenapa? Ada apa? Hyung minta maaf kalau hyung salah…” Jaejoong bertanya dengan nada yang sangat perlahan. Rasa bersalah tercetak jelas dalam nadanya.

Changmin mengeratkan kepalan tangannya. Dia sangat marah. Sangat. Sangat MARAH.

“Berhenti! Berhenti meminta maaf. Berhenti mengejarku kalau kau tidak punya apapun untukku!”

“Apa maksudmu?”

“Berhenti hyung… Kumohon, rasanya sakit sekali di sini.”

Changmin jatuh terduduk. Rasanya lututnya melemas dan hatinya merapuh.

Kejadian tadi pagi berkelebat di kepalanya. Saat dirinya tanpa sengaja menampar Jaejoong yang tidak lagi pernah pulang dan pergi bersamanya, tidak mengabarinya, dan kemudian saat Jaejoong berkata kepada ke-3 mahkluk lain bahwa luka di pipinya dikarenakan ia terjatuh di kamar mandi tadi pagi.

“Maafkan aku, aku salah, aku tidak pernah menghubungimu saat aku pulang dan pergi dengan Yunho, Changmin-ah”

Detik itu pula, Changmin melayangkan tinjunya ke tanah tempat ia jatuh terduduk, tepat di samping kaki Jaejoong.

“KENAPA KAU BODOH DAN BAIK SEKALI PADA SAAT YANG BERSAMAAN HYUNG?! KENAPA?! KENAPA KAU MINTA MAAF?! TIDAKKAH KAU MENGERTI?! AKU MENCINTAIMU, AKU CEMBURU, AKU TIDAK KUAT LAGI! INI SEMUA MENYAKITKAN! TIDAKKAH KAU MENGERTI?! HAAAH?!”

——————————————————————— TBC —————————————————————

“Hajimemashite… Jung Yunho desu… Yoroshiku onegaishimasu…”* à “Hallo. Saya Yunho. Mohon bantuannya”

“A… Betsuni senpai…”* à “A.. Bukan apa-apa kok, Kak (senior)”

“Osoi-naa*” à “Kau terlambat”

“Kakkoi naaa” à “Keren sekali!!”

“Sa, otsukaremashita* à “Terima kasih atas usaha kalian!”

“Ahhh.. Sou ka?*” à “Oh jadi begitu”

“Daijoubu desu yo*” à “Tidak apa-apa kok”

Matte!!* à Tunggu

“Hajime!” à Mulai!

“Sumimasen…” à Maaf

“Kawaiiii…” à Imut sekaliiiii

“Yamete!” à hentikan

“baka!” à Bodoh!

————————————————————————————————————————————————————————

Maafkan update yang terlalu lama. Sepertinya mulai sekarang aku akan lebih terkonsentrasi untuk memindahkan fanfic ku ke wordpress. Sekarang ffn sering mengalami situs restricted, apakah ia tergolong situs pornografi? Sepertinya iya mengingat rated M yang semakin baik ditulis…

Kekekekee  ^^

Bagaimana kabar kalian? Maaf aku tidak bisa menyebutkan terima kasih kepada readersku karena dari laptopku tidak bisa dibuka ffn nya sementara dari hp sulit sekali membukanya. Kuharap kalian tidak marah padaku. Kalau ada kritik silahkan di comment di ffn juga boleh, walaupun aku lebih berharap di wp. Sepertinya f(love) akan menjadi fanfic terakhir yang kutulis di ffn.

Terima kasih sudah membaca, membuatku haus untuk berkarya. Aku sangat senang. Kalau kalian ingin merekomendasikan fanfic kalian, silahkan tinggalkan di comment, aku akan membacanya. Aku penikmat fanfic sejati loh…

Hehehehe.

Selamat tahun baru! AKTF SEMUANYA! LOVE YOU ALL😀

One thought on “F(Love) Chapter 2

  1. Kyaaaa jae pemikirannya dewasa banget~~~
    Yun sama min sama2 suka jae? Huh pasti jae bingung kalo kaya gitu😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s