Love.. What To Do (chapter 2) by: parkririn


Love.. What To Do

By : parkririn1611

Chapter 2

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.


Continue reading ->

* * * * *

Terlihat jelas jika Jaejoong sama sekali kurang berkonsentrasi dengan pekerjaannya hari ini. Beberapa kali ia sampai melamun karena memikirkan sesuatu. Memikirkan siapa lagi kalau bukan Jung Yunho yang semalam mengajaknya kencan. Bukannya Jaejoong tidak mau, tapi dia tidak bisa tenang-tenang saja jika mendengar kata ‘kencan’. Apa dua orang lelaki berjalan berdua namanya juga kencan? Seperti pasangan gay? Jaejoong tidak masalah dengan pasangan-pasangan yang menyukai sesama jenis, teman-temannya juga banyak yang seperti itu, tapi dirinya?

Jaejoong sendiri bahkan tidak yakin jika ia sebenarnya menyukai perempuan atau lelaki, karena sejujurnya ia belum pernah jatuh cinta, jadi otomatis dia belum pernah berpacaran. Memang dia tidak memungkiri jika ia begitu terpesona begitu pertama kali bertemu dengan Yunho. Tapi Jaejoong tidak yakin jika itu perasaan yang disebut jatuh cinta atau hanya kagum semata.

Sosok Jung Yunho yang tampan, memiliki harta yang tidak sedikit, yang dingin, namun juga blak-blakan. Jaejoong benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan Yunho. Pesona Jung Yunho yang bisa membuat Jaejoong gila.

“Jae, kau kenapa sih?’

Chef Jung menepuk bahu Jaejoong pelan. Sejak daritadi ia bisa tahu jika ada yang tidak beres dengan rekannya satu ini. Sejak istirahat makan, dia melihat Jaejoong hanya mengaduk-aduk makanannya dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak biasanya Jaejoong seperti itu dan dia juga tidak ingin jika dapurnya bekerja dengan orang yang sedang kehilangan konsentrasinya.

Jaejoong yang sepertinya tidak menyadari tepukan pelan di bahunya, tetap mengaduk-aduk makanannya sedari tadi. Chef Jung mendengus pelan kemudian menepuk bahu Jaejoong lebih keras.

“Ya! Kim Jaejoong!”

Jaejoong yang terkejut dari lamunannya segera menolehkan kepalanya melihat chef Jung yang sedang memandanginya dengan dahi mengerenyit,”E-eh? Iya, chef”

“Kau ini kenapa sih? Bekerja tidak konsentrasi dan sekarang waktunya makan kau malah melamun. Sedang memikirkan sesuatu?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin sekali menceritakan kejadian kemarin dengan chef Jung, tapi ia mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin secepat ini mengambil kesimpulan jika mungkin saja Yunho menyukainya dan ia sudah jatuh cinta dengan Yunho.

“Terserah kau sajalah, Jae. Tapi aku minta jangan sampai konsentrasimu berkurang ketika kerja, ne?”

“Baik, chef..”

* * * * *

(Yunho POV)

Aku sudah menunggu Jaejoong selama setengah jam, seharusnya jam kerjanya telah selesai daritadi, mungkin saja ia sedang bersiap-siap. Sesekali aku menendang-nendang udara untuk menghilangkan dingin malam. Tidak. Aku tidak bosan. Menunggu Jaejoong untuk berkencan dengannya bukanlah hal yang membosankan, malah membuat jantungku terus-terusan berdegup dengan kencang.

Tidak dapat aku pungkiri jika aku sangat terhanyut kedalam pesona seorang Kim Jaejoong ketika pertama kali bertemu. Bahkan ketika aku bertemu Jaejoong untuk yang kedua kalinya, aku sudah berani menyimpulkan bahwa diriku begitu menyukai Jaejoong. Aku bukan orang yang senang berbicara banyak, hanya saja aku selalu to the point dengan apa yang aku inginkan, seperti mengajak Jaejoong berkencan semalam.

Beberapa menit kemudian aku melihat Jaejoong keluar dari arah pintu masuk restoran. Ia memakai kemeja putih. Tunggu.. itu sepertinya kemeja yang aku berikan ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Ah~ Dia cocok juga mengenakan kemeja itu. Aku melambaikan tangan ketika ia menoleh kearahku. Dia tersenyum dan kemudian berlari kecil menghampiriku.

“Ayo masuk”

Aku langsung saja membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Jaejoong untuk masuk. Dia terlihat sedikit gugup kurasa dan pipinya merona. Aish! Bagaimana bisa sih ada seorang lelaki yang begitu cantik, bermata besar, bibir semerah cherry, dan seputih dia? Aku berusaha mati-matian untuk tidak mencoba mencium bibir itu, bibir yang begitu menggoda.

“Mm, Yunho. Mau sampai kapan kau berdiri begitu?”

Panggilan Jaejoong membuyarkan lamunanku. Aku mengusap bagian belakang leherku pelan, merasa sedikit malu karena Jaejoong memergokiku sedang melamun memperhatikannya. Aku langsung saja masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.

(Yunho POV end)

* * * * *

Sebenarnya Yunho ingin sekali mengajak Jaejoong untuk pergi ke tempat-tempat mengasyikkan seperti taman bermain, bioskop, pantai, pusat perbelanjaan dan tempat bagus lainnya untuk berkencan. Tapi mau bagaimana lagi jika jadwal kerja Jaejoog baru selesai pukul 11 malam. Jadi, di sinilah mereka, dipinggiran sungai Han.

Mereka berdua berjalan berdampingan di pinggiran Sungai Han dalam diam. Jaejoong memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan sedari tadi kepalanya terus ditundukkan. Dia pernah membayangkan jika ia akan mengajak kekasihnya untuk berjalan berdua menikmati malam di pinggiran Sungai Han, tapi tidak dengan Yunho. Dia tidak keberatan sebenarnya jika sekarang ia sedang berkencan dengan Yunho, hanya saja rasa berdesir di hatinya dan jantungnya yang berdegup dengan kencangnya membuat dirinya tidak bisa bersikap sewajarnya saja jika sedang bersama Yunho.

Berbeda dengan Jaejoong, Yunho begitu santai dan menikmati kencan sederhananya dengan Jaejoong. Matanya tidak berhenti memandangi lampu-lampu jalanan yang menerangi mereka mala mini. Sesekali matanya melirik kea rah kirinya sekedar untuk mengamati Jaejoong. Yunho tahu jika Jaejoong mungkin saja masih merasa asing dengan kencan seperti ini, tapi entah mengapa Yunho merasa jika dimana pun ia bersama Jaejoong, semuanya terasa benar.

“Jadi apa yang membawamu sampai bisa bekerja di restoran itu?” Yunho mencoba membuka pembicaraan.

Jaejoong mendongakkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Yunho, ia menghela nafas panjang sebelum mulai menjawab.

“Selepas SMA aku pergi ke Seoul untuk mencari kerja, karena aku piker akan lebih mendapatkan banyak uang jika mendapat pekerjaan di Seoul. Ibuku sebenarnya menawariku untuk berkuliah dulu dengan biaya pinjaman dari Bank, tapi aku menolak dengan alasan sudah saatnya aku yang membiayai kebutuhan ibu dan sekolah adik-adikku. Jujur saja aku tidak tahu ingin bekerja apa,tapi aku bertekad agar mencari kerja yang menghasilkan banyak uang..”

Jaejoong menoleh begitu Yunho menoleh karahnya dengan mata mendelik,”Ya ya, pikiranmu kotor sekali sih? Maksudku tentu saja bukan pekerjaan yang haram. Kau ini curigaan sekali sih!”

“Aku tidak berpikiran seperti itu!”

“Ish, mengelak..” Jaejoong mendecih dan melanjutkan ceritanya lagi,”Aku kemudian bertemu dengan chef Jung, dia bilang sedang mencari asisten koki, aku menawarkan diriku saja untuk bekerja di situ. Dia membawaku ke restoran dan menguji masakanku serta pengetahuanku tentang bumbu dan bahan dapur. Besoknya, aku mulai bekerja di restoran itu sebagai asisten koki. Setelah satu tahun bekerja, chef Jung memasukkan diriku ke sebuah tempat sekolah masak, katanya agar aku bisa diangkat menjadi koki. JAdi ya, beginilah aku sekarang, menjadi koki.”

Jaejoong mengakhiri ceritanya dengan menghela nafas lagi. Dipandanginya Yunho yang kini mengajaknya duduk disalah salah satu bangku taman.

“Lalu bagaimana denganmu?” Jaejoong kini bertanya mengenai Yunho.

Yunho menolehkan kepalanya menghadap Jaejoong. Ditatapnya bola mata besar itu yang sedang menunggu jawaban Yunho. Tapi selang beberapa menit, Yunho juga tidak membuka mulutnya. Jaejoong menjadi kesal sendiri dan mulai mengerucutkan bibirnya, tanda ia sedang merajuk.

“Jangan begitu, bibirmu jelek sekali. Aku hanya seorang CEO, sudah itu saja.”

Yunho akhirnya menjawab pertanyaan Jaejoong dengan mengangkat bahunya. Tapi Jaejoong malah semakin mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Yunho.

“Kau ini memangnya kalau bicara bayar ya? Sedikit sekali! Sok misterius..” Jaejoong menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

Yunho terkekeh melihat Jaejoong yag semakin kesal,”Nanti juga lama kelamaan kau akan tahu sendiri..”

“Tapi kan aku juga akan tahu kalau bertanya, Yun!”

Jaejoong duduk dari duduknya dan menghentakkan kakinya kemudian pergi meninggalkan Yunho yang terbengong melihat tingkah lakunya.

“Aish! Dia ini seperti wanita sungguhan”

“Jung Yunho aku mendengarmu mengataiku wanita!!!!”

“Ya ya! Jaejoong!”

Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berlari mengejar Jaejoong. Kencan yang kurang menyenangkan sepertinya ya? Mau bagaimana lagi? Yunho saja bahkan belum pernah berpacaran. Sepertinya ini akan menjadi saat-saat yang sulit untuk mengerjar cinta Jaejoong, batin Yunho.

* * * * *

(Jaejoong POV)

Beberapa minggu kemudian hubunganku dan Yunho semakin dekat. Aku tidak pernah berusaha untuk menghindarinya, karena aku pikir juga aku tidak ingin menghindarinya. Aku juga tidak merasa terganggu jika seandainya saja aku dan dia benar-benar menjadi sepasangan kekasih yang sesama jenis. Memangnya kenapa? Yang penting bahagia kan? Urusan dosa sih nanti saja di akhirat. Hihihihi

Dan selama beberapa minggu ini pun, Yunho rajin mengantar-jemput diriku. Meskipun tetap saja dia irit bicara, tapi aku cukup senang mendapat perlakuan manis darinya. Dia rajin memberikan barang-barang kesukaanku, memperhatikanku, menanyakan kabarku, pokoknya hal-hal manis lainnya. Aku pun juga mulai mengenal pribadinya yang tertutup, bicara seperlunya saja, kebiasaannya, dan semua tentang dirinya.

Hanya saja, beberapa hari ini aku merasa ada yang aneh dengan sikap chef Jung. Jika biasanya dia karna sangat ramah kepadaku, kini ia mulai acuh tak acuh. Aku tidak mengetti terhadapa perubahan sikapnya. Aku merasa jika aku selalu mengerjakan pekerjaanku dengan baik, tidak ada komplain dari konsumen, dan semuanya juga berjalan lancar di restoran. Tapi kenapa dia jadi orang yang ketus?

“Tidak makan, chef? Beberapa hari ini ku perhatikan kau hanya minum kopi di saat makan siang, lambungmu tidak apa-apa?”

Siang ini aku mencoba untuk berbicara dengan chef Jung lagi. Meskipun dia juga bersikap ketus dengan yang lainnya, tapi entah mengapa aku pikir jika aku penyebab perubahan sikap dia. Dia tidak menjawab pertanyaanku lagi. Selalu begini. Biasanya dia yang akan menyapaku duluan. Apa dia sedang ada masalah ya?

“Kau tahu, chef? Jika kau sedang ada masalah, kau bisa saja berbagi cerita denganku..”

Belum lagi aku menersukan perkataanku, chef Jung malah memberiku tatapan menusuknya.

“Mm, oke, chef. Maaf aku sudah menganggumu. Aku—“

“Bagaimana aku bercerita kepadamu masalahku, jika pokok masalahku adalah kau?!”

(Jaejoong POV End)

* * * * *

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Yunho baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya dan sekarang sedang berada di jalan pulang menuju apartemennya. Kepalanya begitu berat dan penat, ia bahkan bisa merasakan perutnya mulai perih akibat tidak makan siang tadi. Dia juga merasa tidak enak karena membuat Jaejoong pulang sendiri beberapa hari ini. Tidak dapat ia pungkiri jika ia sangat merindukan namja cantik itu.

Ah~ Jika ia mengingat Jaejoong, langsung saja hatinya akan kembali berdesir hangat. Masuknya Jaejoong dalam kehidupannya, mulai membawa pengaruh baik dalam dirinya. Ia tidak lagi dingin dengan orang lain, ia mulai sering menebar senyum jika berpapasan dengan orang, dan ia mulai bisa sedikit berbicara banyak dan tidak lagi hanya menggerakkan mimik wajah atau tubuhnya untuk mengekspresikan perasaannya.

Yunho memberhentikan laju mobilnya begitu melihat tanda lampu merah menyala pada traffic light. Sejenak ia mengedarkan pandangannya melihat kota Seoul yang masih saja ramai bahkan sudah dini hari seperti ini. Matanya tertuju pada sebuah layar besar yang sedang menayangkan berita langsung sebuah kebakaran. Yunho menyipitkan matanya untuk dapat melihat dengan jelas tempat kebakaran tersebut. Seketika saja matanya terbelalak lebar, ia mengenal tempat itu. Sebuah apartemen dengan cat hijau dan biru. Bangunan apartemen yang selalu ia kunjungi beberapa minggu ini. Apartemen Jaejoong!

Tanpa pikir panjang, ketika lampu hijau sudah menyala, Yunho menginjak pedal gasnya. Ia sudah tidak dapat berpikir lagi dengan tenang. Dipikirannya hanya Jaejoong dan Jaejoong. Begitu ia sampai di persimpangan jalan menuju apartemen Jaejoong, jalanan sudah di tutup. Langsung saja Yunho keluar dari mobilnya dan berlari menerobos kerumunan orang yang memadati sekitar. Matanya bergerak cepat untuk menemukan sosok Jaejoong.

Keringat dingin mengucur deras melalui sela-sela rambut hitamnya. Nafasnya berhembus berat dan cepat. Dan hatinya semakin dirundung gelisah begitu tidak mendapati Jaejoong diantara kerumunan orang-orang. Kakinya tetap melangkah menyusuri dan memutari sekitar apartemen Jaejoong. Ia bersumpah akan menenggelamkan dirinya di Sungai Han jika ia mennemukan Jaejoong dalam keadaan… Astaga! Yunho sampai berpikiran yang tidak-tidak mengenai Jaejoong. Yang pasti ia tidak akan sanggup hidup lagi jika Jaejoong pergi. Karena tanpa ia sadari jika ia sudah memberikan sepenuh hatinya kepada Jaejoong.

Yunho bisa bernafas lega begitu menemukan sosok Jaejoong yang sedang berdiri dibelakang kerumunan ibu-ibu yang menangis histeris. Tapi ia bisa merasakan hatinya berdenyut sakit ketika melihat keadaan Jaejoong. Satu orang berseragam perawat kini tengah meninggalkan Jaejoong yang masih menatapa kobaran api yang menghanguskan tempat tinggalnya. Mungkin perawat itu baru saja mengobati luka-luka Jaejoong, pikir Yunho. Terlihat beberapa plester antiseptik yang melekat di sekitar wajah dan leher Jaejoong dan lengan Jaejoong yang diperban.

Perlahan Yunho mendekatkan dirinya menuju Jaejoong. Dapat ia lihat jika airmata Jaejoong sudah menggenang di pelupuk matanya. Yunho menggerakkan tangannya, menyentuh bahu Jaejoong. Jaejoong menoleh menatap kearah Yunho, namun hati Yunho kembali berdenyut sakit begitu melihat ekspresi wajah oorang yang disayanginya itu. Jaejoong seperti orang linglung, bahkan ketika Yunho menuntunnya menuju mobil, Jaejoong tetap diam menatap lurus ke depan.

Begitu sampai di apartemen, Yunho membawa Jaejoong masuk ke dalam kamar tamu dan meletakkan tas barang-barang yang sempat Jaejoong selamatkan di sisi lemari. Ia menuntun Jaejoong untuk duduk di atas tempat tidur. Jemarinya tidak dapat dicegah begitu dia mulai menyusuri surai hitam yang menutupi kening Jaejoong. Diusapnya lembut pipi Jaejoong, matanya begitu perih melihat Jaejoong seperti ini. Begitu Yunho akan beranjak untuk mengambilkan air minum, Jaejoong terisak. Dengan segera Yunho menarik Jaejoong dalam pelukannya. Menyalurkan kehangatan dan ketenangan.

“Menagislah, menangislah.. Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja..”

Yunho berusaha untuk membuat Jaejoong tenang. Di dalam hatinya juga ia tidak bisa tenang jika melihat Jaejoong seperti ini. Beberapa kali ia mengucapkan kata-kata penenang dan penyemangat. Hingga beberapa saat kemudian, Jaejoong tertidur didalam ketenangan dan kehangatan Yunho. Yunho mengusap wajahnya kasar. Tubuh, pikiran , dan hatinya benar-benar lelah. Kini ia bisa sedikit lebih tenang karena Jaejoong berada di dalam jangkauannya.

Walaupun tanpa Yunho dan Jaejoong sadari jika ada satu pasang mata yang terus mengawasi mereka ketika berada di tengah kejadian kebakaran apartemen Jaejoong.

* * * * *

Haloo chingu^^ baru update lagi~~ Bagaimana? Otte? Otte? Jangan lupa di comment yaaaaaa😀 Peluk cium :*

3 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 2) by: parkririn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s