My Perfect Boyfriend – Chapter 6


MY PERFECT BOYFRIEND

Chapter 6-Confused

created by Amee

.

.

Warning :

Not for Children

.

.

Suatu malam aku pernah bermimpi. Apa jadinya jika Yunho terlahir sebagai manusia dan aku terlahir sebagai robot. Apa ketika hal itu terjadi, situasinya akan tetap sama? Apakah aku akan tetap bertemu dengannya?

Kemudian yang aku rasakan hanya kebingungan. Secara emosi, aku mencintai Yunho. Namun secara logika, itu hanyalah desakan reaksi kimia dalam tubuh yang menyesatkan. Aku dan Yunho berada dalam ruang dan dimensi yang berbeda.

Aku mendekatkan wajahku ke jendela hingga hidung dan dahiku bersentuhan dengan kaca, ada Yunho di bawah sana. Aku merasa Yunho lebih manusiawi sekarang, maksudku dia bisa berlagak layaknya manusia, dia tidak lagi menggunakan kekuatannya secara berlebihan.

Gadis-gadis itu, yang meneriaki Yunho dengan histeria berlebihan. Kenapa aku merasa cemburu pada mereka? Aku merasa sesak karena aku tidak dapat melakukannya.

Ketika aku hampir menarik wajahku kembali, kulihat Yunho menengadah dan melambaikan tangannya padaku. Dia tersenyum dengan sangat hangat, kemudian membuat simbol ‘love’ dengan kedua tangannya. Dan bisa kulihat para gadis di bawah saja menjerit dan terlonjak kegirangan.

“Berhentilah berpikir bodoh, Kim Jaejoong.” aku menghela nafas panjang.

Kubuka buku leksikografi, lantas kutatap setiap deretan kata kata yang tercetak di dalamnya tapi tidak benar-benar membacanya. Aku hanya bingung, kenapa cinta itu datang pada objek yang salah? Bahkan aku tidak tahu, sejak kapan sihir bernama cinta itu menghampiriku.

Dan kini, aku merasa seperti orang paling malang di dunia. Mencintai sesuatu yang sebenernya tidak boleh dicintai.

“Hn,” aku menghela nafas panjang tepat ketika sebuah buku mendarat di atas kepalaku.

Aku mendongak, menatap Changmin yang berdiri di sampingku dengan seringaian setannya.

“Min, ada apa?” tanyaku.

Dia mencubit kedua belah pipiku dan menariknya ke arah yang berlawanan, sehingga aku merasa bibirku hampir saja membesar dan elastis seperti karet.

“Sa…kit,” ujarku tergagap sambil menutupi bagian bibir yang kuyakini tampak sangat buruk. Aku mendengus keras. Sial, manusia bernama Shim Changmin itu memperburuk imejku saja.

Changmin tertawa dengan keras sambil melepaskan cubitannya lantas duduk di sampingku. “Kau terlihat sangat buruk dengan wajah yang tertekuk seperti itu,” katanya.

“Oh, diamlah,” aku menjitaknya dengan keras. “Kau yang membuatku terlihat sangat buruk,”

Aku mengelus elus kedua belah pipiku yang terasa berdenyut, sementara Changmin kembali tertawa. Jika aku bercermin, aku sangat yakin jika ada tanda berwarna merah di sana. Dasar monster.

“Berhentilah tertawa!” gertakku.

Changmin menutupi mulutnya dengan kedua tangan, lantas menarik nafas panjang. “Baiklah baiklah,”

Changmin menatap wajahku dan kutahu ia akan kembali tertawa jika aku tidak menginjak kakinya lebih dulu. Pipinya menggembung dan matanya seperti lucifer yang mengejekku.

“Ya, kau sangat kejam!” pekik Changmin.

“Sudah kukatakan untuk tidak tertawa, kenapa kau masih saja tertawa?”

“Siapa yang tertawa? Aku bahkan sedang menahan untuk tidak tertawa,”

“Artinya kau tertawa,”

“Aku tidak tertawa,”

Aku mengarahkan ibu jari dan telunjukku yang membentuk pistol ke arah wajahnya. “Bang bang! Tapi kau mau tertawa dan jangan menyangkalnya!”

“Baiklah, maafkan aku,” katanya.

Changmin tersenyum padaku lantas mencium pipiku. Dan kini aku tahu, itu bukan sebuah lambang persahabatan. Tidak ada orang lain yang diperlukan seperti itu oleh Changmin, hanya aku. Tapi aku tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Aku menyentuh pipiku, untuk kali pertama aku berharap Yunho yang menciumku. Mendadak aku teringat saat Yunho menyentuh bagian sensitif tubuhku dan itu membuatku merasa malu.

“Jae, apa kau sakit? Wajahmu memerah,” Changmin menyentuh wajahku, dan terimakasih sudah membuyarkan seluruh imajinasi dan fantasiku.

“Aku baik baik saja,” cepat cepat aku membuang wajahku ke arah lain.

“Apa kau merasa lapar? Ayo ke kantin,” ajak Changmin.

Aku menepuk jidatku sendiri, lantas kutatap Changmin dengan wajah stoic. “Kupikir kau membolos tadi untuk makan di kantin. Benar kan?”

“Kau memang sangat mengerti diriku,” Changmin tertawa. “Aku makan dimsum tadi, enak sekali,”

“Lalu untuk apa kau mengajakku makan jika kau sudah makan?”

“Aku lapar. Berjalan kaki dari kantin sampai kelas benar benar membuat energiku terkuras,”

Aku mengetuk dahinya dengan keras sampai Changmin meringis. “Dasar monster makanan,” gumamku.

Changmin hanya membalasnya dengan seringaian. “Jadi kau mau atau tidak?”

Aku menggeleng cepat. “Kau saja,”

Changmin menghela nafas panjang. “Jae,” panggilnya.

Aku segera menoleh. “Ada apa?”

“Aku tahu sesuatu tentang dia,” Changmin mengarahkan telunjuknya pada jendela, menunjuk Yunho.

Cepat-cepat aku menatapnya, mendadak jantungku berdetak dengan sangat cepat sampai aku tidak sanggup mengontrolnya. “Maksudmu?”

“Kau tahu maksudku, Jae. Dia bukan manusia, apa aku benar? Aku menemukan sebuah barcode di belakang telinganya,”

Aku memaksakan diri untuk tertawa, sehingga lebih terdengar seperti sebuah desisan. “Itu hanya sebuah tato,”

“Ya, ya, kau pikir aku seorang idiot yang bisa di bodohi? Tenanganya seperti beruang, dan dia keras sekali. Ingat bagaimana bola yang ia tendang bisa mengoyak jaring gawang? Kurasa tendangan semacam itu tidak ada, bahkan Tsubasa dan Ronaldo pun tidak akan bisa melakukannya. Aku sangsi ada manusia seperti itu di dunia ini. Kecuali jika ia seorang superhero semacam Batman dan Robin.”

“Itu..” aku kehilangan kata kata.

“Diamlah, aku sudah tahu jawabannya,”

Aku menelan ludah dengan susah payah. “Tolong rahasiakan hal ini,”

“Kau tidak mencintainya bukan? Karena aku akan merasa sangat patah hati,” ujar Changmin cepat.

“Apa?”

“Lupakan, anggap aku tidak mengatakan apapun.” Changmin tersenyum.

Untuk kali pertama aku melihat senyuman lembutnya bukan seringaian setan seperti biasanya.

“Tapi ingat Jae, dia itu robot, dia itu hanya mesin. Jika kau terlalu bahagia. Kau akan kecewa suatu saat nanti,” ujar Changmin sambil menyandarkan punggungnya.

“Apa maksudmu?” aku menggigit bibir bawahku. Berpura pura tidak mengerti meski sejujurnya aku tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Jika kau mencintainya itu hanya akan menyakitimu. Ingat Jae, dia robot, dan robot tidak akan pernah tua. Dia akan tetap hidup sekalipun kau mati. Apa kau bahagia dengan hidup seperti itu? Kau akan tua, sedangkan dia akan tetap seperti ini berapa tahun pun lamanya,”

“Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan,”

“Jangan seperti itu,” Changmin tersenyum padaku, lantas mendekatkan bibirnya ke telingaku, membisikkan sesuatu di sana.

“Shim Changmin,” gumamku.

“Pertimbangkanlah,”

Setelah Changmin tersenyum padaku, dia bangkit dari duduknya dan pergi keluar kelas, tepat ketika Yunho memasuki kelas.

“Jaee, aku membawakan bekal untukmu,” ujar Yunho dengan senyumannya. “Dan bunga untuk kekasihku. Apa kau suka?” tambahnya sambil menyerahkan sebuket mawar putih untukku. Bisa kurasakan wajahku memerah sementara telingaku panas karena terus mendengar suara berisik dari jerit jerit para gadis.

“Terimakasih,” aku menggangguk cepat.

“Apa Jae mau kubelikan coke atau jus atau es krim? Aku akan membawakannya.”

Aku menggeleng dengan cepat. “Ini sudah cukup, duduklah, temani aku makan,”

“Apapun untuk kekasihku” Yunho tersenyum, dan kali ini senyuman sangat indah di mataku.

OOO

Aku duduk di atas tempat tidur, memerhatikan Yunho yang sedang merangkai bunga sambil sesekali mengedipkan matanya ke arahku. Setelah kupikir pikir, posenya yang seperti ini lebih mirip dengan para laki laki salon yang berotot. Astaga, kenapa aku mendadak merinding sendiri memikirkannya.

Aku tidak bisa memikirkan apa jadinya jika Yunho–dengan wajah tampan, otot, serta abs yang indah–berbicara seperti para laki laki salon dengan gaya centilnya. Memikirkannya membuatku tertawa dengan keras sambil memegangi perut dan memukul mukul lantai. Astaga Jae, fantasimu terlalu liar.

“Joongie, ada apa?” Yunho menghampiriku dengan anggrek dan lili putih di tangan kirinya, gunting di tangan kanan, dan sebuah bunga yang tak kukenali jenisnya terselip di telinganya.

Aku tertawa dengan keras, lantas menunjuk nunjuknya seperti orang gila. “Berbaliklah, jangan berbicara denganku dengan penampilan seperti itu, kau terlihat seperti seorang waria,”

“Waria?” Yunho memiringkan kepalanya, dan itu benar membuatku tertawa. Oh Tuhan, Yunho tidak cocok bertingkah seperti itu, sangat mengerikan.

“Ya, lupakan lupakan. Aku lapar,” balasku cepat.

“Aku akan membuatkan pan cake, apa Jae akan suka?”

“Hm.. Satu porsi ekstra untuk Kim Jaejoong, tidak lama, dan harus sempurna,” aku berbicara dengan dagu yang terangkat ke atas, mencoba berlagak seperti bos, dan kurasa sangat cocok.

“Aku akan melakukannya dengan cepat,”

Yunho meletakan gunting dan bunga di tangannya di atas meja. Lantas membuat gerakan mematahkan leher sehingga menimbulkan bunyi berderak yang bising. Aku pikir jika ia manusia, ia akan benar benar mematahkan tulang lehernya jika melakukan itu.

Yunho beranjak menuju ke dapur, yang sebenarnya hanya tersekat lemari dari ranjangku. Dia memakai apron biru muda milikku dan mendadak saja aku kembali tertawa dengan keras. Jangan tanyakan padaku apa alasannya, Yunho terlihat sangat mengerikan dengan apron itu, mungkin karena bunga yang masih terselip di telinganya. Aku tidak tahu.

Pan cake buatan Yunho menebarkan harum yang benar benar menggoda. Rasanya aku benar benar lapar sekarang. Aku turun dari atas ranjang dan duduk di lantai,menunggu Yunho selesai.

Ketika Yunho muncul dengan sepiring pan cake, aku rasa air liurku menetes begitu saja. Pan cake itu benar benar terlihat lezat.

“Semoga Jae menyukainya,” ujar Yunho.

“Aku akan sangat menyukainya,” aku menyuapkan sesendok pan cake ke dalam mulutku. “Ini benar benar sangat lezat,” dan aku memakannya dengan cepat.

“Senangnya,” Yunho tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. Dan melihatnya membuat gerakanku terhenti. Tuhan, aku akan sangat merindukannya nanti.

“Jae, kau berantakan,” Yunho menghapus lumeran selai blueberry di ujung bibirku dengan ibu jarinya. “Aku senang kau menyukainya,”

Mendadak aku merasakan bahwa ada jarak yang begitu jauh dengannya. Aku menyesap minumanku lantas mentap Yunho lama-lama. “Jung Yunho,”

“Jae, ada apa?” tanya Yunho. Dia mengambil setangkai anggrek dan menyelipkannya di belakang telingaku. “Cantik. Kelasihku sangat cantik,”

Dan aku tersipu, meski kemudian yang berputar di kepalaku adalah kata kata Changmin.

“Yunho-ah, ayo kita lakukan,” Aku membuka kaosku dengan cepat dan membiarkan tubuh bagian atasku terekspos. Dan seperti yang kuduga, Yunho mendadak berada di hadapanku dengan tubuh telanjangnya. Hingga kini aku tidak mengerti bagaimana ia bisa secepat itu.

“Mau melakukannya sekarang?” tanyanya dan aku segera mengangguk. “Ayo lakukan,” tambahnya.

Yunho mengangkat tubuhku ke ranjang dengan gaya bridal, dan meletakkan tubuhku dengan sangat hati hati. Dia tersenyum padaku, lantas bersimpuh di atas tubuhku dengan tangan dan lutut sebagai penyangganya.

Aku merasakan kegugupan yang hebat. Rasanya sangat panas dan aku hampir gila. Aku belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya, sehingga aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sementara Yunho, meski aku yakin ini juga yang pertama baginya, tapi Yunho adalah robot, dia sudah didesain khusus dengan berbagai pengetahuan. Dan aku yakin bahwa Yunho pasti sangat profesional. Memikirkannya membuat tubuhku semakin panas dan aku sangat malu.

“Kau ingin melakukannya dengan gaya apa?” adalah pertanyaan pertama Yunho setelah kami bertatapan cukup lama.

Demi Tuhan saat itu aku sangat ingin menendangnya, aku bahkan tidak tahu apa apa soal itu. Aku merasa ini sangat memalukan ketika kurasakan wajahku memerah tepat di hadapannya.

“Apapun yang kau mau, tapi lakukanlah dengan pelan. Aku merasa takut,” jawabku kemudian.

“Apapun yang kau inginkan, Master,” jawabnya.

Yunho mendekatkan wajahnya ke arahku, lantas mengecup bibirku dengan sangat lembut. Rasanya dingin, tapi aku menyukainya. Dadanya yang keras sesekali menekan dadaku, rasa dingin yang terpancar dari tubuhnya benar benar menghipnotisku. Suhu tubuhku dan suhu ruangan yang memanas seolah dinetralkan oleh suhu tubuh Yunho.

Kecupan itu mendadak berubah menjadi sebuah pagutan yang menuntut. Yunho menunjukan kepadaku apa yang harus kulakukan. Kami saling menekan dan berusaha mendominasi. Bergantian menghisap bibir atas dan bawah. Dan dengan sangat baik Yunho menyelipkan lidahnya, seolah ingin mengabsen setiap deretan gigi di dalam rongga mulutku.

“Ngh..” leguhan itu keluar dari mulutku bersamaan dengan gerakan Yunho yang semakin liar di rongga mulutku.

Tangan besarnya menyusuri tubuhku. Menyentuhnya dari pusar lantas naik ke atas, memaikan sebuah tonjolan kecil di dadaku hingga tubuhku menggelinjang dan kepalaku bergerak gerak liar ke kanan dan ke kiri menahan sensasi asing yang menjalar di tubuhku.

Mendadak aku merasakan sesuatu di tubuhku merespon. Sesuatu di selangkanganku terasa sesak. Menyadarinya wajahku segera memerah, dan dengan spontan aku membuang wajahku ke kanan menghindari kontak mata dengan Yunho, sementara kedua tanganku menutupi bagian bawah tubuhku.

Yunho menghentikan semua gerakannya. Perlahan disentuhnya daguku dan digerakannya hingga kami bertatapan. Astaga, mengapa Yunho tampak sangat tampan dan seksi malam ini. Hal itu membuat tubuhku semakin memanas dan menegang.

“Jae,” gumam Yunho seduktif.

“Nghh..” spontan aku meleguh ketika kedua tanganku menekan juniorku untuk menutupinya. Aku menggigit bibir bawahku keras keras. “Ini sangat memalukan,” gumamku. Aku belum pernah mengalami ereksi di hadapan orang lain, dan ketika mengalaminya, rasanya sangat memalukan.

Yunho menyingkirkan kedua tanganku dan dengan satu gerakan dia menarik turun celanaku. Dan wajahku sudah benar benar terbakar sekarang.

“Kau sangat indah Jae,” katanya.

“Apa kau bisa berhenti mengatakan sesuatu yang tidak perlu dan sangat memalukan?” aku mengambi sebuah bantal dan segera kututupi wajahku dengan itu.

Kurasakan Yunho mulai bermain main di atas dadaku, sesekali ia menekan nekan lantas menghisap nipple ku secara bergantian. Lidahnya menjilat jilat dadaku hingga aku hrus memejamkan mata dan menggigit bibirku dengan sangat kuat untuk menahan leguhan.

Ia menciumi dadaku lantas perlahan turun ke pusarku tanpa melewatkan setiap bagian pun. Sementara tangannya bermain main di bagian bawah tubuhku. Mengocoknya dan menyentuhnya dengan sangat baik. Sehingga aku bergerak gerak dengan sangat liar. Dan ketika aku sudah tidak tahan lagi, sebuah erangan lolos dari bibirku.

Aku melemparkan bantal yang menutupi wajahku. Bantal itu benar benar tidak membantu, justru membuatku semakin sesak dan panas. Aku menikmati setiap perlakuan Yunho. Hingga kurasakan ciumannya di pusarku turun lebih rendah, dan ketika mulutnya hampir menyentuh milikku aku mendorongnya hingga terjungkal.

Aku menyilangkan kedua kakiku berusaha menutupi apa yang bisa kututupi. Aku tidak sadar dengan apa yang kulakan, kurasakan sedikit penyesalan dalam hatiku, tapi itu adalah sebuah reaksi spontan, dan kupikir itu sangat manusiawi dan wajar untuk seorang amatir sepertiku.

Yunho tersengkur namun cepat cepat ia berdiri, lantas duduk di atas dadaku, dengan kedua lutut sebagai tumpuan sehingga tidak terlalu memberatkanku.

“Lakukan sajah… intinya,” gumamku tertahan.

Aku menatap Yunho yang mengangguk kemudian memehatikan setiap inchi tubuhnya turun ke bawah, dan pandanganku terpusat pada bagian bawah tubuhnya yang tampak besar dan tegang, aku merasa benar benar imperior dengan diriku sendiri.

Aku mengulurkan tanganku, dengan gerakan yang bergetar aku menyentuh bagian itu. Satu yang kuingat Jung Yunho adalah robot bukan manusia.

“Apa ini berfungsi?” tanyaku.

Yunho mengangguk. “Sangat baik, kau harus mencobanya,” lantas ia turun dari tubuhku dan melebarkan kedua kakiku sementara aku hanya bisa memejamkan mata dengan sangat erat.

OOO

Aku membuka mataku perlahan dan kurasakan tubuhku seperti telah di pukuli berkali-kali, meski kemudian aku tersenyum. Aku tidak akan pernah menyesalinya.

Aku mengambil ponselku dari atas nakas. Menghela nafas panjang sebelum mengetik sebuah pesan baru.

Changmin-ah, aku menyetujui tawaranmu.

TBC

Chapter depan tamat.

So, please give me some review. I need feedback.

See you on the next chap!

One thought on “My Perfect Boyfriend – Chapter 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s