[FF] Coffee Of Love – Part 9 Another Love


Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 9-Another Love

Saat ini ku benci untuk mencinta

Mencintaimu mu~

Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dan kau

Yang ku tahu pasti

Aku begitu

Mencintaimu~~

Benci untuk mencinta by Naif

(Author POV’s)

“Sampai bertemu lagi ne~” Ucap namja itu sembari melambaikan tangannya dari dalam mobil. Namja cantik itu hanya mengangguk sambil membungkukkan badannya sedikit. Mobil itupun melaju dan menghilang di persimpangan jalan. Mata bulat itu masih saja berdiri di tepi jalan menuju rumah Junsu walaupun yang ditatapnya sudah menghilang.

Namja itupun kemudian berjalan memasuki pekarangan rumah sahabatnya. Memutar kenop pintu lalu melepaskan sepatunya.

“Kencan?” Tanya suara dolphin yang menyapanya di ruang tamu. Namja tambun itu sudah bersiap dengan piyama bergambar bebek di saku kirinya.

“Mwo? Apa maksudmu?” Tanya Jaejoong tidak sanggup menyembunyikan rona merah di pipinya. Junsu hanya menggeleng maklum.

“Istrihatlah hyung! Tapi aku menyarankan agar hyung tidak terlalu cepat jatuh cinta pada Hyun Joong.” Ujar Junsu tersenyum sembari menatap namja cantik nan polos di hadapannya. Junsu hanya takut jika hal-hal yang tidak diinginkan kembali terjadi menimpa Jaejoong mengingat Ia hanya seseorang yang mencoba mengejar mimpinya ke kota besar.

“Aku tidak jatuh cinta Junsu!” Pekik Jaejoong gugup. Tapi Junsu hanya membalasnya dengan senyuman sebelum Ia melangkah memasuki kamarnya.

“Ya aku tahu cintamu masih sama hyung!” Ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Jaejoong yang tengah terpekur dengan perasaannya karena tiba-tiba rasa bingung melanda hatinya. Ada rasa ambigu yang membuatnya dilema. Apakah ini rasa suka atau rasa cinta? Tapi namja itupun tidak mau percaya bahwa Ia cepat jatuh cinta kepada kebaikan seseorang. Hyung Joong yang hangat, Hyun Joong yang peka, Hyun Joong yang romantis. Sedangkan Yunho? Namja dingin, datar, tidak punya perasaan, kaku dan misterius. Apa yang bisa membuatnya tetap bertahan untuk mencintai namja pasif itu? malam itukah? Malam yang menjadi pengalaman pertama Jaejoong bercinta adalah bersama Yunho. Tiba-tiba wajahnya kembali terasa panas. Buru-buru Ia pun segera masuk kamar dan segera tidur sebelum semua bayangan malam itu kembali berputar-putar di dalam otaknya dan membuatnya kembali tidak bisa melupakan namja pasif itu. hampir sebulan dan Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah namja bermata musang itu meledeknya, senyum kakunya, bahkan hangat punggungnya serta wangi tubuhnya sama sekali tidak bisa dilupakan oleh seorang Kim Jaejoong. Tidak dapat dipungkiri bahwa Jaejoong sangatlah merindukan sosok itu. sosok tinggi dengan rambutnya yang panjang dan berantakan yang selalu mengomelinya dan berkata-kata pedas terhadapnya tapi selalu perhatian walaupun perhatiannya tidak terkesan romantis. Tapi justru hal itu yang membuat Jaejoong menyukainya, bukan, mencintainya. Mencintai tanpa alasan siapa dan bagaimana sebenarnya Jung Yunho itu.

(Yunho POV’s)

Aku berjalan bersama Changmin untuk pertama kalinya setelah aku memukulnya. Ya waktu yang lama sekali untukku agar mau kembali ke dalam dunia nyata. Kami berdua berjalan menuju tempat dimana kami sering menghabiskan waktu lengang kami bersama sebagai kakak-adik. Dimana lagi kalau bukan di ‘Coffee Cojjee’.

“Eoseo Oseyo!” Seru pelayan yang baru kali ini aku melihatnya. Wajah yang cantik dengan mata yang seperti kucing. Entah mengapa kepalaku secara otomatis memutar untuk melihat sekeliling mencari sesuatu. Mataku tiba-tiba saja terpaku pada satu sosok yang tengah tersenyum kepada pelanggannya. Sosok yang sudah lama tidak pernah aku lihat lagi wujudnya. Wajahnya tampak lebih cerah dari terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Hyung? Tidak duduk?” Pertanyaan Changmin segera menyadarkanku  dari keterkejutanku. Aku hanya mengangguk ke arahnya dan mengikuti kemana namja jangkung itu duduk.

“Silahkan mau pesan apa?” Tanya pelayan itu ramah pada kami. Tapi aku masih tidak bisa melepaskan pandanganku dari namja cantik itu. walaupun setelah itu aku memilih untuk berpaling dari apa yang kulihat. Sepasang doe eyes yang hitam.

“Hyung?” Panggil Changmin lagi. Aku menoleh dan mendapatinya menatapku dengan pandangan bingung.

“Coffee latte.” Ucapku pada pelayan yang sabar menunggu pesananku. Setelah Ia pamit akupun mulai membuka buku bacaanku dan mencoba untuk menghindari tatapan mata yang sempat membuatku terkejut.

“Hyung? Kau tidak berubah walaupun rambutmu berubah.” Ujar Changmin lagi membuatku menurunkan buku yang tengah kubaca.

“Aku hanya mengganti gaya. Apa yang salah?” Tanyaku datar. Namja jangkung itu hanya mengedikkan bahunya.

“Ehem!” Aku menoleh saat sebuah suara yang tidak asing menyapa telingaku. Aku menatap mata seorang namja yang tengah tersenyum padaku. Senyum yang sama sekali tidak ingin kulihat lagi.

“Halo Tuan Jung! Lama tidak berjumpa!” Sapa namja itu masih tersenyum. Aku tidak membalas sapaannya melainkan kembali berkutat dengan buku yang kupegang.

“Hyung sedang apa di sini!?” Kudengar suara Changmin yang tercekat melihat saudara sepupunya tengah berdiri diantara kami.

“Menjenguk kekasihku, Tuan Shim! Kau makin tinggi ya?” Ucap namja itu lagi dengan wajah masih seperti dulu. Meremehkan.

“Apa maksudmu?” Tanya Changmin mengerutkan dahinya. Hyun Joong hanya tersenyum sinis sebelum Ia memanggil sebuah nama yang tidak asing bagiku.

“Jae~ kemarilah!” Serunya. Mau tidak mau akupun menurunkan kembali bukuku. Namja berkulit putih susu itu berjalan mendekat. Wajahnya terlihat tegang saat Ia melihatku tapi aku membuang mukaku kearah lain.

“Perkenalkan ini Kim Jaejoong. Dia kekasihku sekarang!” Seru Hyun Joong menatapku sinis. Aku hanya memandangnya tanpa ekspresi.

Srett!

Akupun berdiri dari tempat dudukku. Membuat ekspresi Changmin berubah menjadi panic. Aku kembali menatap Hyun Joong yang tengah merangkul Jaejoong yang menundukkan kepalanya.

“Selamat kalau begitu!” Ucapku kemudian. Namja itu menatapku dengan tatapan penuh kemenangan. Tatapan yang aku dapatkan lima tahun yang lalu dari mata hangatnya yang palsu itu. penipu ulung yang menghancurkan hidupku.

“Hanya itu Tuan Jung? Aku kira kau mengenal Jaejoong. Sayang sekali!” Ucapnya menyindirku. Aku pun menghentikan langkahku untuk beranjak dari tempat itu.

“Lalu apa urusanku?” Tanyaku dengan dinginnya. Hyun Joong hanya melengos dan berjalan mendekat kearahku.

“Tidak ada. Bagaimana dengan lukamu?” Tanyanya sembari menunjuk dada kananku yang segera kutepis.

“Hyung hentikan!” Lerai Changmin tiba-tiba. Namja jangkung itu segera menyergap tangan milik Hyun Joong.

“Jangan di sini hyung!” Seru Changmin penuh penekanan pada namja di depannya. Hyung Joong menarik tangannya lalu mengedikkan bahu.

“Hey Jung! Ingat aku selalu menang!” Serunya padaku yang masih berdiri menatap namja itu dingin dan datar. Akupun melangkahkan kakiku keluar dari Coffee Cojjee tanpa menoleh lagi. Melihat namja itu bersama Hyun Joong membuat hatiku merasakan sesuatu yang teramat sakit bagai ribuan anak panah yang ditembakkan sekaligus merajam langsung ke sasaran.

“Hyung!” Changmin menahan bahuku saat aku berjalan dengan cepat di depannya. Aku menoleh dan menatapnya.

“Ada apa?” Tanyaku pada Changmin yang masih menatapku.

“Gwenchanayo?” Tanyanya. Aku terdiam menatapnya tanpa emosi.

“Gwenchana.” Jawabku singkat. Changmin menatapku cemas tapi aku tidak peduli. Akupun segera  beranjak dari tempat itu. sepertinya hatiku sudah lebih dari membeku sehingga aku bahkan melupakan bagaimana rasa sakit yang pernah aku alami dan bagaimana cinta itu sebenarnya. Mulai saat ini lebih baik aku menghilang dan tidak kembali lagi ke dalam kehidupan Jaejoong. Walaupun ada rasa hatiku masih ingin meminta maaf kepadanya setelah semua yang telah kulakukan padanya selama ini.

Selamat Kim Jaejoong, semoga kau bahagia. I think I love you, but goodbye now…

(Jaejoong POV’s)

Mata itu. mata kecil dengan manic coklat yang menghiasinya. Mata musang yang tajam dalam setiap tatapannya. Dan aku bertemu kembali dengan mata itu setelah sekian lama. Wajahnya berpaling sedetik setelah mataku bertemu dengan matanya. Potongan rambutnya yang baru memperlihatkan kedewasaan namja itu. rambut yang masih sedikit panjang hanya rapi tidak berantakan seperti sebelumnya dengan warna coklat yang memperkontras ketegasan bentuk wajahnya. Yunho terlihat jauh lebih tampan dari terakhir kali aku bertemu dengannya.

“Jae~ kemarilah!” Seru sebuah suara yang membangunkanku dari lamunan tentang Yunho. Akupun menoleh kearah sumber suara dan melihat Hyun Joong melambaikan tangannya kearahku agar aku berjalan mendekatinya. Dengan jantung yang berdetak cepat akupun  berjalan mendekat kearah Hyun Joong yang entah sejak kapan tengah berdiri di meja yang diduduki oleh Yunho. Aku yakin aku nampak seperti patung berjalan saat langkahku tinggal beberapa centi lagi dari namja itu. mata musangnya kembali menatapku namun setelah itu Ia kembali mengalihkan pandangannya kearah lain. Membuatku tidak berani untuk melihatnya apalagi menatap kedalam sepasang mata musang itu.

“Perkenalkan ini Kim Jaejoong. Dia kekasihku sekarang!” Seru Hyun Joong sembari merangkul bahuku. Membuatku terhenyak kaget dengan perkataannya. Aku menoleh kearah Yunho yang tengah menatap kami dengan pandangan datar dan dinginnya. Akupun menundukkan kepalaku. Entah apa yang kurasakan tapi aku merasa tidak enak dengan semua perkataan Hyun Joong padaku. Sejak kapan aku menjadi kekasihnya? Aku tidak ingat Ia pernah bilang begitu padaku. Aku hanya ingat Ia memperlakukanku dengan baik. Itu saja.

Srett!

Aku pun terhenyak saat melihat tubuh besar Yunho yang tiba-tiba bangkit dari duduknya. Tapi aku tidak sanggup mendongak dan harus melihat ekspresi datar dari namja itu. aku tidak sanggup jika Ia harus menatap dengan tatapan dingin itu. tatapan dingin yang lebih menyakitkan dari tatapan dinginnya yang dulu. Tatapan dingin yang baru pertama kali aku liat dari seorang Jung Yunho. Tatapan dingin yang terluka.

“Selamat kalau begitu!” Ucapnya kemudian.

Jleb!

Sebuah pisau seperti menusuk tepat di tengah hatiku dan meninggalkan lubang yang dalam. Bagaiamana Ia bisa mengatakan hal itu dengan mudahnya? Jantungku pun tidak berhenti berdebar dengan kencangnya. Seakan semua orang di café bisa mendengar debaran jantungku yang keras ini. Kenapa? Kenapa Ia bilang begitu? Aku tidak pernah menjadi kekasih dari Hyun Joong. Yunho kumohon sadarlah sedikit! Pekikku dalam hati.

“Hanya itu Tuan Jung? Aku kira kau mengenal Jaejoong. Sayang sekali!” Seru Hyun Joong dengan nada meremehkan. Aku yakin mereka berdua mempunyai hubungan yang dalam. Tapi mengapa ekspresi Yunho tampak begitu dingin memandang kearah Hyun Joong dan aku. Dan mengapa namja ini begitu merendahkan Yunho dari setiap ucapannya.

“Lalu apa urusanku?” Ucap Yunho lagi dengan dinginnya. Hyun Joong melepas rangkulannya di bahuku dan berjalan mendekat kearah Yunho. Aku mendongak sedikit untuk melihat apa yang akan dilakukan Hyun Joong terhadap Yunho.

“Tidak ada. Bagaimana dengan lukamu?” Tanyanya sembari menunjuk dada kanan milik Yunho yang segera ditepisnya dengan kasar. Memori otakku berputar saat Hyun Joong mengatakan ‘luka’. Apa maksudnya adalah luka yang pernah kulihat di sepanjang tulang belikat sampai dadanya?

“Hyung hentikan!” Lerai Changmin segera sebelum situasi bertambah panas diantara keduanya. Namja jangkung itu segera menyergap tangan milik Hyun Joong.

“Jangan di sini hyung!” Seru Changmin lagi penuh penekanan pada namja di depannya. Hyung Joong menarik tangannya lalu mengedikkan bahu.

“Hey Jung! Ingat aku selalu menang!” Serunya Hyun Joong lagi pada Yunho yang masih berdiri menatap namja itu dingin dan datar. Dan akupun kembali bingung dengan keadaan ini semua. Apa yang terjadi sebenarnya???

(Author POV’s)

*Malam Hari*

“Joongie-ah~” Sapa seorang namja sembari membawa sebuah buket mawar merah yang besar. Namja dengan mata bulat itu terkejut bukan main saat buket bunga itu menyapanya sepulangnya dari tempat kursus music.

“Yak! Joong-ah sedang apa selarut ini? Bukannya~”

Tiba-tiba sebuah benda hangat menghentikan seluruh kata-kata dari bibir cherry itu. Hyun Joong menjauhkan wajahnya untuk melihat wajah namja bak boneka porselen itu memandangnya terkejut.

“Apa yang kau lakukan!?” Tanya Jaejoong kaget. Sedangkan namja yang berani mencuri ciumannya hanya tersenyum saja.

“Aku hanya mau mengajakmu makan malam Joongie-ah. Maukan?” Tanya Hyun Joong tanpa menggubris tatapan kesal dari wajah angelic di depannya.

“Makan malam?” Tanya Jaejoong terperangah dengan ajakan Hyun Joong yang tiba-tiba. Namja itu hanya mengangguk sembari menggandeng Jaejoong kearah mobil  mewahnya yang mengkilat.

“Nde~ aku jamin kau suka Joongie-ah.” Ucapnya lagi sembari membuka pintu mobil penumpang. Jaejoong pun masuk ke dalam mobil mewah itu dengan perasaan campur aduk. Ia bingung mengapa Hyun Joong tiba-tiba mengajaknya makan malam dengan cara yang sungguh romantic ini. Ada perasaan kawatir menyelinap di hatinya jikalau Hyun Joong tiba-tiba akan melamarnya. Tapi Jaejoong membuang pikiran itu jauh-jauh. Bagaimana mungkin seorang kaya seperti Hyun Joong menyukainya yang hanya seorang pelayan di sebuah kedai kopi. Selain itu Ia tidak memiliki perasaan khusus pada namja ini. Perasaannya sudah lama dicuri oleh namja yang memiliki mata tajam seperti musang.

Setelah sekitar tigapuluh menit perjalanan dengan mobil mewah milik Hyunjoong. Mereka pun sampai di sebuah restoran dengan arsitektur yang sangat mewah bagaikan istana. Hyun Joong kembali membukakan pintu penumpang untuk Jaejoong. Namja cantik itu sungguh terperangah tatkala melihat bangunan mewah sebuah restoran yang terpampang di depannya.

“Joong-ahh apa kau tidak salah?” Tanya Jaejoong tidak yakin. Namja itu menggeleng dengan seulas senyum penuh arti.  Jaejoong menggigit bibirnya ragu untuk masuk ke dalam tempat ini dengan penampilannya sekarang yang sangat kontras dengan restoran mewah ini. Namja cantik itu hanya menggunakan mantel putih, celana jeans lusuh dan sepasang boot coklat yang usang serta tas kulit coklat tua. Rasanya Jaejoong seperti tidak pantas berdiam di tempat ini dengan penampilannya yang amat lusuh. Tapi Hyun joong menarik tangannya untuk berjalan menuju kearah ruangan khusus VVIP yang ternyata sudah dipesannya. Jaejoong memasuki ruangan itu dan kembali terperangah. Ruangan mewah dengan dekorasi antara klasik dan tradisional korea. Dimana saat masuk terdapat jembatan bambu yang membentang kearah balkon karena ruangan itu terdiri dari kolam ikan indoor yang luas. Jaejoong merasa Ia seperti masuk ke dalam istana kerajaan melihat pemandangan yang terbentang di balik pintu itu. Hyun Joong menggandeng tangan Jaejoong untuk melewati jembatan bamboo itu menuju balkon yang sudah dipersiapkan dekorasinya layaknya sebuah ruang makan zaman kerajaan. Jaejoong melepas sepatunya sebelum memasuki ruangan makan yang dilapisi tatami kelas atas itu.

“Bagaimana kau suka?” Tanya Hyun Joong melihat Jaejoong yang masih sibuk memutar-mutar kepalanya ke segala arah karena kagum. Kini mereka berdua duduk berhadapan.

“Suka! Tapi apa ini tidak berlebihan?” Tanya Jaejoong lagi mengingat membayar ini semua pastilah tidak murah.

“Untukmu tidak ada yang mahal Joongie~ karena kau begitu indah.” Ucap Hyun Joong membuat wajah putih Jaejoong merona. Hyun Joong pun menuangkan segelas anggur ke dalam gelas mereka.

“Mari bersulang untuk Joongie yang telah membuat hatiku terebut!” Ucap Hyun Joong mengangkat gelasnya.

“Aku tidak mengerti~” Ucap Jaejoong mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Hyun Joong.

“Aku menyukaimu Jaejoong. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau kekasihku, hmm?” Tanya Hyun Joong membuat Jaejoong tampak begitu kikuk.

“Tapi~”

“Kau kekasihku sekarang Joongie-ah!” Tekan namja itu lagi memutus perkataan Jaejoong yang sebenarnya enggan mengiyakan.

“Cheers untuk Jaejoong ku!!” Ucapnya lagi sambil mendentingkan gelas anggurnya ke gelas milik Jaejoong. Dengan gugup Jaejoong meneguk anggur yang ada di dalam gelasnya yang segera membuat tubuhnya terasa lebih hangat. Tapi sedetik kemudian Jaejoong merasakan pusing yang teramat di kepalanya. Pandangannya mulai buram dan tubuhnya terasa ringan. Hawa panas seperti menyergap tubuh mungilnya itu.

“Joong-ahh.. apa.. yang..” Setelah itu Jaejoong pun tidak sadarkan diri dan tergeletak di atas meja.

“Joongie-ahh mian ne!” Ucap Hyun Joong dengan senyuman penuh kemenangan.

TBC

Please leave ur comment, kamsahamnida ^^

4 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 9 Another Love

  1. annyeong…..
    aq newbie dsni ^^, crita’y keren, penggunaan bhsa’y mudah d’mngerti. trus alur’y ngalir dg baik. crita’y ringan tpi feel’y dpt bgt🙂, lnjut yaa unn ?!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s