Love.. What To Do (chapter 3) by: parkririn


Love.. What To do

By : parkririn1611

Chapter 3

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

* * * * *

Pagi hari yang indah dan Yunho terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit dan perut yang meradang perih. Ia mencoba untuk bangun seperti biasanya dan menyia[kan dirinya untuk berangkat bekerja. Ketika melihat pantulan dirinya di cermin, ia dapat melihat wajahnya yang kusut, bibirnya yang pucat, dan meskipun ia sudah mandi, keringat dingin tetap muncul dari permukaan kulitnya.

Ia butuh obatnya. Otak Yunho mengirimkan sinyal agar Yunho berjalan keluar kamarnya menuju kotak obat di samping lemari ruang tamu. Untuk beberapa detik Yunho ingat jika bukan hanya dirinya saja yang kini berada di apartemen. Ia ingat jika ada pria cantik yang semalam dibawanya pulang. Ah, tapi Yunho benar-benar butuh obatnya sekarang, dia berjalan tersaruk-saruk sambil meremas perutnya. Baru saja Yunho menelan tuntas sebutir pil pereda sakitnya, ada sebuah suara yang memanggilnya.

“Yunho?”

Yunho menoleh ke asal suara. Dilihatnya seorang pria cantik yang tengah memakai apron berwarna merah bata dan di tangan kirinya memegang sebuah spatula. Jaejoong tampak keheranan tadi begitu mendengar langkah kaki seseorang seperti sedang tertatih dan sebuah suara rintihan kecil. Ia menjauhkan pikiran akan adanya hantu di apartemen mewah Yunho ini. ‘Ada hantu di pagi hari begini? Yang benar saja!’ batin Jaejoong.

Tapi begitu mendekati asal suara itu, barulah Jaejoong melihat Yunho yang tengah menelan sebuah pil. Jaejoong tidak mengetahui itu pila apa, tapi ketika ia melihat wajah Yunho, Jaejoong berpikir mungkin Yunho sedang sakit. Jaejoong memanggil Yunho, namun Yunho hanya menoleh padanya tanpa menjawab panggilannya.

“Kau baik-baik saja?” lagi Jaejoong bersuara.

Yunho seakan merasa kaku dibagian bibirnya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Jaejoong barusan, semua otot-otot dan sel di dalam tubuhnya seakan masih berusaha untuk membuat dirinya tidak merasakan sakit di bagian perutnya lagi. Dia hanya menggerakkan kepalanya kearah kanan dan kiri dengan pelan. Melihat itu, Jaejoong dengan sigap berjalan kearah Yunho dan menyelipkan lengan kiri Yunho di lengan kanannya.

“Bisa berjalan, kan? Kita ke ruang makan, otte?”

Yunho hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mulai melangkahkan kakinya. Begitu sampai di ruang makan, Jaejoong membantunya duduk dan mengambilkannya segelas air putih. Jaejoong tidak lagi bertanya kepada Yunho dan memilih menunggu Yunho menenangkan dirinya. Diperhatikannya wajah kecil itu dan matanya yang kini sedang menutup rapat. Dapat ia lihat bagaimana Yunho mencoba untuk pelan-pelan menghirup udara kemudian menghembuskannya. Perlahan tapi pasti ketika suara nafas Yunho mulai teratur, ia membuka matanya.

“Sudah baikan?” Tanya Jaejoong.

Yunho menatap Jaejoong dan segurat rasa kekhawatiran di matanya. Dipandanginya mata itu sejenak yang kemudian beralih pada tangan Jaejoong yang tengah memegang erat telapak tangan Yunho. Yunho bisa merasakan ada aliran hangat yang menjalar keseluruh tubuhnya. Ia suka sentuhan Jaejoong, itu membuatnya merasa lebih nyaman.

“Aku tidak makan kemarin.”

Yunho bersuara lirih menjawab pertanyaan Jaejoong, walaupun sebenarnya bukan itu jawaban untuk pertanyaan Jaejoong.

“Kenapa tidak? Bosan hidup ya?”

Yunho terkikik kecil,”Aku sibuk. Malam tadi tidak sempat karena menolongmu.”

Seolah tersadar akan kejadian tadi malam, Jaejoong menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja ia menjadi merasa bersalah kepada Yunho. Ia ingat bagaimana takutnya ia semalam dan bagaimana leganya begitu melihat Yunho yang dating dan menjemputnya menjauh dari peristiwa kebakaran itu. Ia menggigit bibir merahnya dan masih merutuki rasa bersalahnya dalam hati.

“Jangan merasa bersalah. Sekarang aku sangat lapar, jadi kau punya sarapan apa untukku?”

Jaejoong mendongakkan kepalanya mendengar Yunho meminta sarapannya. Seketika saja wajahnya dihiasi senyum cerah. Jangan ditanya mengapa, Jaejoong seorang koki dan dia akan merasa senang sekali jika ada orang yang mau memakan masakannya. Ia beranjak dari sisi Yunho dan mengambilkannya sepiring nasi goreng kimchi yang kelihatan sangat lezat dan masih hangat.

“Sarapan Tuan Jung Yunho, nasi goreng kimchi! Tadaa~~~”

Yunho menatap sepiring nasi goreng yang kini sudah tersaji di hadapannya, langsung saja ia mengambil sendok dan mulai memakannya. Mata Yunho membulat begitu merasakan nasi goreng yang dikunyahnya mulai turun ketenggorokannya. Ini nasi goreng kimchi terenak yang pernah ia rasakan, bahkan buatan ibunya saja tidak seenak ini.

“Enak.”

Itu saja komentar yang keluar dari mulut Yunho. Jaejoong merasa sangat senang dengan komentar Yunho, ia tidak memusingkan Yunho yang hanya mengucapkan satu kata pujian saja. Melihat Yunho yang makan begitu lahapnya, membuat Jaejoong yakin jika masakannya lebih dari enak.

“Aku akan pergi ke restoran pagi ini.” Jaejoong berbicara di sela-sela mengunyah sarapannya.

Yunho menatap Jaejoong tidak suka,”Tanganmu terluka.”

“Aku ingin meminta izin untuk tidak bekerja hari ini, lagipula hanya luka ringan di lenganku tidak akan jadi masalah.”

“Kenapa tidak menelpon saja kesana?”

“Tidak sopan menurutku.”

“Terserahlah.”

* * * * *

“Kenapa harus di rumah Jung Yunho? Rasaku kalian baru saja berteman.”

Jaejoong menghembuskan nafasnya lagi untuk entah yang ke berapa kalinya. Tapi sejak ia duduk di ruangan chef Jung, pria di hadapannya ini seperti tidak menyukai kedatangannya dan segala penjelasannya tadi. Bagaimana pun juga Jaejoong harus datang ke tempat kerjanya untuk meminta izin paling tidak satu hari ini karena kejadian kebakaran yang menimpa tempat tinggalnya dan juga menyebabkan luka ditangannya.

Tapi yang ia dapatkan hanyalah pertanyaan menyelidik dan tatapan tajam bosnya itu. Jaejoong sudah merasa jika semua yang ia jelaskan tadi jelas-jelas benar adanya, tapi kenapa chef Jung malah semakin ketus padanya sih?

Ia sudah menjelaskan dari awal kebakaran terjadi di gedung apartemennya, kemudian dia yang kejatuhan balok kayu, Yunho yang mencari dan menjemputnya, dan terakhir ketika Yunho membawanya ke apartemennya. Jaejoong mengerucutkan bibirnya dan sekali lagi menghembuskan nafasnya kasar.

“Jangan mendengus begitu.”

“Aku kan sudah berkata jika malam itu Yunho yang datang membantuku dari kebakaran itu dan dia membawaku pulang ke apartemennya. Memangnya aku harus kemana? Aku sudah tidak punya tempat tinggal dan lagi pikiranku sangat kacau saat itu, bagaimana aku bisa berpikir untuk memilih akan tidur sementara dimana.”

Jaejoong seakan menekankan semua kata di dalam kalimat yang baru saja ia suarakan. Tapi tetap saja tatapan chef Jung tidak berubah, masih tajam. Jaejoong tidak tahan dan tidak mau tahu kenapa bosnya menjadi begini ketusnya, ia rasa ia tidak melakukan kesalahan dan tidak perlu meminta maaf. Ia beranjak dari duduknya dan membungkukkan badannya sebentar. Sekali lagi meminta izin untuk tidak masuk bekerja hari ini dan kemudian bergegas keluar dari ruangan yang terselimuti aura kekesalan.

* * * * *

Yunho melonggarkan simpul dasinya dan menghempaskan badannya di sofa ruangannya. Kepalanya seakan mau pecah karena mengikuti rapat dengan para pemegang saham tadi. Baru saja ia akan memejamkan matanya, seseorang masuk saja ke dalam ruangannya dengan tiba-tiba.

“Ketuk pintu.”

Yunho menginterupsi seorang pria yang tadi dengan tidak sopannya langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Orang yang mendengar perintah itu hanya bisa mendengus dan berjalan kearah pintu dan mengetukkan kepalan tangannya cukup keras. Setelahnya orang itu ikut mendudukkan dirinya di sebelah Yunho.

“Wajahmu mengerikan. Pulang jam berapa semalam?”

“Wajahmu lebih mengerikan, Yoochun-ssi. Aku pulang jam 11 dan kemudian pergi ke tempat Jaejoong.”

Lelaki yang bernama Yoochun itu mengangkat sebelah alisnya,”Jaejoong? Namja yang kau sukai itu? Wow wow, apa yang kau lakukan bersamanya semalam? Melakukan kegiatan panas, ya?” goda Yoochun yang kaget begitu mendengar nama Jaejoong disebutkan.

Yunho mendengus kesal. Sahabatnya yang satu ini benar-benar memiliki otak mesum. Dulu saja ketika menceritakan perihal pertemuannya dengan Jaejoong, Yoochun mengodanya habis-habisan karena orientasi seksualnya yang menyimpang. Sekarang Yoochun mulai menggodanya lagi. Yunho sedang tidak ingin beradu mulut dengan Yoochun. Bertemu dan direcokinya setiap hari saja sudah membuatnya lelah, belum lagi jika mulai beradu mulut.

“Diam berarti emas. Jadi kau membobolnya semalam?”

Sebuah jitakan mendarat di dahi lebar milik Yoochun,”Aw! Sakit!”

“Dasar mesum. Apartemennya kebakaran dan aku membawanya pulang.”

Masih mengusap dahinya Yoochun bertanya lagi,”Jadi dia tinggal denganmu sekarang?”

Yunho bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerjanya, mengambil ponsel dan kunci mobil,”Sekarang ya, besok tidak tahu.”

Tetapi baru saja Yunho melangkahkan kakinya menuju pintu, telepon genggamnya berdering. Tanpa melihat siapa yang menlponnya ia langsung menempelkan teleponnya ke telinga. Dahinya berkerut begitu mendengar perkataan lawan bicaranya. Ia tidak mengeluarkan jawaban apapun sampai si penelpon selesai berbicara.

“Kenapa?”

Yunho memang sedang tidak berhadapan langsung dengan lawan bicaranya, tapi ia bisa merasakan jika lawan biacaranya di telpon sedang marah.

“Tunggu, apa urusanmu?”

“…..”

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi bisakah jangan kepada dia kau bersikap begini? Kita akan bicara besok.”

* * * * *

Baru saja Jaejoong akan bangkit dari duduknya untuk pindah ke kamar, suara terbukanya pintu membuat gerakannya terhenti. Dilihatnya Yunho yang baru pulang dengan menenteng tas kerja berwarna coklatnya. Jaejoong melirik sebentar kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Belum lagi Jaejoong akan bertanya, Yunho sudah mengambil tempat disebelahnya dan menyandarkan kepalanya pada kepala sofa.

Ia hanya mengamati Yunho yang sedang memejamkan matanya. Sepertinya ia kelelahan sekali, batin Jaejoong. Setelah beberapa menit yang diisi hanya dengan keheningan, Yunho membuka matanya dan menangkap siluet Jaejoong yang masih duduk di sampingnya, focus dengan acara yang ditayangkan ditelevisi.

“Seharian di apartemen?”

Jaejoong melirik sebentar Yunho sebelum menjawab pertanyaannya,”Tidak. Setelah dari restoran, aku pergi mencari apartemen baru, lalu pulang. Kau sendiri? Apa kau selalu pulang kerja jam segini sebelumnya?”

“Lalu apa kata bosmu?”

“Ish! Selalu saja tidak menjawab,” Jaejoong mendelik sebal,”Aku tak tahu. Akhir-akhir ini dia sering senewen, marah-marah, aku kan tidak punya salah, tapi dia terus saja bersikap ketus padaku, padahal sebelumnya tidak.”

“Dia sedang datang bulan mungkin”

Jaejoong menoleh cepat begitu Yunho memberinya balasan asal,”Dia namja tulen, tidak sepertimu, Jung. Beruang jadi-jadian!”

Kali ini Yunho menegakkan tubuhnya dan mensejajarkan tubuhnya dengan Jaejoong,”Mwo? Aku beruang jadi-jadian?”

“Kau tidak lihat badanmu yang seperti beruang itu?”

“Daripada kau? Wanita jadi-jadian.”

“Beruang!” Jaejoong tak mau kalah.

“Aish~ dasar yeoja yang terjebak di dalam tubuh namja..”

Kini Jaejoong mebulatkan matanya lebar. Ia merasa tersinggung dengan ejekan Yunho. Dia memandang Yunho sengit, sementara yang dipandang hanya menaik-turunkan alisnya saja. Karena sudah kesal, Jaejoong langsung saja menyerang Yunho dengan melancarakan serangan jari-jari kecilnya di sekitar perut Yunho. Dan seketika saja Yunho langsung tertawa terbahak-bahak karena merasa kegelian.

“Rasakan, Jung!” Jaejoong masih saja melancarkan aksinya.

“Ya! Ya! Hentikan, Jae! Ahahahaha!..”

Sebenarnya Yunho hanya membiarkan Jaejoong merasa menang saja, tentu saja setelah ini Yunho akan menyerang balik Jaejoong. Mana mungkin badan sebesar Yunho tidak mampu membalas Jaejoong yang memiliki badan seperti yeoja.

Jaejoong masih saja terus tertawa dan memainkan jemarinya di perut Yunho, namun tanpa dia sadari jika Yunho mulai menunjukkan seringaiannya. Tapi salahkan Yunho yang tadi menaruh tas kerjanya tetap disebelah kakinya. Ketika ia akan bangun untuk menyerang Jajeoong, kakinya malah menginjak tas kerjanya dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Jaejoong yang melihat itu langsung saja mencoba untuk menahan tangan Yunho, tapi apa daya, berat tubuh Yunho membuat badan mereka jadi sama-sama kehilangan keseimbangan dan akhirnya terdengar suara berdebum diikuti ringisan sakit dari kedua lelaki itu.

“Aww..”

Tanpa Jaejoong sadari jika kini posisi tubuhnya menindih Yunho dan ia juga tidak menyadari jika Yunho kini menatap ke dalam matanya. Jarang mereka begitu dekat, Jaejoong baru sadar ketika ia merasakan hembusan nafas hangat Yunho mengenai wajah cantiknya. Ia juga kini tengan menatap mata Yunho.

“Kenapa, Kim? Ingin menciumku?”

Jaejoong membulatkan matanya dan bergegas berdiri dari jatuhnya,”Ya! Dalam mimpimu!”

Yunho kini yang menertawai tingkah mengambek Jaejoong. Dilihatnya Jaejoong yang kini melangkahkan kakinya menuju kamar sambil memasang wajah cemberut.

“Kim?” panggil Yunho.

* * * * *

Happy Birthday, uri Jaejoongie-eomma^^ Semoga segala yang terbaik selalu ada untuk eomma. Haha, chapter kali ini pendek sekali ya? Mianhae. Jaringan internet 2 minggu ini begitu menyebalkan dan merusak mood. Selanjutkan akan lebih panjang, ne? Jangan lupa reviewnya :*

2 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 3) by: parkririn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s