My Perfect Boyfriend – Chapter 7 END


MY PERFECT BOYFRIEND

Chapter 7-Good Bye

Created by Amee

 

.

.

Perasaan takut kehilangan itu bentuknya seperti sebuah nyala lilin kecil yang hampir padam karena tertiup angin, menyebarkan cahaya yang hampir menghilang, seperti sebuah mimpi yang menawarkan pengharapan kosong.

Kelopak mata Jaejoong terbuka perlahan, dengan kedutan-kedutan kecil sebelum terbuka seutuhnya. Tubuhnya menggeliat ke kanan, dan tangannya naik ke atas kepala. Butuh beberapa detik bagi Jaejoong untuk menyadari bahwa Yunho berada di sampingnya–bukan sebuah guling seperti yang dipikirkannya. Mereka dibalut selimut putih tipis, sementara tubuh di baliknya dalam kondisi polos tak terbalut apapun, namun justru Jaejoong merasakan perasaan hangat yang menjalar dari dada hingga pipinya.

Jaejoong mengerjapkan matanya, dan ia menyadari bahwa mata Yunho terbuka tanpa kedipan memandang langit-langit, robot tampan itu terus terjaga sepanjang malam, dan memikirkannya membuat dada Jaejoong terasa sesak. Robot tidak butuh tidur, seharusnya ia menyadari itu sejak awal.

Jaejoong benar-benar berada dalam suasana konyol, sebuah situasi yang tak seharusnya ia rasakan. Kesendirian dan kesepian bukan lagi hal asing bagi dirinya, namun kali ini terasa berbeda.

“Kau sungguh antik dan mahal,” gumam Jaejoong lantas disentuhnya pipi dingin Yunho dengan ujung jarinya.

Kelopak mata Yunho berkedip-kedip, lantas ia menolehkan kepalanya diiringi bunyi berderak yang khas. “Kekasihku sudah bangun? ” tanyanya sambil tersenyum.

Jaejoong segera bangun ketika dadanya terasa sangat sesak hingga kedua matanya terasa buram karena lelehan bening yang memenuhi kelopak matanya. Jaejoong duduk di atas ranjang, sehingga selimut putih yang semula menutupi dadanya turun hingga pinggang.

Diambilnya segelas air dari atas nakas kemudian diminum dalam satu tegukan besar. Kerongkongannya terasa kering hingga ia sanggup menghabiskan setengah gelas dalam satu tegukan.

“Boleh jika aku memintamu untuk memelukku?” tanya Jaejoong.

“Apapun untuk kekasihku,” jawab Yunho. “Jaejoongku sangat cantik pagi ini,”

Sebelum Jaejoong sempat mengedipkan mata, Yunho telah memeluknya dengan sangat lembut. Jaejoong balas memeluknya dengan erat, mencoba mengingat-ingat aroma dan rasa yang keluar dari tubuh Yunho. Jaejoong menahan isakannya, ia akan merindukan dinginnya tubuh Yunho, ia akan merindukan bagaimana Yunho memperlakukannya dengan sangat lembut, ia akan merindukan bagaimana Yunho menggodanya, dan ia akan merindukan setiap seringaian dan tindakan mesum Yunho terhadapnya. Setelah saat ini berlalu, tidak akan ada lagi deretan panjang tentang hal itu.

Jaejoong melepaskan pelukannya, sementara air matanya lolos dan turun membasahi pipinya. Yunho menatapnya selama beberapa saat sebeluk akhirnya dihapusnya air mata Jaejoong dengan ibu jarinya.

“Jangan menangis, kau membuatku ketakutan,” gumam Yunho. “Mesinku mungkin rusak, ada sesuatu yang salah di sini,” Yunho menunjuk dadanya.

Jaejoong menunduk lantas mengangguk, diangkat wajahnya kemudian tersenyum. Ia tahu apa yang di katakan Yunho telah terpogram, tapi Jaejoong tidak dapat menyangkal bahwa dirinya merasa tenang saat mendengarnya.

“Aku hanya meraa lapar. Apa kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk memasak sesuatu untukku?” tanya Jaejoong. Ia tersenyum dalam tangisnya yang beku.

“Apapun untuk Jaejoongku,” jawab Yunho cepat.

Yunho bergerak cepat menuju dapur tanpa repot-repot mengenakan pakaian. Diambilnya apron lantas di pakainya sebelum memanaskan wajan di atas kompor. Jaejoong menajamkan penciumannya ketika dari arah dapur mulai tercium bau sedap, sementara telinganya mendengar siulan-siulan kecil Yunho yang begitu teratur. Sebuah siulan indah yang lebih terdengar seperti sebuah nyanyian perpisahan di telinga Jaejoong.

Jaejoong memandang Yunho lantas memejamkan matanya. Diambil ponsel miliknya dari balik bantal kemudian ditekannya sebuah nomor. Jaejoong menggerak-gerakan kakinya gusar menunggu telepon tersambung.

“Min, apa semuanya telah selesai? Aku harus bagaimana?” ujar Jaejoong kaku segera setelah telepon tersambung.

“Tenanglah,” jawab Changmin, kemudian yang terdengar adalah helaan nafas. “Semuanya telah kulunasi. Mereka bilang ada di tengkuknya, kau cobalah,” lanjutnya.

“Aku merasa takut,”

“Ingat apa yang kukatakan. Manusia dan robot memiliki jalan yang berbeda. Aku akan menjemputmu dalam dua jam,”

“Apa aku akan menyesal?”

“Percayalah bahwa ini benar,”

“Terimakasih,” gumam Jaejoong dan telepon terputus.

Yunho meletakkan sepiring filet di atas meja kayu kecil. Sementara Jaejoong segera bangkit dari ranjangnya, dikenakannya celana piyama biru muda, lantas berjalan menunju meja.

Ia menghirup dalam-dalam aroma filet yang baru saja di sajikan seolah hanya dengan mengendus aromanya saja ia dapat merasa kenyang.

“Ini tampak sangat lezat,” gumam Jaejoong.

“Tentu saja, ini dibuat dengan cinta,” jawab Yunho.

Jaejoong memaku, setelah tersenyum tipis, Jaejoong kembali menatap filet di hadapannya. Ia menusukkan garpu pada filetnya dengan sangat kuat sehingga garpu yang digunakan seakan hendak patah.

Jaejoong menikmati sarapannya dalam diam. Yunho seperti sebuah mainan, atau robot memang sebuah mainan. Sesekali Jaejoong merasa bahwa filet itu terasa asin karena campuran lelehan air mata yang membasahi pipinya dan cepat-cepat dihapusnya. Jaejoong tidak mengerti, mengapa perpisahan terasa begitu mengerikan.

Jaejoong meletakan garpu dan pisaunya. Setelah menyesap minumannya, Jaejoong bediri dan mulai mengelilingi rumah. Mengucapkan kata selamat tinggal pada setiap barang ang disentuhnya tanpa terkecuali.

“Apa kau ingin membersihkannya? Aku akan melakukannya,” ujar Yunho sigap lantas mulai menyapi lantai dengan cepat.

“Tidak perlu seperti itu, biarkan apa adanya. Untuk kali ini, beristirahatlah. Seharusnya kau mulai belajar untuk mengurus dirimu sendiri, jika aku tidak ada, apa yang akan kau lakukan,” racau Jaejoong tidak jelas.

Yunho menghetikan gerakannya, ditatapnya Jaejoong dengan kepala yang bergerak ke kanan dan ke kiri secara bergantian. “Apa Jaejoongku membutuhkan sesuatu?” tanyanya.

Jaejoong menundukkan kepalanya dalam-dalam menatap ujung jari-jari kakinya. Lantas perlahan diangkat wajahnya bersamaan dengan air mata yang jatuh deras. Jaejoong menyentuh bibirnya sendiri dengan seduktif, lantas perlahan membuka mulutnya. “Yunho,”

“Kau mau melakukannya sekarang?”

Jaejoong mengangguk dengan cepat, direntangkan tanganny lebar-lebar sehingga Yunho dapat masuk ke dalam pelukannya. Yunho menyentuhkan dahinya pada dahi Jaejoong sehingga hidung dan bibir mereka turur bersentuhan. Dengan lembut, Yunho mulai menjilat bibir tipis Jaejoong, dan dengan senang hati Jaejoong membuka mulutnya, mempersilakan Yunho masuk. Pada detik beriktnya, mereka telah saling melumat.

Yunho menarik pinggang Jaejoong agar semakin erat, sementara Jaejoong mengalungkan kedua tangannya di leher Yunho, menekankan kepalanya agar ciuman mereka semakin dalam. Jaejoong menggerakan tangannya di kepala Yunho, sesekali menarik rambutnya kemudian turun ke tengkuknya, dan gerakan Yunho terhenti.

“Maaf karena aku mencintaimu,” gumam Jaejoong sambil berusaha menahan tubuh Yunho yang hampir jatuh ke lantai.

Dengan hati-hati, Jaejoong meletakan tubuh Yunho di lantai. Kondisinya sama seperti pertama kali ia menemukannya. Dengan tubuh dingin dan mata tertutup, seperti sebongkah mayat. Disentuhnya setiap bagian tubuh Yunho dengan perlahan, dirapikannya poni Yunho yang benutupi matanya, lantas dikecup keningnya.

“Selamat tinggal,” ujar Jaejoong parau.

Dengan langkah yang terseret, Jaejoong mengambil kardus dan plastik dari dalam lemari. Kedua tangannya bergetar dengan hebat ketika berusaha membungkus tubuh Yunho dengan plastik, sehingga berkali-kali ia gagal. Jaejoong merasa kehilangan tenaga sepenuhnya sehingga ia tidak mampu mengangkat tubuh Yunho untuk memasukkannya ke dalam kotak. Jaejoong justru terisak dengan keras di sana, bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah yang dilakukannya adalah tindakan yang benar atau salah. Namun berkali-kali ia berpikir, berkali-kali pula kata-kata Changmin terngiang di telinganya, menjadikannya semakin rapuh. Jaejoong memeluk tubuh Yunho yang terbungkus plastik dengan sangat erat, lantas menyandarkan kepala di dadanya.

Dari sekian banyak manusia di dunia ini, kenapa ia harus mencintai sebuah robot.

OOO

Jaejoong terus melongokkan kepalanya pada jendela pesawat, seolah berusaha melihat celah terkecil yang mungkin memperlihatkan apartemen kecilnya, namun sia-sia, yang terlihat hanyalah serabut awan tipis, yang bergerak berombak.

Jaejoong segera menoleh ketika merasa seseorang menggenggam tangannya dengan sangat erat. Ia mencoba untuk tersenyum meski pikirannya masih tertinggal jauh berkilo-kilometer di bawah sana. Tertinggal untuk Yunho.

“Apa aku akan jatuh?” tanya Jaejoong.

“Tidak,” balas Changmin cepat.

“Apa aku akan mati?”

“Tidak.”

“Apa aku akan hidup seperti robot setelah ini?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Semuanya akan baik-baik saja, Jae.” ujar Changmin menenangkan.

“Aku merasa sangat jahat,” Jaejoong menghela nafas panjang.

“Kau melakukan hal yang benar. Tuhan tahu apa yang terbaik untukmu,” Changmin menggenggam tangan Jaejoong dengan sangat erat, di tariknya kepala Jaejoong lantas dibiarkan bersandar pada pundaknya. “Tidurlah, aku tahu kau lelah. Aku mencintaimu.”

Jaejoong menatap Changmin sekilas lantas memejamkan matanya. “Terimkasih,” katanya.

“Bahkan ketika aku telah menjauhkannya darimu, kau masih bisa memikirkannya, dia hanya robot,” gumam Changmin pelan lantas menyeringai tipis.

OOO

Jaejoong mengacak-acak rambutnya frustasi dengan langkah yang dihentak-hentakan sementara tangan kanannya menarik kopor berukuran sedang miliknya. Berkali-kali Jaejoong menolehkan kepalanya ke belakang, melayangkan tatapan tajam pada Changmin agar berjalan lebih cepat, yang hanya dibalas dengan kekehan.

“Changmin-ah, bisakah kau berjalan lebih cepat sedikit? Rasanya aku hampir mati, aku benar-benar perlu ke toilet!” pekik Jaejoong.

Changmin tertawa dengan keras, lantas mengedipkan matanya pada Jaejoong, berusaha menggodanya. “Jika seperti itu kenapa kau justru menungguku, seharusnya kau segera berlari menuju toilet,” ujar Changmin sambil memamerkan seringaiannya.

“Aku bahkan tidak kenal tempat ini, aku tidak tahu dimana letak toiletnya!”

“Bandara itu luas, Kim Jaejoong, ada banyak toilet yang bisa kau temukan di sini jika kau mau,”

“Astaga! Changmin-ah, kau benar-benar sangat kejam. Kau ingat di mana kita sekarang? Jepang. Dan kau tahu apa artinya? Artinya aku benar-benar bodoh, aku bahkan tidak bisa membaca kanji yang menunjukan dimana toilet berada,”

“Kau memang sangat tidak pintar,” Changmin menghela nafas panjang. “Kau mungkin tidak bisa membaca kanji, tapi aku yakin kau bisa membaca alfabet,”

Jaejoong menghentakkan kakinya dengan keras lantas, lantas menggembungkan pipinya yang telah memerah karena menahan hasratnya untuk pergi ke toilet. “Baiklah jika kau benar-benar tidak ingin mengantarku, aku bisa pergi sendiri,” pekik Jaejoong.

Jaejoong segera membalikkan tubuhnya, dan berjalan cepat ke arah berlawanan, sementara Changmin tertawa-tawa saja memperhatikannya. Jaejoong terus mencerca dan mengumpat apa saja, ia berjalan dengan sangat cepat tanpa memeperhatikan jalan, sehingga tanpa sadar tubuh mungilnya menabrak seseorang hingga Jaejoong terjatuh dengan posisi duduk.

“Aish, pantatku,” kesal Jaejoong.

“Apa kau tidak apa-apa?” Jaejoong merasa darahnya mendesir dengan cepat ketika telinganya mendengar sebuah suara bariton mengalun dengan lembut.

Diamatinya sosok yang berdiri membungkuk di hadapannya, dari bawah naik ke atas. Sepatu Nike jenis diamond studded sneakers, dan celana jeans merk DOLCE & GABBANA. Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah. Sangat fashionable, bahkan orang sekaya Changmin yang dikenalnya tidak pernah seroyal itu. Jaejoong mengangkat kepalanya perlahan, ketika berusaha menerima uluran tangan di hadapannya, dan ketika keduanya saling bertatapan, Jaejoong merasa nyawanya terangkat ke luar.

“Jung Yunho?” pekik Jaejoong keras.

“Ya? Apa kita telah saling mengenal sebelumnya?” balas laki-laki di hadapannya.

Saat itu, Shim Changmin, Kim Jaejoong, dan Jung Yunho seolah berada dalam satu segitu takdir yang menghubungkan mereka. Ketiganya saling bertatapan dengan masing-masing tatapan yang berbeda. Yunho dengan kebingungannya, Jaejoong dengan keterkejutannya, dan Changmin dengan ketakutannya.

Saat itu, satu hal menghampiri kesadaran Jaejoong. Yunho yang ia kenal sebelumnya adalah sebuah prototype robot dari Yunho di hadapannya. Takdir, seharusnya ia sudah benar-benar gila sekarang!

OOO

4 tahun kemudian.

Bagi Jaejoong butuh waktu sekitar dua tahun untuk meyakinkan Changmin bahwa ia tidak bisa mencintainya, dan butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk dapat mengembalikan semua uang Changmin yang dipakai untuk membantunya, namun hanya butuh satu hari baginya untuk dapat mencintai Yunho.

Satu tahun yang lalu, ketika urusannya dengan Changmin telah selesai, Jaejoong memulai kehidupannya yang baru dengan Yunhi. Saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengerti perasaan satu sama lain. Menyentuh kulit Yunho adalah yang paling disukainya, ketika ia bisa merasakan pancaran rasa hangat dan kelembutan,  bukan lagi rasa dingin yang terasa keras.

Jaejoong mengenggam tangan Yunho dengan sangat kuat, hingga hampir mematahkannya, namun Yunho justru membalasnya dengan sebuah kecupan di puncak kepalanya. Keduanya berdiri kaku di depan sebuah apartemen yang sama dengan yang ditinggalinya empat tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah dengan bangunan itu kecuali catnya yang semakin pudar dan kusam.

Dengan langkah bergetar, Jaejoong berjalan mendekati pintu. Dibuka kuncinya dengan sangat hati-hati, lantas dibuka pintu apartemen dengan perlahan. Bau debu dan lembab ruangan yang tak terpakai mengguar dengan cepat begitu pintu terbuka. Dengan cepat Yunho menutup hidung dan mulutnya dengan punggung tangan, sementara Jaejoong masuk ke dalam begitu saja seolah mengabaikan aroma tidak nyaman yang menyinggahi penciumannya.

“Apa tidak apa-apa seperti ini? Rasanya sesak,” ujar Yunho.

“Aku pernah tinggal di sini, dulu sekali, dan tidak ada yang berubah,” ujar Jaejoong mengabaikan pertanyaan Yunho. “Ada satu rahasia yang kusembunyikan di sini,” tambahnya.

Yunho berusaha mengadaptasikan dirinya dengan baik, ditatapnya Jaejoong dan ia sadar bahwa raut wajah kekasihnye berubah. Ada kesedihan di sana, juga kerinduan. Dipeluknya tubuh Jaejoong dengan lembut berusaha membuatnya nyaman dan tenang.

“Aku tidak apa-apa,” gumam Jaejoong. “Apa kau mau meliha rahasia besarku?” tanyanya.

Yunho mengangguk dengan cepat. “Tunjukan padaku apa itu,” katanya.

Jaejoong berjalan gontai menuju sebuah lemari besar yang dulunya digunakan sebagai lemari pakaian. Ketika pintu lemari terbuka, debu debu berterbangan sehingga Jaejoong terbatuk-batuk namun mengabaikannya. Ada sebuah kardus berukuran besar di dalamnya, dan tanpa menunggu perintah, Yunho berusaha mengeluarkannya dari dalam lemari dan meletakannya dengan sangat hati-hati di lantai.

“Terimakasih,” gumam Jaejoong parau. “Ini ragasia besarku,”

Jaejoong membuka ujung selotip yang merekatkannya, lantas perlahan dibuka penutup dus tersebut hingga isinya tampak dengan jelas. Yunho terdorong ke belakang sakit terkejut, dadanya naik turun dengan cepat, ada sebuah ketakutan dan kekhawatiran yang mendadak muncul di wajahnya.

“Itu… aku?” pekik Yunho tertahan.

“Mungkin ya, mungkin juga tidak. Dia Jung Yunho, sebuah robot,”

“Robot? ” ulang Yunho, dan Jaejoong mengangguk dengan cepat. “Ini sulit dipercya, bagaimana mungkin dia sama persis denganku, ” Yunho memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.

“Mungkin takdir,” jawab Jaejoong, ketika mendengarnya, Yunho segera menoleh dan menatap Jaejoong intens. “Dia hadiah ulang tahun pertamaku dan dia cinta pertamaku yang tidak akan pernah menua dan akan hidup selamanya,”

“Lalu bagaimana denganku?” tanya Yunho.

“Kau cinta terakhirku,”

Dan keduanya saling berpelukan seolah mengucapkan janji untuk terus bersama dan saling menjaga tanpa mendeklarasikannya dengan suara.

Sesuatu yang telah berlalu ada bukan untuk di kenang tapi untuk dijadikan sebuah pelajaran.

Di atas sebuah kertas putih yang ditulis dengan tinta darah, terukir sebuah pesan rahasia : Aku Kin Jaejoong, mencintai dua orang Jung Yunho dengan kadar cinta dan cara yang berbeda. Jika aku dilahirkan kembali, maka aku akan tetap memilih jalan hidup seperti ini, bahkan di surga nanti.

END

3 thoughts on “My Perfect Boyfriend – Chapter 7 END

  1. wuihh….. kerennn
    kq bsa k’pikirn bikin crita bgni ?? daebakkk pkok’y bwt yg ini, walau d’chap awal ada typo ^^

  2. wah udah lama gak mampir kesini.. aku suka bgt ma cerita ini.. meskipun yunho cuma robot tapi cintanya bener” keliatan.. trus juga lucu bgt kalo yunho ngomong. hehehehe
    di tunggu ff selanjutnya.. semangat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s