F(Love) Chapter 3


F(Love)

Chapter : 3 / ?

Rating : T, PG, to NC (perhaps?)

Genre : Romance, family, friendship

Cast : YunJae, TH5K, Yunho x (upcoming character)😛

Disclaimer : YunJae belongs to shipper, TH5K belongs to cassie and God, Changmin belongs to me. :p Story is mine.

Warning : Bahasa sastra yang muter-muter. Suka misterius. New author. Bakal lama di update. Campus life.

Summary : Saat semuanya terasa indah, ternyata, tidak. Tidak sama sekali. Kau mau marah, tapi ke siapa? Buat apa?

—————————————— f(love) ————————————————

Jujur saja, Yunho kesal sendiri. Setelah malam itu lewat, Jaejoong menjadi seseorang yang aneh, seseorang yang sama sekali berbeda. Tidak, Yunho tidak kesal karena Jaejoong tidak lagi seperti orang yang dulu membuatnya tergila-gila. Yunho kesal karena dia tidak tahu alasan kenapa Jaejoong berubah. Dan  Yunho juga kesal karena dia tidak tahu kenapa perubahan Jaejoong yang seperti itu membuat dirinya terpengaruh dan sedih sendiri.

—————————————— f(love) ————————————————

Siang itu, mereka telah berlatih mati-matian dan sebagai imbalan, sang ketua, Kim Junsu tentu saja, memberikan reward, traktiran makan siang gratis. Tidak jauh berbeda sejak terakhir kali mereka makan bersama, Changmin menatap Yunho seakan dia mau membunuhnya kapan saja dan dengan cara apa saja, tetapi kali ini, Yunho sama sekali tidak perduli. Yang dia perdulikan adalah, sosok cantik yang tidak hadir bersama mereka, siang itu.

“Mana Jaejoong?” Yunho tidak kuat lagi untuk tidak bertanya di mana, hemmm, apa ya, entahlah, dia juga tidak tahu, partnernya, orang yang dia kagumi, mungkin? Yunho terus meyakinkan dirinya kalau dia layak tahu di mana Jaejoong berada sekarang.

“Bukan urusanmu.” Changmin berkata dengan dingin.

“Apa sih salahku padamu? Aku kan cuma tanya Jaejoong di mana. Kau bukan ibunya, jadi kenapa sewot sekali?” Yunho yang sudah merasa lelah menghadapi Changmin akhirnya bersuara juga. Capek juga kalau kau tidak merasa pernah melakukan kesalahan sama sekali tapi dimusuhi seseorang seakan kau telah membunuh orangtua dari orang itu.

“Salahmu? Kau telah mengambil hak milik orang lain.”

“Jaejoong bukan kekasihmu, jadi dia bukan hakmu.”

BRAK!

Changmin menggebrak meja dengan kasar, hampir melayangkan tinju ke muka Yunho, tetapi dibatalkannya niatnya itu. Changmin berdiri dan meninggalkan meja tempat mereka makan dengan langkah lebar-lebar.

“Kenapa sih dengannya? Aku sudah coba bersabar ya. Aku kan cuma tanya Jaejoong ada di mana.” Yunho akhirnya bertanya dengan suara yang ia buat serendah mungkin intonasinya, mencoba merendahkan kegeramannya yang sudah di ubun-ubun.

Biar bagaimanapun, Yunho kan tetap manusia. Dan dia juga tetap seorang senior yang ingin dihargai oleh orang yang lebih muda darinya.

“Kan sudah kubilang padamu Yunho-ssi. Changmin itu hidup dalam situasi tidak pernah kalah. Jadi ya dia seperti itu. Mau bagaimana lagi?” Yoochun mencoba membuat Yunho mengerti.

“Ya. Tapi kan tadi aku cuma tanya Jaejoong ada di mana, bukannya menembak Jaejoong di depan sudut matanya.” Yunho memain-mainkan spaghetti di piringnya dengan malas. Tiba-tiba rasa laparnya seakan hilang.

“Apa sebaiknya aku ceritakan saja, Chun?” Junsu menatap ragu-ragu kea rah Yoochun.

Tiba-tiba saja Yunho merasa aneh. Diangkatnya kepalanya menatap kepada dua insan yang tengah bertatap-tatapan seakan saling meminta persetujuan. Yoochun yang seakan mengisyaratkan ‘Jangan nanti Jaejoong membunuh kita’ dan Junsu yang seakan mengisyaratkan ‘Yunho harus tahu.’

Setelah tatap-tatapan mata selama hampir 20 menit, Yoochun pun menyerah, dibiarkannya Junsu menceritakan apa yang mereka simpan.

“Ehem. Begini Yunho. Sejak hari di mana kita makan bersama malam itu, Jaejoong terlihat aneh. Tadi, Jaejoong meminta tolong kepada kami untuk menjauhkanmu dari hidupnya. Dia bilang, dia tidak mau lagi bertemu denganmu kecuali selama latihan dan proses pementasan.” Junsu menjelaskan dengan perlahan, membuat kata-kata itu tertancap kuat di telinga Yunho.

Lidah Yunho berubah menjadi pahit sekarang.

‘Jaejoong, tidak mau bertemu denganku? Tapi, kenapa?’

———————————————————– f(love) ———————————————————————

“Jaaa~ Kyou wa owarishimashita.” Junsu berteriak dengan semangat seperti biasanya.

“Tidak. Tidak akan berakhir.” Yunho, yang biasanya hanya diam dan mengikuti instruksi, angkat bicara dengan nada tegas.

“Tapi ini sudah jam 9 malam, Yunho-ah. Walaupun ini malam minggu, kita tidak boleh memaksakan diri. Lagipula kita sudah berlatih selama hampir 12 jam!” Yoochun mencoba menjelaskan.

“Tidak. Kita tidak akan ke mana-mana, sampai Jaejoong menjelaskan kepadaku kenapa dia tidak mau lagi bertemu denganku. Kan dia sendiri yang bilang kalau dia hanya mau bertemu denganku saat proses latihan dan pementasan.”

Jaejoong, yang merasa dirinya menjadi objek dari pembicaraan itu, tersentak.Kenapa Yunho, jadi membahas itu?

Yunho berjalan semakin dekat, dan semakin dekat ke arah Jaejoong. Jaejoong yang merasa dirinya dalam bahaya segera melangkah mundur dan mundur sampai pada akhirnya punggungnya menabrak tembok.

“Kau sudah dengar kan? Sahabat kita akan menjadi saksi pembicaraan ini!” Yunho menatap Jaejoong dengan tajam sekali, sembari menggerakkan kepalanya ke arah wajah Junsu, Changmin, dan Yoochun, membuktikan saksi dari pembicaraan mereka.

“ Dan kau!” Sekali lagi ia menoleh ke arah Jaejoong sepenuhnya.

“ Kau tidak akan pernah kemana-mana sampai kau menjawab pertanyaanku yang tadi, bahkan kalau itu berarti kita harus berada di sini selama seminggu!” Lanjutnya

Changmin berdiri dari tempatnya duduk sekarang. Instingnya berkata kalau dia harus menghentikan Yunho sekarang. Tapi, tidak sempat berlangsung lama, Changmin ditarik keluar oleh Yoochun dan Junsu yang melangkah ke arah pintu. Changmin hendak protes karena dirinya diseret saat dia yakin dia mau membenarkan sesuatu yang salah, tapi, sorot mata dari Yoochun dan Junsu membuatnya bungkam.

Jaejoong yang menyadari YooSuMin akan pergi memohon melalui ekspresi matanya, tetapi Yoochun dan Junsu hanya diam, tak bersuara, dan meninggalkan Jaejoong dan Yunho berdua.

KLAP! Bunyi pintu ditutup. Suara yang mengiringi dua nasib yang akan terjadi.

———————————————————– f(love) ————————————————

“LEPASKAN AKU HYUNG!” Changmin melompat dari cengkraman kuat Yoochun dan Junsu kepada kedua lengannya.

“Kenapa kalian melakukan itu?” Changmin mendesis marah.

“Untuk menghentikanmu berbuat bodoh lagi.” Yoochun berkata se-casual mungkin.

Changmin menatapnya marah.

“Berbuat bodoh? Aku hanya melindungi Kim Jaejoong-hyung!” Changmin berseru dengan emosi.

“Sampai kapan kau sadar bahwa kau tidak bisa memaksa Jaejoong untuk selalu menjadi seperti yang kau mau? Jaejoong bukan milikmu! Mau sampai kapan kau sadar, huh?! Bahkan ibunya sekalipun tidak punya hak melarangnya bergaul dengan siapapun. Apalagi kau! Tidakkah kau punya mata, eoh? Selama ini,  sedekat ini dengan Jaejoong, butakah kau untuk sadar? Jaejoong mencintai Yunho! Dia selalu menginginkan Yunho! Dan rusakkah kupingmu, atau error-kah otakmu untuk mengingat apa yang Yunho katakan pada pengakuannya ke kita beberapa minggu lalu? Yunho juga mencintainya! Sekarang aku tanya padamu, kalau kau berada di tengah-tengah mereka terus menerus seperti ini, siapa yang jahat? Kau atau Yunho? Siapa yang merusak kebahagiaan Jaejoong? Kau atau Yunho?! Sampai kapan kau mau berhenti jadi anak kecil dan tumbuh jadi namja dewasa, eoh?!” Junsu mengomel dengan tegas.

Detik berikutnya lutut Changmin lemas, dan dia jatuh terduduk.

———————————————————– f(love) ———————————————–

“Apa maksudmu? Kenapa kau menghindariku setelah kita sudah sejauh ini, eoh?” Yunho menatap kedua bola mata Jaejoong dengan tajam.

“Hey! Lihat mataku saat aku bicara padamu, Kim Jaejoong!” Yunho meraih dagu Jaejoong dengan lumayan kasar lantaran Jaejoong terus menerus mengedarkan pandangannya ke lingkungan sekelilingnya.

“A.. Aku…”

“Kau kenapa? Kau membenciku? Apa aku pernah berbuat salah padamu? Katakan dengan jelas!” Yunho bertanya dengan nada menuntut.

Lama Jaejoong terdiam. Terlihat sekali ia menyembunyikan sesuatu dan berusaha untuk merangkai kata dengan baik dan benar.

“A… Aku tidak bisa, Yunho.”

“Huh?”

“Suatu saat kau akan mengerti. Aku akan membuatmu mengerti, percayalah pada janjiku. Sekarang, kau hanya harus tahu kalau, kalau… Kalau yang kita lakukan ini salah. Tidak seharus, HMPFHH”

Jaejoong tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya ketika dengan gerakan sangat cepat, Yunho menarik dagu dan tengkuk Jaejoong, menenggelamkan kedua insan itu ke dalam sebuah romansa ciuman memabukkan.

Jaejoong memejamkan matanya, menikmati ciuman itu selama kurang lebih 45 detik, ketika tiba-tiba alasan mengapa dia harus pergi dari Yunho membawanya ke alam nyata kembali.

PLAK!

Yunho terbelalak setelah menerima perlakuan barusan. Benarkah Jaejoong baru saja menamparnya? Tapi kenapa?

“Mi… Mianhae, Jung Yunho-ssi.”

Jaejoong memanfaatkan momentum shock-nya Yunho untuk mendorong tubuh namja bertubuh lebih besar darinya itu, memungut jaketnya dan berlari keluar, meninggalkan Yunho yang jatuh terduduk.

‘SIALAN!’ Yunho berteriak dalam hati sambil menonjok lantai di samping kakinya.

‘Aduh pantatku sakit. Sekarang buku-buku jariku juga. TSK’

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Changmin menatap dalam diam ke arah Jaejoong yang berusaha keras tidak meneteskan air mata-nya. Beberapa kali, Changmin bahkan hampir saja menabrak berbagai macam hal di jalan raya, dan juga menerima umpatan demi umpatan kekesalan, saking tidak fokusnya dirinya. Bagaimana bisa fokus kalau orang yang dia cintai sekarang terdiam dan menyimpan air mata kepahitan dalam dirinya?

“Hyung…”

“Ne?” Jaejoong menoleh ke arah Changmin sambil tersenyum.

‘Kau memaksakan senyum itu, eoh?’

“Aku tau sampai matahari terbit dari arah Barat sekalipun, kau tidak akan bercerita padaku, kan? Aku cuma memaksamu untuk ikut bersamaku ke café Sora, tempat aku biasanya melepas stress sambil minum cokelat panas. Karena kubilang memaksa, berarti kau harus mau, ne?”

“Arraseo…” Jaejoong terlihat seperti menimbang beberapa saat sebelumnya, tapi dia lebih memilih untuk tidak membantah lebih lanjut.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Jaejoong hanya mengaduk-aduk cokelat panas, rekomendasi Changmin, searah, tidak benar-benar berniat untuk meminumnya atau sekedar mengenggamnya di telapak tangannya untuk membiarkan rasa hangat itu merembet ke permukaan telapak tangannya yang sudah menjadi dingin.

“Minumlah hyung. Tidak biasanya aku berbaik hati menraktir orang lain.” Changmin menggoda Jaejoong yang sejak tadi terlihat tidak fokus kepada apapun.

Respon yang diterima Changmin? Tidak ada….

“Hyung!” Changmin menegur Jaejoong lagi. Kali ini sedikit lebih keras.

“Hyung~~~~” Usaha Changmin sekali lagi.

“Hyung!” Dan kali ini ia berhasil mendapatkan perhatian Jaejoong.

“Hmm?” Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap ke arah Changmin, tentu saja, dengan senyuman terpaksa, yang kentara sekali bagi Changmin.

Changmin berusaha tertawa kecil….

“Kalau kau tidak meminumnya sekarang, aku akan pergi ke arah waitress yang sedang berdiri di sana, memesan 20 gelas cokelat panas lagi, bersikap seakan-akan aku melakukannya karena aku kekasih yang perduli, kemudian saat gelas ke 20 habis, aku akan pura-pura ke toilet, padahal sebenarnya aku kabur, dan membiarkanmu membayar semuanya. Ottokhe? Terdengar seperti kejahilan yang sempurna, kan?”

Jaejoong tersenyum manis, benar-benar manis sekali. Changmin hampir saja mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Jaejoong saat tiba-tiba, kata-kata Yoochun dan Junsu menyeruak lagi ke dalam sanubarinya. Jaejoong bukan miliknya, dan Jaejoong, Jaejoong tidak mencintainya.

Pengakuan malam itu sudah cukup tegas pula baginya, pengakuan di tengah malam itu, setelah Jaejoong dan Changmin berkejar-kejaran seperti sedang syuting PV terbaru AK*48. Bedanya, motif dibalik kejar-kejaran itu tidak menyenangkan SAMA SEKALI.

“Tidakkah kau mengerti hyung? Aku mencintaimu?!”

Jaejoong-hyung nya yang hanya menatapnya dengan iba, menatapnya lama sekali, dirinya yang sedang menangis, sampai pada akhirnya menangis  bersamanya, dalam kurun waktu yang lama, sambil mengungkapkan kata-kata yang menggores Changmin sangat dalam.

“Mianhae Changmin-ah. Aku mencintaimu, sungguh. Tapi kau hanya seperti dongsaengku yang paling berharga, yang harus kulindungi dengan segenap diriku.”

Changmin kembali ke masa sekarang, dan berbisik dengan pahit.  ‘Dongsaeng, huh? Kau mau aku  yang tidak pernah membuatmu menangis, dan selalu mendukungmu dengan baik ini, sebagai dongsaeng, sementara kau ingin namja brengsek, yang bahkan tidak berani mengutarakan cintanya kepadamu, sebagai namjachingu, hyung?! TSK! Kenapa aku bisa mencintaimu? Dan kenapa pula kau tidak bisa memberiku kesempatan?’

“Hyung…” Changmin berbisik sekali lagi.

“Ya?”

“Bisakah aku memohon suatu hal padamu yang harus kau tepati, hyung?”

Jaejoong terlihat enggan untuk beberapa saat.

“Tentu saja.” Jaejoong tersenyum lembut.

“Menangislah hyung. Itu akan membuatmu jauh lebih baik. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu, hyung, karena aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kau alami. Biarkan aku merasa tenang hyung dengan melihatmu lebih tenang. Kalau kau menangis seperti ini, kau tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi juga aku, hyung.”

Jaejoong, yang mendengarkan perkataan tulus Changmin, tidak kuasa lagi untuk menahan air matanya. Rasanya entah mengapa pahit sekali. Bahkan untuk sekedar bernapas saja sulit. Jaejoong berusaha untuk tidak menangis sambil mengeluarkan suara tetapi itu malah lebih menyakitkan baginya.

Changmin yang melihat Jaejoong sesak segera bangkit dari kursinya, duduk di sebelah Jaejoong, memeluknya dengan erat, meletakkan dagunya di puncak kepala Jaejoong, membiarkan dada bidangnya menjadi pelampiasan kesesakan Jaejoong, mengusap-usap punggungnya sambil berkata berulang-ulang.

“Aku di sini hyung…”

Lama Jaejoong menangis di pelukan Changmin, sampai pada akhirnya dia sendiri yang menarik dirinya.

“Ishh, Min. Namja kan seharusnya tidak menangis.” Jaejoong menggerutu, bibirnya menggembung, bercak air mata masih tersisa dan berusaha disekanya dengan punggung tangannya.

Changmin yang tidak kuasa lagi menahan diri mencubit pipi Jaejoong dengan gemas.

“Yah!! Sudah berapa kali harus kubilang? Pipiku bisa kendor! Kenapa sih kau suka sekali mencubitku sejak kenal denganku? Aku ini hyung-mu tauuuu~~”

Sekali lagi Changmin mencubit pipi Jaejoong.

“Yaah!”

“Makanya berhenti ngedumel, berhenti menggerutu. Pipimu menggembung seperti kelinci, dan rasanya aku ingin memakanmu, tau.”

BLUSH!! Jaejoong memerah seketika.

“Tuh kan… Memerah lagi.. Mau kucubit lagi?”

“Andwee!!!” Jaejoong berkata sambil menutupi kedua pipi putihnya dengan kedua telapak tangannya.

Changmin tertawa terbahak-bahak.

“Hyung, dengarkan aku.” Changmin merubah intonasi suaranya supaya ia bisa mendapatkan perhatian serius Jaejoong.

“Ne?”

“Orang yang tidak pernah menangis adalah orang yang paling lemah di dunia hyung, karena mereka, mereka tidak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Jujur dengan apa yang dialaminya. Orang yang mudah menangis adalah orang yang sangat sensitive, menghargai segala hal, sekecil apapun itu. Karena itu, aku selalu kagum dengan mereka yang yang mudah menangis dan memahami orang lain.”

Jaejoong tersenyum, terlihat seperti keibuan di mata Changmin.

“Dari mana kau tahu itu?”

“Dari twitter.” Jaejoong hampir bergubrak ria. Baru saja dia mau memuji Changmin yang selalu sulit disuruh baca text books, dan dia kira, quotes bijak itu didapatnya dari text books. Ternyata…

“Hyung, kau tahu kan aku juga manusia.”

“Tidak. Selama ini kau terlihat seperti monster makanan di mataku.”

“Hyungg~~~~”

“Nee.. Neee…. Terus kenapa memangnya kalau kau manusia?” Jaejoong tertawa kecil mendengarnya.

“Aku, aku, aku punya rasa penasaran juga, hyung.”

Jaejoong terdiam.

“Kau tahu kan ke arah mana maksud pembicaraanku, hyung? Aku mau tahu, apa yang terjadi padamu…”

Jaejoong terdiam, lagi.

“Akan kuberitahu padamu, Min. Tapi tidak sekarang.”

———————————————————– f(love) ———————————————————————

‘Kurahap kau paham Jung Yunho-ssi. Olimpiade ini sangat penting untuk universitas. Kebanggan dari memenangkannya bukan saja milik universitas tapi juga milik negara. Kau kartu as kami. Kau harus konsisten, tidak seperti ini. Kau mungkin cerdas tapi kau harus lebih serius latihan, dan juga melatih mereka yang lebih muda darimu.’

UGGHH~ Yunho mau muntah. Karam tidak pernah berhenti merecokinya dengan pesan-pesan olimpiade dan segala atributnya.

“Kenapa dia seperti manager-ku sih?” Yunho menggerutu sendiri.

“Dan setelah pesan masuk, sebentar lagi, pasti….”

DRRRT! DRRT!

“Tuh kannn!” Yunho memutar bola matanya bosan. Diraihnya hp-nya untuk sekedar memastikan bahwa Karam lah yang menelponnya, hanya untuk kemudian melebarkan matanya melihat siapa caller id yang tertera di sana, Kim Jaejoong.

Kurang dari sedetik, Yunho menekan tombol answer, dan hampir saja menjawab telpon itu sambil berteriak.

“YOOBOSEYO?!!?!?!”

“Yoboseyo…”

“Jae-ahhh? Kenapa menelponku malam-malam? Rindu padaku,eoh?” Yunho berusaha memancing mood dari pembicaraan itu.

“Yunho, mianhae. Apapun yang kulakukan mulai dari sekarang, itu karena aku perduli padamu, karena aku ingin kau bahagia. Aku, mencin,”

Yunho menunggu Jaejoong mengatakan kata-kata yang indah itu, walaupun kalimat-kalimatnya yang sebelumnya telah melemparnya jatuh ke dasar bumi.

“Aku, aku mencin, aku mencincang ubi tadi siang sambil menyadari kalau ini semua salah. Pada waktunya, kau dan aku pasti mengerti, oke? Jalja~~”

“YOOBOSEYO?! JAE-AH? JAE? ARGGHHH!!!”

Yunho tentu saja headbang mendengar apa yang Jaejoong katakan dan tentu saja dia hancur karena apa yang baru saja ia dengar.

Tanpa Yunho sadari, air matanya mengalir.

‘Kau jahat sekali, eoh? Kau masuk ke hatiku seenak jidatmu, duduk di dalam singgasana hatiku seenak pantatmu, parkir di hatiku seenak pusarmu, membuatku bingung akan segalanya tentang dirimu dan teka-teki yang ada dalam dirimu, dan sekarang kau pergi dengan dalih aku pasti mengerti, semaumu, eoh? Kurang ajar sekali kau Jae!’

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Jaejoong tidak lagi bisa menangis. Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah dari dalam matanya. Namun, tidak menangis, bukan berarti hatinya tidak tersayat dan robek.

‘Tinggal satu hal lagi yang harus kulakukan Maafkan aku, ya Tuhan, karena aku menjadi orang yang jahat.’

Jaejoong meraih handphone-ya , men-dial sebuah nomor yang tidak lagi asing baginya. Tangannya bergetar sembari mencari kontak yang dicarinya, merasa tidak mampu untuk melakukannya, tetapi dia harus, menurutnya.

“Yoboseyo?”

“Uh! Jaejoong-hyung, ada apa menelponku jam segini?”

“Min-ah. Bolehkah aku meminta tolong padamu?”

“Tentu saja hyung. Katakanlah. Tapi kalau meminjamkan uang, ada bunganya ya. Hahahaha”

Jaejoong tertawa sesaat bersama Changmin, sebelum kemudian, ia mengigit bibirnya ragu.

“Waeyo, hyung, katakan saja! Aku bukan tukang pos yang cuman nganterin surat pagi-pagi dalam hidupmu, kan?”

“Min, maukah kau…”

Di seberang sambungan telepon, Changmin memposisikan dirinya menjadi duduk dan bersandar pada tembok.

“Min, aku tau ini tidak adil bagimu, tapi, maukah kau…”

Jaejoong menarik napas panjang sekali, sebelumnya ia mampu juga mengucapkannya.

“ Maukah kau mengajariku untuk mencintaimu?”

———————————————————–  TBC ———————————————————————

 

RCL juuseeyoo ^^

2 thoughts on “F(Love) Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s