[FF] Coffee Of Love – Part 10 The scar in the Chest


Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 10- The scar in the Chest

(Jaejoong POV’s)

“Ugh…” Aku mengerjapkan mataku ketika sebuah sinar kuat menerobos masuk dari sela korden. Aku mengucek mataku. Pusing. Hal pertama yang aku rasakan saat aku mencoba bangun dari tidurku. Akupun mencoba menggerakkan tubuhku dan merasakan sakit dimana-dimana. Perih menusuk-nusuk. Akupun mencoba mencerna sedang berada dimana aku saat ini. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku untuk melihat sekeliling.

“Dimana aku!?” Pekikku mencoba bangkit dari tempat tidur tapi sebentar kemudian aku kembali memasukkan tubuhku ke dalam selimut karena aku tidak mengenakan baju sehelai pun!!!

“Ya Tuhan apa yang terjadi sebenarnya!?” Pekikku menarik selimut itu untuk menutupi tubuh telanjangku. Aku pun mengitari kamar yang ternyata adalah kamar hotel yang cukup mewah untuk mencari pakaianku tapi aku tidak kunjung menemukannya. Karena kepanikan yang melanda akupun sampai menginjak selimut dan jatuh terjerembab menabrak meja kecil di tengah kamar.

“Ish!” Rintihku saat daguku mendarat dengan mulus di lantai setelah menabrak tepian meja terlebih dahulu. Tanpa sadar airmata mulai menjatuhi pipiku.

“Hiks.. apa salahku.. aku dimana? Aku tidak ingat hiks~hiks” Rintihku memukul lantai. Tidak lama akupun mengingat kepingan-kepingan ingatan tadi malam. Aku mengingat Hyun Joong membawaku ke sebuah restoran mewah. Kami minum dan aku tidak ingat setelah itu. Ya Tuhan apa yang terjadi padaku. Aku pun kembali menangis. Dalam tangisku aku bisa melihat ponsel ku yang berwarna merah muda tergeletak di bawah sofa. Aku segera merangkak dan meraih ponselku yang ternyata mati. Aku mencoba menyalakannya. Ponsel merah muda ku pun menyala walaupun baterenya mulai berkedut-kedut minta di isi. Aku menekan  sebaris nomor yang ada di ponselku. Nomor yang terlintas di dalam kepalaku saat ini dan aku harap Ia mau mengangkat teleponku.  Terdengar nada sambung sebelum sebuah suara datar dan dingin menyapa telingaku di balik suara gaduh yang menjadi latarnya.

“Yunho!!” Pekikku ketika aku tahu siapa pemilik suara datar itu.  Ada rasa syukur hinggap saat namja itu mau mengangkat teleponku.

“Yunho… tolong aku..” Ucapku gemetaran menahan tangis. Aku sudah tidak bisa berpikir ini dimana, bajuku dimana. Aku sungguh ketakutan.

“Boo!? Kau dimana!?” Seru Yunho terdengar panik. Aku masih terisak. Mencoba memberitahu Yunho.

“Aku tidak tahu.. kumohon tolong aku.. Ini hotel, bajuku hilang.. aku takut Yun~ kumohon tolong aku~” Aku kembali terisak. Betapa sesak dada ini menahan segala kepanikan yang bercampur ketakutan.

“Boo bertahanlah! Lihat buku tamu yang ada di sana! Aku akan segera menjemputmu!” Ucapnya lagi masih dalam keadaan panic. Aku mencoba meraih buku tamu yang ada di atas meja kecil itu dengan susah payah. Lalu menyebutkan sebuah alamat sebelum akhirnya ponselku mati karena kehabisan batere.

“Hiks… Yunho…” Ucapku lirih dalam keadaan bersimpuh dengan selimut yang setengah menutupiku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir saat ini. Aku takut.

(Yunho POV’s)

Aku tengah berdiri di halte bis menuju kantorku sesaat setelah ponselku bergetar di saku celana panjangku. Kukeluarkan ponsel metalik itu dan menatap layar LCD yang memampang sederetan nama yang sama sekali tidak aku duga akan meneleponku. Aku pun menghela nafas sebelum akhirnya kuangkat panggilan itu.

“Yunho!!” Pekik suara di sebrang dengan nada panic dan serak. Aku mengerutkan dahi saat mendengar suara namja itu di seberang telepon.

“Yunho… tolong aku..” Ucapnya lagi dengan nada gemetaran . aku pun segera menangkap firasat buruk yang telah menimpa Jaejoong.

“Boo!? Kau dimana!?” Seruku panik. Kudengar isakannya yang menyesakkan dada.

“Aku tidak tahu.. kumohon tolong aku.. Ini hotel, bajuku hilang.. aku takut Yun~ kumohon tolong aku~” Ujar Jaejoong dengan suara serak. Akupun semakin dilanda kepanikan mendengar suara Jaejoong.

“Boo bertahanlah! Lihat buku tamu yang ada di sana! Aku akan segera menjemputmu!” Ujarku masih sangat  panic. Tidak lama Jaejoong pun menyebutkan sebuah alamat sebelum akhirnya sambungan kami terputus. Tanpa pikir panjang aku pun mengganti arah tujuanku.

Tidak berapa lama aku pun sudah  menyusuri lorong-lorong hotel mewah itu. Untungnya  wajah Jaejoong mudah dikenali jadi saat aku bertanya pada recepcionist mereka langsung tau siapa yang aku maksud. Namja cantik yang dibopong ke hotel ini semalam dalam keadaan mabuk. Setelah room boy itu membukakan pintu kamar yang dituju. Aku pun segera masuk ke kamar yang cukup luas. Kulihat tubuh putih dibalik selimut yang terbuka di bawah meja.

“Boo!!” Seruku. Namja cantik itu menoleh dengan wajahnya yang memerah dan matanya yang bengkak. Aku segera menghampirinya. Tubuhnya gemetaran hebat. Bahkan untuk berucap pun sulit.

“Kau kenapa!?” Seruku lagi sembari memegang wajahnya. Dia masih terisak. Aku pun memeluknya untuk meredakan tubuhnya yang gemetaran hebat.

“Yun~ aku mau pulang~” Ucapnya gemetaran. Aku melepas pelukanku dan menatap wajahnya yang kusut. Ada luka di dagunya. Bahkan tidak hanya di dagu. Wajahnya pun tampak lebam. Bibir merahnya terlihat banyak memiliki luka. Sebuah firasat buruk menghinggapi hatiku. dengan keadaan Jaejoong yang seperti ini. Hanya satu akibatnya.

“Pakailah bajuku ini.” Ucapku melepas mantel yang kugunakan lalu membantunya berdiri. Dengan mulus selimut yang menutupi tubuh putihnya meluncur ke bawah. Kutatap tubuh polos itu yang justru membuat hatiku teriris-iris. Banyaknya lebam merah dan biru menyebar di seluruh tubuh yang seharusnya mulus bagai porselen itu. dengan segera akupun menutup tubuhnya kembali dengan selimut hotel.

“Ayo cepat ganti baju!” Ucapku mengantarnya sampai kamar mandi. Jaejoong pun masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju sedangkan aku sibuk meredakan detak jantungku menahan amarah. Tidak berapa lama Jaejoong pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan mantelku yang menutupinya hingga lutut. Aku pun segera menggendongnya ala bridal style tanpa basa basi lagi dan membawanya pergi dari tempat itu.

*Apartment Jung Yunho*

Aku mendudukkan Jaejoong di depan TV. Mata bulatnya yang bengkak menatap kosong sedari tadi. aku mengambilkan piyama dan pakaian dalamku untuk digunakannya.

“Boo, bisa ganti baju dulu?” Kataku mencoba selembut mungkin. Jaejoong menoleh kearahku dan mengangguk patuh seperti robot suruhan. Aku pun menghela nafas berat. Miris rasanya melihat namja cantik itu begitu terluka karena trauma yang di alaminya.

Beberapa menit kemudian Jaejoong pun sudah berganti pakaian dengan pakaianku yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Segera kuhamparkan futon dan membantunya melangkah duduk diatas futon. Kuperas handuk kecil yang sudah kurendam dengar air hangat untuk menyeka luka-luka di wajahnya.

“Jangan sentuh aku~” Ucapnya tiba-tiba menghentikan gerakan tanganku. Kutatap bibirnya yang bergetar menahan airmata yang gagal ditahannya dan meluncur bebas di pipinya yang lebam.

“Boo?” Panggilku lirih. Hatiku rasanya sakit sekali melihatnya seperti ini. Apa ini yang dimaksud Changmin? Penyesalan yang akan datang padaku? Apakah ini yang dimaksud Changmin? Aku dan kebodohanku?

“Aku kotor Yun~ jangan sentuh aku lagi~” Ucap Jaejoong lirih. Butiran-butiran air mata mengalir bagaikan anak sungai yang terbentuk di pipinya.

“Boo apa yang terjadi?” Tanyaku pelan pada namja cantik itu. tapi namja itu hanya menggeleng lemah. Mata bulatnya yang bengkak menatapku penuh kesedihan.

“Aku~ aku tidak ingat Yun~” Ucap Jaejoong lagi menunduk. Aku mengangkat wajahnya dan menatap ke dalam doe eyes itu.

“Beritahu aku siapa yang melakukan semua hal buruk ini kepadamu?” Tanyaku lagi dengan penuh penekanan walaupun aku sudah mengetahui pecundang brengsek yang sudah melakukan ini semua terhadap Jaejoong. Siapa lagi kalau bukan namja yang mengaku sebagai kekasihnya?

“Aku tidak tahu Yun~ aku hanya mengingat namja itu~Hyun Joong saat terakhir sebelum aku tidak sadarkan diri~” Lirih Jaejoong lagi.

DEG

DEG

DEG

Debaran jantungku kini lebih cepat saat nama itu diucapkan oleh Jaejoong. Sudah kuduga namja itu lah di balik semua ini. Apa Ia tidak pernah puas dengan apa yang didapatnya? Mengapa harus Jaejoong? Kenapa tidak aku saja? Tidak puaskah dia menghancurkan hidupku? Kenapa sekarang Jaejoong? Kenapa!? Teriakku dalam hati.

“Boo, istirahatlah! Aku akan menemui Changmin sebentar.” Ucapku mengusap kepala namja cantik itu.

“Yun kumohon jangan tinggalkan aku!” Cegah Jaejoong menahan lenganku. Aku kembali mengusap wajah angelic itu.

“Aku tidak kemana-mana, Boo. Tolong istirahatlah.” Ucapku lagi. Jaejoong hanya mengangguk lalu merebahkan  tubuh mungilnya diatas futon. Akupun menyelimutinya dan mengecup keningnya. Hal-hal yang tidak pernah aku lakukan sepanjang hidupku dan itu semua kulakukan untuk Jaejoong. Akupun segera keluar dari apartmentku dan menggedor kamar Changmin.

“Aish! Hyung!” Gerutu namja jangkung itu saat membuka pintu apartemennya. Tanpa kata-kata akupun segera menarik lengan panjang itu untuk ikut bersamaku.

“Hyung mau kemana!?” Tanyanya. Tapi aku hanya diam saja. Sudah cukup namja itu mempermainkan hidupku. Sudah cukup Ia menghancurkan mimpiku. Tidak kali ini. Tidak dengan Jaejoongku!

(Author POV’s)

Tok!!!

Tok!!

Tok!!

Tangan besar nan kekar itu memukul keras pintu kayu megah yang ada di hadapannya. wajahnya terlihat sangat marah. Namja yang lebih muda yang berdiri di sampingnya pun kini nampak ketakutan.

Cklek!

 

Pintu besar itu pun terbuka. Sebuah kepala menyembul dari sela-sela pintu. Menatap terkejut siapa yang telah menggedor pintu begitu brutalnya.

“Tuan Jung!?” Pekik namja yang tampak uzur itu dengan pakaian pelayannya. Yunho membuka paksa pintu itu agar terbuka lebar.

“Hyun Joong!” Panggil Yunho menggelegar dari ruang tamu yang megah itu. Changmin yang tengah bersamanya sampai tidak mampu berkutik dengan perlakuan Yunho yang satu ini. Tidak lama seorang namja dengan jas rapi turun dari lantai atas. Wajahnya yang klimis tersenyum meremehkan saat melihat Yunho berdiri di tengah ruang tamu.

“Tuan Jung! Selamat datang!” Sapa namja itu dengan senyum meremehkannya.

Bukk!

Namun sebuah bogem mentah yang menjawa sapaan ‘ramah’nya itu. namja itupun tersungkur. Yunho menarik nafasnya untuk menenangkan emosinya. Satu pukulan itu belum membuatnya lega.

“Cih! Kau pulang dengan cara seperti ini!?” Remeh Hyun Joong menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Yunho pun menarik kerah baju namja itu dengan kasar.

“Kau! Tidak puas sudah menghancurkan hidupku!? Kenapa harus Jaejoong juga!!???” Teriak Yunho dan sebuah bogem kembali melayang kearah rahang pemilik marga Kim itu.

“Hyung sudah hentikan! Kau bisa membunuhnya!” Lerai Changmin menarik tubuh besar Yunho untuk menjauh dan berhenti memukuli Hyun Joong.

“Lepaskan aku Min! dia memang pantas dibunuh!” Bentak Yunho mencoba melepas pegangan Changmin.

“Aku hanya bermain sebentar dengan Joongie, hyung~ tidak kusangka Ia senikmat itu~” Ucap Hyun Joong masih dengan wajah meremehkan.

“Arghhh!” Yunho kembali menubruk tubuh Hyun Joong hingga terhempas di lantai marmer.

“Apa maksudmu hah!!!!” Bentak Yunho mencekik leher Hyun Joong.

“Kau~sudah tidak adapun masih menyiksa hidupku Tuan Jung!” Pekik namja itu kemudian melonggarkan cekikan tangan besar Yunho.

“Apa maksudmu!?” Tanya Yunho. Hyun Joong berusaha bangun dengan sekuat tenaga karena tubuhnya mulai terhuyung-huyung.

“Kau! Jung Yunho! Jung~uhuk~yang cerdas! Dan akan mengambil perusahaan ayahku! Kau pikir kau siapa anak pungut!?? Anak udik!” Teriak Hyun Joong histeris membuat tubuh besar Yunho terdiam kaku.

“Aku tidak ingin hartamu Joong! Jadi berhentilah merusak hidupku! Berhentilah mengganggu Jaejoong!” Ujar Yunho akhirnya.

“Luka di dadamu sangat ampuh Jung! Ampuh untuk membuatmu keluar dari rumah ini! Dan Jaejoong sepertinya cukup untuk membuatmu keluar dari perusahaan ayahku!” Balas Hyun Joong lagi. Yunho segera berbalik mendekati namja itu. menarik kembali kerah bajunya kasar.

“Aku sama sekali tidak berminat dengan kedudukanmu, Tuan Kim! Kau tau aku hanya pekerja kasar di perusahaan milik ayahmu! Dan aku sama sekali tidak menginginkan hartamu! Jadi pergilah kau dari hidupku, terutama Jaejoong! Kau menyentuhnya lagi dan kau akan tau akibatnya!” Ucap Yunho penuh murka sebelum mendorong tubuh itu hingga jatuh terjerembab dan pergi meninggalkan rumah itu.

“Cih! Sebegitu berharganya namja itu untuk seorang Jung!” Lengos Hyun Joong. Changmin menatap namja yang tidak lain adalah kakak sepupunya itu.

“Apa yang kau lihat bocah!?” Bentak hyun Joong ditatap seperti itu oleh Changmin.

“Aku kasihan padamu, hyung!” Ucap Changmin sembari melangkah pergi. Hyun Joong hanya tertawa.

“Aku tidak butuh rasa kasihan mu Tuan Shim! Kau sama tidak bergunanya dengan Jung!” Teriak Hyun Joong membuat langkah Changmin terhenti.

“Hyung, kau tau? Yunho hyung benar, kau menyedihkan. Setidaknya Yunho hyung bisa membuat dirinya tetap hidup walaupun tidak bergelimang harta sepertimu. Kau hanya namja cengeng yang bergantung terhadap harta Kim appa. Jadi berhentilah meremehkan Yunho hyung! Semua orang tau kau penyebab kecelakaan itu. seandainya kau tidak sepicik itu mungkin Yunho hyung pun tidak akan mengganggu hartamu! Karena Ia akan menjadi atlet yang besar. Kau menyedihkan hyung! ME-NYE-DIH-KAN!” Ucap Changmin panjang lebar sebelum Ia melangkah pergi dan berjanji tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Rumah mewah yang dihuni oleh namja menyedihkan yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan pada akhirnya tidak ada yang Ia dapatkan sama sekali. Karena semua meninggalkannya.

*Apartment Jung Yunho*

Ckrek!

Namja cantik itu segera menoleh ketika seseorang masuk ke dalam kamar apartment yang kecil itu. seorang namja dengan sebuah mole di atas bibirnya berjalan kearahnya.

“Sudah bangun? Aku antar pulang?” Ucap namja bermata musang itu.

“Pulang? tapi aku~”

“Sebaiknya kau pulang dulu, Boo.” Ujar Yunho memutus perkataan Jaejoong. Dengan berat hati namja cantik itupun mengangguk menuruti. Yunho pun akhirnya mengantar Jaejoong pulang ke rumah Junsu.

“Annyeong, Boo~” Pamit Yunho saat Ia sudah berada di depan rumah Junsu dan sudah mengantarkan Jaejoong langsung kepada Junsu.

“Kamsahamnida, Yunho-sshi!” Seru Junsu sesaat sebelum Yunho berbalik pergi. Namja itu hanya mengangguk sedikit tanpa berkata apa-apa.

“Yun~” Panggil Jaejoong tertahan. Junsu menatap sahabatnya itu. merasakan ketidakrelaan Jaejoong karena Yunho melangkah pergi.

“Hyung, ayo masuk! Dan ceritakan padaku mengapa kau berpenampilan seperti ini dan tidak pulang semalaman.” Ujar Junsu memapah Jaejoong masuk ke dalam rumah.

Tapi pikiran Jaejoong terpaku terhadap namja bermata musang itu. akankah Ia bisa bertemu kembali dengan namja itu? karena Ia ingin kembali berbagi tempat tidur bersama namja pasif itu. ingin kembali mendengar tiap celotehan pedas yang keluar dari bibir berbentuk hati itu. akankah? Akankah perasaannya juga terbalas? Karena sampai detik ini. Cinta yang dirasakan Jaejoong semakin bertumbuh dan memiliki akar yang sangat kuat. Karena cintanya sama sekali tidak memiliki alasan yang jelas. Alas an mengapa seorang Jung Yunho memiliki pengaruh besar dalam hidupnya? Mengapa Ia harus dipertemukan oleh namja dingin dan datar itu? mengapa Ia melihat bias kehangatan di mata musang kini?

 

TBC

Dont forget to leave ur Comment ^^ kamsahamnida *bow

3 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 10 The scar in the Chest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s