Love.. What To Do (chapter 4) by : parkririn


Love.. What To do

By : parkririn1611

Chapter 4

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

.

.

.

(Jaejoong POV)

“Jae..”

Aku menoleh ke belakang begitu Yunho memanggilku sekali lagi,”Hm?”

Kulihat Yunho hanya diam dan mulai berdiri kemudian berjalan kearahku. Dia tersenyum manis dan berhenti tepat ketika jarak antara kami hanya tersisa satu jengkal saja. Dia kembali tersenyum. Ah, kenapa senyumannya begitu menghanyutkan? Inikah pesona seorang Jung Yunho? Hanya dengan menatap mata musangnya dan senyumannya? Benar-benar membuat jantungku kembali berdetak kencang.

“Ayo, tidur!”

“E-eh?!”

Belum sempat aku memprotes kata-katanya, tiba-tiba Yunho menggendongku ala bridal style dan membawaku masuk ke dalam kamar. Dengan pelan ia mulai merebahkan tubuhku diatas tempat tidur kemudian menyelimuti tubuhku dengan selimut.

“Jangan mesum. Maksudku bukan tidur bersama..”

Aish~ dia ini bisa membaca pikiran orang ya? Kurasakan hawa tubuhku yang mengahangat karena ia yang entah kenapa bisa menangkap maksud protesanku tadi. Yunho kini mengambil tempat di samping tempat tidurku dan mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tempat tidur. Dari jarak sedekat ini, lagi-lagi aku tenggelam ke dalam mata musang itu. Mata itu begitu tajam, namun seperti menyiratkan sebuah perasaan yang tidak terungkap. Apa ada yang kau rahasiakan dalam hidupmu, Yunho?

“Adik-adikmu semua perempuan, tidakkah ibumu menganggapmu seperti perempuan juga?”

“Kenapa bertanya seperti itu?”

“Tingkahmu terkadang seperti perempuan, Jae..”

“Eh, itu.. Terkadang iya sih.”

Yunho kembali tersenyum dan tangannya mulai bergerak untuk mengusap rambutku. Pelan-pelan sekali gerakannya seolah aku ini adalah barang yang mudah pecah.

“Kau seperti ayahku, ayahku akan mengusap rambutku sebelum tidur..”

Yunho terkekeh kecil,”Bahkan ayahmu memperlakukanmu seperti perempuan..”

“Ya ya! Teruslah mengolokku.” Ucapku sebal sambil memngerucutkan bibirku ke depan.

“Laki-laki tidak manyun jika marah, Jae..”

Aku mengerang kesal,”Jung Yunho!!”

“Wae?”

Jung Yunho. Tampan, pintar, kaya, itu positifnya. Negatifnya? Irit bicara dan pintar membuat orang lain kesal. Rasanya aku ingin melemparnya dengan bantal, tapi berhubung tiba-tiba saja aku mengingat kebaikan dia untuk menampungku di rumahnya, niat itu terpaksa aku batalkan.

“Daripada kau membuatku kesal, bagaimana jika kau menceritakan aku sebuah dongeng?”

Yunho menaikkan alisnya,”Dongeng? Kenapa? Seperti anak kecil..”

“Setidaknya ketika kau menceritakan dongeng, kau tidak irit bicara.” Jawabku.

Yunho menghela nafasnya pelan,”Baiklah, aku akan menceritakanmu sebuah dongeng..”

“Judulnya?”

“Tidak ada judul, tidak penting..”

Aku memutar bola mataku sebagai tanda malas mendengar jawaban seenaknya tadi,”Mana ada cerita tanpa judul!”

“Eish, perempuan ini..”

“Ya! Mengolokku lagi!”

Yunho menggaruk kepalanya tanda frustasi. Aku terkikik di dalam hati melihat tingkahnya yang mulai kesal karena tingkahku, rasakan Jung!

“Baiklah, baiklah. Judulnya YJ..”

“Tunggu,” tanganku menyilang di depan dada. “Judul apa itu? YJ? Seperti inisial?”

“Jadi dengar aku mendongeng atau tidak?” Yunho membalasku.

“Iya iya..”

Yunho berdehem sebelum memulai ceritanya. Tangannya masih mengusap rambutku.

“Suatu hari disebuah negeri yang hijau dan permai, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Toho. Raja dan ratu kerajaan Toho memiliki dua orang pangeran tampan, yang tertua bernama Shin dan yang bungsu bernama Ki. Suatu hari pangeran Ki berjalan mengelilingi istana bermaksud untuk datang melihat keadaan dapur kerajaan. Ia sebelumnya tidak pernah sama sekali memasuki dapur kerajaan. Setelah lelah berkeliling, ia duduk disebuah bangku yang tidak jauh dari dapur dan tertidur di sana..”

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali karena mulai tertarik dengan dongeng yang diceritakan Yunho.

“Pangeran mengerjapkan matanya ketika ia merasa ada seseorang yang membangunkannya, begitu ia membuka matanya, ia merasa bahwa dirinya tengah bermimpi. Dihadapannya kini ada sesosok malaikat yang sangat cantik, pangeran tahu wujudnya seorang laki-laki, tapi pangeran bersumpah baru kali ini melihat laki-laki secantik itu dan hampir menyerupai sosok malaikat. Tapi ia mulai tersadar ketika melihat sosok itu ternyata menggunakan pakaian koki kerajaan. Jadi pangeran bertanya apakah ia seorang koki di kerajaan dan koki itu menjawab iya. Setelah pertemuan singkat itu, pangeran jadi sangat rajin berkunjung ke dapur kerajaan karena begitu penasaran dengan koki itu. Dan tanpa dia sadari jika ada sebuah perasaan yang mulai bersemi di hatinya.”

Yunho menghembuskan nafasnya pelan kemudian berdiri dari posisinya di sampingku tadi.

“Kenapa berhenti?” tanyaku.

“Kau harus tidur sekarang. Jalja..”

Yunho tersenyum dan berjalan keluar kamar. Tapi entah kenapa secara spontan aku menyunggingkan senyum lebar ketika melihat dia tersenyum kembali sebelum menutup pintu kamar.

.

.

.

“Kau aneh beberapa hari ini, Jae.”

“Hm?”

Aku menghentikan kegiatanku mengaduk kaldu ayam dan menoleh kearah Junsu, teman kerjaku, yang sedang mengaduk kaldu sayur,”Bagian mana dari tubuhku yang aneh?”

“Eish, bukan tubuhmu, tapi tingkah lakumu..”

“Maksudmu? Aku rasa aku baik-baik saja..”

“Tapi kau tidak secerewet biasanya.”

Aku kembali mengaduk kaldu ayam,”Begitukah? Entahlah, aku hanya merasa akhir-akhir ini chef Jung bersikap ketus.”

“Kau berbuat salah?”

Aku mengangkat bahu satu kali,”Tidak. Semua pesanan berjalan lancar seperti biasa.”

Junsu terlihat sedang membubuhkan beberapa sendok garam ke dalam kaldu sayurnya kemudian mengaduknya sebentar dan mencicipinya.

“Dia tidak mengatakan apapun lagi?” Tanya Junsu.

Aku memiringkan kepalu, berpikir, kemudian menghembuskan nafas,”Dia bilang aku ini masalahnya. Aku tidak tahu masalahnya denganku apa. Tapi dia sempat marah karena tahu aku sekarang tinggal di rumah Yunho.”

Aku kembali mengingat kejadian itu, ketika chef Jung marah dan mengatakan padaku untuk tidak tinggal di apartemen Yunho lagi. Sebenarnya dia kenapa sih? Biasanya dia akan selalu ramah dan mengajakku bercanda, tapi tiba-tiba berubah ketus. Beberapa kali aku mencoba mengingat apa ada kesalahanku di dapur yang membuatnya menjadi bersikap seperti ini padaku tapi aku ingat dengan jelas jika semua urusan dapur selalu berjalan dengan lancar.

“Kau polos atau bodoh?”

“Eh?”

Aku menggerakkan kepalaku dengan cepat menghadap Junsu, dia mengataiku bodoh?

“Jelas-jelas tandanya chef Jung cemburu.” jelas Junsu.

“Cem-buru?”

“Dia jadi senewenkan begitu kau mulai dekat dengan Jung Yunho itu? Dan jadi marah besar begitu tahu kau tinggal dengannya kan? Apa lagi kalau bukan cemburu?”

“Tapi…”

Apa benar chef Jung cemburu padaku? Rasanya tidak mungkin. Kalau dia cemburu, berarti dia menyukaiku? Chef Jung menyukaiku?! Chef Jung memang tidak kalah tampan dengan Yunho sih, tapi.. Ah! Kenapa aku malah jadi membandingkan chef Jung dengan Yunho?

“Aku akan datang terlambat untuk jam makan siang karena harus bertemu dengan seseorang..”

Sebuah suara menginterupsi kegiatanku yang sedang melamunkan chef Jung dan Yunho, dan Junsu yang masih berkutat dengan kaldu sayurnya.

“Lalu siapa yang akan menangani pesanan, chef?” Junsu bersuara.

Oh, ternyata suara chef Jung. Kini ku lihat dia yang berdiri diantara kami mengenakan celana jeans berwana khaki dan bagian tubuh atas yang tertutup mantel berwarna hitam. Wajahnya menyiratkan ketegasan dan tanpa senyum seperti biasa. Masih marah padaku?

“Chef Kim yang menangani pesanan.”

“Kim yang mana? Di sini ada banyak Kim, Kim Jaejoong, Kin Junsu, Kim HyunJoong, Kim Inhwan—‘

“Dia..”

Chef Jung menjawab pertanyaan Junsu dengan dagu yang dia gerakkan untuk menunjuk kearahku, tetapi matanya tetap tidak melihat kearahku, seolah dia benar-benar malas untuk berurusan denganku.

“Kenapa aku?”

Chef Jung mendelikkan matanya menatap mataku tajam,”Kau sudah biasa menerima pesanan. Lakukan dengan baik.”

“Ya, chef!” jawabku dan Junsu.

Chef Jung berbalik untuk pergi meninggalkan dapur namun langkahnya terhenti lagi dan kembali menghadap kami berdua.

“Dua bulan lagi kalian akan mengkuti kompetisi chef, pastikan mulai hari ini kalian berlatih. Kau, Kim Jaejoong, chef utama..” chef Jung menunjukku dengan jari telunjuknya.

“Dan Kim Junsu asistennya..” akhir chef Jung dengan menatap Junsu.

“Ok, chef..” jawab Junsu dengan tenang,

“Jika kalian menang, kalian bisa sekolah ke Italia.” Lanut chef Jung.

Aku membelalakkan mataku lebar. Italia? Bersekolah ke Italia? Aku benar-benar tersihir dengan kata-kata bersekolah ke Italia, itukan mimpiku semenjak bekerja di restoran ini. Siapa pun pasti ingin meneruskan karir chefnya denfan bersekolah ke Italia. Dengan ini aku bahkan akan semakin dekat dengan impianku menjadi professional chef dan membuka restoran sendiri.

“Aku akan mengawasi latihan kalian mulai malam ini setelah jam kerja dan pagi hari sebelum mulai bekerja..”

(End of Jaejoong POV)

.

.

.

(Author POV)

Yunho menatap keluar café dan melihat keadaan diluar. Orang-orang dengan berbagai kesibukan sedang berjalan melewati café, ada yang berjalan santai dengan teman-temannya, ada pula yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa beberapa dokumen di tangan mereka seolah sedang dikejar waktu. Kepalanya mendongak kearah langit, dan menemukan langit sedang ditutupi awan kelabu. Tanpa minat ia kembali menyesap kopi yang sudah habis setengahnya. Baru saja ia akan bangkit untuk meninggalkan café, seseorang datang dan duduk dihadapannya.

“Maaf menunggu, macet.”

Yunho menatap malas orang itu,”Langsung ke intinya saja.”

Orang itu tersenyum kecut,”Bahkan kau belum memberiku kesempatan untuk menghirup nafas atau sekedar menyesap secangkir kopi, ku dengar café ini menyediakan cappuccino yang enak..”

“Aku tidak punya banyak waktu.”

Orang itu kini mengangkat kedua tangannya tanda menyerah,”Baiklah, presiden direktur yang sangat sibuk..”

“Jangan membuatku mengungkit hal itu lagi!” jawab Yunho ketus.

“Aku tidak ingin Jaejoong tinggal di tempatmu lagi.”

Singat. Padat. Dan jelas. Orang itu mengutarakan keinginannya kepada Yunho dan disambut dengan tatapan tajam Yunho. Ia bukannya membenci orang ini, hanya saja terkadang ia sangat tidak suka dengan perkataan orang ini yang terus saja memerintahnya. Kalau saja ia bisa, ia pasti sudah memukul wajah orang menjengkelkan ini.

“Tidak.”

“Harus!”

“Kenapa harus? Kau bukan siapa-siapanya untuk melarangku ataupun dia.” jawab Yunho dengan sengit.

Orang itu lagi-lagi tersenyum kecut,”Tidak ingatkah kau juga bukan siapa-siapanya?”

Kali ini orang itu membalikkan keadaan. Yunho juga sadar sebenarnya jika dirinya bukan siapa-siapa Jaejoong yang berhak menentukan Jaejoong akan tinggal dimana. Tapi ia tidak mau mengalah lagi pada orang ini. Ia sudah terlanjur merasa nyaman dengan kehadiran Jaejoong di apartemennya dan hidupnya.

“Kau menyukainya?”

“Aku bossnya dan aku merasa perlu bertanggunggjawab atas bawahanku dan menjamin kenyamanannya.”

Yunho tertawa mengejek,”Kalau dia nyaman berada di tempat tinggalku lantas kenapa harus mendengarkan keinginanmu itu?”

“Kau juga menyukainya kan?” orang itu membalas pertanyaan Yunho dengan pertanyaan yang sama.

“Kalau iya?”

Yunho merasa sudah jengah dengan orang dihadapannya ini dan bangkit dari duduknya. Ia menatap sengit lawan bicaranya.

“Kenapa tidak tanyakan langsung padanya apakah dia merasa nyaman di tempatku dan harus pindah atau tidak?”

Orang itu membalas menatap Yunho sengit.

“Mari bersaing dengan sehat!” Yunho kembali berbicara sinis.

Orang itu terlihat mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarahnya.

“Aku tidak ingin mengalah dengan kata-kata memerintahmu lagi, chef Jung Il Woo,” Yunho mendecakkan lidahnya. “Tidak lagi, hyungku tersayang..”

.

.

.

Pukul 23.45 dan Yunho baru saja sampai apartemen, moodnya benar-benar bhuruk karena pertemuan tadi siang. Baru saja ia akan menekan kode pintu apartemennya, seseorang datang dan berdiri di sampingnya.

“Kenapa baru pulang? Ku pikir kau sudah berada di dalam..” tanya Yunho sambil menekan kode pintu dan mendorong pintu agar terbuka.

Yunho dan Jaejoong masuk ke dalam apartemen dan melepaskan sepatu mereka di dekat pintu. Jaejoong berjalan gontai dan menjatuhkan dirinya di sofa dan diikuti oleh Yunho.

“Aku akan mengikuti kompetisi memasak, jadi setelah jam kerja dan sebelum kerja aku harus berlatih.” Jelas Jaejoong.

Yunho hanya menghela nafas mendengar penuturan Jaejoong. Ia tahu pasti bahwa ini semua ulah kakaknya, tapi di sisi lain juga Yunho mendoakan agar Jaejoong bisa menang dan menjadi koki terkenal pada akhirnya.

“Jangan terlalu memforsir jika kau lelah. Koki juga butuh istirahat”

Jaejoong mengangguk pelan.

“Jae?”

“Hm?”

“Apa kau nyaman tinggal di sini?”

Jaejoong memposisikan badannya menghadap Yunho dan menghembuskan nafasnya berat.

“Aku sangat nyaman tinggal di sini, tapi aku juga merasa tidak enak jika harus menumpang terus denganmu. Apa kau kerepotan denganku?”

“Tidak. Kalau kau merasa nyaman, tinggallah terus di sini kalau kau mau..’

Jaejoong melebarkan matanya mendengar perkataan Yunho,”Tap-tapi aku merasa tidak enak menumpang..”

“Bagaimana jika kau membayar padaku sesuai dengan harga sewa apartemenmu yang lama? Bukan menumpangkan namanya?”

Jaejoong mengerjapkan matanya dengan imut,”Jinja? Bolehkah?”

Yunho mengangguk menjawab pertanyaan Jaejoong.

“Lagipula jika ada kau, aku jadi tidak perlu memakan makanan instan terus..”

“Benar juga, aku bisa memasakkanmu setiap hari, lagi pula kan lambungmu bermasalah..”

Yunho hanya terus mengangguk membenarkan kata-kata Jaejoong dan menyeringai dalam hati.

“Mianhae, hyung. Urusan cinta mari kita bersaing..”

.

.

.

To be continue…

Hahahaaha xD author nggak jelas kembali..
Review ne?^^

3 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 4) by : parkririn

  1. Ceritanya bagus, ternyata bosnya jae itu kakaknya yunho, wah bakalan jadi persaingan yg seru nih dua saudara memperebutkan cintanya jae….

  2. Apa author terinspirasi dari film korea yang chef ” itu, pasta kalo ga salah judulnya,
    Tapi kerenlah lah jadi yunho ama il woo kaka adik , suka sama orang yang sama
    wow..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s