Love.. What To Do (chapter 5) by : parkririn


Love.. What To do

By: parkririn


Chapter 5

 

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

.

.

.

(Yunho POV)

Aku sedang memeriksa beberapa dokumen para pemegang saham, meneliti setiap huruf dan angka kalau-kalau ada yang tidak benar. Menjadi presiden direktur bukanlah hal mudah, bahkan waktu, tenaga, dan pikirankulah yang paling banyak terkuras. Setiap hari memeriksa dokumen, mengecek setiap proyek yang berjalan, memastikan semua berjalan dengan lancar tanpa masalah sedikit pun, membuat para pemegang saham, investor, dan konsumen merasa puas dengan kualitas yang kami berikan. Tapi bukan Jung Yunho namanya kalau menyerah hanya untuk pekerjaan. Aku tidak pernah mengeluh, ini semua adalah tanggung jawab yang diberikan Ayah padaku, jadi ya.. sebagai anak yang berbakti, aku tentu harus membuatnya senang dan bangga terhadapku.

Oh, jangan tanyakan aku tentang kakakku. Aku menghormatinya sebagai kakakku, tapi aku tidak ingin tahu tentang kehidupannya dan sama sekali malas berurusan dengannya. Waktu aku masih kecil ku akui jika aku selalu bergantung padanya, bermain bersamanya, kemana-mana bersamanya, tidur bersamanya. Tapi itu dulu. Semakin beranjak dewasa, semakin aku benar-benar tidak ingin bertatap muka atau berbicara padanya. Dan itu yang menjadi salah satu alsan mengapa aku memilih tinggal terpisah dengannya, walaupun Ayah dan Ibu menyuruhku untuk tinggal satu apartemen dengannya. Hanya di depan Ayah dan Ibu saja aku akan menegurnya dengan sopan.

“Hh..”

Aku menghembuskan nafas dengan kasar dan melepaskan kacamata minusku. Terlalu lelah untuk melanjutkan membaca dokumen-dokumen ini. Aku beranjak dari kursi kerjaku dan duduk di sofa.

“Sudah malam ya?” Gumamku ketika melihat jam dinding.

Drrt.. Drrt..

Aku merogoh kantung celanaku ketika merasakan getaran telepon genggamku. Ada pesan masuk rupanya.

.

From : JJ Kim

Yun, jangan lupa makan^^

.

Aku tersenyum begitu melihat isi pesan masuknya. Jaejoong mulai membuka dirinya untukku, meskipun kini aku dan Jaejoong jarang berbicara langsung, tapi hanya dengan mendapat pesan dari Jaejoong yang mengingatkanku untuk makan, hatiku sudah berbunga-bunga.

Selama dua minggu ini Jaejoong selalu berangkat sebelum aku bangun dan pulang begitu larut. Ketika aku bertanya pun, dia menjawab bahwa dia harus mempersiapkan dirinya untuk kompetisi itu. Tapi aku juga dapat melihat raut wajahnya yang menyiratkan kelelahan. Selain bertukar pesan dan berbicara sebentar ketika ia pulang, kami tidak pernah mengobrol lama-lama lagi. Jaejoong akan langsung pergi tidur begitu sampai di apartemen. Aku pun tidak tega untuk menahannya lebih lama.

Aku akui jika aku merasa kesepian dan sedikit tidak bersemangat karena tidak bisa mengobrol dengan Jaejoong seperti sebelum-sebelumnya. Aku sengaja pulang sedikit larut setiap harinya untuk mengetahui apa Jaejoong menungguku pulang atau tidak. Tapi yang ku dapati ketika masuk ke apartemen adalah lampu yang masih padam, yang artinya dia belum pulang. Setiap malam, aku mencemaskannya jika ia pulang terlalu larut, tidak jarang juga aku menawarkan diri untuk mengantar dan menjemputnya, tapi ia menolak dengan tegas.

Aku tahu jika kakakku yang mengantarnya pulang setiap hari, aku pernah melihatnya. Ada perasaan lega ketika aku melihat Jaejoong pulang dengan keadaan selamat, tapi rasa cemburuku benar-benar menguasai melihat ia mau saja diantar kakakku, sementara ia menolakku. Tapi yah.. Aku bisa apa? Menunggunya pulang dan menanyakan kabarnya melalui telepon adalah hal yang bisa aku lakukan sekarang. Sial! Kakakku benar-benar mencuri start begitu jauh, kan?

“Yo man!”

Aku terkesiap dan buru-buru memasukkan telepon genggamku begitu mendengar suara Yoochun yang mengagetkanku.

“Sudah beratus-ratus kali aku katakan untuk mengetuk pintu, Park Yoochun!” desisku.

Yoochun hanya mengangkat bahunya merasa tidak peduli dengan ucapanku barusan. Dia menempatkan dirinya disampingku sambil menepuk bahuku.

“Presdir kita belum pulang ya? Pekerja keras, hm? Tapi aku perhatikan beberapa hari ini ada dua hal yang berbeda pada dirimu.”

“Apa?” tanyaku tanpa menoleh pada Yoochun.

Yoochun menyilangkan kedua tangannya di depan dada,”Pertama, wajahmu yang biasanya tampak bersinar, maskulin, dan bersih, kini tampak pucat. Kedua, walaupun wajahmu pucat, tapi kau rajin sekali tersenyum. Jadi, ada yang mau menjelaskan?”

Aku menghembuskan nafas berat lagi.

“Entahlah, aku merasa akhir-akhir ini tidak nafsu makan—“

“Wow! Tahan Jung! Jadi yang menyebabkan kau sering muntah dan mengeluh sakit diperutmu karena kau jarang makan?”

Aku menghembuskan nafas kasar lagi, sepertinya sudah seratus kali aku menghembuskan nafas.

“YA! Kau mau mati?!”

“Eish…”

Aku reflek menutup telingaku mendengar lengkingan Yoochun dan melayangkan tatapan tajam padanya,”Aku tidak tuli, jangan berteriak.”

“Pantas saja kau selalu merasa sakit pada perutmu, ternyata karena kau jarang makan. Lalu apa tugasnya sekretarismu jika tidak memperhatikan asupan gizi bosnya?”

“Dia sekretaris, bukan ahli giziku. Memangnya aku itu dirimu? Sekretaris merangkap teman tidur?” sindirku.

Aku membenarkan kata-kata Yoochun dalam hati. Karena jarang makan, perutku lagi-lagi berulah kesakitan. Bagaimana aku bisa makan jika aku saja tidak selera  makan?

“Baiklah, baiklah.. Jangan bicarakan kekasihku, Jung. Lalu yang mebuatmu menjadi selalu tersenyum?”

Aku menoleh menatap Yoochun dengan tersenyum lebar,”Jatuh cinta?’

Yoochun terkekeh,”Aigoo~ kau—“

“Argh!”

Yoochun baru saja akan menggodaku, namun perutku mendadak perih kembali. Aku mencengkram  kuat pinggiran sofa sementara mataku terpejam begitu rapat menahan perih.

“Ya! Yunho! Gwenchana? Eish! Bagaimana?! Yunho!”

(End of Yunho POV)

.

.

.

Dapur itu masih mengepulkan asapnya meskipun jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Jaejoong dan Junsu masih terlihat sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan yang sedang mereka olah. Junsu yang saat ini masih sibuk menambah bumbu-bumbu ke dalam supnya, sementara Jaejoong yang kini menyusun masakannya diatas piring keramik lebar berbentuk bunga.

“Ku lihat hubunganmu dan chef Jung semakin membaik ya? Bahkan kelewat mesra..”

Jaejoong sedikit tersentak mendengar pertanyaan dan argumen Junsu. Namun ia kembali berkonsentrasi dengan menyusun makanannya. Junsu benar, Jaejoong mengakui hal itu. Selama persiapan untuk kompetisi chef ini, chef Jung mulai bersikap seperti biasanya dengan Jaejoong. Bahkan ya.. yang seperti Junsu katakan, sedikit lebih mesra. Jaejoong sedikit geli mendengarnya, dia memang sedikit-sedikit menunjukkan perhatiannya kepada chef jung, tapi ia kira justru chef Jung lah yang memberinya perhatian begitu banyak.

Setiap pagi, chef Jung menjemput Jaejoong untuk pergi ke restoran. Menanyakan bagaimana kabar Jaejoong dan apakah tidurnya nyenyak. Di dapur pun, chef Jung akan selalu memperhatikan Jaejoong, mengingatkan untuk berhati-hati terhadap peralatan masak, dan setiap makan siang, ia yang akan selalu mengontrol gizi asupan Jaejoong.

Meskipun Junsu tahu dari dulu jika chef Jung menaruh hati pada Jaejoong, tapi dia tidak bisa membutakan penglihatannya. Bukannya merasa iri, tapi sedikit risih karena chef Jung selalu saja melakukan skinship kepada Jaejoong. Ketika Jaejoong berkeringat, chef Jung dengan senang hati akan mengelap keringat Jaejoong. Ketika Jaejoong terlihat terlalu bersemangat memasak, chef Jung akan mengusap lengan Jaejoong dan dengan pandangan yang super lembut mengingat Jaejoong untuk berhati-hati. Junsu jadi jengah.

“Hei, Jae.. Kau jatuh cinta juga dengan chef Jung? Ku lihat kau tidak menolak, tapi juga tidak membalas segala kontak fisik yang chef lakukan padamu. Yah, walaupun aku tahu kau terkadang suka memberi perhatian juga kepadanya. Kenapa kalian tidak berpacaran saja sih? Atau memang sudah resmi ya?”

Jaejoong mengelap kedua tangannya yang habis dicuci dan langsung beranjak menuju tempat Junsu yang kini sedang memberi hiasan diatas supnya.

“Kau cerewet ya?” cibir Jaejoong.

“Tidak kah kau berkaca Tuan Kim Jaejoong?” balas Junsu.

Jaejoong hanya terkekeh mendengar jawaban Junsu. Namun seketika matanya menerawang ke dalam hatinya. Ia sendiri benar-benar tidak yakin dengan perasaanya. Ada rasa senang melihat perlakuan chef Jung yang melembut kepadanya, terkadang pipinya merona pula jika chef Jung mulai memperhatikannya dengan berlebihan. Tapi Jaejoong tidak bisa menolak dan belum bisa menerima keadaan seperti ini. Ia hanya menikmati semua perhatian chef Jung padanya. Ia menunggu hati kecilnya untuk menuntun dirinya menerima semua keadaanya dengan chef Jung atau malah menolaknya.

“Aku belum yakin, Su-ie. Hatiku belum mengatakan apapun..”

“Lalu apa kabarnya si presdir Jung Yunho itu? Kau tidak pernah membicarakannya lagi. Tapi aku pernah memergokimu yang sedang mengiriminya pesan untuk mengingatkannya makan.’

Jaejoong kali ini tersentak. Ia lupa akan satu hal. Jung Yunho. Ia memang rajin mengirimi Yunho pesan untuk mengingatkan makan, karena ia pun menyadari karena terlalu sibuk menyiapkan diri untuk kompetisi, ia dan Yunho jarang mengobrol seperti sebelum-sebelumnya. Sedikit rindu pada namja bermata musang itu, tapi ia juga merasa belum yakin. Yunho adalah pribadi yang berbeda dengan chef Jung.

Jika chef Jung adalah orang yang begitu banyak bicara, maka Yunho dalah orang yang pendiam. Jika chef Jung adalah orang yang selalu mengekspresikan perasaannya dengan perlakuan seperti kontak fisik, maka Yunho hanya menggunakan kedua mata musangnya untuk memperlihatkan perasaannya. Jaejoong menyukai perhatian yang chef Jung berikan, tetapi ia juga menyukai interaksi yang ia ciptakan ketika mengobrol begitu panjang dengan Yunho, dimana mata mereka bertemu untuk mengungkapkan emosi yang mereka sampaikan disetiap kata yang mereka ceritakan.

“Aku… tidak tahu.”

Junsu mendengus kasar. Ia tahu jika Jaejoong memang belum pernah berhubungan dengan siapapun sebelumnya, maka dari itu ia akan tahu jika Jaejoong akan sulit memilih antara chef Jung dan Yunho.

“Jae, ayo pulang!”

Pembicaraan Jaejoong dan Junsu terhenti mendengar seruan chef Jung. Junsu memutar kedua bola matanya dan beranjak membereskan seluruh peralatan masak begitu melihat chef jung mengamit lengan kanan Jaejoong.

“Junsu, segera rapikan peralatan dan pulang dengan hati-hati. Besok adalah hari besar.. Kami duluan ya..”

Chef Jung berseru kepada Junsu sembari mengambil ransel Jaejoong dan meraiknya keluar dari dapur. Junsu hanya menghela nafasnya pelan dan berdoia agar Jaejoong mampu menentukan pilihannya.

.

.

.

“Loh? Kenapa kita ke apartemenmu, chef?”

Jaejoong melongo begitu chef Jung memarkirkan mobilnya di basement gedung apartemen chef Jung. Ia bahkan tidak menyadari jika dirinya dibawa ke apartemen bossnya itu.

“Malam ini kau akan menginap di tempatku, berhubung besok adalah hari kompetisi, aku tidak ingin sesuatu menimpa dirimu..”

Begitu chef Jung membuka pintu apartemennya, Jaejoong masuk dan langsung kagum dengan isi apartemennya,”Astaga! Dapurmu indah sekali chef!” pekik Jaejoong.

Matanya berbinar-binar menjelajahi dapur menawan milik chef Jung, sudah lama Jaejoong bermimpi memiliki dapur seperti ini. Desainnnya benar-benar cantik, jemari Jaejoong menelusuri setiap senti meja dapur yang di hiasi dengan hiasan pualam berwarna hitam. Jaejoong benar-benar dibuat tidak bisa berkata-kata dengan dapur ini.

“Kau menyukainya?” tanya chef Jung.

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Kau bisa memilikinya kalau kau mau..”

Jaejoong mengerjapkan matanya,”Eh? Bagaimana bisa, chef?”

Chef Jung hanya tersenyum dan berjalan mendekati Jaejoong. Jaejoong dapat melihat jika chef Jung menatap kedalam matanya begitu dalam. Begitu sampai dihadapan Jaejoong, chef Jung menundukkan kepalanya dan sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya ke awajh Jaejoong. Jaejoong merasa jika dirinya begitu gugup dengan jarak sedekat ini dengan chef Jung, ia tahu jika chef akan menciumnya, tetapi ia bahkan tidak dapat menggerakkan wajahnya.

Jaejoong seketika menarik nafas ketika merasakan bibir tipis chef Jung menyapu permukaan bibirnya. Hanya beberapa saat kecupan itu berubah menjadi sebuah lumatan-lumatan, yah.. walaupun hanya chef Jung yang melakukannya. Jaejoong hanya diam, tidak berniat membalas namun tubuhnya menolak untuk menghentikan ciumannya. Perutnya terasa sakit dan geli bersamaan, gugup tetapi begitu penasaran dengan ciuman pertamanya.

“Maafkan aku, Jae..” chef Jung melepaskan tautan bibirnya dari Jaejoong,”Aku mencintaimu, jadilah milikku..”

.

.

.

Mianhae, mianhae… Saya minggu-minggu ini lagi marathon sakit, dari demam, pilek, dan batuk. Jadi maaf kalau chapter ini begitu pendek. Mianhae ne? Tapi chapter depan janji akan panjaaaaang ne? Sekitar 3 chapter lagi akan tamat. Haha. Jja, jangan lupa review yaa^^ Maaf kalau ada typo…

 

3 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 5) by : parkririn

  1. Akhirnya updaaate yaay! \(^w^)/ aduuuh chef Jung ini apa apaan seenaknya main cium cium aja -_- yunho juga cepetan dong geraknya nanti Jae keburu diambil lho. Keren nih parkririn-ssi, lanjutin terus ya soalnya saya juga ga sabar hehe. Dan cepat sembuuuh~ get well soon~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s