[FF] Coffee Of Love – Part 12 Green Field


Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 12- Green Field

I know it maybe late now
And I know that I’m taking over
But I’m here and I’m a super hero
And I can save you
Baby I know you can forget the things I’ve done
I know I’ve been away
But I can save you now

Super hero by Lunafly

(Jaejoong POV’s)

Matahari bersinar cerah di akhir musim dingin. Aku pun tengah bersiap di depan cermin setelah selang beberapa hari ini hanya terkurung di rumah karena luka-luka di wajahku yang belum sembuh. Tapi hari ini aku siap untuk melangkahkan kakiku ke suatu tempat dimana aku ingin sekali berterima kasih kepadanya. Dan mengajaknya untuk menatap kembali bahwa masa lalu tidak sepenuhnya buruk.

Tok!

Tok!

Tok!

Aku mengetuk pintu kayu yang nampak rapuh itu. menunggu agar pintu itu segera terbuka. Tidak lama pintu reyot itupun terbuka dan menampakkan sosok yang aku ingin lihat seminggu terakhir ini. Wajah bangun tidur dan piyama yang masih melekat di tubuh atletisnya.

“Annyeong Yunho-ah!” Sapaku penuh semangat saat melihat namja ini mengucek matanya dan menyipitkannya di depanku.

“Mau apa?” Tanyanya dengan nada yang masih sama. Dingin dan datar. Akupun mulai mengerucutkan bibirku kesal karena perlakuannya yang selalu berubah-ubah. Entah itu hanya perasaanku saja.

“Mengajakmu jalan-jalan!” Seruku masih dengan bersemangat.

“Tidak mau. Pulang sana!” Usirnya hendak menutup pintu. Akupun cepat-cepat mencegah pintu itu tertutup dengan mendorongnya.

“Aish! Aku mau tidur!” Gerutu namja berbibir hati itu.

“Tidak boleh! Cepat pake mantelmu dan ayo kita jalan-jalan!” Seruku mendorong-dorong tubuh besar itu keluar dari kamar apartment.

“Aish mau kemana sih!?” Tanyanya mulai tidak sabaran. Sedangkan aku hanya tersenyum-senyum saja.

 

*Sebuah Lapangan yang Hijau*

“Apa-apaan kau Boo!?” Tanya namja bermata musang itu penuh kekesalan karena aku membawanya ke dalam stadion Rugby yang tampak sepi dan lengang. Tapi aku hanya tersenyum menatapnya sembari mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel yang kubawa.

“Pakai ini! Sekarang!” Perintahku. Namja bermata musang itu kini membulatkan matanya tak percaya menatap apa yang kuserahkan padanya. Seragam lamanya.

“Tapi~”

“Pakai sekarang!” Perintahku lagi sembari berkacak pinggang. Dengan malas Ia pun melepas mantelnya dan memakai seragam Rugby bernomor 56 itu.

“Puas?” Tanyanya ketus. Aku pun terbengong melihat seragam itu melekat di tubuh atletisnya. Betapa tampan dan indahnya namja di depanku dalam balutan seragam lama itu. seakan akupun ikut ke dalam masa lalunya.

“Boo!?” Panggilannya membuat ku tersentak dari lamunanku. Aku pun segera mengeluarkan bola lonjong dari dalam ranselku dan spontan melemparnya kearah namja di depanku.

Grep!

Bola lonjong itu pun sukses mendarat di tangan kekarnya dengan mulus. Spontanitas yang sepertinya masih seperti dulu.

“Apa lagi ini Jaejoong!?” Pekik namja itu menyebut namaku. Membuatku menahan tawa.

“Aku sudah tau semuanya Jung Yunho! Aku hanya ingin lihat apakah kau memang hebat!” Tantangku. Yunho mendengus kesal karena perkataanku.

“Kau menantangku ya!?” Ucapnya. Akupun mengangkat bahu sembari tersenyum mengejek ke arahnya. Yunho akhirnya masuk perangkapku.

Grep!

“Yak! Yun! Apa yang kau lakukan!?” Pekikku ketika tubuh besar itu tiba-tiba menabrakku dan menggendongku di bahunya.

“Kau kan menantangku pabo! Dalam rugby begini caramu menyela lawan!” Ucapnya penuh semangat. Tapi Yunho lantas memutar-mutar badannya dengan diriku yang ada di dalam gendongannya.

“Aish! Mana ada yang seperti ini!?” Gerutuku saat Ia menurunkanku dan tertawa mengejek. Lalu melempar bola lonjong itu ke pelukanku.

“Yak! Sekarang kau lempar saat aku sudah melambaikan tangan!” Serunya sembari memundurkan langkahnya beberapa hingga berada agak jauh dariku. Lalu Ia pun mulai melambaikan tangannya. Dengan segera akupun berancang-ancang melempar bola lonjong itu kearahnya.

Syut!!!

Bola lonjong itu pun terlempar ke angkasa dan menukik ke arah namja bermata musang itu. Yunho memundurkan langkahnya dengan cepat hingga bola lonjong itu tertangkap bersamaan dengan jatuhnya Yunho. Akupun segera berlari saat namja itu tidak bangkit lagi.

“Yun!” Pekikku saat berada di depannya. Menatap mata kecil itu terpejam sembari memeluk bola lonjongnya.

“Yun!?” Pekikku lagi kali ini sambil menggoyang-goyangkan tubuh besarnya.

Grep!

Tiba-tiba tangan besarnya menjangkau tanganku dan menjatuhkanku di sampingnya. Membuatku kaget setengah mati. Aku merengut kesal saat melihatnya tertawa puas. Tapi kemudian aku tersenyum. Tidak biasanya aku melihat namja bermata musang ini tertawa dengan lepasnya seperti hari ini. Pancaran matanya terlihat sangat berbeda. Lebih hangat. Lebih bersahabat. Lebih memiliki jiwa.

“Jadi kau begitu mencintai Rugby eoh?” Tanyaku saat kami masih tidur terlentang di lapangan hijau yang luas itu menatap cerahnya langit biru.

“Nde~ Rugby itu cinta pertama dan sejatiku!” Ungkapnya membuat hatiku sedikit berdenyut mendengarnya. Sebegitu cintanya Ia terhadap olahraga ini hingga lima tahun terakhir Ia tampak seperti robot.

“Tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku menemukan penggantinya.” Ucapnya kemudian. Akupun menoleh kearah wajah kecil yang masih menatap langit itu.

“Syukurlah~”

“Namanya Kim Jaejoong.” Akupun segera menoleh kembali dan menemukan manic coklat itu kembali menatapku dengan seulas senyum yang bahkan sulit untuk digambarkan. Senyuman indah dari seorang Jung Yunho.

“Eh kenapa kau malah menangis!?” Pekik Yunho tiba-tiba ketika tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Namja itu bangkit dari tidurnya bersamaan denganku.

“Hiks.. benarkah itu? hiks..” Tanyaku malah terisak. Namja itu mengangguk sembari tersenyum.

“Mian ne Boo. Aku sudah memperlakukan mu kasar. Membuatmu menderita karena semua tingkah bodohku ini. Aku menyesal Boo. Sungguh! Aku terima jika kau tidak mau memaafkanku dan sudah melupakan cintamu padaku. Aku terima itu.” Jelas Yunho menundukkan kepalanya.

PLAK!

Sebuah tamparan kulayangkan ke pipi namja berkulit gelap itu. Yunho pun mengerjapkan matanya tak percaya sembari memegangi pipinya.

“Kau pabo! Mana mungkin aku tidak memaafkanmu! Aku~ aku mencintaimu Yun!” Seruku setengah kesal sembari mengelap airmataku seadanya. Tiba-tiba tangan besar itu meraih syal merah mudaku dan menariknya hingga wajah kami berdekatan.

“Aku juga~” Ucapnya sembari mencium bibirku lembut. Berbagi kehangatan nafas yang kini bersatu dengan indahnya.

 

(Yunho POV’s)

Aku menjauhkan wajahku dari wajah bagai malaikat yang kini tersipu malu di depanku. Dalam hati aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan telah mengirimkanku malaikat tanpa sayap yang kini telah melepaskan beban yang selama ini menggelayuti hatiku. menghapus setiap awan hitam yang selama ini menutupi hatiku. menghilangkan setiap duka yang merasuk ke dalam hatiku. sekaligus mengangkat beban perasaanku terhadapnya yang selama ini tanpa sadar telah membuatku gila. Mencintainya seakan menemukan kembali cintaku yang hilang. Mungkin aku tidak bisa lagi berlaga sebagai seorang atlit Rugby tapi itu sudah tidak masalah lagi bagiku karena kini ada Jaejoong yang telah mengantikan seluruh kecintaan ku terhadap olahraga itu. dan kini tidak akan kubiarkan seorangpun merusak hidupku lagi. Tidak akan kubiarkan seseorang merampas apa yang kucintai. Tidak kali ini!

“Ayo pulang!” Ajakku padanya sembari menarik tangannya agar berdiri dari duduknya. Kemudian mengambil mantelku.

“Aku lapar Yun~” Rengeknya manja. Aku menatap wajah angelic itu sebelum tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.

“Mau makan apa?” Tanyaku sembari berjalan menuju pintu gerbang stadion. Jaejoong pun tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang pucat pasi.

“Boo? Gwenchanayo?” Tanyaku melihat wajahnya yang kelihatan tidak baik.

“Aku mual Yun~” Ucapnya tertahan. Aku segera menggiringnya ke toilet di dekat lapangan. Namja berwajah cantik itu segera memasuki salah satu bilik toilet.

“Hoek~~” Kudengar suara muntahannya dan itu membuatku menjadi tidak tenang. Kenapa bisa Ia tiba-tiba sakit. Padahal tadi terlihat sangat baik.

“Yun~” Panggilnya lirih. Aku pun segera berlari mendekatinya yang terduduk lemah di samping toilet.  Wajahnya makin pucat saja.

“Boo!? Kenapa boo!?” Ucapku panic saat Jaejoong tiba-tiba saja tidak sadarkan diri. Dengan sekuat tenaga kuangkat tubuh namja mungil itu dan berlari menuju klinik terdekat di daerah itu. segala macam pikiran berkecamuk di dalam otakku. Tapi satu yang pasti aku berharap Jaejoong baik-baik saja.

 

*Rumah Sakit*

Tanganku mengepal. Keringat mulai berjatuhan dari pelipisku. Aku menatap tegang sosok ramping yang tengah terbaring lemah di atas ranjang besi. Tetesan demi tetesan cairan infuse seakan terdengar jelas di telingaku. Otakku membeku sulit untuk mencerna kata-kata yang di sampaikan dokter kepadaku.

‘Jaejoong mengandung, mungkin sekitar seminggu. Janinnya masih sangat rapuh..’

Sampai sekarang aku masih tidak mempercayai apa yang baru saja aku dengar. Jaejoong mengandung? Anak siapa? Anak… aku bahkan tidak berani melanjutkan kata-kataku. Bagaimana kalau Jaejoong tau? Apa yang akan dilakukannya? Apa yang harus kulakukan? Meninggalkannya? Anni, pikiran bodoh apa itu! Aku akan bertanggung jawab. Anak siapa pun itu! sialan kau Joong! Puaskah kau kini sudah merusak semuanya!? Aku menggeretakkan gigiku menahan amarah yang kian meluap di dalam diriku.

“Engh~” Lenguh Jaejoong membuatku tersadar dari lamunanku. Kudekatkan tubuhku untuk menggapai tangannya.

“Boo?” Panggilku saat kedua mata hitam itu perlahan terbuka. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. entah apa yang kurasakan kini. Ada marah ada kecewa saat tau bahwa Jaejoong mengandung yang bukan anakku.

“Yun~ dimana?” Tanyanya lirih menatapku bingung. Aku menggenggam tangannya erat.

“Rumah sakit, Boo.” Ucapku. Jaejoong berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi aku menahannya agar Ia tetap berbaring.

“Aku kenapa Yun?” Tanyanya lagi. Pertanyaan yang membuat lidahku kelu untuk menjawab. Apa yang harus aku katakana kepadanya? Aku tidak sanggup untuk mengatakan bahwa Ia tengah mengandung. Sungguh tidak sanggup.

Ckrek!

Tiba-tiba pintupun terbuka dan aku melihat seorang dokter dan seorang suster berjalan memasuki kamar.

“Anda sudah sadar Jaejoong-sshi? Bagaimana perasaan anda?” Tanya dokter yang nampak sudah berumur.

“Aneh, dok~” Ucap Jaejoong lemah. Dokter itupun menyentuh perut Jaejoong dengan stetoskopnya.

“Wajar anda merasa aneh Jaejoong-sshi. Janin yang anda kandung masih sangat muda. Jadi anda harus berhati-hati. Kandungan anda pun sangat lemah jadi anda harus lebih banyak istirahat. Baiklah kalau begitu saya pamit dulu.” Ucap dokter itupun kemudian berlalu keluar kamar. Jaejoong nampak terperangah dengan apa yang dikatakan dokter. Mata bulatnya kemudian menatapku dengan berkaca-kaca.

“Aku~hamil!?” Pekiknya tidak percaya. Aku hanya mengangguk kaku. Namja cantik itu bangkit dari tidurnya dengan tiba-tiba.

“Siapa!? Siapa!?” Histerisnya mencengkram tanganku. Aku hanya menatapnya sendu. Tidak mampu berkata-kata.

“Yun! Siapa!? Aku tidak mau anak ini!! Hiks hiks! Aku tidak mau!!” Histerisnya lagi sembari memukul-mukul perutnya. Dengan panik aku segera meraih tangannya dan memeluk tubuh rapuh itu. Jaejoong terisak di dalam pelukanku. Tangisan pilu yang pertama kali kudengar dari namja yang selalu ceria ini.

“Boo, mian~” Bisikku. Jaejoong semakin menambah isakannya. Ia berusaha memukul-mukul perutnya tapi aku menahannya.

“Ini pasti bukan anakmu Yun! Ini anak namja brengsek itu! Yun kumohon keluarkan dia dari dalam perutku! Aku tidak mau!! Hiks hiks! Yun~!” Histerisnya lagi dalam pelukanku. Aku pun semakin mempererat pelukanku.

“Boo, uljimma~aku akan bertanggung jawab atas semua yang menimpamu~” Bisikku tanpa melepas pelukanku dari namja mungil itu. mungkin inilah bayaran yang harus kutebus atas kebodohanku telah menyia-nyiakan satu-satunya orang yang mencintaiku tanpa alasan. Seberapa sering aku menyakitinya. Dan Ia masih berkata bahwa Ia mencintaiku.

.

.

.

Aku mengusap lembut rambut sutra berwarna putih milik Jaejoong. Menatap lirih tubuh langsing yang tengah terbaring lemah. Sepasang doe eyes hitam itu kini tengah tertutup karena kelelahan menangis. Akupun melangkahkan kakiku menuju keluar kamar sembari mengetikkan pesan kepada Changmin agar Ia datang dan menjaga Jaejoong selama aku pergi.

 

(Author POV’s)

Tubuh besar itu tengah terduduk di sebuah sofa besar dan nyaman di balik sebuah meja kayu yang mewah. Wajahnya menegang menahan amarah menatap seorang namja yang tengah menatapnya dengan remeh.

“Jadi aku harus bertanggung jawab? Begitu?” Ucap namja dengan tampang klimis itu.

“Kau sudah membuatnya mengandung Joong!” Sentak Yunho mengepalkan tangannya. Kini namja bermata musang itu tengah duduk di dalam kantor milik Hyun Joong.

“Kau yakin itu anakku? Kenapa kau tidak tanya juga pada ketiga temanku yang ikut bergabung?” Ucapnya lagi membuat darah semakin mendidih di kepala Yunho. Giginya menggeretak menahan kekesalan yang membuncah.

“Kau benar-benar keji Joong! Cukup kau rusak hidupku! Jangan Jaejoong!” Bentaknya membuat tawa meremehkan terdengar dari bibir namja bermarga Kim itu.

“Baiklah aku akan memberikanmu cek!” Ucapnya lagi sembari menuliskan sebuah angka pada lembaran cek dan melemparkannya pada Yunho.

“Gunakan itu untuk menggugurkan kandungannya, baru seminggu kan?” Ucapnya lagi tanpa rasa bersalah. Yunho bangkit berdiri dan segera menarik kasar kerah namja di depannya.

“Kau sungguh keterlaluan Joong! Sungguh! Apa yang kau inginkan sebenarnya!? Hah!?” Seru Yunho membahana. Hyun Joong hanya berdecak.

“Cih! Aku hanya mau kau serahkan saham yang Ayahku berikan padamu.” Ucapnya. Yunho membulatkan matanya tidak mengerti. Dilonggarkannya cengkraman pada kerah Hyun Joong.

“Saham? Saham apa? Aku tidak mengerti!” Seru Yunho. Hyun Joong kembali melengos.

“Kau pura-pura bodoh eoh? Kau dan Shim itu mempunyai warisan saham-saham ayahku! kau tau!?” Seru namja itu sinis. Yunho menggeleng.

“Aku tidak tahu! Lagipula ambil saja saham milikku dan jangan ganggu aku lagi!” Seru Yunho beranjak pergi. Tapi bahunya dicekal oleh namja yang lebih kecil darinya itu.

“Tidak semudah itu Tuan Jung! Saham mu ada di Paris sana! Dan kau harus pergi untuk menandatanganinya. Oh serta ke Jepang juga bersama Shim Changmin. Dia juga harus menyerahkan sahamnya padaku!” Ucap Hyun Joong lagi.

“Kau benar-benar serakah Joong! Ambil milikku jangan Changmin juga! Dia saudaramu!” Seru Yunho membuat Hyun Joong tertawa dengan nada mengejek.

“Sejak kapan Ia jadi saudaraku? Tidak pernah! Jadi kau mau atau tidak? Setelah itu aku tidak akan peduli lagi padamu atau namja cantik itu walaupun Ia cukup menarik~”

Bukk!

Yunho menghantam rahang namja itu hingga jatuh tersungkur. Namja bermata musang itu tidak terima saat Hyun Joong mengatakan ‘menarik’ dengan nada menjijikkan seperti itu. Ia tidak terima Jaejoong secara tidak langsung dikatakan pelacur oleh sampah yang tersungkur di depannya.

“Akan kulakukan apa yang kau mau Joong! Tapi jangan dekati Jaejoong!” Bentak Yunho sebelum meninggalkan ruangan itu.

 

TBC

Please leave ur comment, kamsahamnida ^^

One thought on “[FF] Coffee Of Love – Part 12 Green Field

  1. Jae hamil?😮
    Pasti jae tertekan banget😦
    Yaampun hyunjoong bener2 deh, kalo cuma karna warisan yun kenapa jae dibawa2 *ngasahgolok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s