F(Love) Chapter 4


F(Love)

Chapter : 4/?

Rating : T, PG, to NC (perhaps?)

Genre : Romance, family, friendship

Cast : YunJae, TH5K, Yunho x (upcoming character)😛

Disclaimer : YunJae belongs to shipper, TH5K belongs to cassie and God, Changmin belongs to me. :p Story is mine.

Warning : Bahasa sastra yang muter-muter. Suka misterius. New author. Bakal lama di update. Campus life.

Summary : Di dunia ini, semua hal bisa dirumuskan, atau begitu menurut seorang Jung Yunho, seorang anak yang kelewat rajin. Tapi benarkah begitu? Apa jadinya kalau, Kim Jaejoong, orang yang selalu membuatnya melawan pahamnya sendiri datang? When love makes no more equation.

 

Tidak banyak yang berubah, malah semua hal cenderung kembali ke keadaan semula. Maksudnya, benar-benar semula, kembali ke kehidupan seorang Jung Yunho yang tidak perduli kepada lingkungan sekitarnya, Jung Yunho yang dingin, yang geek, yang tidak lagi menikmati hidupnya.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Siang itu, Yunho menikmati makan siangnya dengan setengah hati. Entah mengapa, hatinya sakit sendiri mengingat penolakan yang dilancarkan Kim Jaejoong padanya. Dan dia, dia merasa sangat bodoh telah mencium Jaejoong saat itu dengan penuh hasrat, melumat bibir itu.

‘Sialan! Kalau seperti ini sih sudah pasti aku kecanduan bibir merah itu.’

Yunho cepat-cepat menampik pikiran sekali lagi. Kalau Jaejoong sudah memperjelas semuanya, kenapa dia harus memaksakan diri untuk masuk lagi ke kehidupan Jajeoong? Semua ada alsannya, kan? Kalau begitu, Jaejoong sudah punya alasan yang tepat untuk tidak ‘menerima’ Yunho, jadi buat apa Yunho harus bersusah payah lagi?

Yunho mengangkat nampan makan siangnya, berdiri meninggalkan kursi tempatnya duduk, dan membuang seluruh makanannya yang rata-rata baru dijamah tidak sampai separuh. Terlalu malas untuk melanjutkan makan.

‘Kenapa ya, untuk pertama kalinya, aku merasakan sakit yang amat sangat, tanpa alasan yang pasti?’

———————————————————– f(love) ———————————————————————

HMPFHH!!!

Jaejoong menjerit-jerit tertahan, tidak kuasa menahan tangisannya. Ketakutan, itu lah yang dirasakan Jaejoong sekarang. Bagaimana tidak, matamu ditutup, kedua tangan dan kakimu terikat, mulutmu tertahan, dan kau bahkan tidak tahu kau berada di mana saat ini.

TAP! TAP! TAP!

Suara kaki orang melangkah semakin jelas menggema, menggelitik gendang telinga Jaejoong.

“Sudah kubilang kan Jae? Kau tidak boleh masuk dan menyentuh apa yang jadi milik orang lain. Lagipula kau kan sudah punya Changmin. Kenapa kau masih terus berhubungan dengan Yunho di handphone, eoh?”

Jaejoong ketakutan. Sekujur bulu kuduknya meremang, tetapi dia tidak melakukan apapun supaya air matanya tidak tumpah. Semakin ia menangis, ia sangat yakin bahwa akan semakin menjadi-jadi orang – yang entah siapa – ini menyiksanya secara psikologis.

“Tapi aku sudah memeriksa detail dari handphone-mu tadi. Aku senang kau sudah melakukan hal yang benar. Yunho bukan milikmu, dan sepertinya, ‘pengajaranku’ yang sebelum-sebelumnya telah mengena ke hatimu dan otakmu secara langsung, eoh? Tampaknya kali ini aku salah paham.”

SRAK!

Dengan sekali tarikan, lakban penutup mulut Jaejoong terlepas. Jaejoong merasakan dagunya digerakkan, dan tiba-tiba saja, deru napas yang sangat dekat menderu wajahnya.

“Bibir ini…” Jaejoong merasa kepalanya digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan. “Pantas saja Yunho tidak tahan menciumnya…”

“Katakan siapa kau, dan mengapa kau selalu menerorku dengan ancaman akan membunuh Yunho kalau aku macam-macam?! Apa salah Yunho padamu? Apa salahku pada Yunho? Apa salahku padamu? Kenapa kau begitu ingin Yunho menjauh dariku? Kami kan jelas-jelas saling,” Jaejoong menarik napas. Entah mengapa dia takut merasa narsis sendiri, tapi inilah satu-satunya argumen paling masuk akal yang dia punya. “Kami jelas-jelas saling mencintai.”

Detik berikutnya Jaejoong merasa pusing karena kepalanya didorong dan dihentak dengan kasar ke belakang. Tak lama kemudian, tawa seram membahana di seantero ruangan yang menurut Jajeoong kecil itu.

“Salah Yunho padaku? Kesalahan? Ckckck.” Jaejoong merasa langkah kaki itu menjauh dari tempatnya didudukkan. Sesaat dia merasa lega, tetapi dia hampir saja pingsan, ketika tiba-tiba, sebuah lengan mengepit lehernya dan hembusan napas masuk ke dalam telinga sensitive miliknya. “Dengar, akan kubuat ini perlahan dan jelas, ne? Salah Yunho padaku, adalah karena dia tidak pernah melihatku sedikitpun, tidak perduli seberapa sering aku mencoba dan berusaha. Tidak perduli, sehebat apapun aku bersabar, dia selalu mengacuhkanku. Dan saat aku merasa aman-aman saja, karena toh walaupun aku tak pernah berhasil mendapatkannya, dia tetap tidak menunjukkan perhatian spesial kepada seseorang, kau datang, dengan segala hal yang kau bawa. Membuat Yunho tergila-gila, merubahnya. Kau tahu, aku tidak suka itu. Aku tidak suka apa yang kumiliki diambil orang lain. Kalau ada sesuatu yang terjadi setelah ini, apapun bentuknya, salahkanlah dirimu, dirimu yang lancang masuk ke kehidupan orang lain. Dan aku adalah orang yang akan menghentikanmu terus melakukan itu, bahkan kalau itu berarti aku harus membunuh Yunho, membuatmu tersiksa, kemudian aku pun akan membunuhmu dengan senang hati.”

Jaejoong hampir saja menjawab, ketika kesadaran meninggalkannya perlahan-lahan.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Jaejoong mengerjapkan matanya perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya.

‘Di mana aku?’ Batin Jaejoong bertanya-tanya. Matanya mencari ke sana kemari tanda-tanda bahwa memorinya itu hanya sebuah mimpi, hanya untuk kecewa bahwa itu sama sekali bukan mimpi. Saat ini Jaejoong berada dalam keadaan mengenaskan. Tergeletak di pinggiran jalan, asing. Tidak ada siapapun yang lewat.

Jaejoong tidak takut hantu, tidak pula merasa trauma mendalam. Tetapi sendiri dan kesepian adalah hal yang paling dibencinya.

Jaejoong rela menukar apapun untuk sebuah pelukan, dari siapapun orang-orang yang dikasihinya. Junsu, Yoochun, Changmin, Yun, ahh yang terakhir itu tidak mungkin. Perlahan Jaejoong meletakkan telapak tangannya ke aspal yang dingin karena udara malam, mendaratkan lututnya, mencoba untuk berdiri. Dengan terseok-seok, Jaejoong berusaha berjalan entah ke mana sesuai instingnya.

DIN DINN!

Entah sudah berapa jauh Jaejoong berjalan ketika tiba-tiba, sinar lampu mobil dan suara klakson menyadarkannya. Sedikit rasa ragu terbersit dalam hati dan benaknya.

‘Bisa saja mereka baik, tapi bagaimana kalau mereka memanfaatkanku? Biar bagaimanapun, aku tidak mengenal daerah ini!’

Cukup lama ia menimbang. Semakin lama, semakin dekat suara klakson dan sinar itu ke telinga dan indera tubuhnya.

Dan entah mengapa, Jaejoong akhirnya memutuskan berlari. Tidak bisa terlalu kencang mengingat tenaganya telah habis. Semakin ia berlari, semakin cepat mobil di belakangnya melaju. Jaejoong kehabisan akal. Di tengah napasnya yang tersenggal-senggal, Jaejoong menoleh dan memberanikan diri. Tidak perduli lagi atas nasib apa yang akan segera menimpanya, tetapi ia sungguh-sungguh tidak kuat berlari lagi.

“Jaejoong-hyung, kau kah itu?”

Jaejoong yang telah berani memutuskan untuk mempertaruhkan hidupnya hanya bisa terpaku. Bagaimana bisa orang itu mengenalnya?

“Jaejoong hyung!”

Detik berikutnya orang dari dalam mobil itu berlari kecil dan menghampiri Jaejoong yang berdiri terpaku.

“Cchh, Changmin? Mengapa kau bisa di sini? Jaejoong bertanya dengan tersenggal-senggal. Napasnya mulai habis dan kesadarannya menipis.

“Loh? Bukannya kau sendiri yang mengirim e-mail untuk menjemputmu di tempat antah berantah ini?”

Jaejoong mengerjapkan matanya, menyadari betul kesadaran mulai meningalkannya. E-mail dari siapa? Mungkinkah pelaku penculikannya itu yang mengirimkan e-mail dari hp nya ke Changmin?

“E-mail? Ahhh.. Shhudd…Ah…Lahhh… Syukurlah.. .Khhauhh… Dhattahangghh.”

BRUK!

“Jaejoong-hyung!”

———————————————————– f(love) ——————————————————————–

Ketika kesadaran itu kembali ke dalam tubuh Jaejoong, ia berhadapan dengan fakta bahwa ia terbaring di rumah sakit, selang IV menusuk pembuluhnya, Changmin yang berbaring di sofa dekat tempatnya tidur, dan perasaannya yang jauh lebih baik.

Jaejoong merasa kerongkongannya kering. Matanya menoleh ke samping kiri kasurnya dan menemukan segelas air duduk manis di sana, di atas meja nakas. Perlahan Jaejoong mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas itu, meneguk isinya sampai habis, dan berusaha mengembalikannya perlahan, tidak berniat membangunkan Changmin.

PRANG!

Ternyata usahanya sia-sia karena ketika berusaha mengembalikannya, tangan kanannya yang tertusuk jarum iv berdenyut dan membuatnya ngilu. Hal ini mau tidak mau membuat namja kelewat tinggi, yang tadi terlelap, terbangun dan menoleh ke arah sumber suara.

Jaejoong yang menyadari ‘kebodohannya’ tidak bergeming. Changmin berjalan dengan langkah lebar-lebar ke tepi kasur Jaejoong, menatap pecahan gelas yang berhamburan di bawah kakinya.

Jaejoong menunduk, terlalu takut untuk melihat wajah Changmin. Dari sudut mata Jaejoong, bisa dilihatnya Changmin mengangkat lengannya. Jaejoong menutup matanya rapat-rapat, siap merasakan ngilu yang akan segera mendera pipinya, hanya untuk merasa sepasang lengan memeluk tubuhnya dengan erat.

Dalam ragu, Jaejoong masih tetap menutup matanya, sampai ketika ia merasakan pundak Changmin bergetar.

Changmin menangis? Kenapa?

“Jangan membuatku khawatir lagi, hyung. Kau hampir membuatku mati.”

Dengan cepat Jaejoong membuka matanya dan dihadapannya, tampaklah Changmin yang sedang menangis sesengukan.

Bingung, Jaejoong tidak tahu harus berbuat apa. Pada akhirnya, Jajeoong hanya menggerakkan tangannya, mengelus punggung Changmin perlahan, naik turun.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Yunho mencoret-coret asal kertas yang terpampang di hadapannya. Seluruh soal itu telah diselesaikannya dengan baik, 50 soal dalam 15 menit, jauh lebih cepat dari biasanya. Namun kali ini, Yunho sama sekali tidak merasa bahagia. Tidak berminat bahkan untuk memberitahu 15  murid lainnya yang masih berkutat dengan soal-soal yang sama dengannya.

Dari sudut matanya, Yunho tahu kalau Karam, namja menyebalkan itu, masih terus dengan setia mengerjakan soalnya, sesekali melirik Yunho.

Biasanya, Yunho akan merasa senang. Di matanya, dahulu, Karam lah orang yang mengerti sama sepertinya, kalau dunia dipenuhi dengan ekuasi yang tersambung satu sama lain, jadi tidak mungkin ada hal terjadi tanpa alasan. Karam yang seperti itu membuatnya ‘tenang’ karena ia tidak benar-benar merasa ‘berbeda.’

Tetapi untuk pertama kalinya, Yunho sama sekali tidak setuju dengan segala bentuk ekuasi dan alasan di balik segala sesuatu, karena rasa sakit yang mendera hati dan pikirannya belakangan ini, sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, rumit maupun sederhana.

Yunho lelah. Lelah dengan semua ini. Tidak ada dalam kamusnya untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Tetapi demi soal-soalnya! Saat Jaejoong berkata ia harus ‘mengakhiri’ segalanya dengan Yunho, Yunho  ingin melakukan apapun untuk menjaga Jaejoong tetap bersamanya.

DRRT! DRRT!

Yunho menatap malas ke handphone nya. Sudah pasti yang menghubunginya antara Junsu dan Yoochun. Dua manusia itu tidak berhenti mengingatkannya untuk latihan, hal yang diacuhkannya selama 3 minggu belakangan. Alasannya? Sederhana! Yunho sama sekali tidak bisa melihat Jaejoong di sana.

Yunho membiarkan hp nya bergetar terus.

“Tidak diangkat, hyung?” Karam bertanya sambil tersenyum manis – nan menjijikkan – di mata Yunho.

“Tidak. Biar saja. Paling telepon iseng.”

“Ohh…”

BRAKK!

Tiba-tiba pintu ruangan mereka berlatih olimpiade dikejutkan sebuah suara menggelegar dan menggangu dari pintu yang didobrak dengan keras.

“Di sini rupanya kau sembunyi namja tidak bertanggung jawab!” Junsu menggeram dengan nada rendah, dengan langkah lebar-lebar, Junsu menarik Yunho keluar ruangan.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

“Junsu, tahan emosimu!” Yoochun berusaha membuat Junsu duduk di bangku sepanjang lorong kampusnya, tentu saja ditepis Junsu begitu saja dengan sepenuh tenaga.

Yunho menatap nanar, dalam diam, Junsu yang berada dalam puncak emosinya. Tidak berniat membantah ataupun sekadar menjawab.

Yoochun berdiri di tengah-tengah dua manusia yang berada dalam puncak emosi mereka, dengan dilemma menyerang dirinya, berusaha untuk tetap netral. Yoochun berdiam diri, membiarkan dua manusia lain di sekitarnya melemparkan pandangan menusuk satu sama lain. Yoochun hanya bisa menghela napas. Dia mengerti alasan Yunho tetapi dia juga mengerti alasan Junsu. Dan dia seakan berada di antara dua jurang, di ujung keduanya siap menelan korban, tetapi dia tidak tahu siapa yang harus dia selamatkan.

“Katakan padaku, Jung! Apa maumu!”

Yunho bergeming. Tidak berniat berbicara sama sekali.

“Aku bicara padamu, Jung!” Junsu menaikkan suaranya satu oktaf.

Yoochun mengedarkan matanya menatap Yunho, lurus, memohon agar Yunho mengerti situasi mereka saat ini, agar dia dapat mengatakan sebuah kata, apapun, setidaknya untuk menenangkan Junsu. Namun bisa ditebak, Yunho bergeming. Tidak perduli, dengan amarah menusuk kalbu yang dikeluarkan Junsu, maupun isyarat permohonan dari dalam bola mata Yoochun.

Junsu mengacak rambutnya sendiri. Terlalu frustrasi bahkan untuk berkata-kata.

“Dengar ya, Jung! Kupertaruhkan segala peraturan klub untuk membuatmu dapat masuk ke sana. Kutembus semua peraturan dan kuletakkan jabatan ketuaku dalam bahaya ketika menempatkanmu dalam tim inti untuk lomba kita, 26 Desember mendatang. Kau pikir ini lomba main-main? Aku tahu lomba ini tidak sebeken olimpiademu tapi bisakah kau sedikit mengingat komitmenmu? Bukan aku yang memaksamu untuk masuk ke dalam, tetapi aku menyambut baik permintaanmu. Apa sih maumu? Karena Jaejoong, berubah?”

Mendengar nama Jaejoong disebut, suara Yunho tercekat. Rasanya ia ingin membanting kursi di sudut lain lorong kampusnya, kursi yang hanya terdiam membisu sejak tadi.

“Kau tidak mengerti apa-apa. Diam saja.” Yunho akhirnya angkat bicara.

“Diam? Kau minta aku diam? Acara tanggung jawabku di ujung tanduk dan kau minta aku untuk diam?! Dengar ya, apa yang terjadi antara kau dan Jaejoong itu urusan pribadimu, bukan urusan klub ini. Jangan mempermainkan kesabaranku, Jung. Aku sudah bicara baik-baik denganmu sejak lama.”

Yunho mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk, memasukkan telapak tangannya ke saku bajunya, menatap Junsu dan Yoochun sinis.

“Maaf, tanggal 26 Desember aku ada olimpiade. Aku lupa. Cari saja orang lain.”

Dan Yunho pun berlalu. Mengacuhkan amarah Junsu yang telah terkumpul di kepalanya, seakan siap disemburkan melalui mulutnya.

Yoochun tercengang mendapati respon Yunho yang demikian. Ia tidak tahu apakah ia harus berjalan menghampiri Yunho, menonjok wajahnya, atau menenangkan Junsu yang emosi.

‘Sialan kau Jung! Urusan cintamu membuat orang pusing!’

Tiba-tiba Yunho berhenti dari langkahnya, dan bergumam.

“Terima kasih pernah menyesatkan pikiranku. Ternyata selama ini aku benar. Semua hal dalam hidup ada ekuasi, persahabatan juga cinta. Kalian menyesatkan ekuasiku, membuatku bingung. Sekarang solusiku telah ada, yakni pergi dari kalian, kembali pada hidupku yang lama.”

Kali ini, Yoochun melangkah mendekati Yunho, dengan cepat, menarik kerahnya.

“Lihat mataku baik-baik, Jung! Aku tidak perduli sekelam apapun masa lalumu, itu bukan urusanku. Ketika kau diterima di dalam klub ini, kau mau tahu alasannya, mau tahu ekuasinya? Cari sana sendiri, tapi sederhananya, kami menyayangimu, kau punya bakat, cukup motivasi. Ingatkah kau, Jung?! Sejak awal kami menerimamu untuk membantumu bisa bersama Jaejoong, dan sekarang kau sendiri yang memutuskan menyerah! Bukan urusanku kalau kau punya masalah dengan Jaejoong! Sekarang aku mau tanya padamu, kalau memang semua di dunia ini menggunakan ekuasi, adakah ekuasi yang mengisyaratkan alasan sebab-akibat kau dilahirkan?! Sampai kepada kau menemukan alasannya, katakan padaku dengan lantang! Kau mencintai Jajeoong, kami mencintaimu, sebagai sahabat! Terus butuh apa alasan apa lagi?! Kalau kau memang ingin lari dari tanggung jawab, bilang saja, itu bukan urusanku! Tapi tidak usah bawa-bawa ekuasi di sini. Aku tahu kau cerdas! Tapi alasan kosongmu membuatku muak! Tenggelam saja dalam ekuasimu terus, nikahi saja kalau perlu formula itu, atau lahirkan saja anak berupa angka!”

Yunho hanya terdiam, mematung. Tak lama, langkah saling menjauh dapat terdengar satu sama lain. Junsu dan Yoochun pergi, begitu pula Yunho.

 

“Hyungg~~ Kita hari ini membahas soal di café Snow Storm ya, jangan lupa berdandan casual saja. ^_^”

Begitu pesan Karam tadi pagi yang hinggap di handphone Yunho. Di sinilah Yunho sekarang, ‘terjebak’ bersama namja yang berdandan dengan sweater turtle neck rajut, lengan panjang sampai separuh telapak tangannya tertutupi, celana skinny dan sepatu sneakers.

Yunho? Kaos dan jeans, tentu saja.

Ketika mendapat pesan dari Karam tentang tempat latihan mereka, Yunho terlalu malas bahkan untuk mencerna kata-kata dalam pesan itu. Masalah dandanan, mana Yunho perduli. Kalau ada penghargaan manusia ter-careless masalah mode, yah, Yunho sepertinya masuk dalam nominasi itu.

Karam terus menerus mengajaknya bicara, merecokinya dengan makanan, memanyun-manyunkan bibir, yang tentu saja, dibalas Yunho seperlunya, kemudian ditinggalkan mengerjakan soal lagi.

Seperti saat ini. Untuk kesekian kalinya, Karam bertanya lagi-lagi.

“Hyung kau tidak lapar?”

“Tidak?”

“Kau tahu, crème bule di sini terkenal kelezatannya loh. Waffle nya juga.”

“Oh. Terima kasih.”

“Mau kupesankan satu?”

“Tidak terima kasih. Aku tidak suka manis.”

“Kenapa cokelat panasmu tidak diminum, hyung?”

“Kan tadi sudah kubilang aku maunya Americano. Kau ngotot beli yang itu, bukan salahku dong aku tidak minum. Aku kan tidak suka manis.” Yunho menjawab sekenanya terus sambil menatap kertas soalnya.

Karam terdiam.

“Hyung?”

“Apalagi?” Yunho bertanya dengan jengah.

“Apa kau tidak berniat, hum, kau tahu, ehm, pacaran?”

Yunho terdiam. Aktivitas menulisnya terhenti. Alisnya berkerut. Karam berharap sebuah jawaban yang panjang, tetapi, hanya sebuah kalimat menohok yang diterimanya.

“Bukan urusanmu.”

“Hyung, aku kan dekat denganmu! Aku dongsaeng yang perduli padamu!

“Terus?”

“Hyung!”

Karam cemberut. Dia kesal setengah mati, terlihat jelas pada wajahnya yang memerah.

“Hyung, kau tidak seru sekali sih!”

“Tak usah banyak bicara, kerjakan saja soalmu supaya kita bisa cepat pulang.” Yunho berkata dengan dingin.

“Aku kan perduli padamu, hyung. Sekali saja aku ingin kau menikmati hidupmu. Aku ingin kau melihat kue-kue manis ini, melihat bahwa hidupmu bukan hanya tentang soal-soal ini, walaupun kita sama-sama menyukainya. Aku ingin kau tahu manisnya belajar di luar. Bukan seperti ini yang aku inginkan. Aku ingin kita bisa sama-sama merasa relaks tapi tetap belajar. Kenapa sih kau tidak peka, hyung!”

‘Hiks~’

Sesengukan mulai terdengar dari sisi tempat duduk Karam, membuat Yunho mengangkat kepalanya. Semakin lama, suara itu semakin keras. Yunho merasakan pandangan orang di sekitarnya mulai menatapnya seakan-akan dia adalah pacar Karam yang kejam, sebagian berbisik-bisik, ‘Lihat dia. Jahat sekali ya namja itu.’

Melihat itu Yunho menjadi terdiam sendiri. Ditinggalkannya Karam sendiri menuju kasir, tak lama, digandengnya Karam menuju mobilnya.

“Mau ke mana hyung?” Karam bertanya sambil menatap Yunho.

“Mengatarmu pulang, supaya kau bisa merasakan kebahagiaanmu sendiri, dan meninggalkan aku berbahagia dengan caraku, mengerjakan tugas akhirku dan soal-soal konyol pemberianmu ini.”

Demi daun berguguran, saat ini Karam ingin sekali menguliti Yunho.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Setelah perdebatan panjang, dan setelah Yunho harus berusaha untuk tetap netral saat mengantar Karam. Setelah perjalanan yang seakan tak kunjung berakhir, setidaknya bagi Yunho, akhirnya, ia tiba juga di rumah. Kepalanya pening direcoki terus kata-kata menyebalkan dari mulut Karam.

Setibanya di gerbang depan rumahnya, mata Yunho tertuju kepada setumpuk kertas yang ada di dalam kotak pos rumahnya. Digenggamnya kertas-kertas itu dengan malas, digemboknya gerbang rumahnya, dan segera ia menuju ke dalam rumahnya. Mandi sepertinya dapat menjadi sebuah hiburan mewah baginya saat ini.

———————————————————– f(love) ———————————————————————

Sambil menggosok-gosok rambutnya yang masih basah, Yunho mengambil undangan yang tadi diterimanya.

Diraihnya segelas air di night stand.

‘Tagihan listrik.’

‘Tagihan asuransi.’

Yunho membuang satu per satu kertas-kertas itu dengan malas. Pada kertas terakhir, keningnya berkerut, matanya menatap dengan penasaran kertas yang saat ini digenggamnya.

‘Undangan? Aku memang sudah di tingkat akhir sih, tapi kelulusan kan masih sebentar lagi. Udah mau nikah aja.’

Detik berikutnya, rasanya Yunho menyesal karena telah mengambil dan membaca undangan itu.

You are cordially invited

to celebrate the wedding of

Shim Changmin

and

Kim Jaejoong

On 26th December 2016

at 8 A.M

Azabu Church

BRAK! Yunho membanting undangan itu sepenuh tenaga.

“ARGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”

————————————————————————— TBC ———————————————————————–

 

Hallo!! It’s beeen a verryy long time! Say, 2 months hiatus from me? Mianhaeee~~~~ Hummm this is the continuationn~~ Hope you love itt~

Akan segera berakhir, stay tune terus yaa! SUKSES DI DUNIA DAN AKHIRAT!

*Lui dee (Lookinguptothesky) loves youuu~~~😀 *

 

 

 

 

 

2 thoughts on “F(Love) Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s