[FF] Coffee Of Love – Part 13 Hurt


Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 13 – Hurt

I would hold you in my arms
I would take the pain away

And I’ve hurt myself by hurting you

 

(Author POV’s)

Ckrek!

“Hyung! Apa yang kau lakukan!?” Pekik sosok jangkung itu saat membuka pintu kamar rumah sakit. Tubuhnya segera berlari guna mencegah sosok mungil di hadapannya naik ke kursi plastic.

“Lepaskan aku! Biarkan aku mati, Min!!” Histeris namja cantik itu saat Changmin menyeretnya turun dari kursi plastic yang dinaiki Jaejoong.

“Kau sudah gila, hyung!? Untuk apa kau mau menggantung dirimu!?” Pekik Changmin mencengkram bahu Jaejoong yang histeris. Namja cantik itu hendak mengakhiri hidupnya dengan menggantung dirinya di jendela rumah sakit. Jika saja Changmin terlambat mungkin cerita takdir berkata lain.

“Aku hamil, Min! aku tidak ingin anak ini!!” Histeris Jaejoong lagi membuat Changmin terperangah tak percaya. Perlahan namja jangkung itu mengendurkan cengkramannya di bahu Jaejoong. Membuat namja brwajah feminis itu bergerak mundur hingga tubuhnya membentur dinding di belakangnya.

“Min? Jae? Mwoyo!?” Pekik suara bass yang tiba-tiba terdengar dari arah pintu. Changmin menoleh dengan kakunya menatap wajah hyungnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Yunho pun segera menghampiri tubuh mungil yang bergetar di sudut kamar.

“Min ada apa? Cepat katakan!?” Tanya Yunho bingung melihat pemandangan keduanya yang nampak berantakan.

“ Jae Hyung mencoba bunuh diri…” Ucap Changmin akhirnya.

Namja bermata musang itupun mencoba untuk menggandeng tangan mungil yang sedari tadi terus menepis tangannya agar Ia tidak menyentuhnya. Walaupun begitu Yunho tetap gigih agar Jaejoong mau digandeng olehnya karena jalannya yang tertatih.

“Jangan sentuh aku!” Histeris Jaejoong membuat seluruh mata di lorong rumah sakit itu segera tertuju pada keduanya. Yunho pun terdiam menatap tubuh Jaejoong yang kini berjalan meninggalkannya. Ia mengerti mengapa namja cantik ini menjadi histeris setiap kali Ia mencoba menyentuhnya hanya untuk memapah atau sekedar menggandeng tangan mungilnya, Ia terluka fisik dan psikis.

“Aku antar pulang?” Tanya Yunho memberanikan diri saat keduanya telah sampai di pelataran parkir rumah sakit.

“Aku tidak punya rumah!” Pekiknya masih tanpa mau menatap wajah Yunho. Yunho hanya bisa menghela nafasnya pelan melihat perubahan sikap yang dialami Jaejoong.

“Kau punya,” Sambung Yunho lagi. Mata bulat itupun seketika menatap ke dalam manic coklat milik Yunho. Bibirnya bergetar menahan buliran halus yang tidak bisa Ia bending di sudut matanya.

“Ayo pulang ke rumahku.” Ajak Yunho selembut mungkin sembari mengangsurkan tangannya kearah Jaejoong. Namja cantik itu terdiam lama sebelum akhirnya menyambut tangan Yunho. Tangan besar itupun menggandeng Jaejoong pulang bersamanya.

.

.

.

*One Month Later*

(Yunho POV’s)

“Kau yakin Boo?” Tanyaku pada namja cantik yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya di Coffee Cojjee. Namja cantik itu hanya tersenyum kecil lalu mengangguk menjawab pertanyaanku. Aku terdiam melihat seragamnya yang agak ketat di bagian perut karena perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit.

“Sudah lama aku tidak bekerja, Yun~ tidak apa.” Ucapnya kemudian. Aku hanya menghela nafas tidak bisa membantah. Sejak keluar rumah sakit sebulan yang lalu, Jaejoong kembali menetap di apartemen kecilku ini agar aku bisa menjaganya tapi aku juga mengerti jika Ia ingin keluar dari apartemen sempit ini karena tidak banyak yang bisa dilakukan.

“Tapi kata dokter~”

“Gwenchana Yunnie~aku kuat kok!” Ucapnya tersenyum kearahku. Aku semakin tidak bisa membantahnya. Aku hanya takut terjadi apa-apa saat Ia bekerja. Dokter bilang kandungannya sangat rapuh. Suatu keajaiban jika janin itu mampu bertahan lebih dari satu bulan. Tapi ini kan belum satu bulan dan harusnya Jaejoong beristirahat tapi namja cantik ini sangat keras kepala sehingga akupun harus mengalah menahannya.

“Aku antar ne?” Tawarku dijawab sebuah anggukan. Aku pun menggandengnya dan berjalan perlahan. Terutama saat menuruni tangga. Walaupun bayi yang dikandungnya kemungkinan besar bukan anakku tapi aku harus tetap menjaganya karena mahluk hidup itu bernaung di dalam rahim orang yang paling aku kasihi.

“Yun kenapa kau begitu baik pada calon bayi yang bukan anakmu?” Tanya Jaejoong tiba-tiba saat aku tengah menyalakan mesin motorku.

“Karena Ia separuhnya adalah dirimu.” Ujarku singkat menjawab pertanyaannya sembari memakaikan helm ke kepala namja cantik itu. mata hitamnya menatapku dengan berkaca-kaca.

“Uljimma Boo, ayo naik nanti terlambat!” Ujarku lembut pada namja itu. Jaejoong pun naik dan duduk di belakangku. Kuraih tangannya agar berpegangan ke pinggangku.

“Pegangan yang erat Boo!” seruku lagi sebelum menggas motorku menuju Coffee Cojjee.

(Jaejoong POV’s)

“Aku akan menjemputmu, telepon aku jika ada apa-apa!” Ujar namja bermata musang itu padaku. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia pun tersenyum sebelum beranjak pergi dari sana. Kutatap punggung kekarnya yang terbalut jaket kulit hingga hilang di tikungan jalan. Aku pun berjalan masuk ke dalam Coffee Cojjee. Entah sudah berapa lama aku tidak datang ke tempat ini karena berbagai kekacauan yang terjadi pada hidupku akhir-akhir ini.

“Hyung!? Lama tidak jumpa! Kau sedang hamil eoh!?” Sapa namja bermata mirip kucing itu tiba-tiba sesaat setelah aku meletakkan tasku. Aku hanya mengangguk kaku menjawabnya.

“Chukkae ne!” Serunya menggenggam kedua tanganku sambil tersenyum.

“Gomawo~” Jawabku sembari tersenyum lirih.

“Joongie!” Tiba-tiba sebuah suara menyapa pendengaranku. Key segera menyingkir saat namja dengan dahi luasnya itu mulai berjalan dengan cepat kearahku.

“Kau baik-baik saja? Suie sudah menceritakan semuanya padaku. Aish! Aku benar-benar tidak menyangka!” Repet Yoochun padaku. Ia pun memapahku ke ruang kerjanya.

“Bagaimana keadaanmu Joongie-ah?” Tanyanya lagi sembari mendudukkan ku di sofa di ruang kerjanya.

“Aku lebih baik, Chun.” Ucapku. Yoochun mengerutkan dahinya menatapku.

“Aku yakin kau tidak baik-baik saja Joongie-ah. Kau tau tampang mu seperti mayat hidup!” serunya membuat ku terkekeh kecil.

“Aku~ aku tidak tahu Chunnie. Yunho begitu baik padaku walaupun Ia tau anak yang kukandung bukan anaknya. Itu justru membuatku tersiksa! Aku tidak mau Ia mencintaiku karena kasihan!” Ucapku mulai bergetar. Yoochun segera memelukku dan akupun mulai terisak. Aku tidak tahan dengan semua ini. Bayi ini! Aku tidak mau. Aku tidak mau anak yang bukan dari Yunho . apalagi semua ini terjadi karena paksaan.

“Chun~hiks aku harus bagaimana? Aku tidak mau ini semua! Hiks aku tidak mau hiks hiks!” akupun semakin terisak saat Yoochun mengusap punggung ku lembut. Namja yang selalu mengerti isi hatiku ini selalu bisa membuatku bercerita tentang segala kegundahan yang membebani hatiku.

“Aku yakin Yunho-sshi mencintaimu dengan tulus tanpa peduli kau mengandung anak siapa, Joongie-ah.” Ucapnya lembut. Akupun menarik tubuhku dan menatap sepasang mata sipit di depanku.

“Apa yang mebuatmu yakin Chun!? Bagaimana kau bisa menjanjikan itu padaku!?” Seruku mulai gusar. Yoochun menatapku lirih.

“Mian Chun mian~ aku sungguh tertekan hiks~” Isakku lagi. Yoochun pun kembali memelukku dan menepuk punggung ku pelan.

“Aku percaya pada Yunho-sshi. Jika Ia tidak benar-benar mencintaimu dia tidak akan sejauh ini menjagamu Joongie-ah.” Bisik Yoochun di telingaku. Akupun masih terisak. Perasaan takut dan tertekan menyatu di dalam hatiku. tapi setiap aku melihat wajah kecil itu, menyentuh kedua tangan indahnya, memeluk tubuh atletisnya, mendengar suara bassnya yang kini melembut setiap berbicara padaku membuatku berpikir bahwa aku mampu bertahan dalam situasi apapun. Walaupun aku tidak menerima hadirnya bayi ini di dalam rahimku tapi Yunho tidak pernah menolaknya. Tidak pernah menjauh dariku bahkan saat aku tidak mau di sentuhnya karena aku merasa jijik pada diriku sendiri. Yunho justru memelukku dengan hangat. Mengusap perutku penuh dengan sayang. Namja itu berubah dari namja berhati dingin dan berkata pedas menjadi namja hangat dan lembut. Menjadi dirinya yang dulu. Menjadi Jung Yunho yang sebenarnya. Bukan menjadi robot tanpa perasaan. Dengan begitu perasaanku makin yakin akan rasa yang bersemayam ini.

‘Aku mencintaimu, Jung Yunho..’

 

(Author POV’s)

Tangan mungil nan halus itu dengan lincahnya bermain dengan alat dapur guna menciptakan sebuah makan malam yang lezat untuk orang yang disayanginya. Tapi sebuah tangan besar tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Membuat pemilik doe eyes itu tercekat saat hembus nafas hangat menerpa tengkuknya. Membuat sengatan listrik yang membuat seluruh tubuhnya menjadi merinding.

“Eh, Yun sedang apa!?” Tanya namja cantik itu saat sebuah wajah kecil bertengger di bahunya sambil menatap kearah tangan mungilnya yang tengah sibuk bekerja.

“Melihatmu~” Ucapnya singkat membuat rona merah yang entah mengapa muncul di pipi Jaejoong.

“Aku sibuk! Jangan menggangguku!” gerutu bibir cherry itu saat Yunho tidak juga beranjak dari posisinya yang terus menempeli Jaejoong dari belakang.

“Pelit~” Ucapnya singkat tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya.

“Kau membuat ku sulit bergerak Yun~” Ucap Jaejoong akhirnya. Yunho pun segera melepas pelukannya dengan wajah yang ditekuk lalu berjalan menuju meja depan TV.

.

.

.

Tidak lama makan malam yang sebenarnya sederhana itupun sudah tersaji di atas meja. Dua mangkuk kecil sup kimchi, sepiring bulgogi, dua mangkuk nasi dan sepiring telur gulung menjadi menu makan malam Yunho dan Jaejoong.

“Sudah lama aku tidak makan semewah ini!” Ujar Yunho takjub melihat hasil karya Jaejoong yang membuat Ia hampir menjatuhkan liurnya.

“Dimakan Yun~ jangan di pelototi!” Seru Jaejoong ketika melihat Yunho hanya menatap makanan di depannya.

“Ah ne~” Ucapnya kemudian mengambil sumpit dan memulai ritual makannya. Jaejoong hanya menatap namja tampan di depannya sembari tersenyum kecil. Berpikir seperti inilah Yunho yang sebenarnya bukan batu karang yang dilapisi es yang Ia temui kemarin-kemarin.

“Boo? Kenapa menatapku? Kau harus makan yang banyak!” Seru Yunho membangunkan Jaejoong dari lamunannya. Namja cantik itu hanya mengangguk sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Bibir mu kecil sekali ya?” Tanya Yunho lagi memperhatikan cara Jaejoong makan. Doe eyes itu segera menatapnya dengan tampang bingung.

“Mwo?” Ujar Jaejoong tidak mengerti dengan perkataan Yunho. Namja bermata musang itu hanya tersenyum lalu menyuapkan kembali makanannya.

“Yun~” Panggil Jaejoong kemudian. Yunho pun menoleh menatap mata bulat itu.

“Wae Boo?” Tanya Yunho melihat raut wajah namja cantik di depannya yang kelihatan suram.

“Apa kau  benar-benar mencintaiku?” Tanya Jaejoong tiba-tiba membuat Yunho terkesiap kaget mendengarnya.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Ujar Yunho balik bertanya.

“Jawab saja Yun!” Pinta Jaejoong dengan nada penuh penekanan. Yunho pun terdiam sejenak memikirkan rangkaian kata yang cocok untuk diucapkan.

“Yun?” Panggil Jaejoong lagi tidak sabar menunggu jawaban dari namja tampan ini. Jantungnya sudah berdegup kencang jika apa yang dipikirkannya selama ini benar adanya. Yunho mencintainya sekarang hanya karena rasa kasihan.

“Aku mencintaimu. Karena~ karena aku mencintaimu.” Ucap Yunho menatap langsung ke dalam manic mata hitam di depannya. Wajah angelic itu pun terdiam seribu bahasa mendengar perkataan yang keluar dari bibir berbentuk hati itu.

“Alasannya?” Tanya Jaejoong lagi.

“Aku tidak memiliki alasan untuk mencintaimu, Boo. Alasanku karena aku mencintaimu. Itu saja! Tidak peduli siapa kau dan bagaimana. Aku akan tetap mencintaimu. Walaupun kau tidak mencintaiku sekalipun. “ Jelas Yunho panjang lebar.

“Tapi kenapa dulu kau menyangkalnya Yun? Kenapa baru saat seperti ini kau mengatakan bahwa kau mencintaiku?” Tanya Jaejoong menuntut jawaban. Yunho kembali menatap wajah bak malaikat di depannya.

“Karena aku sudah cukup kehilangan semua yang kucintai karena kebodohan yang kubuat. Aku tidak mau lagi kehilanganmu. Tapi ternyata aku menyakiti diriku sendiri dengan menyakitimu. Dan aku menyesal Boo. Maka aku ingin memperbaikinya walaupun terlambat.” Ucap Yuho lagi. Namja cantik itu terdiam. Perlahan air mataya mulai jatuh meluncur halus di kedua pipinya yang putih.

“Tolong jangan menangis Boo. Aku hanya ingin melihat mu tersenyum..” Ucap Yunho lirih menatap Jaejoong. Yunho pun beranjak dari duduknya dan berpindah ke samping Jaejoong. Memeluk tubuh rapuh itu ke dalam rengkuhannya. Memastikan bahwa kini semuanya baik-baik saja.

“Mian Yun~ mian membuat mu~”

Yunho membungkam bibir merah muda itu dengan kecupannya. Ia tidak ingin mendengar kata maaf dari bibir Jaejoong karena namja cantik itu tidak melakukan kesalahan apapun. Yang seharusnya meminta   maaf adalah dirinya yang sudah menyakiti Jaejoong sedemikian jauh secara tidak langsung. Harusnya Jaejoong berhenti mencintainya yang bodoh ini tapi nyatanya Jaejoong justru mencintainya dengan tulus tanpa pernah menyalahkannya dengan apa yang sudah menimpa dirinya.

“Aku yang harusnya meminta maaf Boo~” Ucap Yunho saat Ia melepas ciumannya. Doe eyes itu menatap Yunho dalam.

“Aku mencintaimu Yun~” Bisik Jaejoong akhirnya.

Tok!

Tok!

Tok!

Tiba-tiba suara ketukan pintu yang terdengar keras dan cepat itu mengagetkan Yunho dan Jaejoong. Yunho pun segera bangkit untuk melihat siapa yang mengetuk pintu apartemennya malam-malam seperti.

Ckrek!

“Apakah anda yang bernama Jung Yunho?” Ucap seorang namja tegap yang memiliki lesung pipi.

“Iya. Anda?” Tanya Yunho bingung melihat namja ini datang dengan beberapa polisi.

“Saya Choi Siwon, detektif. Anda ditahan karena dicurigai menggelapkan sejumlah uang di perusahaan Kim Brothers Corporation!” Ucapnya membalik tubuh besar Yunho dan memborgol tangannya.

“M-mwo!? Tidak mungkin anda pasti salah tangkap!” Pekik Yunho saat tangannya di borgol.

“Yun!” Pekik Jaejoong mendengar rebut-ribut di depan pintu apartemennya dan berlari keluar.

“Anda mau membawa Yunho kemana!? Lepaskan dia!?” Teriak Jaejoong menahan tangan Yunho yang akan segera dibawa pergi.

“Boo! Pulanglah ke Chungnam bersama Changmin! Aku tidak lama!” Seru Yunho saat Ia diseret pergi.  Jaejoong tetap tidak melepaskan pegangannya pada tangan kekar Yunho.

“Tolong nyonya! Mundur!” Seru seorang polisi menahan tangan Jaejoong saat Ia menahan Yunho yang diseret pergi oleh polisi.

“Nyonya!? Aku namja! “ Bentak Jaejoong membuat polisi itu menjadi kaget sekaligus bingung.

“Ada apa ini hyung?” Tanya sebuah suara tiba-tiba. Jaejoong menoleh dan mendapati tubuh bagai tiang listrik itu keluar dari kamarnya dengan menggunakan piyama tidur.

“Min, tolong mereka membawa Yunho!” Seru Jaejoong menarik-narik tangan panjang milik Changmin.

“Mwo!? Hei ada apa ini ahjusshi!” Teriak Changmin menahan polisi yang hendak pergi.

“Jung Yunho dicurigai menggelapkan sejumlah uang di Kim Brothers Corporation. Apa anda mengenal Jung Yunho?” Tanya Polisi itu.

“Jelas saja Ia hyungku! Kim Brothers Corporation!?” Ucap Changmin gusar.

“Benar! Dan tlong untuk tidak pergi keluar kota untuk saat ini. Selamat malam!” Ucap Polisi itu beranjak pergi.

“Yun! Yunho! Lepaskan dulu Yunhoku!” Teriak Jaejoong mencoba mengejar polisi itu tetapi ditahan oleh Changmin.

“Hyung, sudah hyung! Aku akan mengurus semuanya! Tenanglah hyung tidak baik untuk kandunganmu.” Ujar Changmin menenangkan Jaejoong yang tengah terduduk lemas karena menahan tangisnya.

“Min, aku tidak mau ke Chungnam! Aku tidak akan kemana-mana sampai Yunho di bebaskan! Tidak mungkin Yunho melakukan itu semua!” Pekik Jaejoong mengguncang bahu Changmin.

“Tidak ada yang menyuruhmu pergi hyung! Hyung tenanglah hyung!” Ucap Changmin lagi menenangkan namja cantik yang tengah mengandung  ini.

“Hyung ayo masuk kamar, aku akan mengurus semuanya hyung! Aku janji! Aku tau siapa di balik ini semua!” Ucap Changmin memapah Jaejoong ke dalam kamar.

 

‘Kim Brothers Corporation, eoh?’

 

TBC

Please leave ur comment, kamsahamnida ^^

2 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 13 Hurt

  1. MWO YUNPPA DITANGGAP…pasti kerjaan hyun joong
    haiiisss kpn sich hyun joong berenti ganggu yunppa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s