Love.. What To Do (chapter 6) by : parkririn


Love.. What To Do

Chapter 6

By: parkririn
Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

.
.
Chef of The Year. Sebuah kompetisi memasak untuk para chef yang lebih rendah satu tingkatannya dibandingkan chef professional. Untuk itulah hadiah utama dari kompetisi memasak ini adalah belajar ke Italia. Kompetisi ini diikuti oleh seluruh chef-chef muda berbakat yang ada di seluruh Korea Selatan. Berbekal pengalaman menjadi chef 2 tahun di restoran, siapa saja boleh mengikuti kompetisi ini. Tidak terkecuali Jaejoong dan Junsu. Setelah dinyatakan lolos ke dalam putaran final, Jaejoong dan Junsu benar- benar mempersiapkan hidangan terbaik mereka.

Tepatnya pagi hari ini, sebuah ballroom hotel berbintang lima disulap menjadi tempat kompetisi chef ini diselenggarakan. Ada 20 pasang meja dan kursi yang ditata apik memenuhi ruangan yang diperuntukan bagi peserta, sebuah meja persegi panjang yang berada di atas panggung untuk para juri, dan berderetan kursi mengelilingi
ruangan bagi para awak media.
Setelah memberikan sambutan
dan membacakan peraturan,
para peserta diboyong masuk
ke dalam sebuah ruangan yang akan dijadikan tempat memasak bagi mereka. Jaejoong dan Junsu berada di meja bernomor 5. Keduanyakelihatan sedikit gugup, karena ini adalah kompetisi pertama bagi mereka dan pertama kali pula berhadapan langsung dengan pesaing lain yang tidak kalah hebatnya.

Begitu bel tanda dimulainya kompetisi dibunyikan, Jaejoong dan Junsu begitu cekatan mempersiapkan bahan-bahan. Mencuci bersih bahan, merebus air, membuat adonan, memotong bumbu-bumbu, semua mereka lakukan layaknya seperti seorang chef professional. Keduanya bekerja sama dengan baik dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Dalam hati Jaejoong, ia berdoa tanpa henti mengharapkan hasil terbaik baginya dan Junsu. Lima menit terakhir, Jaejoong dan Junsu
benar-benar sudah menyelesaikan hidangan mereka dan kini hanya sedang membersihkan meja yang mereka gunakan. Peserta lain ada beberapa yang sidikit kelimpungan karena masakan mereka belum selesai. Junsu mengkomat-kamitkan bibirnya mengucap syukur kepada Tuhan karena tidak ada satu pun kesulitan yang ia rasakan.

Lima belas menit kemudian para peserta sudah duduk di meja masing-masing didampingi oleh chef penanggungjawab mereka, para juri pun sudah terlihat berjalan mengelilingi meja para peserta untuk mencicipi cita rasa yang ada disetiap masakan. Jaejoong terlihat begitu gugup, keringat dingin membanjiri wajah cantiknya, tangannya sedari tadi tidak berhenti memainkan ujung apron hitamnya.

“Jangan gugup. Aku yakin
kalian akan berhasil.” Jaejoong
hampir saja terlonjak begitu merasakan sebuah tangan menggenggam jemari-jemari kurusnya.

Mata Jaejoong menangkap tatapan teduh dari chef Jung, dia benar-benar gugup dan tentu saja butuh semangat dari seseorang. Tapi yang ada di dalam pikirannya adalah mengapa harus chef Jung?
Jaejoong benar-benar tidak mengerti hati dan pikirannya saat ini, terutama atas kejadian semalam. Chef Jung menciumnya dan menyatakan perasaannya. Ini gila! Seseorang yang tidak pernah terpikirkan oleh Jaejoong sebelumnya, seseorang yang selama ini ia hormati sebagai bossnya, benar-benar menyatakan cinta untuknya. Untuk beberapa saat, semalam Jaejoong hanya diam dan menatap mata chef Jung,
mencari kebohongan di dalamnya, tapi nihil, chef Jung benar-benar serius. Jaejoong tidak sanggup mengatakan apapun hingga akhirnya ia memutuskan untuk diam dan pergi tidur, meninggalkan chef Jung yang berasumsi bahwa Jaejoong butuh waktu untuk menjawabnya.

“Ehmm, ya, chef..” Jaejoong memutus kontak matanya dengan chef Jung dan beralih menatap juri yang kini sedang mencicipi hidangannya dan Junsu.

Wajah para juri hanya datar, itu yang membuat Jaejoong semakin gugup dan takut. Berbeda dengan Junsu yang menggerutu di dalam hati,’ Para juri pintar sekali menyembunyikan ekspresi wajah mereka sih!’ . Ketika satu jam kemudian, ketua umum asosiasi chef seluruh Korea Selatan mengumumkan juara pertamanya, Jaejoong dan Junsu hanya melongo dan mengerjapkan mata berkali-kali.

“Mimpi ini, Jae?” tanya Junsu.

“Kurasa bukan, Suie..”

Keduanya terdiam dan saling berpandangan hingga akhirnya sama-sama tersadar dan melonjak kegirangan. Ya. Jaejoong dan Junsu juara pertamanya. Hidangan pasta yang dibuat dengan dicampur sayur-sayuran sehat dan sup abalone yang begitu lezat, berhasil membuat para juri berdecak kagum. Belum lagi dengan konsep penataan hidangan yang menyerupai tatanan hidangan kerajaan yang mewah, benar-benar sudah mencuri perhatian para juri sejak menghampiri meja
mereka.

“Selamat, Jae.. Ikutlah
denganku ke Italia..”
.
.
.
(Yoochun POV)
Aku benar-benar ketakutan sekarang. Beberapa jam yang lalu Yunho memasuki ruang operasi setelah semalam mendapatinya mengerang kesakitan lagi dibagian perut. Awalnya aku mengira keparahan ini hanyalah sebuah penyakit biasa yang bernama usus buntu, tapi diagnosa dokter benar-benar mengejutkanku.

-Flashback-

“Uisa bagaimana Yunho?” Aku langsung menahan dokter yang baru saja memeriksa Yunho.

Dokter hanya menggelengkan kepalanya dan mendesah pelan. Aku bisa melihat gurat kelelahan diwajahnya tapi sorot matanya penuh ketenangan.

“Kanker lambung—”

“Apa?! Ka-kau, maksudku uisa sedang tidak bercanda, kan? Yunho kanker lambung? Ini.. Ini bagaimana bisa, uisa? Ottokhae? Yunho..”

Aku panik, ketakutan, dan ingin menangis rasanya. Yunho sehat-sehat saja, tidak makan teratur selama dua minggu bisa menyebabkan dia kanker lambung?

“Tenang dulu, Yoochun.. Ini baru stadium awal, kita bisa langsung melakukan operasi dan mengangkat bagian yang terserang virus, setelah itu bisa dilakukan terapi secara rutin. Aku yakin Yunho bisa sembuh. Ini masih bisa ditangani..”

-Flashback End-

Sudah 4 jam operasi dilakukan, tapi belum ada kabar apapun. Ayah dan Ibu Yunho sedang dalam perjalanan pulang dari Amerika. Otakku masih saja mencerna semua ini. Yunho tidak pernah mengalami penyakit yang parah seperti ini, biasanya hanya lambungnya yang bermasalah karena terlambat makan. Tapi aku
tidak tahu kalau bisa jadi seperti ini. Meskipun uisa tadi mengatakan masih dapat diatasi dengan operasi dan terapi, tapi kanker bukanlah penyakit yang bisa dikatakan tidak berbahaya.

Aku menghela nafas lagi dengan kasar sambil mengacak ambutku dengan frustasi. Baru saja aku akan melangkahkan kaki untuk mendekat ke ruang operasi, telepon genggamku berbunyi.

“Jaejoong?”

Ah, benar. Aku belum memberitahu Jaejoong perihal Yunho, pasti ia mencari Yunho di apartemen dan tidak menemukannya.

“Yoboseo? Apakah ini dengan
Yoochun-ssi? Ini aku, Jaejoong.”

Yoochun berdehem,”Hm, ya. Ada apa, Jae?”

“Apa kau sedang bersama Yunho? Aku ingin memberitahunya jika aku akan pergi ke Italia.”

Italia? Apakah Jaejoong memenangkan kompetisi chef itu dan akan berangkat ke Italia? Bersama Il-woo hyung? Aku menggelengkan kepalaku cepat. Ini tidak bisa. Jaejoong harus bertemu Yunho. Aku memang tidak
mengerti dengan hubungan yang terjadi antara Yunho, Jaejoong, dan Il-Woo hyung. Tapi sepertinya aku bisa mencerna jika kedua pria ini mencintai orang yang sama. Tidak. Yunholah yang harus bersama Jaejoong, bukan kakaknya.

“Yoochun?”

“Ah, ya, Jae. Kau bisa datang ke rumah sakit sekarang? Yunho sakit..”

“Sakit? Sakit apa? Aku ak-!”

PIP!

Aku menatap layar telepon genggamku. Panggilannya terputus? Kenapa? Aku mencoba untuk mendial nomor Jaejoong, tapi yang terdengar hanya suara operator.

“Hh, semoga kau datang kemari, Jae..”
(End of Yoochun POV)
.
.
.
Jaejoong pulang ke apartemen dengan senyum mengembangnya. Ia begitu bahagia bisa menjuarai
kompetisi chef itu. Tidak henti- hentinya ia mengucap syukur kepada Tuhan dan selalu menyunggingkan senyuman
kepada semua orang yang dilewatinya. Sekarang impiannya untuk belajar memasak ke Italia benar-benar akan terwujud.

“Eomma, sudah dulu ya, aku sudah sampai di apartemen dan ingin memberitahu Yunho.”

Jaejoong menutup sambungan teleponnya dan mulai membuka knop pintu apartemen. Sekarang yang akan dilakukannya adalah memberitahu Yunho perihal kemenangannya. Tetapi baru saja melangkah masuk, Jaejoong mengerutkan keningnya melihat kondisi apartemen yang gelap dan
berantakan. Yunho memang bukan orang yang rapi, tapi apartemennya tidak pernah seberantakan seperti sekarang.
Biasanya seluruh gorden akan
terbuka, tapi sekarang tertutup dan tidak ada cahaya sedikit pun yang masuk.

“Yunho?”

Jaejoong memanggil nama Yunho sembari menyibakkan lebar gorden yang menutupi jendela. Jaejoong berjalan menuju kamar yunho dan mengetuknya, bibirnya sekali lagi menyerukan nama Yunho. Tapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kamar Yunho dan menjulurkan kepalanya
melihat ke dalam. Nihil. Tidak ada Yunho juga di dalamnya.

“Ah! Aku akan menghubungi Yoochun saja..”

Jaejoong segera mengambil telepon genggamnya yang berada di saku celananya dan mendial nomor Yoochun. ‘Aneh. Hari minggu Yunho tidak pergi ke kantor, kan? Tapi kenapa dia tidak diapartemen?’ , batin Jaejoong.

“Yoboseo? Apakah ini dengan Yoochun-ssi? Ini aku, Jaejoong.”

Jaejoong langsung saja berbicara begitu sambungan teleponnya diangkat. Yoochun terdengar berdehem,”Hm, ya. Ada apa,
Jae?”

Jaejoong mengigit bibir bawahnya,”Apa kau sedang bersama Yunho? Aku ingin memberitahunya jika aku akan pergi ke Italia.”.

Jaejoong menepuk keningnya. Ia baru sadar kalau keceplosan dan mengatakan akan pergi ke Italia, padahal belum tahu kapan ia akan
pergi. Ia hanya sedikit khawatir karena tidak mendapati Yunho di apartemen.

“Yoochun?” Jaejoong memanggil Yoochun karena merasa Yoochun hanya diam, tidak merespon pertanyaannya.

“Ah, ya, Jae. Kau bisa datang ke rumah sakit sekarang? Yunho sakit..”

Jaejoong membelalakan matanya lebar mendengar jawaban Yunho. Sakit? Yunho sakit? Sakit apa? Kenapa bisa di rumah sakit? Apa parah? Jaejoong sadar jika ia tidak
kembali ke apartemen selama dua hari karena sebelumnya menginap di rumah Junsu dan semalam menginap di rumah chef Jung. Tapi bukankah baru semalam ia mengirimi Yunho pesan agar jangan terlambat makan? Apa lambung Yunho sakit? Berbagai pertanyaan begitu berputar di pikiran Jaejoong. Ia butuh untuk bertemu Yunho sekarang.

“Sakit? Sakit apa? Aku ak-!”

TAK!

Seseorang mengambil paksa telepon genggam Jaejoong dan
menutupnya dengan kasar. Jaejoong menatap kaget kepada orang itu. Terlebih bagaimana ia bisa masuk ke dalam apartemen Yunho.

“Chef? Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa tahu password apartemen Yunho?’

Chef Jung hanya memasang wajah datar dan segera bergegas menuju kamar Jaejoong dan mengambil tas
pakaian Jaejoong. Dengan terburu-buru, chef Jung memasukkan semua pakaian Jaejoong dengan asal-asalan ke dalam tas. Ia benar-benar tidak sabaran. Jaejoong yang berdiri di belakangnya hanya menatapnya heran. Belum lagi
pertanyaannya terjawabkan, chef Jung langsung menarik kasar tangan Jaejoong dan membawanya untuk keluar apartemen.

“YA! Lepaskan! Kau ini kenapa, chef? Kita akan kemana?”

Jaejoong meronta dalam genggaman chef Jung,”Ke Italia. Hari ini juga.”

“Mwo?! Ta-tapi setidaknya aku harus menemui Yunho dulu! Lagipula kau belum menjawab pertanyaanku tadi!”

Chef Jung menghentikan langkahnya dan menatap mata Jaejoong tajam.

“Dengar, Jae. Aku dan Yunho adalah kakak beradik. Dan kau tidak perlu menemui Yunho karena aku sudah menyampaikan padanya bahwa kau akan ke Italia hari ini bersamaku.”

“Tapi Yoochun bilang kalau dia di rumah sakit..” cicit Jaejoong karena takut menatap tatapan chef Jung.

“Dia baik-baik saja. Hanya maag. Dia terlalu melebih-lebihkan.”

Jaejoong tidak bersuara lagi begitu chef Jung kembali menariknya menuju mobil dan menuju bandara. Didalam pikirannya masih berkelebat pertanyaan-pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban yang dapat memuaskannya. Jadi chef dan Yunho kakak beradik? Kenapa Jaejoong tidak tahu?
.
.
.
Seminggu kemudian..

Yunho sedang memasuki apartemennya dibantu Yoochun yang memapah badannya. Ia merasakan nyeri pada bekas operasinya ketika berjalan. Seharusnya ia dirawat seminggu lagi agar para dokter dapat terus memantau keadaanya dan memastikan terapi apa yang akan
dilakukannya. Ketika siuman, Yunho pun kaget mendengar Ayah dan Ibunya yang mengatakan bahwa ia terserang penyakit kanker
lambung. Tapi ia bisa sedikit lega karena ini barulah stadium awal, jadi semuanya masih dapat diobati. Yunho sendiri tidak dapat membayangkan jika dirinya terlambat mengetahui kanker ini dan tidak dapat diobati lagi.

“Chun, ke kamar Jaejoong.”

Yunho memerintahkanYoochun memapahnya menuju kamar Jaejoong, ia ingin melihat namja cantik yang selama seminggu ini tidak dapat ia temui. Sebelumnya
Yunho keheranan karena tidak mendapati Jaejoong menjenguknya di rumah sakit, tapi Yoochun memberitahunya jika Jaejoong benar-benar sibuk dan tidak dapat meninggalkan restoran. Yunho percaya saja, mengingat Jaejoong akan mengikuti kompetisi besar. Yang ia
butuhkan sekarang adalah menemui Jaejoong dan memeluknya, karena ia begitu merindukannya. Maka dari itu Yunho bersikeras untuk pulang
ke apartemen dan berjanji akan kembali lagi ke rumah sakit esok hari.

Tetapi ketika memasuki kamar Jaejoong, Yunho memasang wajah datar begitu melihat pintu lemari Jaejoong yang terbuka lebar dan tidak ada pakaian Jaejoong satu[un di dalamnya. Pasti ada yang dirahasiakan Yoochun, batin Yunho. Kemana Jaejoong pergi?

“Park Yoochun..”

Yoochun tahu pasti pasti jika Yunho akan mengetahui bahwa
Jaejoong tidak lagi berada di dalam apartemennya. Jadi Yoochun mendudukkan tubuh Yunho di atas tempat tidur dan
kemudian berlutut di depan Yunho.

“Maafkan aku, Yun. Aku
berusaha memberitahu
Jaejoong kalau kau sakit, tapi
sepertinya kakakmu tahu dan
langsung membawanya pergi
ke Italia. Sebelumnya aku
dapat berbicara dengan Jaejoong, tapi sambungannya terputus, seperti seseorang telah merebut telepon Jaejoong dengan paksa. Aku tahu pasti itu kakakmu.”

Yoochun masih menundukkan kepalanya ketika mendengar Yunho mengeram kesal.

“Keluarlah. Aku ingin sendiri.”
Yoochun mendongakkan kepalanya mendengar perintah
Yunho,”Ta-tapi keadaanmu—”

“Ku mohon. ” lirih Yunho.

Dengan berat hati dan penuh
kekhawatiran, Yoochun bangkit dan melangkah pergi keluar dari kamar. Tapi samar-samar sebelum ia menutup pintu.. Ia mendengar isakan tangis Yunho.
.
.
.
Hahaha xD bagaimana?
Semakin nggak jelas kan ff
nya?
Review juseyoo^^ :*

7 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 6) by : parkririn

  1. Maaf br review..aq suka critanya,cinta yunjae penuh lika-liku kasian bnget,apalagi ada orang k3. Gaya bahasanya aq suka..next chap ya. Gomawo!

  2. Tlg cpat update next storynya coz saya penasaran pake bgt hehe!!
    Saya suka bgt critanya!!!

  3. Yunho oh yunho … Malangnya nasibmu..
    Jj koq mau aja yak di bawa pergi il woo, harusnya dia tegas nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s