Love.. What To Do (chapter 7) by : parkririn


Love.. What To do

By : parkririn

Chapter 7 END (pssst.. sekuel coming soon)

Summary : Cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, dimana ia akan bertemu dengan belahan jiwanya, kapan ia akan hidup berbahagia dengan cintanya, dan bagaimana ia dapat mempertahankan cintanya.

.
.
.

Dua tahun sudah berlalu. Dua tahun yang terasa begitu lamban untuk dilewati bagi seorang kim Jaejoong. Dua tahun yang lalu ia meninggalkan negeri kelahirannya, Korea Selatan, menuju negeri impiannya, Italia. Dua tahun yang lalu ia diboyong untuk segera pindah bersama chef Jung dan sahabatnya, Junsu. Dan sudah dua tahun ini tepatnya, setelah ia pergi begitu saja tanpa sempat bertemu teman satu apartemennya, cinta pertamanya, Jung Yunho.

Kehidupan Kim Jaejoong berubah 90 derajat. Memulai lagi kemampuan memasaknya dan belajar secara professional di salah satu sekolah memasak terbaik di Italia. Memulai lagi karirnya sebagai koki dengan membuka restoran kecil bersama chef Jung dan Junsu, restoran yang menyajikan masakan-masakan Korea. Memulai, ah tidak.. Setidaknya
menurut chef Jung saja bahwa ia dan Jaejoong mencoba menjalin sebuah hubungan yang lebih akrab. Tapi tidak dengan Jaejoong. Itulah mengapa ku katakan bahwa hidupnya hanya berubah 90 derajat saja. Karena raganya terlahir di Negara Korea Selatan. Karena Ibu dan kedua adiknya menunggu kesuksesannya dan pulang membawa banyak kebahagiaan dan kesejahteraan. Karena Seoul memberikannya banyak
pengalaman baru dan juga cinta
pertama. Karena ada seorang Jung Yunho di Seoul, yang sangat ia rindukan. Karena meskipun setiap waktu ia bertemu dengan chef Jung, tapi hatinya selalu berdetak cepat
setiap kali ia mengingat Jung Yunho.

Yunho. Yunho. Yunho. Hanya Yunho yang tetap mengisi pikiran Jaejoong. Sama sekali tidak peduli dengan Jung, yang ia tahu hanyalah Yunho. Bahkan
Jaejoong berani mengatakan.persetan dengan chef Jung yang notabene adalah kakak kandung Jung Yunho, Jaejoong hanyalah mencintai Yunho. Ya. Baru Jaejoong sadari jika ia sebenarnya memiliki perasaan yang lebih dari sekedar menyukai untuk Yunho. Setelah ia pergi dengan kehampaan di dalam hatinya, tanpa mengetahui apakah Yunho juga
menyimpan setidaknya secuil
harapan untuknya.

“Bagaimana kelasmu hari ini, Jae? Apakah si gendut mesum itu
menggodamu lagi?”

Jaejoong tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara chef Jung yang sedang bertanya kepadanya. ‘Beruang mesum? Yunho..’ , batin Jaejoong. Lagi-lagi Jaejoong teringat dengan sosok Yunho. Entah apakah ia sudah kecanduan dengan Jung Yunho, tetapi Jaejoong seperti selalu menghubung-hubungkan semua kata-kata chef Jung dengan Yunho.

“Tidak. Semua baik. Aku bahkan
sudah mempelajari masakan untuk lusa..”

Chef Jung mengusap surai hitam
Jaejoong dengan gerakan lembut,”Aku bangga padamu, Jae..”

Jaejoong begitu terkenal semenjak pertama kali ia menghadiri kelas memasak di Italia. Orang-orang begitu terkagum-kagum melihat parasnya yang cantik, walaupun ia seorang namja. Terlebih lagi karena kemampuan memasaknya yang baik, para pengajar pun menyukai sikapnya yang ramah. Begitupula dengan Junsu, semua laki-laki di kelas
memasak lebih sering menggoda Junsu ketimbang Jaejoong. Pantat berisi Junsu sepertinya lebih menarik perhatian setelah tentu saja wajah cantik Jaejoong.

“Chef biasakah kau melepaskan
tangan mesummu itu dan membiarkan Jaejoong membantuku di dapur sekarang?!”

Junsu berkoar nyaring dari arah
dapur dan sebagian orang-orang yang mengerti perkataan Junsu jadi memperhatikan Jaejoong dan chef Jung yang baru saja memasuki restoran. Jaejoong sempat melihat Junsu yang mengintip melalui kaca bundar yang menghiasi pintu dapur, sambil menatap jengah kelakuan chef Jung. Ya, bahkan orang-orang yang sering makan di restoran mereka pun pastinya akan disuguhi terus pemandangan chef Jung yang tidak henti-hentinya melakukan skinship kepada Jaejoong. Entah mengacak surai hitam Jaejoong, atau menghapus jejak-jejak keringat yang membanjiri pelipis Jaejoong, dan bahkan tanpa rasa malu merangkul hingga memeluk Jaejoong dari belakang. Hal itu membuat jengah Junsu, tetapi Jaejoong tidak pernah berusaha untuk menghindar dari segala perlakuan chef Jung. Mungkin hanya ingin membuat chef Jung senang? Lagipula perasaan Jaejoong kepada chef Jung hanyalah sebatas anak buah yang membalas budi atas kebaikannya selama ini. Tidak ada perasaan lebih. Jaejoong tahu ia jahat karena membiarkan chef Jung berasumsi sendiri mengenai kedekatan mereka. Tapi apa chef Jung tahu apa yang hatinya inginkan?

.
.
.

“Lebih baik kau pakai baju besi saja supaya chef Jung tidak selalu menjamahmu.”

Kalimat Junsu bernada ketus namun pandangannya tidak lepas dari smartphone -nya sedari tadi. Jaejoong hanya menghela nafas pasrah. Ia pun lelah jika ditempeli terus, tapi mau bagaimana lagi? Awalnya Jaejoong kira bahwa Yunho-lah lelaki terposesif yang pernah ia kenal, ya karena beberapa kali Yunho memang pernah menunjukkan sifat posesifnya ketika mereka tinggal bersama. Tapi Jaejoong salah, kakaknya ternyata lebih posesif lagi.

“Junsu kau kenapa?” Jaejoong sedikit heran menatap Junsu yang kini membekap mulutnya dengan kedua tangannya.

“Ja-Jae, kau yakin selama ini tidak pernah mendengar kabar apapun tentang Yunho?”

“Tidak. Kenapa?”

“Aku sedang mencari-cari berita apa saja yang sedang menjadi topik terhangat di Seoul dan menemukan artikel tentang Yunho. Lalu aku memastikan lagi dengan mencari kata kunci yang sama, dan semua media sedang memberitakan hal yang sama..”

Jaejoong menggertakan giginya,”Ck, berita apa? Yunho kenapa?”

Junsu memandangi Jaejoong dengan cemas dan bertanya-tanya dalam hati apa benar Jaejoong tidak mengetahui berita penting seperti ini?

“Yunho. Dua tahun yang lalu terserang penyakit kanker lambung. Disini tertulis jika hanya stadium awal, dan berita yang ku lihat tadi mengatakan jika ia baru saja dinyatakan sembuh total dari kankernya.”

Jaejoong diam. Yunho? Kanker
lambung? Dua tahun yang lalu?
Apakah dulu ia meninggalkan Yunho yang sedang terbaring di rumah sakit dan melawan penyakitnya? Apakah ia sangat keterlaluan sampai-sampai tidak pernah mencoba menghubungi
Yunho? Apakah ini rencana chef
Jung? Membawanya pergi jauh dari Yunho? Jaejoong benar-benar tersentak akibat asumsinya yang terakhir.

Tanpa pikir panjang dan diiringin
deru nafas yang menggebu marah, Jaejoong menyambar tasnya dan langsung pergi keluar dari restoran. Dia tidak bisa berpikir jernih, terus jalan dan menghentakkan kedua
kakinya, berharap emosinya keluar dan terinjak-injak. Tapi tidak berhasil. Rasanya ia ingin
memecahkan apapun jika bisa.
Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya sampai pita suaranya putus. Dan ketika ia berhasil mencapai apartemennya, ia membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.

BUK!

Suara berdebum keras terdengar akibat tas Jaejoong yang cukup berat sengaja dilemparkannya mengenai bagian belakang kepala chef Jung. Chef Jung jatuh tersungkur dan mengerang l kesakitan. Hampir saja ia mengeluarkan makiannya jika Jaejoong tidak kalah cepat darinya untuk menyerang chef Jung duluan.

“Brengsek! Kau katakan padaku jika Yunho hanya sakit maag. Lalu kau menyeretku pergi jauh ke Italia tanpa aku tahu Yunho sedang berjuang melawan kankernya! Sekarang apa? Ha! Kau menawanku di sini dan tidak
membiarkanku pulang ke Korea!”

Jaejoong berbicara nyaris seperti.terdengar orang yang berteriak. Nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca, dan tangannya mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Tidak. Jaejoong tidak akan percaya lagi chef Jung. Jaejoong marah. Ia rasa ia akan
terserang penyakit jantung jika setiap hari marah-marah seperti ini. Jaejoong semakin kesal karena chef Jung hanya menundukkan kepalanya, menatap lantai kayu yang sepertinya lebih menarik ketimbang Jaejoong yang buas seperti sekarang.

Jaejoong mendorong bahu chef Jung keras,”Persetan denganmu dan rasa cintamu, Jung. Kakak macam apa kau yang malah membiarkan adiknya menderita?! Sungguh aku kecewa!”

Terdengar bunyi gedebuk yang keras kemudian disusul suara-suara pakaian yang sepertinya dimasukkan secara kasar ke dalam koper. Jaejoong memasukkan semua barang-
barangnya ke dalam koper, mengambil telepon genggamnya,
dompet, paspor, dan melangkah
keluar. Langkahnya terhenti begitu melihat chef Jung yang masih setia menatap lantai.

“Katakan pada Junsu permintaan maafku, karena aku akan kembali ke Seoul sekarang. Dan kau, chef, terima kasih atas segalanya. Sangat berharga untukku. Dan selamat tinggal.”


.
.
.

Jaejoong berlari sekuat yang ia bisa menuju halte bis terdekat, setelah menitipkan barang-barangnya di rumah salah satu teman kerjanya dulu di restoran. Tangannya mencoba untuk mendial nomor Yoochun, berusaha mencari tahu keberadaan Yunho saat ini. Jantungnya berdebar kencang mengingat bagaimana ia akan bertemu dan kata-kata apa yang
akan dia katakan kepada Yunho.
Matanya menyiratkan kecemasan, apakah Yunho akan membencinya?

“Yoochun, aku di Seoul. Beritahu aku dimana Yunho sekarang!”

Jaejoong seperti orang kesetanan begitu Yoochun mengangkat sambungan teleponnya, tapi yang membuat dirinya semakin dibuat tergesa adalah kenapa Yoochun hanya
menyebutkan nama sebuah hotel? Jung Luxury Hotel. Segera saja begitu bis berhenti tepat di depannya, Jaejoong memasukkan beberapa won ke dalam kotak dan gelisah sekali
dalam duduknya. Matanya sibuk
menatap gedung-gedung yang tersusun sepanjang jalan. Begitu bis berhenti di halte tujuannya, Jaejoong melesat menuju Jung Luxury Hotel.

DEG!

Hati Jaejoong mencelos, rasa-rasanya jantungnya berhenti berdetak, matanya seakan ingin keluar. Tidak! Ini tidak mungkin! Pasti Jaejoong salah lihat saat ini. Setelah marah-marah kepada chef Jung, berjam-jam terjebak di pesawat yang membawanya kembali ke Seoul, kenapa Jaejoong harus melihat ini? Apa Tuhan sedang menghukumnya
sekarang?

Lelaki tampan yang ingin ditemuinya sekarang sedang berdiri dengan gagahnya dihadapan seorang wanita cantik. Parahnya, Yunho sedang
memasangkan sebuah cincin ke jari manis wanita itu. Tersenyum manis kepada para hadirin hingga Yunho sadari jika kini Jaejoong berdiri di pintu masuk ballroom . Matanya tidak lepas memandangi pria cantik yang
selama ini mengganggu pikirannya. Yunho bisa melihat peluh keringat yang membanjiri Jaejoong saat ini, menyiratkan kelelahannya yang begitu hebat.

.
.
.

Yunho memijat pelipisnya yang
berdenyut sakit. Ini sudah pukul satu dini hari dan rasa lelah mendera tubuh dan pikirannya. Baru saja ia akan pergi tidur selepas acara tadi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Jaejoong yang kini dengan mata basahnya dan tangannya yang bergetar, berlutut, menumpukan badannya kepada kedua lututnya. Bibirnya tidak henti
mengatakan kata maaf, hingga Yunho benar-benar frustasi saat ini.

“Aku akan maafkan apapun
kesalahanmu, tetapi berdirilah dan duduk disampingku sekarang.”

Jaejoong mendongakkan kepalanya dengan cepat secepat ia mampu bangkit dan kini sudah berpindah duduk disamping Yunho. Airmatanya
masih merembes membentuk aliran kecil di pipi putihnya. Matanya tidak lepas menatap lekat mata Yunho dan tangannya tidak berhenti meremas satu sama lain.

“Sekarang ceritakan padaku apapun yang ingin kau katakan..” perintah Yunho sambil memposisikan badannya untuk berbaring dan membiarkan kepalanya jatuhdipangkuan Jaejoong.

Jaejoong sempat terkejut dengan pergerakan Yunho, namun bibirnya menyunggingkan senyum kecil karena Yunho kini mengenggam tangannya erat.

“Maaf karena mengabaikanmu
selama dua minggu karena persiapan kompetisiku. Aku dan Junsu memenangkan kompetisi itu, Yun. Baru saja aku akan memberitahumu, tetapi Yoochun menelponku, mengabarkan jika kau berada di rumah sakit. Aku tentu saja ingin menengokmu, tapi..” Jaejoong menyusuri lekuk wajah Yunho dengan jari telunjuknya. “Kakakmu mengatakan kau baik-baik saja dan kemudian menyeretku pergi ke Italia.”

Yunho memejamkan matanya. Mendengar penuturan Jaejoong, ia jadi kembali mengingat ketika dirinya.terbaring di rumah sakit, berjuang melawan kanker dengan perasaan rindu kepada Jaejoong yang menyerang seluruh jaringan ditubuhnya. Tidak dapat ia pungkiri jika saat itu ia benar-benar sedih, bukan karena kakaknya yang berhasil
merebut Jaejoong darinya, tetapi karena merasakan perasaan rindu yang teramat menyakitkan selama dua tahun ini. Membuat dirinya harus berkali-kali menangis.

“Dia memang selalu menempel
padaku, tapi aku tetap pada pilihan hatiku, Yun..”

Yunho membuka matanya dan
langsung berhadapan dengan keduamata Jaejoong yang menatapnya teduh.

“Dirimu yang sejak awal ada di hati dan pikiranku. Aku tidak bisa bohong jika aku mencintaimu, Yunho.”

Yunho mengusap pipi Jaejoong dengan ibu jarinya,”Orangtuaku selalu menuruti kemauan hyung, tapi tidak denganku. Semua yang harusnya menjadi tanggungjawab hyung, termasuk melanjutkan perusahaan Ayah, dilimpahkan kepadaku. Dia yang selalu menang atas kemauannya. Tapi aku tidak bisa jika ia memenangkanmu, Jae.”

Yunho menarik tengkuk Jaejoong agar mendekatkan wajahnya kearah Yunho. Yunho menatap dalam bola mata Jaejoong kemudian mengecup
lembut bibir cherry Jaejoong.

“Dia bisa memenangkan hati Ayah, tapi aku tidak akan rela jika dia mengambilmu dariku, Jae. Tidak. Tidak..”

Yunho beringsut bangkit dari tidurnya dan kini duduk menghadap Jaejoong,”Aku tahu ia bukan kakak yang baik. Tapi bukan berarti aku akan menyerah padanya dalam hal cinta.”

Yunho kembali menyatukan bibirnya dan bibir Jaejoong. Tangannya menelusup masuk mengusap perut rata Jaejoong.

“Tidak. Kau terlalu indah untuk aku lepaskan padanya.”

Jaejoong membalas ciuman Yunho yang sedikit menuntut, meskipun baru sekali berciuman seperti ini. Telapak tangan Jaejoong bergerak pelan mengusap dada bidang Yunho dan semakin beranjak naik ke bahu dan kemudian menautkannya di balik tengkuk Yunho.

“Tapi kau tadi sudah bertunangan..” Jaejoong berbicara disela-sela dirinya mengambil nafas.

“Bodoh.”

Yunho menarik Jaejoong semakin dekat kearahnya, menyatukan kedua tubuh mereka yang kini bersuhu panas. Terbakar rasa rindu yang
menggebu, rasa cinta yang terpendam cukup lama, dan gairah yang semakin memuncak. Tangan-tangan mereka semakin sibuk, decakan lidah yang bertarung di dalam sarangnya, nafsu perlahan-lahan mengikis akal sehat kedua insan yang dimabuk cinta ini.

“Maksudmu?” Jaejoong bertanya
sembari lidahnya mulai menyentuh ujung kejantanan Yunho.

” Shit! Dia adikku, Jae. Jangan
berasumsi terlalu jauh jika belum tahu faktanya.”

“Mwo?”

Yunho mengerang kesal karna
Jaejoong menyudahi kegiatannya,”Maksudmu aku salah paham dengan cara tadi? Jadi kau tidak bertunangan? Ku pikir kau—”

Perkataan Jaejoong terputus akibat Yunho yang tidak sabaran dan langsung mendorong kepala Jaejoong untuk segera memanjakan kejantanannya yang semakin mengeras.

“Aku hanya mencintaimu, Jae. Ahh.. Aku bahagia hanya karena
mencintaimu. Sekarang diamlah dan bagaimana pun caranya segera tuntaskan rindu yang menggerogoti kekasihmu ini..”

.
.
.
.
Eaa eaa eaaa. NC terskip dengan tidak sopannya. Awalnya aku mau membuat akhir yang lebih panjang dari ini, tapi entah kenapa hatiku mengatakan untuk menyelesaikan ff ini secepatnya tanpa basa-basi lagi.

Yah, semoga kalian tidak begitu
kecewa dengan ending ff aneh ini.Hehe… Sebenarnya ini dikarenakan banyaknya ide-ide bermunculan.yang mendesakku untuk segera membuat ff baru. Tapi karena keyakinanku mengatakan bahwa tidak baik menumpuk kerjaan yang belum selesai, jadi yah… aku menyelesaikan ff ini dgn singkat.dan nggak jelas.

TERIMA KASIH untuk para reader kece yang baik hati untuk selalu mampir^^ peluk sayang untuk kalian semua… ^^y

2 thoughts on “Love.. What To Do (chapter 7) by : parkririn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s