[FF] Coffee Of Love – Part 14 The End of The Beginning


Title : Coffee Of Love

Pairing : Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Kim Hyun Joong, Kwon Boa and others

Genre : Romance, drama, angst, sweet, mpreg

Rate : 16+

Chap 14 – The End of The Beginning

 

“Anda Jung Yunho, Benar?”

“Benar.”

“Anda bekerja sebagai buruh pabrik, Benar?”

“Benar.”

“Anda mengenal Kim Hyun Joong?”

“Kenal.”

“Bisa menghubunginya?”

“Bisa.”

“Bagus anda harus bekerja sama dengan kami!”

 

(Jaejoong POV’s)

“Shireo!” Sentakku melempar sumpit yang tengah di arahkan padaku oleh sahabatku yang berbokong montok ini.

SRAKK!!

Sumpit itupun berserakan di lantai serta mangkuk yang tengah di pegang oleh Junsu. Namja berwajah bulat itupun menatapku terkejut tapi aku tidak peduli. Walaupun sudah dua hari ini aku tidak mengisi perutku selain air mineral.

“Hyung!? Kau tidak bisa seperti ini terus hyung! Bagaimana dengan bayi yang ada di kandunganmu!?” Sentak Junsu menahan tanganku. Aku menatapnya marah. Kuhempaskan tangannya yang menahan lenganku.

“Aku tidak peduli! Aku tidak peduli jika bayi ini mati!” Teriakku membuat namja itu hanya memijit pelipisnya dan menggeleng.

Ckrek!

“Omona!Joongie-ah!” kali ini Yoochun masuk ke dalam kamar apartemen Yunho yang tidak mau aku tinggalkan semenjak Ia di tangkap dua hari yang lalu. Namja berdahi lebar itupun berlari kearahku.

“Joongie-ah, tolonglah makan sedikit!” Ucapnya memelas tapi aku seakan tidak mendengar perkataan Yoochun sedikitpun. Aku tidak mau mendengar siapa-siapa. Aku ingin Yunho ku kembali dan bayi ini mati pun aku tidak peduli. Toh Ia bukan darah daging Yunho!

“Joongie, dengarkan aku!” Yoochun mencekal bahuku dan memaksaku untuk menatapnya. Tapi aku berpaling ke arah lain.

“Aku tau ini bukan anak dari Yunho-sshi. Tapi bisakah kau kasihan sedikit dengan janin itu? dengan dirimu? Dengan Yunho-sshi yang tengah ditahan?” Ucapan Yoochun membuatku tersadar seketika. Aku menatap mata sipit itu sembari menahan airmata yang mulai menumpuk di pelupuk mataku. Akupun jatuh merosot di lantai yang dingin. Dadaku sesak menahan semua beban yang menumpuk di hatiku. sesak mengapa semua kekacauan inii tidak kunjung berakhir.

“Hyung, aku mengerti perasaanmu. Tapi tolong jangan bersikap seperti ini.” Ucap Junsu lembut sembari berjongkok di depanku. Tangannya menggenggam tanganku guna memberiku kekuatan. Yoochun pun ikut berjongkok di depanku.

“Hiks~”

“Joongie-ah, kau tahu Yunho-sshi sangat peduli dengan bayi ini. Bagaimana perasaannya jika Ia tahu kau tidak makan selama dua hari?” Ucap Yoochun lagi semakin membuat deras airmataku. Junsu pun memelukku dengan hangat. Aku pun balik memeluk sahabatku itu. seakan dengan seperti ini aku bisa sedikit mengurangi beban yang menggelayuti hatiku.

“Uljimma hyung, semua nya akan baik-baik saja. Percayakan saja pada namja jangkung itu.” Ucap Junsu. Akupun melepas pelukannya dan menatap Junsu aneh.

“Wae?” Tanya Junsu dengan tampang polos bin pabo nya.

“Jangkung? Changmin? Kau lihat Changmin kemana?” Repetku. Junsu menggeleng.

“Mollayo, hyung aku hanya melihatnya keluar apartment dengan tergesa-gesa. Ketika kutanya Ia hanya menjawab akan ke kantor polisi.” Jelas Junsu membuatku terbelalak.

“Aish! Kenapa Ia tidak mengajakku!? Kenapa!?” Tanyaku kesal sembari mengguncang tubuh tambun Junsu.

“Mollayo hyung~” Ucapnya. Aku pun mengerucutkan bibirku kesal. Kenapa Changmin harus pergi sendiri? Kenapa Ia tidak mengajakku? Apa yang di sembunyikannya hah?

“Joongie-ah lebih baik kau makan ne~? aku akan mencari Changmin.” Ucap Yoochun menepuk bahuku pelan. Aku pun mengangguk pasrah dan mau makan setelah Junsu mengambilkan makanan lagi.

 

(Changmin POV’s)

Aku berdiri di ruang kepala kepolisian untuk menyerahkan sejumlah dokumen yang aku dapatkan secara diam-diam dari rumah Joong hyung. Walaupun aku hanya anak sekolahan tapi aku cukup pintar untuk mencuri barang berharga seperti dokumen ini karena di sana pun tertulis namaku sebagai salah satu pewaris saham milik Kim ahjusshi. Dokumen yang aku dapat ini akan memperkuat bukti bahwa Yunho hyung sama sekali tidak bersalah dalam kasus ini mengingat Ia hanya buruh pabrik di perusahaan Joong hyung.

“Hingga hari ini aku tidak mengerti mengapa Joong hyung begitu benci padamu!” Seruku saat aku tengah mengunjungi Yunho hyung yang kini tengah duduk di balik kaca pembatas. Aku mempererat pegangan tanganku pada gagang telepon yang saling menghubungi kami karena rasa kesal.

“Tidak apa, Min. bagaimana keadaan Jaejoong?” Tanya namja bermata musang itu. aku pun terdiam sejenak menatap wajahnya yang kelihatan lelah dengan sebuah kantung mata yang bergelayut.

“Hhh~ Ia tidak mau makan hyung, sampai kedua temannya itu datang. Aku harap mereka bisa membujuk Jaejoong hyung.” Jelasku. Kulihat raut wajah Yunho hyung yang berubah menjadi cemas.

“Bagaimana dengan bayinya, Min? apa mereka berdua baik-baik saja? Tidak bisakah aku sekedar mendengar suara Jaejoong?” Ucap namja berkulit tan itu dengan panic. Aku hanya bisa menggeleng lemah menjawab semua pertanyaan Yunho hyung yang bertubi. Aku tau namja itu pasti sangat mengkhawatirkan Jaejoong hyung, apa lagi Jaejoong hyung tengah mengandung belum satu bulan ini. Kulihat Yunho hyung tertunduk lesu begitu mengetahui jika saat ini Ia tidak bisa menghubungi siapa-siapa.

“Hyung, aku berjanji ini akan selesai secepat mungkin.” Ucapku mengakhiri pembicaraan.

“Tunggu, Min!” Panggil Yunho hyung sebelum aku meletakkan gagang telepon itu kembali ke tempatnya.

“Wae hyung?”

“Besok aku mau Jaejoong menjemputku di bandara. Dan aku akan memindahkan semua saham Kim appa atas namamu.” Ujarnya membuatku terkejut bukan main.

“M-mwo!? Aku terima jika Jaejoong hyung menjemputmu besok tapi saham itu! tidak, tidak aku tidak mau!” Seruku membantah. Walaupun Kim ahjusshi adalah pamanku tapi Yunho hyung juga termasuk di dalamnya.

“Kau harus menerimanya, Min.”

Klik!

 

(Auhtor POV’s)

Kringg!!

Kringg!!

Kringg!!

Suara dering telepon memecah keheningan pagi yang membuat namja dengan rambut blonde putihnya harus bangun dengan tergesa untuk mengangkat telepon di pagi buta itu. mata bulatnya tampak sayu karena semalaman Ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.

“Yabuseyo?” Sapanya dengan suara serak.

“Hyung, Yunho hyung ada di bandara!” Ucap suara di seberang.

“M-mwo!?” Seketika itu juga kesadaran Jaejoong menanjah seratus persen. Kantuknya hilang entah kemana bersamaan dengan berita yang menyapa telinganya pagi ini.

“Ia ingin~~”

Detik berikutnya gagang telepon itupun terhempas dari tangan mungil milik Jaejoong. Otaknya serasa membeku mendengar pemberitaan itu. Yunho? Di bandara? Untuk apa? Apa Ia akan dipindahkan tahanan? Untuk apa? Sebesar itukah kesalahannya? Tidak, tidak mungkin ini terjadi…

Brakk!

Jaejoong segera keluar apartment tanpa mempedulikan pakaian yang Ia kenakan. Dalam pikirannya Ia harus segera sampai secepat mungkin ke bandara untuk mencegah apapun yang terjadi di bandara saat ini. Namja cantik itupun tidak peduli banyak mata memandangnya yang berlari di trotoar. Jaejoong pun tidak peduli dengan keadaan perutnya yang kian membuncit karena mahluk yang bertumbuh di dalam rahimnya. Tidak ada yang dipedulikan Jaejoong selain bertemu Yunho saat ini juga dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Bagaimana namja yang tidak pernah melakukan apa-apa tiba-tiba harus dipindah tahanan. Memang seberat itukah kesalahan yang dilakukan seorang Jung Yunho? Tidak! Namja berwajah angelic itu merasakan adanya kejanggalan yang terjadi dengan semua ini. Penangkapan itu. Changmin yang tidak memberitahunya jika Ia pergi menjenguk Yunho. Dan sekarang kepindahan tahanan. Semua itu berputar-putar di dalam memori otak Jaejoong.

“Yun~!! Yunho!!!!” Teriak Jaejoong di tengah keramaian keberangkatan Internasional Incheon Airport. Walaupun Ia merasakan kakinya yang melemah dan perutnya yang menjadi sakit karena berlari sejauh itu.

“Yunho!!! Jung Yunhoo!!!” Teriak Jaejoong lagi tanpa peduli seluruh mata di bandara kini tengah memperhatikannya yang tengah berteriak-teriak seperti orang gila.

“Pabo!” Sebuah suara tiba-tiba menyapa telinga namja cantik itu di tengah keramaian bandara. Jaejoong pun segera mengalihkan pandangannya kearah datangnya suara.

“Kau sudah gila ya?” Tanya suara bass itu sembari berjalan mendekat. Jaejoong pun membelalakkan matanya dan segera berlari kearah si empunya suara.

Grepp!!

“Yun~~” Pekik Jaejoong memeluk tubuh atletis namja yang namanya Ia teriakkan tadi. menghirup aroma manly sebanyak-banyaknya seperti telah ditinggalkan lama oleh namja bermata musang itu.

“Boo~ kau membuatku sesak!” Seru Yunho. Namja cantik itupun melepas pelukannya. Wajahnya memerah karena menangis.

“Kau tidak malu Boo? Berpakaian seperti ini?” Tanya Yunho melirik apa yang dikenakan Jaejoong. Piyama hello kitty dan sepasang sepatu tidur berkepala kelinci. Wajah putih itu sontak memerah karena malu.

“Ehm~” Angguk Jaejoong malu. Namja bermata musang itupun hanya tersenyum menatap Jaejoong yang tengah tersipu malu di depannya.

“Kau tidak ingin menciumku, Boo?” Tanya Yunho sontak membuat wajah angelic itu menoleh dan bertambah merah.

“M-mwo?” Tanyanya gugup sedangkan Yunho hanya tertawa mengejek melihat sikap namja cantik di depannya yang tampak seperti orang bodoh.

“Sudahlah, kajja kita pulang!” Ajak Yunho menggandeng tangan mungil itu dan berjalan keluar bandara.

“Pu-pulang!? Kau belum menjelaskan ada apa ini sebenarnya!  Kau membuatku khawatir setengah mati! Dan aku harus berlari dari apartment menuju ke bandara karena tiba-tiba Changmin meneleponku. Dan sekarang kau~~humphh” Bibir cherry yang berkicau itu kembali di bungkam oleh benda hangat, basah, dan lembut.

“Sudah?” Tanya Yunho menjauhkan wajahnya dari wajah cantik yang tengah berlinang airmata itu. Namja berkulit tan itu berhasil membungkam kembali bibir kecil yang cerewet itu dengan bibirnya.

“Jadi~ jelaskan padaku!” Seru Jaejoong dengan wajah memerah. Malu bercampur kesal.

“Aku dijebak oleh Hyun Joong, Boo. Tapi kepolisian ternyata mencurigai Hyun Joong. Agar Hyun Joong masuk ke dalam perangkapnya sendiri maka aku di jadikan umpan dengan setuju ke Paris untuk menandatangani penyerahan saham. Akhirnya Hyun Joong ditangkap. Aku minta tolong pada Changmin agar kau menjemputmu bukan membuatmu panic seperti ini. Dasar bocah pabo pasti Ia berbicara dengan tergesa-gesa. Lalu setelah itu aku keluar dari perusahaan dan Changmin akan membunuhku karena menjadikannya CEO muda. Selesai.” Jelas Yunho panjang lebar tanpa jeda sembari mengusap lembut pipi mulus Jaejoong. Mengusap air mata yang jatuh dari sudut mata bulan itu.

“Jadi maksudmu namja itu tidak akan mengganggu kita lagi? Lalu kenapa Changmin akan membunuhmu?” Tanya Jaejoong serak. Yunho mengangguk lalu merangkul namja mungil itu.

“Karena aku memindahkan semua saham dengan nama Shim Changmin. Karena sekarang Ia lah yang menjadi satu-satunya pewaris saham Kim appa.” Ucap Yunho lagi. Jaejoong pun mengangguk-ngangguk sembari menyeka airmatanya.

“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, Yun?” Tanya Jaejoong menatap wajah kecil yang tengah menghadapnya.

“Ya, seperti yang kau tau Boo. Apa yang bisa kulakukan selain bermain Rugby?” Ucap Yunho yang segera dibalas dengan sebuah pukulan keras di lengannya.

“Mwo!!??” Seru Yunho tidak mengerti mengapa namja mungil ini memukulnya.

“Kau itu bodoh atau bagaimana sih Jung Yunho!? Jika kau bermain Rugby lagi yang patah bukan hanya gigi atau bahu mu tapi juga lehermu! Arasho!” Bentak Jaejoong kesal. Wajahnya memerah tapi Yunho hanya tertawa yang membuat namja cantik itu mengerucutkan bibirnya.

“Aku akan menjadi pelatih, Boo. Aku tidak bermain. Kau mengerti?” Jelas Yunho lembut. Jaejoong pun mengangguk kikuk sembari tertunduk.

“Lalu, bagaimana bayi kita?” Tanya Yunho tiba-tiba menyentuh perut Jaejoong hangat. Namja cantik itupun tersentak.

“Eh, gwenchana?” Tanya Yunho melihat reaksi Jaejoong yang sepertinya menolak di sentuh.

“Ini bukan bayi kita, Yun. Kau tau itu~” Ucap Jaejoong lirih.

“Lalu bagaimana agar itu menjadi bayi kita? Kita menikah? Sekarang?” Tanya Yunho membuat Jaejoong semakin tersentak kaget. Ia pun menatap manic coklat yang tengah menatapnya.

“M-mwo?” Tanyanya tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Yunho tersenyum sembari mempererat rangkulannya.

“Menikah. Kau kan akan memberikanku 25 anak ne?” Ucap Yunho.

“Mwo!? Kau sudah gila!? Mau membunuhku ya!?” Seru Jaejoong dengan wajah memerah.

“Anniya. Aku lebih suka membuatnya.” Ucap Yunho dengan senyum jahilnya lalu tertawa meledek.

“Dasar sesat!” Gerutu Jaejoong manyun.

“Aish! Apa itu di bibirmu?” Tanya Yunho tiba-tiba membuat Jaejoong dengan spontan menyentuh bibirnya.

Cup!

“Jadi?” Tanya Yunho kemudian setelah Ia menjauhkan wajahnya dari wajah angelic yang merona merah itu.

“Mau menikah denganku?”

“Ehm~” Angguk Jaejoong cepat.

“Apa itu? aku tidak mengerti.” Ucap Yunho belum puas mengerjai Jaejoong. Namja cantik itupun mengerucutkan bibirnya. Membuat Yunho lagi-lagi tersenyum melihatnya. Namja berkulit tan itupun menyentuhkan dahinya dengan dahi Jaejoong.

“Jawab atau kucium kau!” Ancam Yunho terkekeh.

“Aku mau menikah dengan orang  sesat macam kau!” Seru Jaejoong dengan wajah memerah menahan malu dan gemas. Dan bibir mereka pun kembali bertautan bersamaan dengan mekarnya bunga pertama di musim semi.

No matter what happens, even when the sky is falling down..

I’ll promise you…

That I’ll never let you go…

Just You and I…

Forever.. and ever…

 

END

Kamsahamnida untuk yang sudah meluangkan waktunya baca FF ini, terima kasih juga reviewnya ^^/

5 thoughts on “[FF] Coffee Of Love – Part 14 The End of The Beginning

  1. Bukan sesat jaemma..tp pervert hahaha
    tp koq udah end aja??? yunjae’a kan blm nikah, trz jaemma blm ngelahirin. #komplain aja hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s