Wish Upon A Star 1/2


Judul : Wish Upon A Star 1/2

Genre : Angst, Family

Rate : PG

Length : Oneshoot

Blurp : Changmin terlahir dari keajaiban bayi tabung dan kini sedang duduk di sekolah dasar. Suatu hari, Changmin menemukan lebam di wajah ibunya, Kim Jaejoong. Awalnya Changmin tak mengetahui penyebab lebam tersebut sampai Changmin melihat sisi monster sang ayah, Jung Yunho, yang selalu pulang membawa noda lipstick di kemeja.

Ketika Jaejoong terbaring di rumah sakit setahun lamanya, Changmin tak pernah kehilangan harapan, mempercayai adanya keajaiban suatu saat ibunya akan kembali membuka mata lagi. Karena di negeri ini, apapun yang kau inginkan bisa terjadi. Bintang jatuh akan mengabulkannya. Tapi, langit waktu itu tak segemerlap lampu malam Kota Seoul.

Author        : Sarah Anna Kiko

Editor          : @Anemone_sea

 

…Once upon a time…

 

Duk… duk… duk…

BRUK

Jaejoong terperengah sekonyong-konyong menarik berdiri kepalanya yang tersungkur di atas buku dalam pangkuan pahanya sendiri. Jaejoong melepas kacamata, memijat pelan pinggiran kening semata-mata mengurangi denyut yang berpesta di dalam. Kemudian dia beringsut dari sofa tanpa menghiraukan sebelah celana piyamanya terkatung.

  1. . duk… Bunyi pukulan kecil dari arah pintu masuk terdengar lagi. Jaejoong mempercepat langkah, tapi tak lekas membuka pintu. Dia diam di sana seakan-akan tak mengetahui siapa yang tengah membuat kegaduhan di balik pintu itu.

“Yunho?”

Tidak ada jawaban.

Desah nafas meluncur mulus dari mulut Jaejoong. Tanpa merasa buru-buru, Jaejoong memutar knop. Bersamaan dengan bukaan pintu, sebuah tubuh ambruk menjatuhi Jaejoong. Agaknya Jaejoong terkesiap ketika di waktu yang sama bersusah payah mempertahankan keseimbangan dan membuat orang dalam pelukannya berdiri tegak. Dengan segenap kekuatan, Jaejoong memaksa tubuh itu bersandar di dinding.

“Darimana kamu, hah? Baru pulang jam segini,” sembur Jaejoong sembari menopang tubuh layu itu dengan sebelah tangan supaya menunjukkan wajahnya.

Yunho—yang memasrahkan tumpuan seluruh bobot badannya pada Jaejoong—memberi lirikan pendek sebelum matanya kembali menutup, terbuka, menutup lalu terbuka lagi. Mata yang kehilangan titik fokus penglihatan. Yunho menggeram kecil, “Itu urusanmu?”

Mata sipit Jaejoong terbelalak, memelototi Yunho. “Tentu saja urusanku!”

Yunho melepas tangan Jaejoong dari bahunya. Berlalu pergi tak menghiraukan Jaejoong. Langkah-langkahnya gontai, sempoyongan tak terkendali dan berkali-kali menabrak dinding. Jaejoong masih berdiri di ambang pintu masuk, memperhatikan Yunho sambil mengendus bau menyengat khas alkohol bertebaran di udara.

“Yunho!”

Yunho terus melangkah, membiarkan separuh jas hitamnya terseret di lantai sebelum dilepasnya tanpa peduli ke sembarang tempat. Jari-jari lemas Yunho merayap, meraih pangkal dasi dan berusaha membukanya terburu-buru. Mata Yunho mengerjap sesekali, mengharapkan kesadaran segera datang kepadanya.

Yunho telah meneguk berbotol-botol alkohol. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai dia kehilangan kendali lalu jatuh mabuk tak tertolongkan. Saat di club, Yunho hanya mengobrol bersama teman-teman sekantor sambil dikelilingi gadis-gadis cantik, menggairahkan. Yunho tak bermaksud apapun selain berniat minum tiga botol saja, setelah itu langsung pulang. Tapi kilasan ingatan dalam kepalanya membantah atas kebenaran niat tersebut.

Yang sebenarnya terjadi, tak terbilang lagi julah botol alcohol yang Yunho minum. Yunho memangku seorang gadis cantik berpakaian minim saat mengobrol dengan teman-temannya. Paha gadis itu mulus, kalau ia tidak salah ingat. Oh, atau gadis yang duduk di sebelahnya pemilik paha itu? Entah, ia tidak ingat betul. Satu-satunya hal yang ia pahami adalah rasa senang yang meletup-meletup dan itu patut dihargai sebagai upah lelah berkerja seharian.

Semua ini berkat Yoochun. Kalau bawahannya itu tidak pernah ada di SM hotel, Yunho hanya akan pulang dalam keadaan stress dibebani tumpukan pekerjaan yang tak ada selesainya.

Tapi kemudian segala yang dipikirkannya lewat begitu saja ketika ia merasakan satu tangan menyentuh bagian belakang pundaknya. Menariknya sampai berbalik ketika yang bisa dia lihat hanyalah pemandangan runyam berputar-putar, penuh kunang-kunang.

“Apa?!” sahut Yunho garang, menatap orang yang telah memaksanya berbalik.

Apa? kamu bilang?! Jawab dulu pertanyaanku! Darimana kamu tadi?”

“Club. Kenapa?”

Jaejoong menarik nafas dalam-dalam, menahan emosinya di sana dan berusaha mengeluarkan nada tenang. Dia tak bisa meledak di hadapan orang mabuk. Itu sia-sia. Jaejoong mencengkeram bahu Yunho. Membuat kemeja putih bergaris-garis milik Yunho makin kusut. “Sama siapa? Kenapa baru pulang sekarang?”

Lama jeda pembicaraan. Menunggu jawaban dari Yunho, tapi nihil. Suami dari Kim Jaejoong itu tidak bergerak, hanya menutupkan mata seolah-olah sekarang berada di atas ranjang, menikmati setiap detik tubuhnya beristirahat.

“Yunho!”

“Aku gak tahu! Aku mau tidur!” Yunho meronta, berusaha melepaskan diri.

“Kok bisa gak tahu?!”

“Ya, pokoknya nggak tahu! Oke? Permisi, Nyonya, aku mau tidur!”

“JAWAB DULU PERTANYAANKU!” Akhirnya ledakan itu keluar. Suara nyaring Jaejoong memenuhi isi rumah. Memberi pukulan menyakitkan di telinga Yunho dan membuatnya dua kali lipat lebih pening.

Tangan Jaejoong melayang cepat, siap mendaratkannya pada satu titik di bagian Yunho dan berhasil ditahan oleh Yunho sendiri.

PLAK!

Namun, satu tamparan tetap melayang bebas bersamaan dengan hilangnya sosok Jaejoong dari pandangan. Tak tahu kemana perginya, bahkan Yunho tak lihat ketika Jaejoong berlalu.

Samar terdengar suara rintihan. Yunho tak menghiraukan kepergian Jaejoong ataupun suara itu, dan malah kembali meneruskan perjalanannya menuju kamar. Saat suara rintihan itu terdengar makin keras, Yunho berbalik tanpa menghentikan langkah dan menyadari satu hal.

Oh, ternyata Jaejoong di lantai, batinnya menggumam kecil.

 

…and the first day began…

 

“Ma,”

Fokus Jaejoong masih berada pada kancing seragam Changmin, sebelum ia mendongak mencari sepasang mata, “Ya, Sayang?”

“Kok pipinya biru, Ma?”

Barang sebentar Jaejoong bertatapan dengan anak tunggalnya itu. Melihat ke dalam bola-bola mata Changmin seakan sedang berkaca pada dirinya sendiri. Betapa bola mata itu mirip dengan miliknya. Sesaat Jaejoong tertegun; sepercik api perlahan membesar seiring hamburan ingatan yang datang-pergi bergantian, kejadian-kejadian yang kadang membuatnya ingin berhenti memerankan tokoh seorang istri, menghilangkan sorot hangat di mata Jaejoong yang sedang ditonton Changmin. Di sepasang mata Changmin tersalip keping-keping milik Yunho. Menohok ulu hati Jaejoong terhadap kenyataan; Changmin adalah buah cinta mereka berdua—Yunho dan Jaejoong. Cinta yang pupus.

“Mama jatuh,” akhirnya Jaejoong menjawab.

“Jatuh dimana?”

“Dari tangga. Tuh, disana,” Jaejoong asal tunjuk anak tangga yang dilewatinya pagi tadi.

“Mama jatuh pas mau bangunin aku?” mata Changmin membulat, menatap Jaejoong lagi.

“Mm-hmm,” Jaejoong manggut-manggut sambil mengerucutkan bibir dan berhasil membuat Changmin tersenyum melihat wajah lucu itu. “Mama ceroboh, ya?”

“Iya!” Changmin terkikik, menghambur ke dalam pelukan ibunya. Menyerang wajah ibunya—termasuk bagian yang membiru— dengan jutaan ciuman penuh kasih. “Maafin Changmin…” terakhir, Changmin memberi ciuman di kening.

“Makanya, lain kali bangun sendiri ya?”

Changmin mengangguk kecil, menerima uluran tangan sang Ibu yang menuntunnya menuju pintu keluar, mengantarnya menuju halte dimana bus sekolah akan menjemputnya.

“Ma,”

“Hm?”

“Hari ini, aku mau beli cheeseburger McD dong, Ma… Tiga ya, Ma… buat cemilan.”

Nafsu makan anaknya kadang mengundang tawa. Tapi tak ada yang bisa Jaejoong katakan selain mengangguk tanpa bisa menolak, tersenyum memberi kehangatan dan tak pernah menyurutkan senyumannya itu bahkan sampai Changmin menaiki bus, melambai kepadanya dari kursi bus paling belakang hingga bus tak nampak lagi dari pandangan.

Jaejoong masih berdiri di sana, dengan sisa-sisa senyuman dan lambaian tangan. Dalam hatinya terucap sepenggal do’a, untuk anaknya yang dia mohonkan kepada Tuhan. Setelah itu, Jaejoong berbalik sambil memikirkan buku-buku dongeng bermakna yang akan dia beli. Berharap Changmin akan mengerti pesan-pesan bijak dari dongeng tersebut. Agar kelak, Changmin tak tumbuh seperti ayahnya.

 

…two weeks away…

 

“Kamu tahu, kemaren Changmin ikutan lomba mengarang?”

“Hm? Nggak,”

“Dia dapet piagam dari sekolahnya,” lanjut Jaejoong sambil lalu duduk di seberang Yunho.

Jaejoong meringis nyaris tanpa suara saat punggungnya membentur sandaran kursi. Mendapat peringatan supaya lain kali duduk dengan cara perlahan, juga agar tidak membuat suaminya marah lagi dan mengakibatkan sebuah tendangan melayang menjatuhkan Jaejoong, melukai bagian belakang tubuhnya.

“Baguslah,” sahut Yunho, sambil mengunyah roti isi sebagai menu sarapan.

“Nanti pulang dari kerja, kamu ucapin selamat ya sama dia,” Jaejoong meraih garpu dan pisau, menusuk dan memotong roti isinya tanpa hasrat benar-benar ingin makan, tapi masih berlagak lapar semata-mata menyenangkan hati suaminya. “Kasihan Changmin. Akhir-akhir ini kamu jarang ketemu dia sih.”

“Ah, toh anaknya juga nggak apa-apa,”

“Ya… siapa tahu, ‘kan, Yun,” Jaejoong tersenyum, menyiratkan kode yang diharapkan bisa dimengerti Yunho. “Waktu kita kecil aja, kadang orangtua kita gak ngerti sama jalan pikiran kita.”

“He em,” Yunho mendehem kecil sebagai tanda persetujuan tanpa berhenti mengunyah. “Ya kalau begitu kamu harus lebih tahu dia.”

Jaejoong mengangkat kepalanya cepat, lalu keduanya bertemu bertukar tatap.

“Kamu ‘kan ibunya?” Yunho melanjutkan.

“Dan kamu ayahnya,” Jaejoong menyambung kalimat Yunho. Mempertegas suaranya supaya dipahami Yunho bahwa ini serius.

Sepasang mata Jaejoong menatap setiap mata Yunho. Mencari sesuatu di sana, apakah tersimpan kepedulian di balik kalimat Yunho atau memang dia berkata apa adanya? Detik-detik berlalu dan tatapan mereka berubah menjadi perseteruan sorot mata. Sama-sama menyerukan kalimat terakhir dari masing-masing adalah benar dan salah satu dari mereka harus mengalah untuk menerimanya. Namun keduanya keras kepala.

Yunho tiba-tiba membuang muka, terkekeh geli tanpa alasan yang bisa dimengerti. Setelah melap mulut dengan serbet, Yunho beringsut dari tempat duduk. Pergi dari meja makan ke ruang tengah, mengambil jas dan koper, keluar dari rumah tanpa ucapan dan ciuman ‘sampai nanti, aku pergi kerja dulu’ seperti yang sudah-sudah.

Jaejoong tetap berada di meja makan. Mengunyah dan menelan tak merasakan apapun yang ada di dalam mulut.

 

…kemudian, bulan selanjutnya…

 

PRANG!” Begitu saja, suara jatuhan dan pecahan terdengar memekikkan telinga, muncul tanpa beban. Kopi dalam cangkir favorit Jaejoong tumpah. Warna cokelat pekat dari mocachino mengalir perlahan, merayap jauh dari satu ubin ke ubin lain.

Jaejoong memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan sensasi tusukan di setiap inci isi kepalanya. Sebelah tangannya memijat pelipis kuat-kuat sementara tangan lain bertumpu pada meja makan, menahan bobot badan. Pusing lagi, batinnya mengeluh. Bukan sekedar pusing dan sakit kepala biasa.

“Oh Tuhan, cangkirku,” ratapnya kemudian setelah sedikit demi sedikit mampu bangkit dari nyeri yang seakan bisa membunuhnya dalam satu detik.

Saat hendak mengumpulkan pecahan-pecahan cangkir, Jaejoong mengurungkan niat dan kembali duduk. Masih merasakan sisa-sisa sakit yang bisa melenyapkan kekuatannya lagi dan mungkin akan membuat keadaan lebih berantakan. Dia tidak lelah, batinnya berseru keras. Dia melakukan apa yang biasa dia lakukan dari tahun ke tahun, rutinitas seorang ibu rumah tangga. Tapi entah bagaimana, setiap hari tubuhnya membantah akan setiap rutinitas yang semakin lama semakin terasa berat seolah-olah pekerjannya bertambah banyak. Padahal, dibanding Yunho, yang dikerjakan Jaejoong di rumah bukanlah apa-apa.

Ini seakan tubuhnya memiliki batasan waktu. Harus mulai pada jam sekian, tidak boleh lebih dari sekian jam, pada jam sekian harus sudah istirahat dan jika semua itu dibantah, tubuhnya akan berontak. Diam dalam renungan, Jaejoong gemetar, meremas kedua tangan ketika dia terhanyutkan pikiran yang membuatnya terjebak sergapan ketakutan. Wajah Changmin yang berkelebatan dalam bayang dan gema tawa Changmin yang perlahan meredup meninggalkan dirinya. Seakan-akan waktu yang dimiliki tubuhnya menyempit.

Tiba-tiba, gambaran wajah suaminya muncul. Sosok Jung Yunho sebelum Changmin terlahir. Ketika masa-masa itu terasa ringan dan mereka memutuskan untuk memiliki seorang anak. Changmin yang dilahirkan dari letupan cinta. Cinta yang membawa mereka berdua pada keyakinan akan masa depan yang selalu terang dan hangat seperti waktu itu.

Suara derap langkah dari arah luar memburu menghantam alam sadar Jaejoong pada kenyataan. Mata Jaejoong berkeliling, memperhatikan keadaan sekitar. Terik matahari menembus kaca jendela dapur. Menghangatkan pikiran beku Jaejoong dan memberinya ketenangan pada fakta bahwa hari ini, sekarang, paru-parunya masih bergerak untuk memberinya kekuatan memeluk putranya. Itu lebih baik dari pada tenggelam pada angan-angan masa lalu.

Cahaya matahari menyeruak masuk ke dalam matanya. Menjelajahi setiap kegelapan, menggantinya dengan terang ketenangan. Seperti lampu malam yang berpendar dan detak lemah jantung Changmin ketika anak itu masih berusia satu bulan. Hampir tak terasa apa-apa, tapi begitu menguatkan semangat. Memberikan ribuan kebahagian. Lagi-lagi, meyakinkan Jaejoong seolah masa depan gelap tidak akan pernah ada.

Jaejoong menoleh ke sumber suara derap langkah kaki.

“MAMAAA!” seruan putranya dari luar terdengar.

Jaejoong tersenyum, kemudian pelan-pelan menutupkan mata, lalu membukanya lagi cepat, menolak air mata yang hendak jatuh tatkala mendengar suara itu. Kini Jaejoong yakin betul dirinya masih hidup. Bahkan dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang secara ajaib mengingatkannya pada irama detak jantung Changmin di masa silam.

“Sebentar, Sunshine!”

Di luar pintu sana, Changmin diam menunggu sambil memikirkan kenapa ibunya suka sekali menggonta-ganti nama panggilannya. Ketika pintu terbuka, Changmin menghambur dalam pelukan Jaejoong. Memberi ibunya kecupan ‘aku pulang’. Disusul rentetan sejuta cerita yang dilewatinya seharian ini.

Sementara di bagian kehidupan lain, pada kenyataan yang selalu dikira-kira Jaejoong dan menjadi sesuatu yang paling membuatnya takut; Yunho berpaling darinya.

Yunho baru saja keluar dari ruang rapat lalu masuk ke salah satu kamar di hotel tempatnya bekerja. Telepon genggam telah menempel di telinganya sedari tadi.

“Iya, Sayang. Nanti aku pulang lebih awal,” nada bicaranya lembut, nada yang selalu Jaejoong rindukan. “…oke. Aku tutup dulu, ya?”

Kecupan jauh terdengar oleh wanita di seberang telepon sana. Yunho menarik kembali ponselnya, menghampiri perempuan cantik yang berdiri tak jauh di belakangnya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggul perempuan berpiyama sutera itu.

“Kamu lama banget…” bisik perempuan itu setengah mendesah, mengalungkan tangan di leher Yunho.

 

…and so, a month and one week passed by…

 

“Kamu tuh ya, kalau dikasih tahu pasti ngeles melulu!”

Changmin menunduk dalam ketika sang ayah membentaknya.

“Papa lagi sibuk! Ada tamu kurangajar di tempat kerja Papa! Dan mereka bikin Papa pusing! Terus kamu nggak seharusnya disini nunjukin gambar… gambar apa ini? Gambar gak jelas kayak gini!”

Yunho membuang kertas yang baru saja disodorkan Changmin, membiarkan kertas tersebut melayang tanpa bobot tepat di depan kedua kaki mungil Changmin. Melihat itu, kepala Changmin makin turun sampai dagunya menyentuh dada. Changmin bisa membangkang kepada ibu, tapi ayahnya monster.

Diam-diam Changmin menggigit bibir bawahnya. Kedua tangan yang dia sembunyikan di balik punggung saling bertaut, bergerak-gerak gelisah berharap ibunya cepat pulang untuk segera menolongnya. Minimal menariknya menjauh dari sang ayah bila tidak bisa membelanya. Karena meskipun Changmin tahu power ranger bisa mengalahkan monster apapun yang muncul di sekian episode yang ditayangkan di televisi selama ini, dia juga sudah mulai mengerti tentang lebam-lebam aneh yang akhir-akhir ini kerap bertambah di tubuh ibunya.

Changmin hampir meneteskan air mata ketika akhirnya sang ayah kembali duduk tenang, tangan ayahnya menggenggam telepon tepat di telinga.

Jung Yunho, nama ayah kandung Changmin. Changmin mengakui nama itu sebagai ayahnya, tapi tidak untuk hari-hari kemarin, sekarang dan mungkin esok seterusnya. Sosok yang kini sedang Changmin hadapi tak ada ubahnya dengan sosok dari sekian banyak orang dewasa yang Changmin kenal, yang sering membuat Changmin merasa salah tempat. Ada rasa ketidaknyamanan tertentu ketika berdua bersama Jung Yunho. Sosok Yunho yang ini berbeda dari ayahnya. Ayah yang Changmin kenal telah hilang, pergi entah kemana dan entah kapan akan kembali.

“Ya, Helen?… Makan siang? Hmm, nanti dulu, ya, aku masih sibuk. …Oke, …bye. ….Love you too.” Kata Yunho kepada seseorang di seberang telepon.

Guru bahasa Inggris Changmin bilang, I love you biasanya banyak diucapkan oleh satu orang kepada orang yang disayanginya. Changmin pernah bertanya tentang makna kalimat pendek itu, karena ayahnya sering mengucapkannya di telepon—kadang disingkat seperti tadi, love you, atau ditambah-tambahi dengan kata “too” itu.

Walaupun Changmin telah mengerti makna tiga kata tersebut, tapi Changmin masih dibingungkan oleh fakta lain. Jaejoong sering berucap “I love you” juga untuk Changmin, dan ayahnya tidak. Tiga kata yang keluar dari ayahnya itu selalu ditujukan untuk orang yang berada di ujung sambungan telepon. Bukan untuk Changmin ataupun Jaejoong.

Menurut teman-teman di sekolahnya, terutama yang berada satu kelas dengan Changmin, ayah mereka masing-masing selalu mengutarakan kalimat itu keras-keras untuk ibu mereka.

Nah, lalu kenapa ayahnya tidak?

“Pa,” kali ini Changmin mengumpulkan kekuatan, membuat dirinya sendiri kebal dari omelan Si Ayah.

Yunho meliriknya, “Hah, apa?”

I love you artinya apa, Pa?”

“…aku cinta padamu. Kenapa?”

“Oh,”

“Memangnya kenapa? Jawab aku!” Yunho mendadak fokus pada Changmin.

Changmin, anak SD ini tidak memikirkan apapun selain ‘kenapa I love you?’. Seakan kalimat itu adalah mantra ajaib. “Apanya yang kenapa, Pa?”

“Kenapa kamu tanya soal itu?”

Changmin Kecil menggeleng. “Nggak apa-apa kok.”

Yunho merengut tidak puas. “Oh, ya?”

Changmin mengangguk. “Iya.”

“Coba jelaskan kenapa kamu ingin tahu?” sekarang ayahnya balik menyudutkan, seolah lupa umur anaknya ini tak lebih dari sepuluh tahun. Berfikir bodoh bahwa anaknya ini sedang berusaha membangkangnya.

“Papa sering bilang I love you sih.” Changmin memutar bola matanya kemanapun kecuali pada ayahnya, “Aku jadi penasaran.”

“Begitu?”

“Iya. Kenapa Papa gak pernah bilang I love you sama Mama?”

Yang ini—entah bagaimana—membuat Yunho terkesiap kaget. Kemudian menatap Changmin untuk waktu lama, tatapan yang tak bisa diartikan Changmin Kecil sebagai apa. Reaksi yang sama yang didapatkan Changmin ketika menanyai Ibu soal luka-luka aneh di sekujur tubuhnya.

“Memangnya kenapa kalau Papa nggak pernah bilang gitu sama Mama?”

Changmin menaikkan kedua bahu. “Katanya, Papa temen-temenku sering bilang gitu ke Mama mereka.”

“Gak usah didengerin!”

“Kenapa gak usah didengerin?”

“Nanti kamu jadi naif!”

Changmin mengerutkan dahi, menatap lekat ayahnya dengan pertanyaan baru. “Naif itu apa, Pa?”

“Bodoh. Idiot. Terlalu polos.”

“Idiot apa, Pa? Kalau bodoh berarti nilai ulangannya nol terus dong?”

Tawa ayahnya meledak, terdengar menyeramkan. Lebih menyeramkan daripada tawa nenek sihir di kartun sore yang sering Changmin tonton.

“Untuk sekarang ini, iya, nilainya nol terus,”

“Terus, kalau pengen pinter, gimana?”

“Ya bersenang-senang selagi bisa! Manfaatkan apa yang ada di hadapanmu.”

Saat hendak mengemukakan pertanyaan yang bergerumul di kepalanya, Changmin mendengar seruan dari pintu masuk. “Mama pulang, Changmin…” terdengar tutupan pintu setelah seruan itu terdengar. Changmin bertolak dari tempatnya berdiri, mengejar sumber suara sambil bersyukur dalam hati akhirnya malaikat datang.

“Mama!” Changmin memanggil keras. Sedari tadi Changmin merasa seperti ada yang mencekik dan menahannya. Ketika sang ibu hadir, kini semuanya terasa ringan. Kata mama berubah menjadi sesuatu paling indah di dunia ini. “Mama habis darimana?”

Jaejoong menaruh kantong-kantong keresek di kedua sisinya hati-hati. Menekuk lutut, menyamai tinggi Changmin untuk menerima pelukan dari semata wayang. “Abis belanja, Sayang. Papa masih di rumah?”

“Iya, lagi kerja, Ma.”

Lalu Changmin melihat Jaejoong berdiri lagi. “Yunho?” Dia mendengar nada suara ibunya berubah.

Kini Changmin menoleh pada sang ayah. Tiba-tiba merasa tidak tahan, dia kembali melihat ibunya yang tahu-tahu sudah diam kaku. Changmin mengikuti kemana mata sang ibu mengarah, yang jatuh pada ‘gambar-tidak-jelas’ yang sejak tadi diabaikan.

 

…till the third months of silent prayers…

 

“Tolong jaga anakku,”

 

TBC

5 thoughts on “Wish Upon A Star 1/2

  1. astaga ini ff nyesek bgt
    yunho aku pengen nyekik kamu esmosi sendiri aku sama kamu
    huaaaa tapi thor boleh kasih masukan kan
    kenapa dialognya gak baku padahal keseluruhan pencritaannya bagus hlo bahasanya
    cuma agak aneh saat kata2 di dialognya
    biasanya kan ff yunjae sering pkai bahasa korea utk ibu dah ayah tp disini diganti mama papa klo itu sih aku masih suka cuma yg lainnya aja aneh
    maaf klo kebanyakan kritik
    tapi jalan ceritanya keren kok
    ok semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    lanjutkan aku menunggu lanjutannya!!!!!!!!!!!!

  2. ceritanya sedihh bangett . aku sebenernya masih bingungg itu yunhoo terpaksa nikah sama jaemma apa karna dulu dia suka tapi sekarang engga ???

  3. Knp Yunho tega bgt sie, udh sering main tangan ehh selingkuh pulaa.. Kn kasian Jaejoong sm Changmin, nti klo mrk udh ga ada baruu deh nyesel.. Ckckck

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s