BEAUTIFULL MISTRESS


Title         : BEAUTIFULL MISTRESS (Oneshoot)

Cast         : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Jung Changmin (Cameo)

Genre      : Angst, romance, Smut, Semi-NC

Author    : Ri3chan

Rate         : M

 

(All Author POV’s)

 

Untuk sebagian orang, kecantikan itu sebuah harta tak ternilai yang diberikan Tuhan. Namun untuk sebagian orang lainnya, kecantikan adalah sesuatu yang keberadaannya ada di antara kebahagiaan dan kesedihan.

.

.

.

Love is always this cruel
Love is always this sharp
Love is always like fire
Even when we know this, we still love

(Love Is… by CN Blue)

Sosok itu sibuk mematut dirinya di cermin, memperbaiki kembali tatanan rambutnya yang jelas-jelas sudah terlihat rapi. Kembali membuka lalu mengancing kembali dua kancing kemeja teratasnya. Lalu ia tersenyum dengan amat manis ketika mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Dengan tergopoh-gopoh Ia pun membuka pintu dan menyambut seseorang yang berdiri di sana dengan wajah yang nampak lelah. Namun wajah cantik itu tidak pernah meredupkan senyumnya sedikitpun dari wajah indahnya.

 

“Yeobo, kau lelah? Aku sudah menyiapkan makan malam kesukaanmu. Tapi lebih baik kau mandi dulu. Aku juga sudah mempersiapkan air hangat untukmu.” Ucap si pemilik kecantikan itu sambil menggandeng seseorang yang Ia selalu tunggu tiap malamnya. Dengan telaten Ia pun menunggu pujaan hatinya selesai mandi dan akan menemaninya makan malam. Wajah lelah itu kini sedikit lebih segar ketika selesai mandi dan langsung melahap masakan enak yang sudah tersaji di atas meja. Setelah itu merekapun akan membersihkan piring bersama di dapur dengan canda tawa yang keluar dari mulut mereka.

 

“Apa kau mencintaiku?” Tanya bibir mungil nan merah itu.

 

“Tentu saja.”

 

Dan satu malam akan terlewat dengan kegiatan rutin mereka sebelum tidur. Malam yang akan selalu dirindukan bahkan di tunggu oleh si pemilik wajah cantik. Dimana saat seluruh dirinya serasa dimiliki seutuhnya. Dimana yang ada di dunia ini sudah tidak penting lagi untuk diingat. Hanya ada si pemilik kecantikan dan pemilik hatinya.

 

.

 

.

 

.

“Sampai kapan kau akan terus bertahan seperti ini, Jaejoong-ah?” Tanya seorang namja berdahi lebar yang memandang wajah cantik di hadapannya dengan sedikit kekesalan yang terpendam dalam ekspresinya.

 

“Aku mencintainya, Chun-ah.” Ucap bibir mungil itu lagi dengan sedikit gemetar. Namja di hadapannya terdiam membisu. Hanya menatapnya dengan intens dengan tatapan tidak percaya.

 

“Aku tahu. tapi ini bukan cara yang tepat, Jaejoong-ah. Dia sudah memiliki keluarga!”

 

“Aku tahu! Aku tahu! Tapi aku mencintainya! Aku tidak akan melepaskannya hingga Ia menepati janjinya.” Suara lembut nan rendah itu kini meninggi. Wajah seputih salju itu berubah menjadi merah padam. Bulir-bulir kristal pun berjatuhan dari mata bulatnya yang bening. Ia tidak peduli jika seantero café itu akan memperhatikannya.

 

“Jae, apa kau sadar? Selama ini kau hanya seorang simpanan. Jung Yunho yang kau puja memperlakukanmu tidak lebih dari boneka cantiknya yang akan Ia ‘mainkan’ jika Ia tengah bosan dengan kehidupan nyatanya. Tidak kah kau lelah!? Kau hanya menyia-nyiakan hati dan juga tubuhmu.” Ucap Yoochun panjang lebar. Namja cantik itupun segera berdiri dari duduknya. Ia hanya menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Seluruh wajahnya kini tertutup airmata. Ia pun segera berlari keluar meninggalkan namja berdahi lebar itu yang tengah menarik nafasnya berat. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu namun sahabatnya itu juga mempunyai kepala yang keras.

.

 

.

 

.

Namja berwajah cantik itu terduduk lesu di kursi ruang makan. Mata bulatnya tengah memperhatikan sebuah cincin yang melingkar manis di jari tangan kanannya. Cincin berwarna silver dengan sebuah berlian kecil yang menghiasinya. Jaejoong melepaskan cincin yang sudah melekat di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Ia pun melirik tulisan yang terukir indah di dalamnya. ‘For Eternally, Y and J’.

 

“Abadi,huh Yunho?” Bisik Jaejoong lirih di sela angin sepi yang berhembus diantaranya. Di dalam hati terdalamnya, Ia sadar bahwa dirinya sama sekali tidak pernah menikah dengan pujaan hatinya. Ia bahkan tidak pernah benar-benar memilikinya. Terkadang Ia merasa, semua itu hanya mimpi singkat yang bahkan sebelum pagi menjelang sudah lenyap. Namja cantik itupun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu, menatap kosong ruangan itu sembari merutuki dirinya di dalam hati.

 

“Boneka,huh?” Dengus Jaejoong lagi kali ini disertai buliran airmata yang siap meluncur dari pipi mulusnya yang menirus akhir-akhir ini. Ia pun merosot duduk sembari mendekap tangannya di dada. Sakit yang sudah lama dipendamnya kini perlahan kembali merobek hatinya menjadi luka menganga yang sudah tidak bisa tertutup. Semua janji seorang Jung Yunho padanya bagaikan kebohongan yang tanpa sadar selalu Ia percayai. Janji untuk hidup bahagia dan saling mencinta sekarang lebih seperti sebuah dongeng yang bahkan tidak memiliki akhir cerita yang pasti. Semuanya nampak buram dan hanya bisa menerka tentang apa yang terjadi berikutnya.

 

Ckrek!

 

“Jae? Apa yang kau lakukan di sana?” Tiba-tiba pintu depan pun terbuka dan seorang namja berperawakan kekar memasuki ruang depan dan mendapati Jaejoong tengah terduduk di tengah ruang tamu. Namja cantik itu mendongak dan terkejut mendapati namja tambatan hatinya tengah berdiri di sana di jam yang tidak seharusnya.

 

“Yun? Apa—apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Jaejoong tercekat sembari bangkit dari duduknya. Namja bermata musang itupun mengernyitkan dahinya.

 

“Apa maksudmu, Jae? Apa yang salah?” Yunho pun justru balik bertanya. Namja cantik itupun segera menggelengkan kepalanya cepat.

 

“Apa kau lelah, Yun? Aku belum menyiapkan apa-apa untukmu.” Ucap Jaejoong menyeka airmatanya. Yunho pun melangkahkan kakinya dan meraih wajah mungil di hadapannya dengan sebelah tangannya yang besar.

 

“Kenapa menangis?” Tanya Yunho tanpa menggubris ucapan Jaejoong. Namja cantik itu menggigit bibirnya. Entah Ia akan mengatakan apa yang dirasakannya atau tidak. Ia hanya takut Yunho akan meninggalkannya jika Ia mengatakan yang sebenarnya.

 

“Aku—aku tidak apa-apa, Yun. Ehm kita ke kamar saja.” Ujar Jaejoong akhirnya. Ia pun menggandeng tangan Yunho untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar.

.

.

.

Namja bermata musang itu membanting dirinya di pinggir ranjang sembari menatap Jaejoong yang dengan lesu membuka seluruh kancing kemeja lalu melempar kemeja putih itu sembarangan. Namja cantik itupun berjalan mendekati Yunho yang tengah duduk di pinggir ranjang sembari terus menatapnya lekat. Tangan mungil Jaejoong meraih rahang tegas milik Yunho dan membelainya pelan, tatapan sendu sudah tidak bisa Ia sembunyikan lagi. Perlahan tangan kekar milik Yunho pun melingkar di pinggang langsing Jaejoong dan menariknya, mendekatkan tubuh langsing yang menjurus kurus itu ke dalam pelukannya. Membiarkan kepalanya bersandar di perut rata milik Jaejoong.

 

“Yun…” Desah Jaejoong pelan saat rambut Yunho mulai menggelitiki perutnya saat kepala namja tampan itu bergerak. Tangannya bahkan tidak melepaskan pelukannya di pinggang langsing Jaejoong.

 

“Sssttt, biarkan aku seperti ini sejenak.” Bisik Yunho kini menempelkan wajahnya ke perut rata Jaejoong dan mengecupnya sesekali.

 

“Sshh, kau membuatku geli!” Ujar Jaejoong berusaha menjauhkan kepala Yunho yang masih dengan setia menggelitiki perutnya. Yunho pun menjauhkan wajahnya dan mendongak menatap wajah cantik di hadapannya.

 

“Waeyo? Kau tidak suka ya?” Tanya Yunho dengan wajah polos. Jaejoong pun terkikik di tengah airmata yang siap tumpah di sudut matanya. Ia terlalu mencintai namja yang berada di hadapannya. Ia sudah tidak tahu bagaimana caranya untuk lepas dari mata musang yang selalu memandangnya hangat dan penuh cinta itu.

 

“Bukan begitu, aku hanya geli.” Ucap Jaejoong menyembunyikan semburat merah di pipi mulusnya. Yunho pun kembali menarik tangan Jaejoong dan membuat namja cantik itu hilang keseimbangan dan jatuh di pangkuan Yunho. Namja bermata musang itu pun tertawa renyah sembari mengadu hidungnya dengan hidung mungil Jaejoong.

 

“Saranghae, Jaejoong-ah.” Ucap Yunho sembari menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Jaejoong yang kembali sendu.

 

“Jae-ah, mengapa kau tampak sangat sedih hari ini?” Pertanyaan Yunho membuat airmata semakin deras mengucur dari wajah cantik Jaejoong. Kini Ia kembali menangis tersedu, Yunho pun segera memeluk tubuh langsing itu guna menenangkannya.

 

“Yun, hiks! Apa kau akan meninggalkanku~hiks!”

 

“Apa maksud pertanyaanmu, Jae?” Tanya Yunho sembari menangkupkan tangan besarnya di wajah Jaejoong dan menyeka buliran airmata yang jatuh dengan ibu jarinya.

 

“Kita, sampai kapan seperti ini? Sampai kapan kau akan mengkhianati istrimu?” Tanya Jaejoong tercekat. Namja bermata musang itu segera mengatupkan bibirnya. Tangannya perlahan melepas wajah Jaejoong. Perlahan Yunho pun menurunkan Jaejoong dari pangkuannya dan bangkit berdiri.

 

“Aku—aku sebenarnya tidak tahu, Jae. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Apa aku terdengar egois?” Tanya Yunho berbalik sembari menatap Jaejoong yang tengah terduduk di pinggir ranjang. Ia terdiam, bibirnya bahkan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata yang tercekat di tenggorokannya.

 

“Jae, apa aku terlalu egois?” Tanya Yunho lagi kini sembari berlutut di hadapan Jaejoong, tangannya menyentuh kedua paha Jaejoong. Namja cantik itu masih bergeming. Ia hanya mampu menatap Yunho dengan tatapan nanar.

 

“Yun—lepaskan aku.” Ucap Jaejoong mendorong tubuh Yunho untuk menjauh darinya. Ia bangkit berdiri.

 

“Jae—“

 

“Lepaskan aku Yun!” Bentak Jaejoong. Kini wajahnya berubah menjadi merah padam. Hatinya sakit, terluka sekaligus marah.

 

“Kau berjanji untuk menikahiku tujuh tahun lalu! Aku bahkan bersedia menjadi ‘boneka’mu hanya untuk menunggumu! Kau bodoh Jung Yunho!!” Histeris Jaejoong menjambak rambutnya sendiri. Yunho berusaha untuk menggapai namja cantiknya namun Jaejoong kembali mendorongnya.

 

“Menjauh dariku! Aku benci kau!” Teriak Jaejoong lagi sembari melepas cincinnya dan melemparkannya kearah Yunho. Yunho hanya menatap kosong kearah cincin yang dilemparkan Jaejoong kearahnya. Menatap benda kecil berkilau itu menggelinding jatuh di antara kakinya. Ia lalu kembali mendongakkan wajahnya dan menatap tubuh half-naked Jaejoong bergetar membelakanginya.

 

“Kim Jaejoong, aku tahu kau mungkin tidak akan memaafkanku untuk ini. Tapi rasa cintaku padamu adalah sesuatu yang nyata.” Ucap Yunho sebelum akhirnya Ia beranjak pergi dari sana meninggalkan Jaejoong yang kini merosot duduk dan menangis hingga dadanya serasa sesak. Rasanya sudah cukup tujuh tahun lamanya Ia menjadi simpanan seorang Jung Yunho. Walaupun rasa di dalam hatinya tidak bisa Ia bohongi, karena rasa itu sungguh menyiksa dan mendesak untuk meledak.

 

“Yun—Yunho…” Panggil Jaejoong di gema ruangan kamar yang sepi itu.

 

.

 

.

 

.

Sinar matahari bersinar cukup terik dan awan nampak berarak indah di antara langit biru menciptakan suasana musim panas yang menyenangkan untuk dinikmati dengan bermain di taman, membaca buku atau sekedar berjalan-jalan di pinggir sungai Han. Namun hari cerah seperti itu tidak berlaku bagi seorang namja dengan wajah cantiknya. Ia hanya berdiri lama memandangi sungai Han yang mengalir dari pinggir jembatan. Kedua tangannya Ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Menghitung kembali bulan-bulan yang terlewati bersama kesepian di antaranya. Membuat hari cerah bahkan tidak cerah lagi baginya.

 

It’s a sunny day so without knowing, I go out to the streets

It’s been a while, how are you doing these days?

How is life these days? Your shy smile is still the same

(A Sunny Day by Kim Jaejoong)

 

 

“Jae?” Namja cantik itu menoleh dan mendapati sahabatnya tengah berdiri di sana memandangnya.

 

“Yoochun? Sedang apa di sini?” Tanya Jaejoong kembali memalingkan wajahnya kearah sungai Han. Namja berdahi lebar itu tidak menjawab pertanyaan Jaejoong, Ia hanya berdiri di samping sahabatnya yang memiliki wajah cantik itu.

 

“Melihatmu, apa kau baik atau tidak. Ternyata sama saja.” Ucap Yoochun akhirnya setelah kebisuan cukup lama terjadi di antara mereka. Jaejoong pun menolehkan wajahnya dengan dahi yang berkerut bingung. Yoochun balik menatap mata bulan itu sembari menyunggingkan sedikit bibirnya.

 

“Jangan menyiksa dirimu, Jae. Aku tahu mungkin aku pernah mengatakan sesuatu yang salah tentang dirimu dan—kau tahu—“ Yoochun menghela nafasnya pelan.

 

“Tapi sekarang aku tahu mengapa Yunho belum bisa menikahimu.” Kata-kata Yoochun segera membuat seluruh saraf dalam tubuh Jaejoong seketika menegang. Matanya membelalak terkejut.

 

“Apa—“ Kata-kata Jaejoong tersangkut di kerongkongannya. Entah mengapa kata-kata Yoochun membuatnya menjadi gelisah dan dilanda kekhawatiran. Namun namja berdahi lebar itu hanya tersenyum hangat kearah Jaejoong.

 

“Aku kira Ia namja yang baik. Kau tahu mengapa kalian bertemu pertama kali di rumah sakit? saat kau tengah mengalami sesuatu di mata sebelah kirimu. Saat itu juga Yunho tengah menemani istrinya yang tergolek lemah karena penyakit kanker yang sudah lama menggerogoti tubuhnya. Sebagai suami, Ia hanya ingin menjadi seorang yang bisa menjalankan peran itu dengan baik. Ia pun tidak menyangka bahwa Istrinya akan hidup selama itu serta tidak menyangka jika dalam perjalanan itu Ia jatuh cinta padamu…” Ucap Yoochun panjang lebar. Mata sipitnya kembali menatap wajah Jaejoong yang nampak terkejut.

 

“Kau pasti tidak tahu hal itu kan, Jae?” Tanya Yoochun lagi. Jaejoong hanya menggeleng kaku.

 

“Ia hanya ingin menyimpan hal itu untuknya. Ia tidak ingin di anggap mengkhianati istrinya, walaupun Ia tahu Ia salah. Tapi Ia memang jatuh cinta padamu.”

 

“Bagaimana kau mengetahui semua ini, Chun-ah?” Ujar Jaejoong kini. Yoochun terdiam sejenak.

 

“Tiga bulan lalu, Yunho menceritakan semuanya, di upacara pemakaman istrinya. Seminggu setelah kau mengusirnya pergi.” Jawab Yoochun. Namja cantik itu tiba-tiba merosot jatuh terduduk di hadapan Yoochun. Perasaannya campur aduk. Pikirannya buram.

 

“Apa—apa yang harus kulakukan?” Tanya Jaejoong terbata sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Yoochun pun berjongkok dan menepuk lembut bahu Jaejoong.

 

“Tidak kah kau ingin menemuinya?”

 

.

 

.

 

.

 

Tok!

 

Tok!

 

Tok!

 

Dalam waktu singkat tubuh mungil itu sudah berada di sebuah rumah kecil yang asri dengan taman berumput hijau yang nampak segar. Tangan mungilnya yang gemetaran tidak berhenti mengetuk pintu kayu yang di cat putih oleh pemiliknya. Ia bahkan tidak peduli dengan peluh yang bercucuran di pelipisnya. Tidak sampai semenit dari sebuah pertanyaan Yoochun di jembatan tadi, namja cantik itu segera berlari ke rumah milik kekasih hatinya itu. Tangan Jaejoong masih dengan tidak sabar mengetuk pintu rumah itu hingga beberapa saat mendengar langkah kaki yang tergopoh-gopoh mendekati pintu.

 

Ckrek!

 

Tanpa aba-aba Jaejoong segera meloncat memeluk namja yang membukakannya pintu sembari menangis tersedu. Namun namja itu mendorong pelan tubuhnya, memaksa Jaejoong melepaskan pelukannya yang menyesakkan. Jaejoong pun mengucek matanya dan seketika Ia pun merasakan wajahnya memanas. Ia yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus saat ini. Bagaimana tidak seorang namja berperawakan tinggi kurus tengah berdiri di hadapannya dengan kaos oblong putih dan boxer abu-abu, wajah kekanakannya mengernyit bingung menatap Jaejoong.

 

“Changmin-ah!? Nuguya!?” Teriak sebuah suara yang akrab di telinga Jaejoong beserta penampakan sosok orang yang tengah Ia cari saat ini.

 

“Namja gila yang tiba-tiba memelukku.” Ucap Changmin datar sembari menunjuk Jaejoong yang berdiri kikuk di hadapannya. Yunho pun melongokkan kepalanya dan melihat seseorang yang sangat dirindukannya berdiri menunduk malu.

 

“Ah, Jaejoong-ah—Changmin kembali ke dalam!—masuklah!” Ujar Yunho sembari mengelap tangannya dengan sebuah handuk kecil dan meletakkannya sembarangan.

 

“Mian, aku sedang di dapur menyiapkan sarapan. Ehm, mianhe itu keponakanku, umurnya masih enambelas namun tubuhnya sudah seperti itu—“

 

Grep!

Yunho pun segera terdiam saat namja cantik itu memeluknya kini. Jaejoong sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun kecuali isakan yang berusaha Ia tahan. Dengan ragu Yunhopun akhirnya membalas pelukan Jaejoong dan mendekapnya erat. Menyesap aroma tubuh khas yang dimiliki Jaejoong. Wangi yang selalu dirindukannya.

 

“Yun, mianhe, jeongmal mianhe!” Ucap Jaejoong melepas pelukannya. Yunho hanya menggeleng pelan sembari mengusap rambut halus Jaejoong dan menyentuhkan dahinya di dahi namja cantik itu.

 

“Kau tidak salah, Jae-ah. Aku yang selama ini tidak jujur padamu. Mianhe…” Ucap Yunho mengembangkan senyumnya. Ia pun mengelus pipi Jaejoong yang terasa semakin menirus, menarik lembut dagu namja cantik itu dan menyatukan bibir mereka. Mencium lembut bibir merah muda yang nampak kenyal dan manis itu.

 

“Eungh..” Jaejoong menjauhkan wajahnya untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya. Yunho hanya terkekeh melihat wajah Jaejoong yang kemerahan.

 

“Aku turut berduka cita.” Ucap Jaejoong kemudian sembari menunduk. Yunho mengangkat wajah cantik itu lagi, kembali tersenyum.

 

“Sebelum istriku pergi dari dunia ini, aku sudah mengatakan bahwa seseorang telah mengambil alih hatiku. Namun aku ingin tetap ada di sampingnya hingga Ia menyerah untuk penyakitnya.” Ujar Yunho. Jaejoong pun tercekat mendengar penuturan Yunho.

 

“Kenapa—“

 

“Kau tahu apa yang dikatakannya?” Potong Yunho. Jaejoong menggeleng.

 

’Pergilah, jangan buat Ia menunggu terlalu lama..’ . Namun malam itu kau justru mengusirku pergi.” Lanjut Yunho lagi. Mata bulan itu kembali menitikkan buliran kristal dari matanya.

 

“Mianhe, tapi, Yun—“

 

“Sshh, aku tahu aku pasti terdengar sangat kejam. Di saat seperti itu mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada seseorang, namun sebenarnya itu adalah permintaan istriku sendiri untuk melanjutkan hidup. Pada awalnya aku tidak menerima perkataannya namun setelah aku bertemu denganmu, aku tahu aku jatuh cinta lagi.” Ucap Yunho. Kepalanya tertunduk lesu mengingat masa rumit yang di laluinya akhir-akhir ini.

 

“Yun, aku juga mencintaimu.” Bisik Jaejoong serak. Yunho mendongakkan kepalanya menatap Jaejoong yang memperlihatkan jemarinya yang kembali di hiasi cincin pemberian Yunho dari tujuh tahun lalu.

 

“Nado saranghae, youngwhoni…” Ucap Yunho tersenyum lalu kembali mengecup bibir merah muda itu dengan penuh kasih. Membiarkan seluruh perasaan yang sempat tertahan di dalam hati mengalir seperti derasnya aliran sungai Han di musim panas. Saat ini hingga waktu yang tidak bisa di tentukan oleh manusia, sebuah cinta tumbuh dan berkembang menciptakan akar kuat yang tertancap di dalam dua hati. Menjadikan itu sebuah kekuatan untuk mengarungi kehidupan demi kehidupan di masa depan hingga salah satu dari mereka menutup usia dan salah satunya berharap untuk bertemu kembali di bawah langit yang sama.

 

-END-

6 thoughts on “BEAUTIFULL MISTRESS

  1. so sweet bgt sumpah nie cerita walopun nyesek karena ternyata jae cuma jadi simpanan tapi tetep kalo cinta mau bilang apa???

  2. akhir yang manissss… untung saja yunjae berakhir dengan happy ending

    . hehehehe O(≧∇≦)O

  3. huwaa~ so sweaatt..ku kira yun jahat smpai nyimpan jae selama 7th, ternyta ada alasan ny tohh.. syukur deh yunjae happy end
    buat author ny fighting..trus buat ff yunjae ya hoho

  4. Author pas banget milih kata waktu yun ngomong ke istrinya..
    Kayaknya lebih seru kalo yun ngakuny lebih awal, terus jae juga ikut ngerawat istri yunho, jadi lebih dramatis romantis.. hihii.. thanks banget Ri3cha for such a sweet story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s