FF YunJae Love In the Ice chap 6


Pairing             : Jung Yunho x Kim Jaejoong

Other cast        : Jeonghyeon, Key, Junsu, Siwon, Kangin, Shindong, Jihye

Genre              : YAOI, Romance, Angst, Mpreg

Rating             : PG-17

Length             : 6 of?

Author             : db5kforever

                        Rukee

Warning          : YAOI jadi yang ga biasa baca menjauhlah! Abal,Gaje,Typo(s),alur berantakan+kecepatan

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jeonghyeon mencebilkan bibirnya. Meskipun dirinya bersikeras tidak ingin pulang, namun namja cantik yang dipanggilnya unnie tersebut tetap memaksanya pulang. Jaejoong menepikan mobilnya di pinggir taman, dekat hotel tempatnya menginap. Setelah melepas sabuk pengamannya, Jaejoong memberikan iPhone miliknya kepada gadis cilik yang masih setia menekuk wajahnya di kursi penumpang. Dengan bibir yang masih mencebil, Jeonghyeon menatap Jaejoong dengan alis berkerut penuh tanya.

“Hubungi appa-mu, katakan padanya kalau kau menunggunya disini,” perintah Jejoong, seolah mengerti kebingungan yeoja kecil itu.

“Shileo! unnie, Hyeona gak mau puyang…” Jeonghyeon menyerahkan kembali iPhone milik Jaejoong. Ia melipat tangan kecilnya di depan dada dan membuang pandangannya ke luar jendela.

Jaejoong menghela nafasnya perlahan. Ia tidak tahu harus membujuk Jeonghyeon seperti apa. Bagaimana pun ini pertama kalinya ia berhadapan dengan balita yang merajuk. Entah dorongan darimana, Jaejoong mengangkat tangannya, mengelus surai lembut balita di sampingnya.

“Hyeona pulang, ne. Ayahmu pasti sangat sedih karena tidak bias menemukanmu. Dia pasti khawatir memikirkanmu, tidak bias makan dan tidak bias tidur. Apa kau tidak kasian pada ayahmu, hum? Bagaimana kalau appa Hyeona sampai sakit? Apa kau tetap tidak mau pulang?”

Jaejoong masih mengelus surai lembut Hyeona, memainkan poni rambut gadis kecil itu. Senyumnya sedikit tersungging begitu melihat Hyeona yang perlahan menundukan kepalanya. Sepertinya balita itu sedang memikirkan kata-katanya. Wajahnya terlihat serius dan tampak berpikir keras. Jaejoong kembali memberikan iPhone miliknya kepada gadis kecil itu.

“Kka, hubungi ayah Hyeona. Hmm.. lagipula hari ini aku sangat sibuk, jadi tidak bias menemanimu bermain,” Jaejoong mengacak rambut Jeonghyeon. Perlahan balita itu menggerakan jari-jari mungilnya dan mendial nomor yang sangat dihafalnya.

Lima belas menit berlalu, tetapi belum ada satu pun orang yang datang untuk menjemput Jeonghyeon. Jaejoong terus mengecek jam emas di tangannya. Ia terus berpikir, bagaimana bias ia menghabiskan waktu berharganya hanya untuk seorang anak yang tidak dikenalnya, padahal ia mempunyai jadwal yang sangat padat. Sebelumnya, ia bias sangat tidak peduli dengan anak-anak, bias dikatakan ia tidak menyukai anak-anak. Tapi, entahlah…. kenapa ia tidak bias memperlakukan Jeonghyeon sama seperti anak-anak lainnya?

“Unnie! Apa unnie cudah menikah?” Jeonghyeon menolehkan wajahnya ke arah Jaejoong. Mata bulatnya berkedip-kedip penuh ingin tahu. Sesekali kaki mungilnya menapak di tanah, mencoba mengayuh ayunan kayu yang ia duduki. Setelah menghubungi ayahnya, Jeonghyeon mengajak Jaejoong bermain ayunan. Dan disinilah mereka, duduk berdampingan di atas ayunan kayu masing-masing.

“Eh?” Jaejoong sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Jeonghyeon. Dirinya memang selalu sensitive dengan hal yang berbau pernikahan. “ Hey, kenapa anak kecil sepertimu berbicara tentang pernikahan, hum?” Jaejoong mencubit gemas hidung gadis kecil itu. Ia terkekeh pelan melihat Jeonghyeon mengerucutkan bibirnya. Ternyata bukan hanya dirinya yang memiliki kebiasaan seperti itu.

Jeonghyeon menundukan kepalanya. Ekspresi wajahnya terlihat sedih. Jaejoong pun menjadi tidak enak hati. Jangan-jangan perkataanya membuat balita itu tersinggung. “Hey, baiklah jangan bersedih seperti itu. Aku belum menikah. Waeyo? Jangan bilang kau mau melamar menjadi istriku? kkk ” Jaejoong terkekeh lagi. Ia kembali menjulurkan tangannya, kali ini untuk mengusap rambut Jeonghyeon yang duduk di sampingnya. Entah sejak kapan ayunan mereka berhenti bergerak.

“Jinja??” secepat kilat Jeonghyeon menoleh kepada Jaejoong. Wajahnya berseri penuh harap. “Apa benal unnie beyum menikah? Kayau begitu unnie menikah cama appa Hyeonna saja. Hyeona mau punya umma cepelti unnie!” gadis kecil itu menangkap tangan Jaejoong dari rambutnya. Ia menggenggam erat tangan namja cantik itu, seolah menunjukan bahwa keinginannya untuk menjadikan Jaejoong sebagai ummanya sangat kuat.

“ye?” ucap Jaejoong terkejut. Namja cantik itu tidak percaya bahwa gadis kecil disampingnya ini benar-benar melamarnya. Meskipun dalam arti yang berbeda.

“Hyeona mau unnie menikah cama appa teyus jadi umma Hyeona. Appa Hyeona cangat tampan. Appa juga punya banyak uang. Appa pasti akan membeyikan apapun yang unnie mau. Otte? unnie mau kan jadi umma Hyeona??” Jeonghyeon tersenyum lebar, matanya penuh binar menatap Jaejoong. Seolah berkata bahwa ia benar-benar berharap Jaejoong akan menjadi ibunya.

Jaejoong tersenyum kecil, ia melepas genggaman tangan gadis kecil itu dari tangannya. “Aku memang belum menikah Hyeona, tapi sayangnya aku sudah memilik tunangan.”

Seketika Jaejoong teringat tunangnnya. Ah, Jihye pasti marah besar padanya. Semenjak menginjakkan kaki di Korea, Jaejoong sama sekali tidak memperhatikan gadis itu. Bahkan kemarin ia bersikap sangat kasar terhadap tunangannya itu. Hemm, mungkin makan malam romantic bias membuat mood gadis itu kembali lagi. Jaejoong pun mengeluarkan iPhone nya, mengetik pesan ajakan makan malam yang akan dikirim kepada tunangannya itu.

“Appa….”

Jeonghyeon berucap pelan, namun cukup mengambil alih perhatian Jaejoong dari layar iPhone nya. Jaejoong menoleh ke arah Jeonghyeon lalu mengikuti arah pandang balita tersebut. DEG! Pandangannya berhenti pada pria bertubuh tingi yang dikenalnya. Sangat dikenalnya sampai-sampai ia benci dengan kenyataan bahwa ia mengenal lelaki itu, Jung Yunho.

Jaejoong melirik balita di sampingnya, memastikan apa benar pandangan bocah itu mengarah kepada Yunho, meskipun faktanya tidak ada lelaki lain yang berdiri di taman itu. Lelaki cantik itu kembali berkutat dengan iPhone nya, tangan lentiknya menekan tombol panggilan keluar. Mata besarnya semakin membulat begitu melihat nama kontak Yunho berada di urutan teratas. Panggilan itu milik Jeonghyeon! Jaejoong mengarahkan kembali pandangannya kepada pria tinggi itu, ia bias melihat bahwa pria tersebut sama terkejutnya dengan dirinya. Benarkah? Benarkah Jeonghyeon baru saja memanggil Yunho dengan sebutan appa? Jika iya, apa itu artinya…. Jeonghyeon termasuk salah satu kepingan masa lalu yang berusaha dibencinya?

Yunho tersenyum melihat putrinya yang tampak tenang duduk di atas ayunan kayu. Dari yang ia lihat, putri semata wayangnya itu dalam keadaaan baik-baik saja. Namun, senyumnya meruntuh seketika ia melihat pria cantik yang duduk di ayunan sebelah putrinya. Matanya menyipit, memastikan hal yang sepertinya sangat mustahil. Ia memang berharap suatu saat Jeonghyeon akan bertemu dengan orang yang melahirkannya, tapi ia sadar jika hal itu sangat tidak mungkin. Jadi, apa Yunho sedang bermimpi saat ini?

Jaejoong berdiri dari duduknya di ayunan begitu pria tinggi bermata musang itu berhenti tepat di depannya dan Jeonghyeon. Sekarang ia tahu jawabannya, semua pertanyaan yang tadi melintas di otaknya terjawab dengan sendirinya. Tetapi, ia masih belum bias menerima semua jawaban itu. Sebelum pria tinggi itu membuka suara dan membuatnya sadar dengan kenyataannya, Jaejoong melangkah pergi tanpa suara. Menghiraukan Jeonghyeon yang mencoba memanggilnya. Entah kenapa, ia tidak pernah bias berdamai dengan kenyataan.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jihye tidak berhenti tersenyum sejak ia menerima pesan dari tunangannya siang ini. Bisa dikatakan ini adalah hal yang sudah ditunggunya begitu sang tunangan mendarat di Seoul. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu, jadi wajar jika Jihye benar-benar mengharapkan makan malam romantis ini. Bahkan setelah menerima pesan yg berisi ajakan makan malam tersebut, Jihye langsung bertandang ke salon kecantikan dan butik langganannya. Ia ingin tampak sempurna di depan tunangannya malam ini. Ah, tidak hanya itu, wanita cantik ini bahkan menyiapkan beberapa kondom. Siapa tahu acara makan malam romantis mereka akan berakhir dengan panas di atas ranjang.

Jaejoong menghentikan mobilnya di depan Restoran Eropa berbintang lima di daerah Gangnam. Sebenarnya ia sudah bosan dengan akanan Eropa, tapi entah mengapa ia ingin sekali melupakan segala hal tentang Korea malam ini. Mungkin dengan makan menu Eropa ia bisa mengingat siapa dirinya yang sekarang, dan melupakan masa lalu yang mencoba muncul kembali di hidupnya.

Jihye duduk di kursi yang Jaejoong pesan begitu ‘lelakinya’ mendorong kursi untuknya. Wanita itu tersentuh, Jaejoong selalu bisa membuat wanita tersentuh dengan kelembutannya. Meskipun tidak jarang tunangannya itu juga membuat para wanita menangis karena sikap kasarnya. Seperti yang terjadi dengannya kemarin. Jihye bahkan berpikir bahwa pria berstatus tunangannya itu sudah tidak mencintainnya lagi, tapi undangan makan malam ini menepis segala kegalauan dan pikiran negatifnya.

Jihye tersenyum menatap Jaejoong. Lalaki cantik itu membalas senyumnya sedikit. Mereka sedang menikmati red wine sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Oppa, kau tampak lelah. Apa kau sedang banyak pekerjaan?” Jihye meletakan gelas wine nya. Lalu tangan kurusnya bergerak menggenggam jemari Jaejoong.

Jaejoong kembali meneguk wine dari gelasnya. Matanya menatap tangan tunangannya yang menyelimuti jarinya. “Begitulah. Kau tahu sendiri bahwa pameran gaunku akan berlangsung 3 hari lagi. Jadi aku benar-benar lelah dan banyak pikiran,”

“Oppa, jangan khawatir. Malam ini, aku akan memberikan pijatan terbaikku,” Jihye mengerling, memberi sinyal nakal kepada tunangannya yang terkenal mesum itu.

Jaejoong terkekeh. Ia sangat mengerti dengan sinyal yang diberikan tunangannya. Mungkin tidak ada salahnya jika ia menerima tawaran menggiurkan dari tunangannya itu. Siapa tahu ia bias menghilangkan sedikit pikiran kacaunya. Lagipula, sudah lama sejak ia melakukan sex terakhir dengan wanita berstatus tunangannya itu. Apa wanita itu masih sama liarnya di atas ranjang? Haha, Jaejoong tersenyum miring, memikirkannya saja sudah membuatnya  bersemangat. “Baiklah, aku harap kau tidak menyesal dengan ucapanmu Nona Wang. Kau harus memijatku sampai aku merasa lebih baik,” Jaejoong terkekeh pelan meresapi kata-katanya.

Jihye mendekatkan wajahnya ke arah Jaejoong, jari telunjuknya bergerak meminta pria di depannya untuk mendekat. Setelah jarak mereka cukup dekat, Jihye berbisik pelan. “Aku budakmu malam ini, Oppa,” wanita itu kembali mengerling, kali ini lebih nakal dengan bibir bawahnya yang digigit.

Jaejoong mengembalikan posisi duduknya sambil meneguk wine nya sampai habis. Ia mulai panas dengan tingkah nakal tunangannya. “Dasar! Wanita jalang,” ucap Jaejoong sambil terkekeh. Jihye pun terkekeh, meskipun terdengar kasar, tapi ia tahu bahwa itu pujian untuknya.

“Aku wanita jalangmu, Oppa,” Jihye kembali menggengam tangan Jaejoong. Lelaki cantik itu hanya tersenyum menanggapi perkataan kotor dari tunangannya. “Oppa….,” panggil Jihye, kali ini suaranya lebih lembut dan terdengar ragu-ragu. Jaejoong menatap penuh tanya ke arah wanita itu, menunggu kelanjutan dari perkataan Jihye sambil menuang kembali red wine ke dalam gelasnya. “….O-oppa, kapan kita…. akan menikah?”

Deg!

Jaejoong terkejut dengan pertanyaan wanita di depannya. Sebenarnya hal yang sangat wajar jika dua orang yang bertunangan membahas tentang masa depan mereka. Tapi demi tuhan, Jaejoong sangat sensitive dengan hal-hal berbau pernikahan. Seketika, Jaejoong meletakkan botol wine di tangannya dengan kasar. Sangat kasar hingga suara benturan botol dan meja kayu itu membuat beberapa pengunjung mengalihkan perhatian mereka. Seolah tersadar, Jihye menutup mulutnya dengan tangan kurusnya. Sepertinya, perkataannya barusan seolah menyulut bara api yang baru saja padam. Tapi mau bagaimana lagi? Semua orang pasti ingin hubungannya berakhir dengan pernikahan. Terlebih, mereka sudah cukup lama bertunangan.

“O-oppa, ma-maafkan aku. Aku hanya…. aku, appa terus bertanya padaku. Kapan aku akan berhenti bermain-main? Usiaku terus bertambah, ia khawatir jika…. jika nantinya aku harus mengandung cucunya di usia yang tidak muda lagi. Aku…,” Jihye menghentikan pembelaannya begitu Jaejoong menepis tangan kurusnya dari jemari pria itu. “Oppa..,”

Jihye berucap lirih, matanya pun mulai berat dengan kubangan air mata. Tapi, itu tidak membuat gelombang amarah Jaejoong menyurut sedikit pun. “Jihye, kau tahu? Aku sangat benci membicarakan pernikahan,”

“Oppa, aku tahu itu. Hanya saja….,” Jihye mencoba untuk menggenggam tangan Jaejoong lagi, namun Jaejoong kembali menepis tangannya bahkan lebih kasar dari yang sebelumnya.

“Ani, kau tidak tahu. Kalau kau tahu, kau tidak akan memulai pembicaraan tadi,” Jaejoong berdiri dari duduknya, Jihye benar-benar menghancurkan mood nya yang baru saja membaik. Perlahan lelaki cantik itu beranjak dari kursinya.

“Appa, appa akan menikahkanku dengan pria lain jika tahun ini aku tidak menikah denganmu,” Jihye berdiri dari kursinya. Air matanya sudah tidak dapat ditampung. Wanita itu mengacuhkan harga dirinya, ucapannya barusan kembali membuat para pengunjung restoran menatap mereka. Sungguh, ia benar-benar terlihat menyedihkan.

Jaejoong menghentikan langkahnya. Ia berdecak menanggapi perkataan wanita itu. “Kalau begitu, menikahlah dengan pria lain,” Jaejoong melanjutkan langkahnya. Menulikan telinga dari panggilan wanita yang baru saja berstatus mantan tunangannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Yunho POV

Aku duduk di pinggir ranjang kecil milik putriku satu-satunya. Sejak aku menjemputnya di taman siang tadi, gadis kecilku ini masih belum mau berbicara denganku. Jujur saja, aku sangat ingin mendengar penjelasannya. Mengapa ia kabur? Di mana ia bermalam? Apa ia tidur dengan nyenyak? Dan, dan bagaimana ia bias bertemu dengan Jaejoong?

“Hyeona sayang,” aku memangilnya dengan lembut. Tanganku bergerak pelan mengusap rambutnya yang halus. Gadisku tidak menjawab panggilanku, ia hanya menatapku. Mungkin ia masih enggan memberikan suaranya. “Hyeona, laki-laki…. yang tadi siang bersama dengamu, kau mengenalnya? Maksud appa, bagaimana kau bias mengenalnya, hum?” entahlah, aku sedikit ragu dan bingung bagaimana memberikan pertanyaan yang tepat untuk putriku.

Jeonghyeon mengerutkan keningnya, sepertinya ia sedang memikirkan maksud dari pertanyaanku. Seketika aku bias melihat matanya berbinar, bahkan bibirnya pun tersenyum dengan sangat lebar. “Makcud appa, Jaejoong unnie?” Jeonghyeon terdengar sangat antusias begitu aku membicarakan Jaejoong. Tunggu, unnie?

“Hey, girl! Kenapa kau memanggilnya unnie, eoh? Dia kan laki-laki,” sesungguhnya aku tahu alasan mengapa putriku memanggilnya unnie. Aku cukup lama mengenal lelaki cantik itu, dan aku tahu bukan hanya putriku yang akan menganggapnya seperti wanita.

“Tentu saja kalna unnie cangat cantik, appa!” sesuai dugaanku, haha. “Appa! Appa ingat unnie cantik yang baik hati nolongin Hyeonna di lift? Dia itu olangnya, Appa!” Hum? Jadi Jeonghyeon sudah pernah bertemu dengan Jaejoong sebelumnya? Tapi, kenapa Jaejoong bersikap sangat baik terhadap Jeonghyeon? Aku bukannya berharap Jaejoong akan bersikap kasar terhadap putriku, hanya saja…. bukankah selama ini Jaejoong tidak mau mengakui putrinya? Atau jangan-jangan…. ia tidak tahu kalau Jeonghyeon adalah putrinya?

“Ne, appa ingat sayang. Tapi, appa tidak tahu kalau kalian bias sangat akrab secepat itu,” aku memainkan poni rambut putriku, rambutnya benar-benar halus seperti milik ibunya.

“kkkk~ Jaejoong unnie cangat baik, appa. Hyeonna ingin punya umma cepelti Jaejoong unnie,” Jeonghyeon mengerucutkan bibirnya, tangannya memainkan ujung selimut kesayangannya. Aku hanya bias tersenyum miris, kenyataannya orang yang ingin ia jadikan umma adalah orang yang melahirkannya.

“Appa…. apa appa beyum mau mempeltemukan Hyeonna cama umma?” Ya Tuhan, aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan putriku seperti apa? Ia menatapku penuh harap. Tapi aku hanya bias membalas tatapanya dengan tatapan penuh sesal. Aku sangat menyesal, aku selalu bias memenuhi keinginan putriku, tapi aku tidak bias memenuhi harapan terbesarnya. Demi Tuhan, aku tidak bias melihat wajah kecewa putriku, tapi aku juga tidak bias mengatakan padanya bahwa ia sudah bertemu dengan ummanya.

POV End

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jaejoong keluar dari kamar mandi setelah menghabiskan waktu satu jam untuk merendam diri, kenyataannya berendam air dingin tidak membuat pikirannya ikut mendingin. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, wajahnya terlihat sangat kacau. Yunho, Jeonghyeon dan Jihye benar-benar membuat dirinya tampak berantakan. Belum lagi karyawannya memberi kabar barusan, bahwa salah satu gaun yang akan mereka tunjukan di pameran rusak fatal. Gaun itu tidak mungkin di perbaiki, dan membuatnya ulang lebih tidak mungkin lagi. Mereka hanya punya waktu 2 hari sebelum pameran berlangsung. Mungkin Jaejoong akan merancang gaun yang lebih simple yang bias dibuat dalam waktu 2 hari. Itu bukan hal yang tidak mungkin untuk designer papan atas sepertinya, tetapi…. dengan segala macam pikiran di benaknya saat ini, itu bias jadi tidak mungkin.

Jaejoong menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sekilas manik bulatnya menangkap sesuatu di atas meja rias dari sela-sela jari lentiknya. Ia menurukan tangannya dan meraih benda tersebut. Jepit rambut. Ibu jarinya mengelus pelan jepit rambut berbentuk hello kitty tersebut, jepit rambut milik Jeonghyeon. Gadis kecil itu melepas jepit rambutnya sebelum mandi kemarin. Jaejoong tersenyum, tiba-tiba ia mendapatkan inspirasi untuk membuat gaun yang baru. Entah karena menatap jepit rambut itu, atau karena memikirkan pemilik jepit rambut tersebut. Perlahan, Jaejoong menyingkap poni rambutnya ke atas dan menjepit poninya dengan jepit rambut hello kitty itu. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin, lalu kaki jenjangnya melangkah ke ruang kerjanya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jaejoong tampak sibuk bolak-balik di dalam studionya. Setelah kemarin ia menyerahkan rangcangan terbarunya, ia pun sibuk membantu karyawannya memilih bahan yang cocok untuk gaun tersebut, juga memilih aksesoris yang tepat untuk gaunnya. Ia benar-benar sibuk, entah sibuk karena besok adalah hari pameran busananya atau berusaha sibuk agar pikirannya tidak teralih lagi.

Jaejoong memperhatikan karyawannya bekerja, gaun rancangannya itu sudah hamper selesai. Sebuah gaun anak-anak berwarna soft pink dan dipadukan dengan warna putih mutiara untuk lapisan rok nya. Di bagian pinggangnya melingkar batu mutiara membentuk sebuah belt dan di tengahnya terdapat aksesoris berbentuk kepala hello kitty. Lapisan rok putih mutiaranya dibiarkan memanjang beberapa senti dari lapisan rok terluar yang berwarna soft pink. Di ujung lapisan rok putih tersebut juga di pasang batu mutiara yang melingkar. Gaun itu terlihat sederhana namun juga terlihat sangat elegan dengan batu-batu mutiaranya.

Jaejoong mengalihkann perhatiannya begitu merasakan getaran handphone  di saku jins hitamnya. Ia merogoh saku jins nya dan menatap layar iPhone kesayangannya. Alisnya sedikit terkejut menangkap nomor yang tidak dikenal tertera di layar handphone nya. Perlahan jemari lentiknya mengusap tombol hijau di layarnya.

“Yeoboseo?”

“UNNIE!”

Jaejoong menjauhkan iPhone kesayangannya dari telinga kanannya. Kalau saja ia tidak mengenali suara orang yang menelponnya, ia mungkin sudah membentak orang tersebut atau bahkan mematikan sambungan telepon mereka. Jeonghyeon, hanya anak itu yang memanggilnya unnie, tapi untuk apa gadis itu menelponnya.

“Hey, kau tidak perlu berteriak seperti itu Hyeonna,” Jaejoong kembali memperhatikan karyawannya bekerja setelah meletakan layar iPhone nya di telinga kirinya. Ia bias mendengar bahwa gadis kecil itu terkekeh di sebrang telpon. Dan tanpa sadar, Jaejoong tersenyum mendengarnya.

“Kkkk~ unnie, Hyeonna kangen cama unnie”

“Ck, ternyata anak kecil sepertimu sudah bias menggombal. Dari mana kau belajar gombal hum? Kita baru saja bertemu 2 hari yang lalu, masa kau sudah merindukanku kkkk,” Jaejoong tertawa renyah, entah kenapa berbicara dengan balita itu seolah bias mengisi kembali semangatnya.

“Iiih, Hyeonna celius unnie. Hyeonna benal-benal melindukan unnie cantik~ Appa Hyeonna aja celalu bilang kangen ke Hyeonna centiap hali. Jadi wajal dong kalo Hyeonna kangen cama unnie, kan udah 2 hali gak ketemu,”

Jaejoong memutar kedua matanya, ungkapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya mungkin benar. Kenyataannya kebiasaan Yunho menggombal menurun kepada putrinya. Ah, mengingat Yunho membuat mood nya kembali menurun. Jaejoong mengecek jam tangan emasnya, semoga gaunnya itu bias selesai sebelum malam.

“Unnie, unnie cedang apa?” Jeonghyeon merasa diabaikan, ia mencebilkan bibirnya karena kesal.

“Eoh? Aku sedang bekerja, kau sendiri? Bukankah harusnya kau ada di sekolah eoh? Jangan bilang kau membolos kkkk” Jaejoong menjepit iPhone nya di antara telinga dan bahunya. Tangannya ia gunakan untuk memeriksa lipatan gaun yang sedang dikerjakan karyawannya. Mendengar tidak ada jawaban dari lawan bicaranya, Jaejoong mengerutkan keningnya. “Ya Tuhan, jadi kau benar-benar membolos eoh?”

“Ne, unnie. Hyeonna gak mau cekoyah, Hyeonna juga gak mau puyang ke lumah,”

Suara gadis kecil itu terdengar sangat lemas. Jaejoong memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia merasa pusing memikirkan balita itu. Sebenarnya Jaejoong bias saja mengabaikan gadis itu dan focus pada persiapan pamerannya. Tapi entah kenapa, rasa khawatir memenuhi relungnya. Bagaimana jika gadis kecil itu di ganggu oleh anak-anak nakal seperti sebelumnya? Ah, membayangkannya saja membuat Jaejoong bergidik ngeri.

“Katakan, kau ada di mana? Aku akan menjemputmu sekarang,”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jaejoong POV

Pada akhirnya aku membawa Jeonghyeon ke studio ku. Pekerjaanku tidak mungkin aku tinggal, tetapi aku juga tidak mungkin membiarkan gadis kecil itu sendirian. Aku sangat terkejut saat menemukannya di pinggir jalan tadi. Dia berjongkok di pinggir jalan, tubuhnya bersandar pada box telepon umum yang tidak jauh dari sekolahnya. Ternyata ia menelponku menggunakan telepon umum. Dan aku cukup kesal begitu mendengar alasan gadis kecil itu tidak mau sekolah.

Jeonghyeon, gadis periang itu tidak memiliki teman. Saat di mobil tadi ia mengatakan bahwa tidak ada yang mau berteman dengannya karena dirinya tidak memiliki seorang ibu. Emosiku sedikit memuncak mendengar alasan konyol tersebut. Demi Tuhan, Jeonghyeon masih terlalu kecil untuk mendapat perlakuan diskriminatif seperti itu. Aku tidak kesal dengan Jeonghyeon, tapi aku kesal dengan teman-teman di sekolah gadis kecil itu. Aku juga kesal dengan pihak sekolah yang membiarkan tindak diskriminasi itu terjadi. Dan juga kesal dengan Jung Yunho, bagaimana mungkin sebagai ayahnya ia tidak tahu kalau anaknya di perlakukan seperti itu di sekolahnya? Tunggu. Mungkin seharusnya aku kesal dengan diriku sendiri. Karena bagaimana pun, akulah alasan Jeonghyeon tidak memiliki teman.

Aku menghampiri Jeonghyeon yang tampak sibuk menggambar di meja kerjaku. Aku menyuruhnya menunggu di sana karena aku harus mengurus pekerjaanku tadi. Hari sudah cukup sore, gadis kecil itu harus kembali ke rumahnya. Aku bertaruh, appa nya yang bodoh itu pasti sedang mencarinya sekarang.

“Hey, apa yang sedang kau gambar, hum?” aku berdiri di sampingnya, mengelus rambutnya perlahan. Jeonghyeon tersenyum, tapi ia tidak mengalihkan perhatiannya dari buku gambarnya.

“Hyeonna cedang menggambal cebuah kelualga, unnie. Liat, yang ini appa nya, yang ini umma nya dan yang di tengan anaknya,” Hyeonna mengalihkan pandangannya ke arahku, ia tersenyum memamerkan deretan gigi susunya yang rapi. Aku pun ikut tersenyum. Melihatnya tersenyum entah kenapa membuat hatiku tenang. Apa ini yang dimaksud ikatan batin? Astaga, Kim Jaejoong! Apa yang kau pikirkan? Aku tidak boleh berpikir hal-ha semacam itu.

“Gambarmu sangat bagus. Hanya saja…. harusnya kau membuat gambar yang ini dengan rambut yang lebih panjang dan juga menggunakan rok, jadi orang yang melihatnya bias membedakan bahwa yang ini adalah umma nya,” aku menunjuk gambar yang tadi disebut umma oleh Jeonghyeon.

Jeonghyeon tidak langsung membalas ucapanku, ia kembali menatapku dengan mata bulatnya. Setelah melihatku dari atas sampai bawah, mata bulatnya itu berkedip lucu, bibirnya pun mengerucut. Sepertinya ia tidak senang dengan komentarku barusan. “Tapi lambut unnie gak panjang, unnie juga gak pake lok,”

Apa? Apa maksud gadis kecil ini berkata seperti itu? Aku kembali mengelus rambut hitamnya. Jeonghyeon sendiri kembali sibuk mewarnai gambarnya. “Hey, aku kan laki-laki. Jadi tidak mungkin menggunakan rok dan berambut panjang. Sedangkan seorang wanita biasanya menggunakan rok dan berambut panjang, sama seperti dirimu,” Jeonghyeon tidak mengalihkan perhatiannya, ia tetap mewarnai dengan bibir yang masih mengerucut.

“Hyeonna kan juga gak biyang kayo ummanya itu seolang yeoja,” gadis kecil itu menoleh padaku sekilas, ia memeletkan lidah kecilnya padaku. Ck, anak kecil ini pintar sekali bicara.

“Hey, kau berani menjulurkan lidah padaku eoh?” aku terkekeh dengan tingkah gadis kecil ini. Tanganku pun mulai menggelitiki perutnya. Ia tertawa, tertawa sangat lepas. Dan hal ini membuatku semakin semangat untuk menggelitikinya. Sepertinya aku mulai kecanduan mendengar suara tawanya. Kegiatanku terhenti begitu seorang karyawanku masuk ke dalam ruang kerjaku. Ia membawa gaun yang baru saja jadi untuk di letakan di sudut ruanganku. Semua baju yang akan di pamerkan besok memang di simpan di dalam ruang kerjaku.

“Ah, Choonhee-ssi! Tolong bawa gaun itu kemari,”

“Ye, sajangnim,” gadis berkacamata itu menghampiriku. Aku melirik Jeonghyeon yang tampak memperhatikan gaun di tangan karyawanku itu. Aku mendudukan Jeonghyeon di atas meja, lalu aku duduk di kursiku. Setelah gaun itu berada di tanganku, aku menunjukannya di depan Jeonghyeon. “Hyeonna, apa kau mau mencoba gaun ini?” ucapku sambil tersenyum. Aku bias melihat wajah terkejut Hyeonna.

“Apa Hyeonna boyeh mencoba gaun ini?” matanya berbinar menatapku. Sudah kuduga, ia pasti ingin mencobanya. Tidak ada seorang pun yang tidak tertarik dengan gaun-gaun rancanganku.

“Tentu saja, aku akan membantumu memakainya,” aku melepaskan baju sekolah Hyeonna dan memakaikannya gaun rancangan terbaruku. Aku juga memakaikannya bandi dengan aksen pita berwarna putih mutiara di rambutnya. Setelahnya aku mendirikan gadis itu di atas meja. Gadis itu memutar-mutar tubuhnya, membuat gaun bagian bawahnya mengembang. Batu-batu mutiara yang kerkena sinar lampu di gaun itu, membuat Hyeonna semakin berkilau.

“Woah, gaun itu benar-benar cocok untuknya. Apa dia yang akan memperagakan gaun itu besok, Sajangnim?” aku menoleh ke arah gadis berkacamata itu. Ia terlihat sangat terpukau melihat Jeonghyeon dan gaunnya. Ah! Aku lupa. Aku belum memiliki model yang akan memperagakan gaun itu. Aku menatap Jeonghyeon, ia terlihat senang menggunakan gaun itu.

“Hyeonna, apa kau mau menjadi modelku besok? Kau hanya perlu memakai gaun itu dan berjalan di atas panggung,” Hyeonna menatapku, matanya berkedip seolah memikirkan tawaranku. “Kalau kau mau, aku akan memberikan gaun itu untukmu setelah pameran nanti,”

“Jinja?? Woaaaah, aku mau!! Aku mau unnie. Hyeonna cuka cekali gaun ini kkk,” aku tersenyum melihat gadis itu meloncat-loncatkan kaki kecilnya di atas meja. Syukurlah kalau ia suka dengan gaunnya. Bagaimana pun juga gaun itu bias kubuat karena dirinya.

End POV

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Jaejoong dan Jeonghyeon duduk di salah satu sofa yang ada di Café Red Ocean. Hari sudah malam. Saat Jaejoong menawarkan makan malam tadi, Jeonghyeon merengek ingin memakan iga bakar di tempat ini. Sebenarnya Jaejoong sangat menghindari tempat ini. Bagaimana pun juga, tempat ini merekam banyak sekali kenangan dari masalalunya. Tapi, apa mau dikata. Potongan-potongan dari masalalunya sudah menghampirinya. Dan kenyataannya, tidak ada yang bias menghindar dari masa lalu.

Jaejoong mengusap lembut kepala Jeonghyeon. Gadis kecil itu tertidur di pangkuannya setelah menghabiskan sepiring penuh iga bakar miliknya. Jaejoong sendiri hanya memakan beberapa potong makanannya. Entahlah, setiap ia mengunyah makanannya satu per satu, kenangan di masa lalunya melintas. Dan ia tidak kuat dengan hal itu.

Jaejoong melirik jam tangan emasnya, beberapa menit yang lalu ia mengirim pesan kepada Yunho agar pria itu menjemput anaknya di tempat ini. Jaejoong bukannya tidak tahu di mana rumah pria itu, hanya saja ia belum siap menerima kenangan masa lalunya kembali.

KRING!

Suara bel yang tergantung di atas pintu masuk café mengalihkan perhatian Jaejoong. Ia bias melihat bahwa pria tinggi yang selama ini berusaha dibencinya masuk dan mulai menghampiri tempatnya. Pria tinggi itu duduk di sofa yang ada di depan Jaejoong. Ia menghela nafas beratnya lalu bersandar pada punggung sofa. Jaejoong terus menatap pria tinggi itu tanpa ekspresi, sampai akhirnya pria tinggi itu membalas tataannya.

Yunho menatap mata bulat namja cantik di depannya, maya yang sangat mirip dengan putrinya. Lalu pandangannya beralih pada gadis kecilnya yang tertidur di pangkuan namja cantik tersebut. Ia juga memperhatikan bagaimana lembutnya tangan namja cantik itu mengelus kepala putrinya. Tanpa sadar, Yunho tersenyum. “Kalian terlihat sangat akrab,”

Jaejoong menghentikan gerakan tangannya begitu mendengar perkataan Yunho. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan,”

“Jaejoong, Jeonghyeon membutuhkamu. Ia sangat ingin bertemu dengan ibunya. Apa kau…,”

“Berhentilah berbicara yang tidak-tidak,” Jaejoong membuang pandangannya ke luar jendela café. Ia percaya bahwa pendiriannya tidak akan goyah. Tetapi duduk berhadapan dengan Yunho di café ini, membuat beberapa kenangan manisnya dengan pria tinggi itu muncul.

“Aku serius Jaejoong. Aku mohon, kembalilah. Jeonghyeon sangat ingin bertemu ibunya. Ia juga sangat menyayangimu. Bahkan kalau pun kau bukan ibunya, ia sangat ingin kau menjadi ibunya,” Yunho mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia terlihat serius dengan perkataannya. Karena, selain putrinya sangat menginginkan Jaejoong, dirinya juga sangat menginginkan pria cantik itu. Yunho mencintai Jaejoong, sekalipun cintanya selalu diinjak-injak oleh namja cantik itu.

“Jangan terlalu banyak bermimpi, Jung!” Jaejoong mengangkat kepala Jeonghyeon dari pangkuannya, ia meletakan kepala gadis itu di atas tas sekolahnya secara perlahan. Tidak ingin membuat sang gadis terbangun. Ia berdiri dari duduknya, merapikan pakaiannya. “Sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkan dirimu masuk kembali ke dalam hidupku,” namja cantik itu melangkah pergi, meninggalkan pria tinggi itu yang masih menatap kosong ke tempatnya duduk barusan.

Yunho merutuki dirinya dalam hati. Seharusnya ia tidak memohon kepada Jaejoong, bagaimana pun ia sudah tau jawabannya. Lelaki cantik itu tidak akan mau kembali kepadanya. Ia tersenyum miris melihat putrinya yang terlelap di sofa sebrang. Mungkin ia harus mencari orang lain untuk menjadi ibu dari anaknya.

TBC

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Annyeong~~ 

Rukee imnida ‘-‘)/ salam kenaaaaaaal~~~

Aku author baru yang bertugas menyelesaikan ff ini….

Jadi kalau ff ini feel nya sedikit berbeda dari chapter2 sebelumnya, maafkan akuuuuhh pemirsaaah >,<)v

tolong jangan timpuk akuuh, timpuk saja unbeth hohohoho~ piss sajangnim ^,~)v

untuk Agnes-ssi, gomapta udh percaya padaku untuk lanjutin ff ini. semoga gak mengecewakan ‘-‘)9

akhir kata….

Mind to review? ^^)a

14 thoughts on “FF YunJae Love In the Ice chap 6

  1. Wuoww akhirnya ff ini dilanjut :”)
    Semangat utk author yg baru!
    Balik kecerita, si Jae masih jual mahal harga dirinya tinggi sekali ya ampooon. Kasian lah ama Hyeonanya. Yun cari pengganti umma buat hyeona aja biar tau rasa si Jae. qesel -.-
    Next next jusseyoo ^^

  2. Wah jae masih ga mau nerima yunho dan anaknya, tapi sepertinya perlahan jae akan nerima anaknya, terbukti dengan dia yg masih bersikap manis sama anaknya.
    Nama cafe kenangan mereka berubah ya? Kalog a salah waktu itu namanya evergreen ya?
    Penasaran sama kisah mereka selanjutnya, di tunggu next nya….

  3. pmg baru tau ada ff sekeren ini. aku sangat suka sama storylinenyaaaa aaww author pokoknya aku minta cepat2 updatenya huaaaa ga sabar lagi.
    apa jangan2 jaejoong itu ibu kandung putrinya yunho? omonaaa

  4. Akhir na update jg😀
    Jaema udh donk..jgn egois kasian jeonghyeon😦

    Dtunggu chap lnjut neeeeeee

  5. annyeong juga…^^
    akhir nya ni ff ada klnjutan nya juga..

    senang nya liat keakrban, umma dan jeonghyeon^^
    appa yg sabar ne..:-(
    umma knpa kau ttp, begitu keras kepala?

    cerita nya ttp yambung koq..:-)

    gomawo ne author”ss yg sdh mau melanjutkn cerita nya :-*
    di tunggu kelanjutan nya…!!!

  6. keren chinggu…. Hhaahhh…jae napa keras kepala amat sih udah tau sayang ama jeonghyeon masih gak mau ngakuin kl hyeona putrinya….

  7. keren bngt chinggu,,,tp jae koq keras kpl bngt. udah tau sayang ama hyeona tp ttp gak mau ngakuin putrinya itu. kasian yunho memendam rasa…

  8. Perlahan umma bakal nrima jeonghyeon ,bagaimanapun naluri seorang ibu ga bisa di bohongi sekerras apapun dia ,semoga🙂

  9. kereeeennn…..suka deh jaejoong-hyeonna momentnya, emang deh ikatan ibu dan anak gak prnh meleset.

  10. seneng bgt ff ini akhirnya d lanjutin, btw, salam kenal ^^
    kangen, udah lama jg gak liat tulisan agnes, agnes, dirimu sekarang sibuk sama studimu kh?
    jae ngeliat hyeona sbg anak kecil yg selalu mmanggilnya eonnie cantik sih. kpankh dy bisa mlihatx sbg anak darah dagingnya sndiri yg harus d kandung n d lahirknx dgn usaha myakinkn diri x bnar2 gak bisa brdiri tanpa yunho awalx ??

  11. sekian lama nunggu ni ff, akhirny update jga…
    jeje dh tau klo hyeona tuh anakny tpi msh ttp dingin.
    moga aja jeje bisa merubah pendirianny trus blik k yun ama anakny…
    next….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s