Wish Upon A Star 2/2


Judul : Wish Upon A Star 2/2

Genre : Angst, Family

Rate : PG

Length : Oneshoot

Blurp : Changmin terlahir dari keajaiban bayi tabung dan kini sedang duduk di sekolah dasar. Suatu hari, Changmin menemukan lebam di wajah ibunya, Kim Jaejoong. Awalnya Changmin tak mengetahui penyebab lebam tersebut sampai Changmin melihat sisi monster sang ayah, Jung Yunho, yang selalu pulang membawa noda lipstick di kemeja.

Ketika Jaejoong terbaring di rumah sakit setahun lamanya, Changmin tak pernah kehilangan harapan, mempercayai adanya keajaiban suatu saat ibunya akan kembali membuka mata lagi. Karena di negeri ini, apapun yang kau inginkan bisa terjadi. Bintang jatuh akan mengabulkannya. Tapi, langit waktu itu tak segemerlap lampu malam Kota Seoul.

Author        : Sarah Anna Kiko

Editor          : @Anemone_sea

 

 

…till the third months of silent prayers…

 

“Tolong jaga anakku,”

Changmin, sambil berbaring di kasur, mengintip dari balik gulingnya, memperhatikan sang ibu berlutut dengan punggung tegak di depan alkitab di atas meja rias. Dilihatnya jari jemari Jaejoong saling bertaut, membuat dua tangan itu menjadi satu. Dengan mata sayu yang kuyu, Changmin lanjut mengintip merasa tertarik.

Changmin memang mengantuk, sudah begitu dari sekitar lima belas menit yang lalu. Tapi melihat ibunya berdo’a khusyuk seperti itu membuatnya merasa lebih damai daripada tertidur nyenyak. Apalagi yang dido’akan adalah Changmin sendiri. Maka dia paksakan matanya terbuka lebar.

“Tolong jauhkan ia dari segala yang akan menjerumuskannya…” Ibunya berdo’a.

Changmin melihat bagaimana dahi Jaejoong kian lama kian mengkerut, semakin tenggelam dalam do’a. “Tolong biarkan kebaikannya menular, terbagi kepada orang-orang yang menyayanginya… yang bermaksud baik atasnya,”

Seperti lantunan lagu yang merdu.

“Tolong buat dia bahagia,”

Terlalu merdu sampai menenggelamkan Changmin dalam ketenangan. Lalu tiba-tiba tersendak mendengar suara debam keras dari lantai bawah.

Sang ibu segera menghentikan do’a, pergi beranjak meninggalkan kamar Changmin. Changmin mengikuti kemana punggung ibunya pergi sampai punggung itu menghilang di balik pintu kamar, digantikan poster Ultraman yang dipajang di badan pintu tersebut.

Maka Changmin putuskan untuk tidur begitu saja. Dia jatuh tertidur lelap tepat ketika gaduh suara-suara aneh terdengar dari lantai bawah. Suara keras yang Changmin pikir asalnya dari kucing liar.

…while on the other side of the night…

 

“Kamu sadar gak, sih, kalau anakmu itu udah mulai lupa punya bapak? Hah?”

Yunho tak menggubris. Kesadarannya datang-pergi seakan enggan bersarang di kepalanya. Langkahnya sempoyongan sama seperti hari-hari yang lalu. Sebuah kebiasaan yang tak pernah membuat Jaejoong terbiasa.

“Kamu denger gak sih?!” Kepala Jaejoong berdenyut sesaat setelah pita suaranya tegang mengeluarkan nada tinggi. Seketika itu cahaya putih menyilaukan mengaburkan pemandangannya selama sekian detik.

“…Jaejoong…” Yunho meracau, mengeluarkan kata-kata yang tak bisa dimengerti selain nama Jaejoong.

“Aku tanya, kamu denger gak? Mau sampai kapan begini terus, Yun?”

“Jae…”

“Yunho, jawab!”

Jaejoong merasakan kedua matanya memanas. Dia sudah menahan diri sejak membuka pintu supaya tidak memikirkan hal buruk apapun. Tapi dia tidak cukup kuat untuk membantah wangi parfum asing yang dibawa Yunho, lalu melihat lipstick kering di kerah kemeja suaminya, juga beberapa bite marks di leher Yunho yang terlihat jelas dari pada bite marks di hari lalu.

Hidung Jaejoong seperti tersengat lebah, wajahnya mulai merah panas enahan sesuatu yang siap membanjir. Sampai Yunho berbalik dan—lagi-lagi menamparnya—membuat tetes pertama air matanya terciprat ke arah lain. Keluar tanpa membasahi pipinya. Pada detik yang sama, tetesan itu berhenti mengalir. Jaejoong enyadari kelenjar air matanya mulai merasa lelah.

Yunho menjambak rambut pendek Jaejoong. Menarik segenggam rambut hingga Jaejoong merasa dalam beberapa detik saja bagian itu bisa berakhir botak. Jaejoong mencengkram lengan Yunho, menancapkan kuku-kuku pendeknya di lengan itu sekuat tenaga. Sampai Yunho mau melepas jambakan. Namun, suaminya malah menggeram menghempaskan kepala Jaejoong ke dinding. Memperdengarkan kepada keduanya bunyi benturan keras. Sehingga Yunho, yang sedang mabuk, terbangun menyadari bunyi itu menggaung di telinga. Menimbulkan ngilu di seluruh persendian. Benturan yang juga menimbulkan bunyi retak antara dinding atau tempurung kepala Jaejoong.

“Maumu apa, sih?! Aku baru pulang diomelin! Minimal nyapa kek, apa kek! Dasar nggak guna!” Yunho meraih kembali kepala Jaejoong, membenturkannya berkali-kali ke dinding tanpa jeda, tanpa peduli, tanpa beban, tanpa rasa bersalah, sekalipun kini bagian itu berubah warna menjadi ungu kehitaman, nanar darah perlahan mengintip dan siap menetes, Yunho terus melanjutkan.

Ketika Yunho berhenti barang sejenak, Jaejoong mengambil kesempatan itu untuk balik menerkam, mendorongnya sampai berguling membentur kaki meja makan. Yunho bangkit berdiri, disusul Jaejoong yang langsung menarik kerah kemeja Yunho sampai suaminya itu jatuh terlentang di atas meja; menjatuhkan dan menghancurkan perabot makan yang masih ada di sana; mug Winnie the Pooh milik Changmin pecah, sendok Mickey Mouse-nya ada diantara pecahan keramik mug tersebut hampir patah. Beberapa mug lain ikut pecah. Entah berapa banyak perabot yang mereka hancurkan setiap harinya sejak Yunho pertama kali memulai kekacauan ini.

Jaejoong menyambar leher Yunho secepat kilat, mencengkram sekaligus mencengkiknya. Ada banyak perkara yang menjadi alasan kenapa Jaejoong perlu mencekik suaminya. Kekuatan di kedua tangan yang terus bertambah seiring jelasnya kilasan tamparan dan pukulan yang pernah didapatkannya dari Yunho. Memukul-mukul lubuk hatinya yang suci jauh di dasar akal sehat. Melupakan masa-masa saat mereka tak mengenal pertentangan pernikahan sesama jenis, restu orangtua, rumah tangga dan bayi tabung. Di masa kemilau dimana mereka tertawa, berpegangan tangan, berkencan setiap malam, membuat cinta, tak memikirkan masa depan akan seperti apa. Kenangan manis itu tenggelam, redup terbakar menjadi abu hitam bercampur kecamuk perasaan tiap kali mengingat kilat mata Yunho; sosok Yunho yang pulang sempoyongan, kiss mark, jejak lipstick di kemeja dan parfum feminim yang menempel di tubuh Yunho.

“Mati… mati kamu! MATI!”

Hati suci, penuh cinta kasih yang dulu pernah Jaejoong dedikasikan hanya untuk Yunho dan sekarang dibaginya untuk Changmin, kesucian itu pudar. Binar cahaya ibu di mata Jaejoong telah hitam sempurna. Bahkan buta untuk melihat Yunho yang terbatuk-batuk, wajah suaminya yang membiru kekurangan oksigen, meronta lemah dipenuhi kepasrahan.

Jaejoong mulai lelah berpura-pura menjadi perempuan lemah. Dia laki-laki dan tak seorang pun orang-orang di kehidupan barunya bersama Yunho—setelah mereka menikah—mengetahui kebenaran itu. Semua orang berfikir Jaejoong adalah perempuan, seorang istri yang baik dan telah melahirkan Changmin, anak yang sebetulnya dilahirkan dari proses rekayasa.

Ketika mata gelap Jaejoong jatuh di mata Yunho, bertemu goresan keping hitam, cengkraman kedua tangan Jaejoong mengendur di luar kesadaran. Jaejoong menemukan mata yang sama seperti di diri putranya, Changmin. Mata yang selalu tersenyum ketika menerima burger, mengucapkan ‘aku pulang’, mata yang berair ketika kelaparan, ketika Jaejoong memarahinya, ketika Changmin tak menerima apa yang diinginkannya, dan semua itu tersalip di antara milik Yunho. Mereka mirip. Tidak. Mereka sama.

Apa yang akan dipikirkan putranya ketika dia tak memiliki ayah lagi?

Saat kehangatan kembali meraih Jaejoong, Yunho balik menyerang; menendang Jaejoong di antara perut dan dada sampai terpental jauh ke belakang, jatuh terjerembab. Tapi tak menimbulkan sakit yang berarti. Kehangatan yang perlahan mencairkan es di jantung Jaejoong telah menghapus duri-duri kebusukan hati— kemarahannya kepada Yunho. Kehangatan itu melenyapkan bayangan kelam suaminya yang tergopoh-gopoh datang menghampiri. Menghanguskan dendam dalam diri Jaejoong untuk kemudian menguap menjadi cinta yang sia-sia. Mengaburkan pandangan, melumpuhkan indera perasa, menciptakan simfoni pelukan dari Yunho. Kedua tangan Yunho yang melingkar di tubuhnya. Nyaman. Seakan Jaejoong kembali di masa yang menyilaukan, saat semua yang dia rasakan hanyalah perasaan meletup-letup bahagia, jatuh cinta. Sayangnya, pelukan itu palsu. Ilusi.

***

Changmin membuka mata dikejutkan oleh teriakan dari lantai bawah. Satu teriakan yang terlalu mencekik gendang telinga sehingga memaksa Changmin Kecil menggerakan kakinya turun dari ranjang, bergegas pergi keluar kamar lalu mengintip jalur tangga sebelum menuruninya satu per satu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba seseorang melintas.

Orang itu berbalut jas hitam lengkap dengan dasi. Terhuyung ke segala arah, berjalan bungkuk seakan kepalanya jauh lebih berat dari pada punggung.

“Ayah…” suara kecil terdengar, nyaris mencicit ketakutan. Changmin berdiri, merapat ke dinding tangga mencari sesuatu yang bisa menahan gemetar tubuhnya. Kemudian diam, tak berani bergerak dan bahkan nafasnya terasa terhenti sesaat. Mata ayahnya bergerak, melirik tajam, melayangkan rasa dingin mencekam kepadanya. Darah membanjiri sebagian muka ayahnya. Orang di hadapannya ini… persis seperti monster yang sering dikalahkan Power Ranger.

Kemudian sang ayah berlalu. Setelah mendengar pintu tertutup, Changmin bergegas turun. Berlarian ke ruang tv, mencari sosok yang akan memberinya pelukan. Kepalanya berputar ke berbagai arah, memergoki jam dinding di atas tv menunjukan jam dua pagi. Dia bergegas berpindah tempat, menemukan ibunya tertidur di atas lantai dapur.

Changmin mendekat, memperhatikan seksama lebam di lengan dan wajah ibunya. Luka-luka yang jumlahnya bertambah banyak dari pada hari kemarin. Bentuk-bentuknya kini pun lebih seram.

“Mama…” Changmin menggoyang tubuh Jaejoong pelan. “Ma…” mengguncang-guncang lebih kuat. Kemudian tersadar ada sesuatu melekat di telapak tangannya. Changmin mengangkat kedua telapak tangannya ke hadapan muka.

“Mama, bangun! Kenapa Mama berdarah?”

Changmin Kecil masih berusaha membangunkan ibunya. Ketika dia tak mendapat balasan, lelehan air mata mulai membasahi kedua pipi Changmin. Dia tak mengerti apa yang terjadi, tapi melihat mata sang ibu yang tak kunjung terbuka memberinya ketakutan teramat sangat. Seperti ketika dia terpojok mendapat nilai ulangan buruk atau ayahnya yang menggeram tiap kali ditanyai pendapat. Ayahnya mungkin monster, tapi tak ada yang lebih mengerikan dari pada melihat ibunya membeku.

“Mama… bangun, aku takut tidur sendiri,”

Ibunya tidak bisu, Changmin mengetahui itu. Namun ibunya masih tak bergerak. “Ma…”

Tetes demi tetes mulai mengucur turun. Bukan air mata cengeng. Bukan tangisan yang mudah dihentikan. Changmin Kecil meraung-raung. Teriakan dan isak melebur menjadi satu. Dia menangis dengan mata terpejam sambil memanggil-manggil ibunya.

Apa yang sebetulnya membuat Changmin menangis adalah kebenaran saat ini, dirinya, sendirian dan mungkin akan terus begini selama ibunya tidak menyahut.

“Mama… bangun, Mama! Mama!… Ma, temenin Changmin! MAMA!”

Suaranya parau dan serak. Nyaris pecah oleh nada teriakan yang tinggi. Tapi Changmin Kecil tak menyerah, terus saja menyerukan ibu. Berharap semakin keras dia menangis, Ibunya akan mulai membuka mata. Sebagian orang bisa menilai Changmin cengeng, tapi sebagian lain akan berfikir seberapa anak kecil itu berduka. Mereka melihat sosok anak yang tak mengerti apa itu kepergian selamanya adalah kematian.

 

…one year and a half month later…

 

Matahari pagi menerawang dari balik serat hitam kaca jendela, jatuh di wajah ibunda. Changmin tersenyum ringan, seakan melihat di wajah beku sang ibu juga terlukis senyuman yang sama. Kemudian matanya beralih ke rerumputan yang terpapar surai mentari di halaman luar.

Bunyi mesin pencatat detak jantung bagaikan ciak burung setelah setahun lamanya Changmin mendengar nada yang sama. Bau antibiotik, bising troli pembawa obat-obatan dan bahkan pemandangan lumut menjijikan di luar jendela terlihat indah dan Changmin mulai menyukainya. Hal yang selalu sama selama satu tahun ibunya berbaring di rumah sakit.

“Halo, Changmin! Gimana keadaan Mama?”

Changmin menoleh ke sumber suara, menemukan Dokter Junsu baru saja di ambang pintu berjalan masuk mendekatinya yang sedang duduk di sebelah ibunda.

Changmin tak menjawab sapaan Dokter Junsu dan dengan itu Dokter Junsu mengerti jawaban yang tak ingin Changmin katakan; “Masih beku.”

Dokter Junsu tertawa garing. Bukan benar-benar tawa, tapi sandiwaranya cukup sempurna untuk menipu Changmin bahwa semuanya dalam keadaan baik-baik saja.

Lewat sudut mata, Changmin melirik ujung sepatu hitam Dokter Junsu yang mengkilap sampai rambut Dokter Junsu yang ujung-ujungnya berdiri tegak. Di pertemuan pertama, rambut itu membuat Changmin berdecak kagum terkesima; bagaimana bisa rambut itu berdiri tak tergoyahkan? Mengingatkannya pada pemain sepak bola yang Changmin lupa namanya siapa.

Oh tidak, Changmin lupa karena telah lama tak menonton aksi pemain bola tersebut. Sudah lama dia tidak pulang ke rumahnya sendiri. Tak lagi banyak bermain, apalagi pergi bersama teman-temannya. Bahkan bagi Changmin mungkin semua sahabat-sahabatnya sekarang sudah melupakannya dan mulai bermain dengan anak yang lebih keren.

Changmin pulang ketika dia kehabisan uang jajan dan mengabari ayahnya tentang biaya dadakan atau tambahan yang dibutuhkan untuk perawatan ibunya. Sang Ibu yang terbaring koma semenjak tragedi malam itu.

Beberapa hari setelah tragedi itu, Changmin pergi ke tempat yang terdapat banyak polisi. Duduk lama mendengarkan orang-orang dewasa beradu mulut. Ayahnya banyak bicara di tempat itu melawan seseorang yang Bibi Changmin sebut sebagai Pengacara. Changmin juga memperhatikan seseorang yang selalu mengetuk-ngetuk meja dengan palu terbuat dari kayu. Setelah rasanya berjam-jam duduk membosankan, Changmin akhirnya pergi meninggalkan tempat itu bersama bibinya dan tak pernah bertemu dengan ayahnya satu bulan kemudian.

Hidup Changmin berubah sejak saat itu. Tak tahu apa yang sebetulnya terjadi. Dari hari itu, Changmin mulai tinggal bersama sepupu dan bibinya. Setiap hari diantar-jemput ke sekolah, pulangnya mengunjungi ibu sampai larut malam. Waktu bermain Changmin hanya di rumah sakit, bersama para suster, Dokter Junsu dan beberapa pasien lain. Teman yang tidak benar-benar mengerti pola pikir Changmin dan membuat Changmin enggan membuka mulut. Changmin lebih senang menonton Ibunya yang tak melakukan apapun. Duduk diam di samping ibunda sampai ketiduran terdengar jauh menyenangkan, dari pada bersama orang-orang yang senang mencubit pipinya.

Tapi entah sejak kapan, tiba-tiba Changmin banyak bicara pada ibunya. Sekalipun sang ibu tak menjawab atau sekedar menganggukkan kepala. Changmin akan bercerita serentetan kejadian yang telah dilewatinya hampir tanpa jeda, seperti yang biasa dia lakukan ketika mata Ibu masih terbuka.

Dokter Junsu menyadari kebiasaan baru Changmin. Itu membuatnya sering mengunjungi kamar pasien yang dihapalnya betul-betul. Pasien terlama yang pernah ditanganinya dan memiliki seorang putra yang sangat setia. Juga satu-satunya pasien yang dia ketahui kehidupan pribadinya.

“Hey, Nak,” Dokter Junsu memulai sambil menarik salah satu kursi mendekat ke sebelah Changmin. Duduk di sana lalu merangkul bahu mungil Changmin. “Kadang ada hal-hal tidak masuk akal akan membantumu.”

Changmin mendongak, mencari mata Dokter Junsu. Kening Changmin mengernyit, sama sekali tak paham apa yang dibicarakan dokter ini.

“Pernah dengar bintang jatuh?”

Changmin mengangguk.

“Percaya tidak, bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan kita?”

Changmin terdiam. Dia pernah mendengar hal itu, tapi tak pernah mencobanya.

“Ketika kamu bermimpi, berharap dan menginginkan sesuatu menjadi kenyataan, maka jagad raya akan mendukungmu.”

Jagad raya? Apa itu?

Ketika Changmin hendak menanyakan arti kata jagad raya, mulutnya tiba-tiba terkunci rapat. Teringat bagaimana ayahnya selalu menggeram tiap kali Changmin banyak bertanya.

Dokter Junsu menepuk-nepuk pundak Changmin. Lalu dia bernyanyi dengan mulut tertutup. Melantunkan sebuah lagu dengan satu lirik; “Emm…”. Tapi melodi lagu tersebut dikenal Changmin betul-betul dan berhasil membuat anak SD itu tersenyum. Lagu yang sama yang pernah dinyanyikan Ibunya. Entah kenapa, ketika mengingat saat-saat ibunya menyanyikan lagu itu, kedua mata Changmin terasa panas.

Sebelah tangan Changmin meraih tangan sang ibu, menggenggamnya kuat, tapi tak cukup kuat untuk menyakiti. Lalu ikut bernyanyi bersama Dokter Junsu. Sekalipun suara sumbang dan bergelombang yang dia keluarkan. Suara parau menahan bulir-bulir air di sudut mata. Kenangannya bersama Ibu mulai menyeruak masuk tanpa permisi.

 

…a star then fell…

 

Malam itu, langit terlihat hitam tanpa taburan bintang. Cahaya di permukaan bumi terlalu menyilaukan dan asap kendaraan menjadi tabir penghalang mata untuk meraih bintang di atas sana. Di antara bentangan horison, Changmin beristirahat sejenak dari pencariannya; mencari bintang jatuh. Matanya menangkap pemandangan yang selalu sama, cahaya lampu. Apakah itu lampu menara pemancar gelombang sinyal maupun lampu di kedua sayap pesawat terbang. Semua pemandangan lampu-lampu malam terlihat jelas dari atas sini, di ruang inap ibunya. Tapi tak ada satu pun bintang yang pernah dia temui.

“Bintang jatuh, kamu dimana?”

Changmin lebih rajin mencari sambil menunggu sesuatu berpendar di langit sana, cahaya yang asalnya dari antariksa yang jauh dari tempatnya berada. Tapi bulan pun dia tak berhasil temukan. Mungkin bintang-bintang itu sedang tidur, pikir Changmin.

Changmin berputar, mencari sosok bibinya yang tertidur di sofa, lalu beralih kepada Jaejoong, ibunya, yang tak pernah berubah posisi tidur. Lama Changmin memperhatikan Jaejoong, berharap sepasang mata itu terbuka walau sedikit.

Changmin melirik jam dinding, sudah lewat dari jam sembilan dan itu melanggar janjinya kepada Bibi. Seharusnya Changmin berhenti mencari dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Melihat sang bibi tertidur, Changmin merasa ini kesempatannya untuk mencari bintang lebih lama lagi.

Ketika Changmin berbalik lagi, kembali pada langit hitam, dia tak tahu bahwa ada banyak pasang mata diam-diam memperhatikannya sedari awal dia mencari bintang. Bahkan bibinya, yang melipat kedua tangan di depan dada, menunduk dalam dengan tubuh miring berpura-pura jatuh tidur, sebetulnya tengah mengintip di antara bulu-bulu mata, berusaha keras untuk tidak menjatuhkan setetes pun air mata. Sementara di balik pintu, Dokter Junsu dan para suster hampir membanting pintu untuk menarik Changmin pulang. Pemandangan ini bukan sesuatu yang bagus.

“Maaf Dok, mungkin saya tidak sopan mengatakan ini. Tapi Dokter harusnya tidak bercerita hal aneh-aneh lain kali.” Salah seorang suster berbisik.
“Saya melihat Changmin seperti ini sejak tiga hari lalu. Apa tidak sebaiknya Dokter bertindak? Changmin masih kecil, tidak baik untuk kesehatannya.”

Semua yang menyaksikan bagaimana perkembangan Jaejoong dari hari ke hari hampir kehilangan kepercayaan bahwa suatu hari nanti Jaejoong bisa berdiri kembali. Changmin, tanpa satu detik keputusasaan, mencari harapan yang tersisa di balik batu sekalipun. Orang dewasa bisa keras kepala, Changmin jauh lebih keras kepala dari mereka.

Orang dewasa hanya jago dalam membuat sikap perihatin. Mereka memang pernah menjadi anak kecil dan mereka melupakan bagaimana rasanya. Changmin Kecil masih dipenuhi keyakinan kuat keajaiban pasti akan datang kapanpun hal itu akan terjadi. Itu kenapa, Changmin tak pernah lelah berharap dan menunggu dalam satu waktu— sekalipun tanpa ada kepastian. Karena di pihak orang dewasa, mereka mengetahui fakta yang merobohkan keyakinan mereka sendiri.

Dokter Junsu meraih gagang pintu. Menggenggamnya erat sebelum kemudian melepasnya pasrah. “Besok. Akan aku nasehati besok. Sekarang biarkan saja dulu.”

Orang-orang dewasa itu merapat, mendekatkan telinga ke arah dimana Changmin berada. Ada suara parau yang sangat lemah berkata, hampir seperti bisikan.

“Bintang, kamu dimana? Bisa dengar do’aku nggak? Aku mau ibuku sembuh… dan tolong bahagiakan ibuku… Aamin.”

Sebaris do’a terakhir untuk hari ini sebelum anak itu beranjak merangkak naik ke ranjang ibunya. Tidur di salah satu sisi kosong sambil berhati-hati tidak mengganggu kabel dan selang-selang yang melilit sang Ibu. Perlahan Changmin pun jatuh ke suatu tempat dimana dia bisa bertemu sang Ibu yang berdiri segar tanpa masker oksigen dan jarum infusan.

Beberapa orang dewasa di luar pintu segera bertolak pergi. Tak tahan menonton drama kehidupan nyata ini tanpa suara isak. Dokter Junsu memilih tetap berdiri di sana, tak berbalik, menunggu semua suster pergi dan dia bisa mengusap air matanya sendiri. Bibi Changmin yang berada di dalam ruangan, membungkuk mencium lutut, menekan tangis yang ingin segera meledak keluar. Antara tangis haru dan amarah kebencian terdalam pada Jung Yunho, seseorang yang dengan licik terbebas dari jerat hukum atas semua yang terjadi pada Kim Jaejoong.

Di negeri ini, semua yang kita harapkan bisa terkabul adalah sebaris kalimat yang Changmin baca dari salah satu buku dongengnya.

 

 

 

*When you wish upon a star, you’re a few million lightyears late.

That star is dead.

Just like your dreams.

 

 

*note: Annyeonghaseyo~~ Anemone_sea imnida, semacam editor dari Sarah Anna Kiko^^” (ya, ‘semacam editor’) pendatang baru di FFYJ ini. Mohon respon membangun dari reader semua~~😀

Ada yang berminat vote supaya dibikin sekuel?🙂

4 thoughts on “Wish Upon A Star 2/2

  1. astaga astaga ini nyesek bgt lebih nyesek dr kemarin
    tapi kenapa gantung????

    masih kaya yg chapter awal bahasanya gak baku terkesan kasar dan kaya drama anak2, trus klo mau dijadikan sequel aku setuju bgt dan mendukung tapi klo bisa bahasany lebih dibakukan memang gampang dimengerti bahasa disini tp terkesan aneh.

    maaf klo saya banyak kritik saya hanya menuliskan apa yg terlihat kurang dr ff ini
    sebelumnya terima kasih sudah buat ff yg ceritanya begitu menyentuh

  2. Huweeee…
    Sekuel mana sekuel ~
    demi apa nyesek banget
    di tunggu sekuel nya ya author yang baik hati

  3. Aigooo sesak napas baca dibagian ahir cerita. Dan dengan tidak sopannya air mat ikut turun, kisah changmin sangat mengahrukan kesetiannya membuat dia tidak kehilangan harapannya. Trus kemana itu si papa jung yunho…?? Bang ingat anak bang .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s