F(Love) Last Chapter


Chapter :5/5
Rating : T
Genre : Romance, family, friendship
Cast : YunJae, TH5K, Yunho x (upcoming character)😛
Disclaimer : YunJae belongs to shipper, TH5K belongs to cassie and God, Changmin belongs to me. :p Story is mine.
Warning : Bahasa sastra yang muter-muter. Suka misterius. New author. Bakal lama di update. Campus life.
Summary : Di dunia ini, semua hal bisa dirumuskan, atau begitu menurut seorang Jung Yunho, seorang anak yang kelewat rajin. Tapi benarkah begitu? Apa jadinya kalau, Kim Jaejoong, orang yang selalu membuatnya melawan pahamnya sendiri datang? When love makes no more equation.

Yunho hanya bisa menunduk dalam diam. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menggeram dengan nada rendah. Menikah? Jaejoong menikah? Setelah dengan seenak jidatnya muncul dalam hidup Yunho ,sekarang dengan seenak perutnya ia meninggalkan Yunho lagi, setelah menabur bibit cinta itu di dalam dirinya? Yang benar saja!
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Dengan malas Yunho menyusuri sepanjang lorong universitas, tidak banyak berbicara, bahkan terlalu malas untuk sekadar mengangkat kepala dan melongok ke keadaan sekitar.
Dari kejauhan, Yunho bisa melihat orang-orang menatapnya dengan prihatin. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka, Yunho tak pula tahu. Hanya saja, sesungguhnya ia merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu.
‘Apakah mereka sudah tahu masalah undangan itu? Atau apakah mereka sudah tahu kalau aku mencintai Jaejoong?’
“Sunbae,” Tiba-tiba suara kecil mengejutkan Yunho dari lamunannya.
“Nde?” Yunho menoleh menatapnya dengan sedikit malas.
“Sunbae masih menggunakan bed slippers dan pajamas.” Suara itu bergumam dengan nada rendah sembari menunduk.
Yunho membulatkan matanya. Ditatapnya keseluruhan penutup tubuh yang melekat di dirinya sekarang.
‘Pantas semua orang menatapku dengan prihatin.’
“Umm, gomawo.” Yunho berkata dengan nada rendah sembari menundukkan wajahnya yang memerah karena malu. Segera ia berlari meninggalkan lorong universitas menuju parkiran agar ia dapat cepat-cepat sampai di rumah dan berganti pakaian.


———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Siang itu Yunho duduk sendirian di kantin. Sepanjang hari mood nya berantakan. Ia sama sekali tidak berminat masuk ke dalam kelas. Yang dilakukannya seharian ini hanya duduk di atap universitas, berusaha menetralkan pikirannya yang berkabut. Mengapa tidak di rumah? Sederhana. Ia lebih tidak mau lagi apabila ia harus meningat Jaejoong dalam keadaan sendirian. Apalagi, benda laknat berupa undangan pernikahan Jaejoong masih bertengger dengan manis di meja tamu rumahnya.
Junsu dan Yoochun telah melewati meja tempatnya duduk beberapa menit yang lalu, memandangnya dengan tatapan sinis dan mematikan, tetapi Yunho sama sekali tidak perduli akan hal itu. Bukannya ia tidak merasa bersalah sama sekali. Terus terang ia merasa sangat brengsek telah menggagalkan kepercayaan seseorang kepadanya begitu saja. Tetapi mau bagaimana lagi? Ia sama sekali tidak mampu untuk berbuat lebih jauh. Hatinya sudah terlampau sakit dan berada dalam kegiatan itu lebih lama malah akan semakin menghancurkan hatinya.
Jaejoong… Kim Jaejoong.. Cinta… Hal-hal serapuh itu, sesederhana itu telah masuk, membangun hidup Yunho, tetapi kemudian menghadirkan badai besar, dan menghancurkannya pula sekaligus, setidaknya begitu menurut Yunho.
PRAK!
Suara nampar digeser dengan cepat menjentik sisa-sisa kesadaran Yunho. Tanpa kata-kata pengantar apapun, namja itu, Shim Changmin mendudukkan dirinya di hadapan Yunho.
‘Cih.’ Gumam Yunho perlahan.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Suara gemelutukan gigi yang saling berada memenuhi ruangan yang terasa lengang diiringi dengan tatapan mata tajam dari Jung Yunho kepada Shim Changmin. Yang ditatap? Oh jangan harap ia akan perduli. Ia hanya mengunyah dan terus mengunyah makanannya seakan-akan tidak terlalu memperdulikan keberadaan Yunho saat itu.
“Mau apa kau duduk di sini?” dengan nada sedingin es Yunho akhirnya angkat bicara.
Changmin mengangkat kepalanya, seringai menghiasi wajahnya, “menemani orang yang sedang patah hati. Memangnya tidak boleh?”
Yunho benar-benar berusaha keras untuk menahan kepalan tangannya di bawah meja agar tidak melayang dan mendarat di wajah Shim Changmin.
“Memangnya siapa yang patah hati?” Yunho berusaha tetap tenang.
“Kau.” Changmin berkata dengan nada malas sembari mengunyah makanannya lagi.
“Memangnya apa urusanmu dengan hidupku? Sejak kapan kau jadi sedemikian perduli padaku, tuan Shim yang keras kepala?” Yunho berkata dengan nada dingin.
Changmin mengangkat wajahnya, menatap Yunho lamat-lamat, “Memang tidak ada urusannya dengan hidupku. Tetapi karena permintaan calon istriku lah makanya aku datang dan duduk menemanimu di sini.”
Mendengar kata-kata ‘calon istri’, air muka Yunho kembali menjadi keruh.
“Kalau kau ke sini hanya mau pamer diam saja dan tutup mulutmu atau kuhajar kau sekarang juga.” Yunho mendesis dengan nada yang dibuat serendah mungkin.
Changmin mendengus, menahan rasa kesal yang tiba-tiba muncul.
“Dengar ya, hyung, aku sama sekali tidak ada maksud jahat. Aku benar-benar hanya melaksanakan keinginan Jaejoong-hyung. Kalau kau kesal dan marah atas pernikahan ini, jangan kesal padaku, kesallah pada dirimu sendiri, pada dirimu yang tidak mampu menyelesaikan kode Jaejoong hyung. Tentang kau yang tidak bisa menjadi pria yang layak bersanding dengannya.”
“Bukan urusanmu.” Dengan nada cuek Yunho bangkit berdiri, meraih tasnya, dan melenggang meninggalkan Changmin sendirian.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
24 Desember, Christmas Eve, satu hari sebelum hari paling sakral bagi hampir seluruh umat Kristen di seluruh dunia.
Jepang di masa natal adalah pemandangan yang benar-benar diimpikan banyak orang. Beragam hiasan, pohon natal, salju, ada ratusan alasan yang membuat ratusan pasangan tidak mau berdiam di dalam rumah pada malam natal. Mereka lebih memilih keluar, berlalu lalang, memadu kasih, membuat cerita cinta mereka sendiri.
Di sudut kota yang mulai membeku, jauh di atas sebuah bangku yang sama ketika awal pria itu jatuh cinta, terduduklah Jung Yunho sendiri. Hingar bingar bisingnya jalan tidak banyak menggangu perhatiannya. Selepas sidang tugas akhir yang berlangsung tadi pagi, ia hanya menghabiskan waktu seharian mondar-mandir ke sana kemari, berlalu lalang, tidak tentu arah.
Kosong. Ada rasa hampa yang memenuhi jiwa dan hatinya saat ini.
Lusa kekasih hatinya akan segera bersumpah, sehidup semati, menjadi milik seseorang, seseorang yang bukan dirinya sendiri.
“Apa yang sedang kau lakukan sekarang Jaejoong-ah? Apakah sekarang kau sedang ada di boutique, menyoba pakaian yang sesuai untuk sumpahmu? Apa yang akan kau kenakan? Gaun atau tuxedo putih? Apakah sekarang kau sedang bersama dengan keluargamu atau keluarga Changmin? Apa yang sedang kau lakukan? Apakah Changmin memperlakukanmu dengan baik?”
Yunho menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya air mata tak bisa lagi jatuh ke pipi berkulit tan nya itu.
“Jaejoong-ah, bogoshipo. Ottokhaji?”
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Sementara itu di tempat lain dua orang namja tengah duduk sembari berbincang-bincang dengan serius, tidak tampak guratan bercanda dalam garis matanya.
“Kau sungguh-sunguh akan menikah lusa?”
“Memangnya kau pikir ini main-main, hyung? Apakah menurutmu undangan yang telah disebar akan jadi bahan main-mainan saja?”
Yang dipanggil ‘hyung’ hanya tertawa, tertawa kesetanan, tertawa paling seram yang bisa kau bayangkan sebagaimana ada di layar perak atau apapun itu. Kontras sekali dengan kulit putih bersihnya dan wajah androgininya.
“Berhentilah tertawa seperti itu, hyung, kau benar-benar menakutiku.”
“Hahahaha berhentilah bertingkah seperti anak bocah, Shim Changmin. Sampai kapan kau bisa berhenti bertingkah seperti anak SD? Kita bahkan sudah kuliah dan aku bukan lagi hyung tiri-mu yang bisa kau gandrungi kemanapun kau pergi.”
“Aku tidak pernah mengikutimu ke manapun, hyung! Maaf saja ya!”
“Oh iya aku lupa. Shim Changmin yang ini sekarang sudah dewasa, sudah jatuh cinta, sudah punya geng, sementara hyung tiri nya yang menyedihkan ini masih sendirian, berkutat dengan soal-soal dan cintanya yang tak sampai.”
Changmin mendecih dengan rendah.
“Itu salahmu sendiri,hyung. Kau yang selalu menutup diri kepada orang-orang yang memang mencintaimu dengan tulus dan malah mengejar cinta yang semu, yang entah ke mana ujung ceritanya.”
Pria yang satunya lagi hanya menghela napas, sedikit tersindir dengan ucapan dongsaengnya itu.
“Biarkan saja. Setidaknya cintaku kelak kan sampai.”
Shim Changmin hanya menatap bingung ke arah hyung nya itu.
“Maksudmu, hyung?”
“Pulanglah sana, lain kali kita bercerita lagi.”
Shim Changmin hanya terdiam, sejurus kemudian meraih jacketnya di sofa, berpamitan kecil, kemudian keluar.
“Maafkan hyung, Changmin.”
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
26 Desember 2016
Yunho membuka mata yang baru bisa ditutupnya pukul tiga dinihari. Hari ini seharusnya jadi hari yang besar. Olimpiade terakhirnya sebagai mahasiswa sebelum ia benar-benar lulus dan bekerja, meninggalkan universitas ini.
Semuanya akan jadi sangat menyenangkan seandainya saja, seandainya pernikahan kekasih hatinya tidak dilaksanakan hari ini.
Rasa kosong yang menyebar dalam dirinya kian menegas, menjadi semakin nyata. Tetapi bisa apa dia? Bisakah ia memaksakan cinta? Kalaupun bisa, memangnya siapa dirinya sampai-sampai ia merasa berhak untuk melakukan itu? Pada akhirnya, Jaejoong bukan miliknya, bukan keluarganya, jadi ia sama sekali tidak punya hak untuk menggangu gugat apapun pilihan Jaejoong.
TING TONG!
Suara bel menandakan seseorang tengah berada di sana, bersiap menjemput Yunho, siapa lagi kalau bukan Karam?
Dengan malas Yunho berjalan menuju pintu. Dibiarkannya tampangnya kusut dan pakaiannya yang seadanya.
“HYUNGG!” suara cempereng bernada tinggi itu kembali menusuk-nusuk saraf pendengaran Yunho.
Yunho hanya terdiam, tidak berniat untuk merespons.
“Kajja, hyung!”
Karam menarik sebelah lengan Yunho dan Yunho sama sekali tidak terpikir untuk melawan.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Udara musim dingin yang menggelitik masih menjadi hiasan sepanjang perjalanan Yunho dengan Karam. Sepanjang perjalanan, seluruh memori itu terputar perlahan di kepala Yunho, awal seluruh pertemuannya dengan Jaejoong di taman itu, klub kesenian, Jaejoong, Jaejoong dan Jaejooong.
Kenangan itu kian menegas ketika kaki-kakinya mulai memasuki taman yang sakral itu, taman awal cerita itu. Hatinya berdesir ketika garis matanya menangkap refleksi kursi tempat mereka berbicara dahulu.
Yunho, tanpa disadarinya sendiri, berhenti di tempat, menatap lamat-lamat ke arah kursi itu, berusaha mengumpulkan kepingan hatinya yang mulai hancur berserakan. Dilepaskannya genggaman Karam dan kaki-kakinya segera melangkah menuju kursi itu lagi.
Melihat itu, Karam segera menyusul Yunho, mendudukkan dirinya di samping Yunho yang seakan sedang tenggelam dalam pikirannya.
Yunho kembali merangkai seluruh ingatan itu, research kecil-kecilan yang dilakukannya tentang musim gugur, usahanya menguping pembicaraan orang-orang tentang dirinya, usahanya berlatih di klub kesenian, dirinya yang kian berubah menjadi menyenangkan, semuanya ia rangkai dalam kepalanya dengan cepat.
Puncak dari segalanya, tiba-tiba perkataan Yoochun di siang itu menamparnya, “Sekarang aku mau tanya padamu, kalau memang semua di dunia ini menggunakan ekuasi, adakah ekuasi yang mengisyaratkan alasan sebab-akibat kau dilahirkan?!”
‘Ekuasi yang mengisyaratkan sebab-akibat aku dilahirkan? Adakah hal itu? Ya tentu saja, karena Tuhan mencintaiku. Ekuasi yang mengatakan kalau aku harus mempertahankan Jaejoong dan memaksanya tetap bersamaku?’
Yunho menimbang-nimbang dalam hatinya. Terus menerus berputar-putar pada tanya jawab yang seakan tanpa akhir.
‘Ekuasi itu… Ekuasi itu, aku mencintai Jaejoong! Kemungkinan lain dari kebenaran ekuasi itu…’
Yunho kembali berpikir, berspekulasi, menyambung-nyambung pemikiran demi pemikiran.
‘Kemungkinan yang paling masuk akal, ya, kemungkinan itu adalah bahwa Jaejoong juga mencintaiku.’
Pemikirannya yang terakhir seakan bertransformasi menjadi sebentuk energi terbesar yang ada dalam hidupnya belakangan ini. Dengan cepat Yunho menghentakkan kedua telapak kakinya ke tanah, menjejak dengan pasti, berdiri, dan melangkah.
“Mau ke mana, hyung?” Karam menahannya lagi.
“Maafkan aku, Karam. Aku harus melakukan hal yang benar untuk hidupku, sekarang.” Yunho melangkah lagi dengan cepat.
“Ke mana hyung?”
“Ke pernikahan Jaejoong.”
Mendengar nama itu disebut, dengan segala kegeraman yang memuncak, Karam berteriak,
“KENAPA KAU SELALU MEMALINGKAN MATA KEPADANYA HYUNG!”
Yunho hanya terdiam beberapa detik di tempatnya, sejurus kemudian, dengan penuh keberanian, Yunho menoleh sebentar dan bergumam, “Karena aku mencintainya, Karam.”
Dan kemudian, Yunho pun berlari.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
BRAK!
Yunho mendobrak pintu Azabu church dengan keras, tepat ketika pendeta sedang mengucapkan,
“Apabila ada yang keberatan dengan pernikahan ini,”
“Aku keberatan!” Dengan lantang Yunho berteriak, membuat suaranya bergema memenuhi gereja yang megah itu.
“Aku keberatan, Pak Pendeta, jemaat sekalian, karena mempelai wanita dari pernikahan ini adalah calon istriku, dan kami saling mencintai!”
Dari ujung altar Jaejoong menahan air matanya yang seakan siap untuk tumpah kapan saja. Heroik. Persis seperti drama, namun Jaejoong bersyukur. Yunho menyelamatkannya dari pilihannya sendiri, pilihan yang ia yakini akan ia sesali seumur hidup.
Sejurus kemudian Yunho berlari dengan cepat, meraih lengan Jaejoong dan membawanya turun dari altar. “Kajja, urusan cinta kita belum selesai, tuan putri.” Yunho berkata dengan tenang sembari mengedipkan sebelah mata.
Changmin yang melihat semua itu hanya terdiam. Ia merasa kalah sekarang, tetapi tak ada hal yang dibuatnya. Inilah yang benar.
DORR!
Suara senapan revolver kembali mengejutkan seluruh gereja yang memang gaduh sejak Yunho datang.
“Diam kalian semua!” Suara pembawa senjata itu membahana.
“Karam-ssi!” Yunho mendesis perlahan.
DORR! DORR!
Suara peluru berdesing kembali membuat gaduh.
“Kau! Shim Changmin! Bawa dua manusia brengsek ini ke mobilku sekarang!” Karam berteriak dengan kencang.
“Apa yang mau kau lakukan, hyung!” Changmin berteriak dengan sedikit gemetar.
“Jangan membantah hyungmu ini! Bawa mereka sekarang atau kuledakkan bom yang sudah kuselipkan dalam tuxedo mahalmu itu!” Karam kembali berteriak mengancam.
Changmin melotot. ‘Sudah kuduga ada yang aneh darinya sejak malam pertemuan itu.’
Dengan ragu Changmin melangkah menggiring Yunho dan Jaejoong menuju tempat Karam berdiri, ketakutan jelas menjalar dalam dirinya.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Kini tubuh Jaejoong terikat, tangannya juga terikat di atas kepalanya, sementara di sudut ruangan, Yunho juga tak jauh berbeda, diborgol baik di bagian kaki maupun tangan ke kursi. Changmin berusaha menolong tetapi bom yang melekat di tubuhnya membuatnya tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan hyung tirinya itu.
“Dasar manusia-manusia tolol!” Karam melangkah cepat-cepat menuju Yunho yang tengah terduduk di kursi dengan pasrah, “Kau lihat wajah si bodoh itu, Jung?” Karam mengangkat wajah Yunho, membawannya menatap Jaejoong yang terikat tak berdaya. “Aku sudah melakukan segala hal. Mengancamnya, membuatnya masuk rumah sakit, aku mengikuti dan membahayakannya setiap saat, tapi kau! Kau tetap saja jatuh cinta pada si tolol ini! Tak perduli berapa lama kita selalu bersama, betapa kerasnya aku mengedarkan rumor tentang kita yang berpacaran, aku yang menakuti dan mengusir gadis-gadis yang terang-terangan berusaha mencuri perhatianmu, kau masih sama sekali tidak perduli padaku, Jung! Sementara si bodoh itu, dengan cepat kau yang terus menerus mecari tahu tentangnya! Kenapa, Jung?! Segala hal yang ada telah mengisyaratkan kalau kita cocok!” Karam berteriak mencak-mencak. Sekali lagi ia menjambak dan menampar Yunho dengan keras, membuat Jaejoong yang tak berdaya di sudut ruangan lain menangis ketakutan.
“Jadi kau si brengsek yang menjadi dalang menjauhnya Jaejoong dariku?” Pertama kalinya Yunho menggunakan nada yang kasar hari itu, dan juga pertama kalinya ia mengancam Karam dalam hidupnya.
“Ya! Kenapa memangnya?! Kau tak suka?! Kau itu milikku, Jung!” Karam kembali tertawa kesetanan.
Yunho menatap Karam dalam-dalam dengan kesadarannya yang mulai menipis.
“Camkan ini baik-baik, Karam-ssi. Isyarat tetaplah isyarat. Kenyataan berbeda dengan isyarat. Sekalipun kita diisyaratkan cocok, kenyataannya aku tak pernah mencintaimu, dan tak pernah mencintaimu. Menyukaimu pun tidak. Caramu yang salah dan ambisius seperti inilah yang takkan pernah membawamu ke mana-mana. Cinta itu satu-satunya dimensi dalam dunia yang ada ekuasinya namun sampai kiamat menjelang tetap tidak akan terpecahkan. Kenapa? Karena ada jutaan kemungkinan yang berubah setiap detiknya karena cinta itu. Aku mencintai Jaejoong, sesederhana itu. Jaejoong pun mencintaiku. Kau, kau tidak bisa muncul dan merusak itu begitu saja.” Yunho berkata dengan tegas dan serius.
Karam yang mendengarnya geram, tak bisa membantah, tak mau pula membenarkan.
“Keparat kau, Jung!” Diangkatnya senapan yang masih setia dalam genggaman tangannya, diarahkannya ke arah Yunho,
DORR!
Seluruh ruangan menegang. Tubuh itu jatuh bersimbah darah.
“Aku mencintaimu, Jaejoong.” Suara itu kian menipis.
“CHANGMIN!!!!” Yunho berteriak dengan lemah, Karam menatapnya tak percaya. Dengan segala kekuatan yang tersisa, Yunho berhasil melepaskan borgol yang telah diutak-atiknya perlahan sejak awal dengan kawat tipis.
“Kurang ajar, kau!” Yunho menghajar Karam tepat di wajah sampai pingsan.
Yunho segera menghampiri Changmin, memeriksa sisa-sisa denyut kehidupan dalam dirinya. Ia sangat lega ketika mendapati Changmin masih hidup dan peluru itu tak menembus organ vitalnya.
“Hyung, cepat tinggalkan, tempat ini.” Patah-patah Changmin berusaha berkata, “kurasa bom itu tak sengaja tertekan dan teraktivasi.”
Mata Yunho lantas melotot, “Mwoya!”
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
4 menit sebelum ledakan
Yunho nyaris frustrasi melepaskan ikatan di tubuh Jaejoong. 6 menit telah berlalu yang nyaris sia-sia. Ikatan di tubuh Jaejoong dibuat sedemikian rapih dan terampil.
“Yun, tinggalkan saja aku di sini.” Jaejoong terus-menerus bergumam sejak tadi.
“Kau pikir aku mau melakukannya?! Lebih baik sekalian kita mati bersama di sini!” Yunho berteriak dengan tidak sabar.
“Kau bisa mati di sini, Yun.” Jaejoong membujuk lagi.
“Memangnya kau tidak mati juga kalau kutinggalkan, hah?!” Yunho membalas lagi dengan sengit sambil terus mengutak-atik simpul ikatan itu.
“Saranghaeyo….” Jaejoong mendesis perlahan.
Yunho tak sempat menjawab karena ikatan itu persis telah lepas seluruhnya. Dengan segala tenaga yang tersisa, Yunho membopong Jajeoong keluar dari dalam ruangan itu.
Sesampainya di luar, Yunho mengecup singkat puncak dahi Jaejoong, dan bergumam, “Nado saranghae…” sebelum dengan cepat ia segera masuk kembali, berusaha menyelamatkan Changmin dan Karam yang tak berdaya.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Beberapa detik yang lalu, Yunho telah berhasil menyelamatkan Changmin setelah melepaskan tuxedo nya itu di dalam gedung. Dengan segera, Yunho membawa Changmin keluar.
Saat ini, Yunho sedang berkutat berusaha menyelamatkan Karam. Digendongya tubuh kecil itu, dan dengan segera dibopongnya keluar dengan berlari. Waktunya tinggal 30 detik sebelum ledakan.
Jaejoong yang melihat itu semua hanya berharap-harap cemas, tak sanggup melakukan apapun.
Jaejoong masih menanti sosok Jung Yunho yang bisa saja keluar dari dalam gedung itu kapanpun. Tak lama, nafasnya terhembus dengan lega ketika samar-samar, dilihatnya Yunho tengah menggendong Karam di punggung.
Tepat tak lama di belakangnya gedung itu meledak dengan suara dentuman yang sangat keras mengejutkan burung-burung yang sedang bersenda gurau di samping telinga Jaejoong.
———————————————————— f(love) ——————————————————————–
Karam hanya mendesah perlahan menatap Jaejoong dan Yunho yang hanya berpelukan seperti anak koala dan induknya, tidak perduli keadaan mereka yang masih di lorong rumah sakit, menanti operasi Changmin selesai.
Keduanya tak banyak bicara, hanya berpelukan, menatap ke dalam mata satu sama lain, tetapi bahkan dengan gerakan sesederhana itu, kau, yang hanya menyaksikan bisa merasakan kasih sayang yang dalam dan tulus dari keduanya. Jaejoong mengalungkan lengannya di ceruk leher Yunho dan Yunho memeluk pinggang ramping Jaejoong. Rasa iri menjalar di dalam diri pria kecil itu, tetapi ia sudah ikhlas. Cinta Jaejoong dan Yunho telah berhasil dirumuskan dengan caranya sendiri.
“Yun…” Jaejoong bergumam perlahan.
“Humm?” Yunho membalas dengan pendek.
“Menurutmu, setelah ini, ke mana cerita ini akan membawa kita?”
“Kenapa kau bertanya begitu, Jae?”
“Humm, kau kan selalu pintar merumuskan sesuatu.”
Yunho tertawa lembut. Dikecupnya puncak dahi Jaejoong dengan sayang.
“Biarkan saja mengalir, Jae. Nanti kita selesaikan sembari kita berjalan, otte?”
Jaejoong mengangguk kecil sembari tersenyum dengan manis.
DRRRT! DRRT!
Dua ponsel berbunyi pada saat yang bersamaan, ponsel Karam dan ponsel Jaejoong.
“Yooboseyo…” “Yooboseyo…” Keduanya sama-sama mengangkat di saat yang bersamaan.
“KARAM-SSI, KAU DAN YUNHO ADA DI MANA?! BAGAIMANA DENGAN OLIMPIADE INI?!”
“JAEJOONG, CHANGMIN KALIAN BILANG KALIAN AKAN MENIKAH SAMPAI MEMBATALKAN MANGGUNG DAN MEMBUATKU PUSING SEKARANG KALIAN MALAH MENGHILANG,TIDAK ADA DI MANAPUN!”
Oke, ketiga manusia di ruangan itu hanya bisa menutup telinga dan menjauhkan ponsel masing-masing dari telinga mereka.
———————————————- END —————————————————————————————

2 thoughts on “F(Love) Last Chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s