IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 4


IN THE NAME OF LOVE

Chapter 4-Getting married

Created by Amee

.

.

Warning:

Mpreg, Hurt/comfort, Psychological problem, Typo(s), Short chapter, OC, etc.

.

.

Aku tidak tahu apakah ini baik atau tidak? Apakah seharusnya aku senang atau tidak? Aku bahkan tidak tahu akan seperti apa kedepannya? Kuharap semuanya akan baik-baik saja.

.

Yunho mandi selama dua jam setelah kembali ke rumah. Ia bahkan menghabiskan satu botol shampo untuk berkeramas sebanyak empat kali. Ia hanya berpikir tidak mungkin jika harus tampak kusut dan penuh dengan keringat di hari pernikahannya. Pernikahan ya? Apa bisa disebut seperti itu?

 

 

Setelah berpakaian lengkap, Yunho berjalan menuju cermin melewati tumpukan baju di lantai yang dilemparnya beberapa saat yang lalu. Ia menatap bayangannya sekilas, namun cepat-cepat diurungkan niat untuk bercermin lantas mengambil sebuah koper.

 

 

Yunho memasukan beberapa pakaian ke dalamnya, juga beberapa barang penting yang tidak bisa ditinggalkan. Ia nyaris berteriak saat merasakan tubuhnya mendadak bergetar. Yunho tersenyum kecut, ia akan meninggalkan rumah ini untuk waktu yang lama, bahkan ia sendiri tidak tahu kapan ia akan kembali. Ia merasa seperti akan meninggalkan Yungsaeng sendiri di sini. Diambilnya sebuah foto berbingkai coklat, foto Yungsaeng, diciumnya sekilas lantas dimasukannya ke dalam koper.

 

 

“Semuanya akan baik-baik saja, aku harus menjaga Jae, ” gumamnya pelan.

Yunho merasa udara di ruangan ini mendadak turun beberapa derajat hingga ia merasakan kedinginan yang membuatnya tidak nyaman. Tubuhnya bergetar, dan ada debaran ketakutan yang mendadak muncul di dalam hatinya. Ia terus memeluk dirinya sendiri, lantas berjalan menuju cermin. Diamati pantulan wajahnya lalu menyeringai, bukankah tampak sangat menyedihkan? Di hari pernikahannya, tidak akan ada siapapun yang membantunya menyiapkan segala kebutuhan, tidak akan ada linangan air mata bahagia dari orang orang yang menyayanginya, dan tidak akan ada yang mengiringinya. Tidak ada orangtua, dan tidak ada adik. Ia hanya sendiri, bukankah itu sangat menyedihkan.

 

 

“Berhenti memikirkan dirimu sendiri, Jung. Ada hal besar yang lebih penting dari ini, ” gumam Yunho pasti, ditepuk-tepuk kedua pipinya, lantas segera beranjak keluar kamar dengan menyeret koper pribadinya.

 

 

Pernikahan akan dilaksanakan dua jam lagi.

 

 

OOO

 

 

Yunho merasakan kedua kakinya kaku, sehingga langkahnya tampak seperti terseret-seret. Setelah pelayan Han membukakan pintu utama kediaman Kim, Yunho masuk ke dalamnya. Tidak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa pesta pernikahan akan digelar, rumah besar ini tampak sepi. Yunho menelan ludahnya dengan susah payah, mendadak ia merasakan ketakutan yang teramat dan ingin kebur dari sana.

 

 

“Semoga pernikahan anda berjalan dengan lancar. Saya menitipkan Tuan muda Jaejoong pada Anda, ” ujar Pelayan Han.

 

 

Cepat-cepat Yunho menoleh saking terkejut, lantas tersenyum. “Tentu, aku akan berusaha menjaganya dengan baik. ”

 

 

“Terimakasih,” pelayan Han membungkukan badannya. “Sebaiknya anda segera berganti pakaian, saya pikir dua jam adalah waktu yang sangat singkat,” tambahnya sambil melirik kaos pollo yang dikenakan Yunho.

 

 

Yunho mengangguk dengan cepat. “Dimana aku bisa berganti pakaian? ” tanyanya.

 

 

“Biar saya antar,” jawab Pelayan Han, sementara Yunho hanya membalasnya dengan anggukan singkat, lantas mulai mengikuti langkahnya.

 

 

Yunho menghela nafas dalam-dalam. Ia merasa sangat asing dengan rumah ini, rasanya seperti terpenjara dan dicekik dengan keras hingga merasa sesak. Diliriknya sebuah foto keluarga berukuran besar yang tergantung di dinding. Jaejoong tampak tersenyum dengan ceria di sana, ada rona kemerah-merahan yang tercetak samar di pipi putihnya. Yunho mencengkram dadanya kuat-kuat, rasa bersalah itu kembali. Apakah ia bisa mengembalikan kecerian Jaejoong atau tidak. Yunho memejamkan matanya perlahan, lantas berdoa dalam hati, berdoa apa saja hingga ia kehabisan kata-kata, berdoa apa saja yang bisa ia sampaikan kepada Tuhan demi kebahagiaan Jaejoong.

 

 

“Han Ahjussi, ” ujar Hyunjoong yang mendadak muncul dari balik pintu kamarnya.

 

 

“Tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan Han, sementara Yunho yang baru menyelesaikan doanya segera menoleh dan menatap Hyunjoong dengan pandangan yang sulit diartikan, mungkin kebencian di dalam hatinya masih tersisa.

 

 

“Biar aku yang mengantarnya,” jawab Hyunjoong, sementara pelayan Han segera mengundurkan diri setelah mengangukan kepalanya. “Yun, ” ujar Hyunjoong pelan.

 

 

“Hn,” balas Yunho singkat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, dan ia tidak mampu menguraikannya sehingga membuatnya frustasi. Yunho merasa ingin menghantamkan kepala Hyunjoong karena setiap kali Yunho menatapnya, ia bisa melihat bayangan Yungsaeng yang tersenyum penuh duka.

 

 

“Maafkan aku,” gumam Hyunjoong. Yunho menoleh, sementara Hyunjoong cepat-cepat melanjutkan. “Mafkan aku yang terlalu pengecut, maafkan aku yang telah mengecewakanmu, dan maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan membahagiakan Yungsaeng, ”

 

 

“Hentikan, semuanya telah terjadi dan permintaan maafmu tidak akan bisa mengembalikan apapun,” pekik Yunho lantas menoleh menatap Hyunjoong. Ia terhenyak, Hyunjoong tidak lagi seperti yang dikenalnya, wajah itu telah jauh lebih tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya tampak sangat jelas.

 

 

“Aku tahu tidak semudah itu untuk memaafkanku. Dan aku tahu, sangat tidak tahu diri aku memintanya, tapi kumohon jaga Jaejoong. Aku sangat menyayanginya,” Hyunjoong menunduk menatap lantai, pundaknya bergetar dan Yunho dapat melihatnya.

 

 

Yunho merasa muak. Perlu beberapa waktu lamanya sebelum ia dapat menguasai kembali dirinya. Luapan emosi yang sempat membuncah perlahan mereda. “Tanpa kau pinta, aku akan tetap menjaganya. Kau dan Jaejoong adalah dua hal yang berbeda. Jadi dimana aku bisa mengganti pakaianku?”

 

 

“Kamar Jaejoong,” jawab Hyunjoong lirih.

 

 

Dengan langkah gontai, Hyunjoong berjalan menaiki tangga menuju kamar Jaejoong, diikuti Yunho. Tidak ada perbincangan yang tercipta, sehingga yang terdengar hanya hembusan nafas dan bunyi langkah kaki. Ketika mereka sampai di depan kamar, Jihyun baru saja keluar dari kamar Jaejoong, garis wajahnya tampak mengeras dan matanya sayu, menunjukan seberapa lelah ia.

 

 

Jihyun segera memeluk Hyunjoong dengan erat, terisak di sana. “Tolong adikmu, ” gumamnya berkali-kali dan itu cukup membuat Yunho kembali di dera rasa bersalah.

 

 

“Semuanya akan baik-baik saja, Eomma. Jae akan segera kembali, kita cukup mempercayakannya pada Yunho,” Hyunjoong balas memeluk Jihyun, sementara ia tersenyum pada Yunho mempersilakan laki-laki itu untuk masuk ke dalam kamar.

 

 

Yunho membuka pintu kamar lantas kembali menutup pintunya perlahan. Ditatapnya Jaejoong, dalam balutan tuxedo putih dengan kemeja merah muda, ia duduk di bingkai jendela dengan memeluk segelas coklat panas yang mungkin sudah dingin. Ia menatap keluar dengan pandangan kosong, nyaris tanpa kedip.

 

 

Yunho tersenyum kaku, dan mendadak rasa sakit menderanya, butiran bening menggenang di pelupuk matanya dan tubuhnya bergetar. Menatap Jaejoong yang seperti itu membuatnya merasakan sakit yang teramat, sebuah getaran aneh yang membuatnya ingin memeluk tubuh rapuh itu, namun diurungkannya.

 

 

Perlahan Yunho berjalan mengdekati Jaejoong, dan ia tahu bahwa Jaejoong sama sekali tidak menyentuh coklatnya karena gelas masih terisi utuh, dan sekali lagi Yunho tersenyum penuh duka. Berhentilah bersikap seperti mayat hidup Kim Jaejoong, berkali-kali Yunho menjerit di dalam hatinya.

 

 

“Jae, kau terlihat sangat manis, bagaimana kabarmu? ” tanya Yunho namun tidak ada tanggapan. Yunho tersenyum lantas ikut duduk di samping Jaejoong. “Apa yang sedang kau lihat? Hari semakin gelap, ”

 

 

Jaejoong masih tidak menjawab sehingga Yunho cepat cepat menatapnya dan Yunho tahu bahwa Jaejoong sama sekali tidak mendengarnya, bahkan ia yakin bahwa Jaejoong tidak menyadari kehadirannya, pandangannya kosong. Dan sekali lagi Yunho tersenyum miris.

 

 

“Kalau kau membenciku silakan hukum aku,” ujar Yunho, ia meremas kepalanya frustasi, sementara rasa sakit di dadanya terus membuncah. “Kau tidak mendengarku benar? Maka aku akan berbicara banyak hal sampai kau mau mendengarku. Kau tau Jaejoong-ah, terkadang Tuhan mempersiapkan sesuatu yang tak terduga. Dan aku adalah pemeran antagonis dalam naskah Tuhan. Aku menyesalinya, karena itu biarkan aku menghapus segala kesalahanku meski aku harus menghilangkannya dengan cara menjilatnya sedikit demi sedikit. Jaejoong-ah, kalau pun di dunia ini harus ada seseorang yang menanggung akibat perbuatanku, maka itu adalah aku sendiri. Jae, kumohon berhentilah bersikap seperti ini. Kau menyakitiku, kau menyakiti keluargamu, dan kau menyakiti dirimu sendiri,” ujar Yunho lirih, air matanya meleleh begitu saja meski ia tidak terisak, dan segera dihapusnya dengan kasar.

 

 

Jaejoong masih saja diam sementara Yunho tiba-tiba tertawa seperti orang yang hilang ingatan mengingat kejadian hari itu. Yunho berdiri dari duduknya, kemudian didekatinya dinding dan dipukulnya dengan hentakan keras, hingga tulang ruas jarinya mungkin saja retak. Kemudian dibalikkan tubuhnya untuk bersandar pada tembok.

 

 

Dijauhkan tubuhnya dari tembok lantas tersenyum getir. “Aku hanya ingin kau mengerti perasaanku, Aku sudah kehilangan orangtuaku, aku sudah kehilangan adikku, dan aku tidak ingin menambah penyesalanku dengan kehilanganmu. Maaf karena aku sempat memperlakukanmu dengan sangat buruk. Maaf karena aku telah menghancurkanmu. Maaf karena aku telah menyakitimu begitu dalam, dan maaf karena calon suamimu hanyalah seorang bajingan sepertiku.” Yunho menundukan kepala ketika sesuatu kembali terasa sakit di dalam dadanya. “Aku hanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya. Tolong beri aku kesempatan. ”

 

 

Nafas Yunho semakin buruk dan berdecit setiap kali ia berbicara. Ditatapnya Jaejoong dengan pandangan lelah. Lalu Yunho tersenyum dan berjalan cepat menuju Jaejoong berharap ketika ia sampa di sana semua ini telah berakhir. Agar kau tahu saja, tubuh itu telah benar-benar lelah.

 

 

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan sendu. Ia merasa sakit, ia merasa lelah, tapi ia tahu bahwa Jaejoong mengalami hal yang sama bahkan berkali-kali lipat lebih dari itu. Yunho mengambil gelas dalam dekapan Jaejoong, sehingga laki-laki cantik itu tersadar dan menoleh menatap Yunho.

 

 

“Jung Yunho? ” gumam Jaejoong.

 

 

Mendengarnya Yunho tertawa dengan getir yang kemudian berubah menjadi isakan keras bersamaan dengan air mata yang meleleh dengan sangat deras di pipinya. Jung Yunho, untuk kali pertama ia menangis dan terisak di hadapan seseorang, di hadapan Kim Jaejoong.

 

 

Yunho menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, didekapnya dengan sangat erat, dan berkali-kali diciumi puncak kepalanya. Sementara Jaejoong hanya diam saja. “Kalau kau merasa lelah, mengeluhlah. Kalau kau merasa kesal, berteriak dan marahlah. Kalau kau merasa sedih, menangislah,” gumam Yunho.

 

 

Dalam dekapannya Yunho dapat merasakan tubuh Jaejoong bergetar, dan perlahan dapat didengarnya isakan Jaejoong disusul oleh cengkraman Jaejoong di dadanya.

 

 

“Bukan takdir seperti ini yang kuharapkan, bukan pernikahan seperti ini yang kuharapkan, bukan kehamilan seperti ini yang kuharapkan, bukan hidup seperti ini yang kuharapkan. Aku hanya ingin bahagia, apa aku terlalu berlebihan?” pekik Jaejoong dengan suara yang bergetar, lantas tubuh Jaejoong merosot dan terduduk di lantai, dan Yunho cepat cepat kembali mendekapnya dengan pelukan yang lebih erat.

 

 

Setengah jam sebelum pernikahan, keduanya berdekapan dan saling terisak.

 

 

OOO

 

 

Yunho tampak gagah dalam balutan tuxedo hitam yang elegan. Ia berdiri di altar dengan wajah yang selalu dihiasi senyuman. Karpet merah yang membentang hingga pintu masuk gereja, tampak begitu jauh baginya, membentangkan jarak antara dirinya dan Jaejoong.

 

 

Pintu gereja terbuka, lonceng dibunyikan dan instrumen musik gubahan Bethoven, Ode To Joy mulai dimainkan oleh seorang pianis di sudut gereja. Dalam balutan tuxedo putih dengan magian belakang jas yang memanjang hingga paha, Jaejoong masuk dengan menggandeng tangan Kyumin. Ada sebuket mawar putih di tangannya, tampak cantik, namun tak secantik dirinya. Ia berjalan dengan anggun, meski tak ada senyuman, namun wajahnya jauh lebih bersinar dari sebelumnya. Tidak ada confetti pernikahan, tidak ada anak-anak kecil yang berdandan seperti malaikat sebagai pengiring, dan tidak ada tamu yang hadir. Kursi-kursi yang memanjang hanya diisi oleh Kim Jihyun, Kim Hyunjoong, pelayan Han, dan sopir keluarga Kim. Mungkin seharusnya lagu yang diputar adalah Sonata Claro de Luna, yang menggambarkan kesedihan Jaejoong yang mendalam.

 

 

Yunho mengulurkan tangannya, menyambut Jaejoong dan membawanya ke altar, menghadap pendeta. Yunho bahkan tidak melepaskan tangan Jaejoong, menggenggamnya dengan erat, berusaha menenangkannya, dan meyakinkan Jaejoong bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sementara Jihyun tampak menangis, dan Hyunjoong terus memejamkan mata sambil berdoa pada Tuhan demi kebahagiaan adiknya.

 

 

Janji suci itu diucapkan dengan sangat baik. Tepuk tangan yang hanya berasal dari beberapa orang di sana cukup meramaikan suasana. Yunho menarik tubuh Jaejoong ketika ia dipersilahkan mencium pasangannya, dan ia dapat merasakan raut ketakukan di wajah Jaejoong bersamaan dengan tubuh pemuda cantik itu yang bergetar dengan sangat hebat. Yunho tersenyum, lantas ditariknya kepala Jaejoong, dan dicium istrinya tepat di dahinya. Bersamaan dengan lepasnya kecupan itu, Jaejoong meneteskan air mata.

 

 

TBC

 

 

I have no words to say, but thanks for the previous reviews.

I need feedback. Please give me some review.

See you on the next chap!

FB : Amee Shim

Twitter : @nanammys

5 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 4

  1. Mewek ngek bacanya … kasihan banget yunjae. Gara2 benci dan dendam dua2nya jd menderita. Moga2 setelah pernikahan semuanya membaik dan bahagia kembali🙂

  2. 😥 demi apa yak ,sedih banget
    karena kesalahan nya hyunjoong tersakiti,karena perbuatanya juga yunho tersakiti, dan semua orang
    penyesalan selalu datang di akhir
    semoga setelah pernikahan semuan nya bisa menjadi lebih baik, dan saling memaafkan

  3. Sedih yaa,, semuanya disini tersakiti, umma karna appa, appa karna joong dan dirinya sendiri, dan joong juga karna dirinya sendiri😥
    Sabar yaa umma semoga setelah ini kehidupan umma sama appa jadi lebih baik *hikshiks*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s