Regrets


Annyeong…

Author comeback lagi dengan oneshoot yang udah sangat lama nelur(?) di dalam folder author. Sebenarnya sih  oneshoot ini udah pernah d publish tapi gpp d publish sapa tau ada reader yg belom baca ihiirrr xD

Cekidot…

======================

Title : Regrets

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, etc (numpang lewat doank)

Genre : Angst, drama

Author : Ri3chan

Length : Oneshoot

Summary : Idenya bukan punya author, author hanya mengembangkannya menjadi FF yang utuh dan heboh seperti ini hahaha ^^v *peace

 

 

What’s right and what’s wrong please reflect me into your eyes once more time.

 

Let me ask you.

 

So I wanna see you.

 

Just wanna see you.

 

I was holding your image in myself

 

It wasn’t a dream

 

It was a reality

 

But I let your hand go

 

By the time this crossing opens

 

you will probably not be there

 

You will probably not be there, but…

 

(Distance by FT ISLAND)

 

~~ALL Author POV~~

 

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini~” Ucap seorang namja dengan paras cantik layaknya seorang wanita. Rambut hitamnya yang agak panjang, wajah yang mulus tanpa noda, sepasang mata bulan, hidung mancung nan mungil dan sebuah bibir merah merona yang tipis. Sekilas namja ini akan terlihat seperti seorang yeoja namun jauh lebih cantik.

 

“Boo, kau bercanda kan?” Ucap namja manly dengan mata musangnya yang tengah berdiri di hadapannya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan namja cantik ini.

 

“Yun, I’m not your Boo anymore~” Ucap namja cantik yang dipanggil Boo itu. Yunho pun menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya dengan berat. Mencoba agar rasa perih di hatinya berkurang walaupun sedikit.

 

“Baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku harap kau bahagia, Jaejoong-ah.” Ucap Yunho akhirnya melepas kepergian namja cantik yang bernama Kim Jaejoong. Menatap pilu ketika tubuh ramping itu menjauh dan menghilang di persimpangan jalan.

 

Tatapan matanya mulai mengabur karena airmata yang sudah tidak bisa Ia bendung lagi. Hatinya hancur. Sehancur-hancurnya. Menatap mata bulan itu dan Ia pun tidak mampu menolak semua keinginannya. Termasuk saat Ia meminta untuk mengakhiri semuanya. Tubuh atletis itu pun melangkah gontai kearah kursi taman yang ada di dekat situ. Menjatuhkan dirinya ke bangku kayu yang keras dan dingin guna meratapi nasibnya.

 

“Apa salahku padanya, Tuhan? Apa yang membuatnya pergi dariku setelah sembilan tahun berlalu? Tuhan, sekali ini saja kembalikan lah Jaejoong padaku. Kembalikan lah Ia…” Ucap namja berkulit tan itu mulai terisak. Tubuhnya berguncang menahan suara tangisan yang begitu menghancurkan hati. Hatinya sudah benar-benar hancur. Bahkan Ia tidak mampu berpikir apa yang akan Ia lakukan esok hari jika Ia menyadari tidak ada lagi yang menemaninya lagi. Tidak ada yang tertidur di sampingnya. Bermanja dengannya. Menciumnya. Memeluknya. Atau sekedar mendengar tawa dan suara indah seorang malaikat. Bagaimana bisa seorang Jung Yunho yang tegar sekarang nampak sangat lemah dan rapuh?
.

 

.

 

.

 

Ckling!

 

Suara bel pintu masuk saat seorang pelanggan mendorong pintu masuk sebuah restoran minimalis dengan interior kayu yang menawan.

 

“Selamat da~~” Sapa seorang namja cantik tapi ucapannya terputus begitu melihat pelanggan yang datang. Seorang namja tampan yang sudah tidak ditemuinya sebulan terakhir ini. Wajahnya tampannya pun semakin menirus dan terlihat bulu-bulu halus di sekitar dagu dan sekitar bibir berbentuk hatinya.

 

“Boo?” Sapa namja itu melihat siapa yang tengah menyapanya di pintu depan. Pemilik restoran itu sendiri.

 

“Sedang apa kau di sini, Yun?” Tanya Jaejoong melihat kedatangan namja itu setelah sekian lamanya.

 

“Aku merindukanmu~” Ucap Yunho segera. Namja bermata musang itu tengah merindukan sosok malaikat yang selalu mewarnai hidupnya Sembilan tahun terakhir. Sosok yang membuatnya nyaris gila jika Ia tidak bertemu lagi dengannya.

 

“Aku ju~ sudah lupakan. Aku sibuk Yun!” Seru Jaejoong segera meninggalkan Yunho.

 

“Boo!” Panggil Yunho sebelum namja cantik itu menghilang dari hadapanya lagi. Jaejoong pun menoleh.

 

“Hubungi aku jika kau merindukanku~” Ucap Yunho lirih.

 

“Ne~” Dan Jaejoong pun menghilang kearah dapur. Meninggalkan namja manly itu dengan hatinya yang kembali hancur berkeping-keping. Merutuki dirinya yang tidak bisa hidup tanpa seseorang bernama Kim Jaejoong.

 

.

 

.

 

.

 

.

Tuttt

 

Tutttt

 

Tuttttt

“Yabuseyo?”

 

“Boo, bisakah kita bertemu?”

 

“…”

 

“lima menit saja.”

 

“…”

 

“Baiklah, aku mengerti.”

 

Klik!

 

Tidak ada hal yang lebih menyiksa daripada kebisuan yang ditimbulkan olen namja cantik bermarga Kim yang sangat Yunho puja di dalam hidupnya. Semua di berikan hanya untuk Jaejoong. Bahkan nyawa akan Ia tukar guna bisa bertemu dengan Jaejoong lima menit saja karena hatinya, pikirannya sudah mulai tidak waras setiap kali Ia memejamkan mata hanya bayangan masa lalu nya terus menghantui. Masa lalu yang Ia habiskan bersama namja bernama Kim Jaejoong. Cinta sejati yang hingga akhir hidupnya kelak tidak akan ada penggantinya.

 

.

 

.

 

.

 

“Hyung?” Sapa seorang namja bertubuh tinggi saat Ia memasuki restoran milik Kim Jaejoong. Namja cantik itupun menoleh saat tengah sibuk menutup mesin kasir karena restoran sudah tutup.

 

“Minnie? Sudah lama sekali! Bagaimana kabarmu?” Tanya Jaejoong menghampiri namja jangkung yang di panggil Minnie.

 

“Ehm~ aku baik, Hyung! Tapi aku lapar.” Ujar Changmin dengan wajah memelas. Membuat Jaejoong tertawa mendengarnya.

 

“Ne, duduklah. Akan kubuatkan makanan special untukmu!” Ujar Jaejoong sembari berjalan kearah dapur dan menggunakan apron bermotif bunga-bunga andalannya.

 

*Beberapa menit kemudian*

 

“Minnie makan yang banyak ne~” Ucap Jaejoong setelah meletakkan berbagai macam makanan di hadapan namja jangkung pemakan segala itu.

 

“Masakanmu enak hyung, seperti biasa!” Ucap Changmin membuat rona merah timbul di kedua pipi mulus milik Jaejoong.

 

“Hyung, kau tahu Yunho hyung di rawat di rumah sakit?” Tanya Changmin tiba-tiba membuat Jaejoong tersentak kaget.

 

“M-mwo? Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya namja cantik itu tidak bisa menyembunyikan kepanikannya.

 

“Buruk. Ia tidak mau makan, hyung!” Seru Changmin sembari terus mengunyah dan memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.

 

“Aish! Apa yang Ia pikirkan sih!?” Gerutu Jaejoong kesal.

 

“Ia hanya ingin kau datang menjenguknya, hyung.”

 

“Araso~~”

 

.

 

.

 

.

 

*Di sebuah rumah sakit*

 

“Aku kan sudah memberitahu Jae hyung, sekarang hyung makan ne?” Ucap namja bertubuh jangkung nan kurus itu.

 

“Aku tidak berselera, Min.” Ucap Yunho menggeleng saat Changmin meletakkan nampan makan di depannya.

 

“Hyung, tubuhmu semakin mengurus. Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini?”  Tanya Changmin merasa iba melihat keadaan hyungnya yang semakin hari tubuhnya semakin menyusut.

 

“Sampai Jaejoong datang.” Ucap Yunho mantap. Changmin pun terdiam tidak bisa berkata-kata. Ia ikut sakit melihat hyungnya seperti ini. Sudah seminggu yang lalu Ia memberi tahu hyungnya yang berwajah cantik itu jika Yunho ingin sekali di jenguk olehnya. Tapi, Jaejoong tidak pernah muncul. Mencoba menghubunginya pun tidak.

 

“Baiklah hyung jika itu yang kau inginkan.” Ucap Changmin lalu pergi meninggalkan Yunho. Namja jangkung itu membuka ponselnya dan menekan beberapa digit angka yang sudah Ia hafal di luar kepala. Terdengar nada sambung yang panjang dan lama sebelum suara merdu menyapa pendengarannya.

 

“Yabuseyo?”

 

“Jae hyung?”

 

“Ne, ada apa Changmin-ah?” Tanya suara di seberang dengan nada sedikit cemas.

 

“Yunho hyung~” Changmin menggantung kata-katanya.

 

“Waeyo?” Seru Jaejoong mulai dilanda kepanikan.

 

“Meninggal.”

 

“Mwo!? Jangan bercanda Min!” Seru Jaejoong dari seberang telepon. Tanpa disadari keringat di pelipisnya mulai bercucuran.

 

“Aku serius, datanglah ke rumah sakit hyung!”

 

Klik!

 

Di seberang sana, namja berkulit putih susu itu hanya bisa menatap ponselnya dengan airmata yang sudah siap tumpah tanpa Ia sadari. Mengapa Ia takut?  Mengapa Ia panic? Padahal jelas-jelas Jaejoong meninggalkan Yunho tanpa mau tau lagi tentang namja itu. tanpa berpikir panjang lagi. Namja cantik itupun segera berlari menuju rumah sakit. Tidak peduli bagaimana perasaannya saat ini. Ia ingin bertemu Yunho.

 

BRAKK!!

 

Yunho tersentak kaget saat melihat tubuh ramping dengan wajah cantiknya tengah berdiri di ambang pintu dengan nafas tersengal.

 

“Joongie?” Sapa Yunho bingung melihat namja cantik itu seperti terburu-buru berlari ke sini.

 

“Yunho, kau!” Bentak Jaejoong berjalan mendekati Yunho yang tengah bersandar di ranjangnya dengan nafas memburu.

 

“Waeyo?” Tanya Yunho tidak mengerrti.

 

“Kau pikir ini lucu hah!? Kau masih hidup!” Bentak Jaejoong lagi membuat namja bermata musang itu menautkan kedua alisnya semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Jaejoong padanya.

 

“Kau tidak mati! Masih hidup! Dasar bodoh!” Bentak Jaejoong lagi membuat Yunho menjadi tersenyum. Berpikir siapa lagi yang membuat kepanikan seperti ini jika bukan namja bermarga Shim itu.

 

“Tapi berhasil membuatmu datang dan menemuiku kan?” Ucap Yunho mencoba melindungi Changmin. Jaejoong melengos kasar.

 

“Ini tidak lucu kau tahu!? Kau menyuruh Changmin mengatakan padaku bahwa kau meninggal hanya karena ingin bertemu denganku!? Kau sungguh bodoh Jung Yunho!!” Bentak Jaejoong lagi. Yunho hanya tersenyum menanggapinya.

 

“Mianheyo, Joongie-ah tapi setidaknya  kau datang di saat yang tepat.” Ujar Yunho lagi dengan sabar.

 

“Aku tetap tidak suka caramu!” Ujar Jaejoong tanpa peduli lalu melangkah kan kakinya pergi.

 

“Jaejoong!” Panggil Yunho menahan langkah kaki Jaejoong. Wajah cantik itu menoleh.

 

“Tidak bisakah kau diam di sini? Sebentar saja? Aku ingin tahu kabarmu~” Lanjut Yunho dengan nada memohon.

 

“Mian Yun, aku sibuk!” Ujar namja cantik itu segera keluar dari kamar rawat Yunho.

 

Blam!

 

“Aku senang kau datang Jaejoong. Walaupun sebentar. Walaupun tidak sengaja. Walaupun kau tidak mengingat hari apa ini. Setidaknya aku punya hadiah yang bisa aku ingat. Saengil Chukkae hamnida Jung Yunho~~” Ucap Yunho lirih pada semilir angin sunyi yang menyergapnya di tengah ruang rawat. Mata musang itupun kembali menjatuhkan air beningnya. Hatinya sudah tidak bisa merasakan sakit. Hatinya sudah tidak bisa merasakan sedih. Hatinya sudah tidak bisa merasakan benci. Hatinya sudah tidak bisa merasakan apa-apa kecuali rasa cintanya yang semakin bertumbuh kuat bersamaan dengan umur nya yang mungkin sudah tidak lama lagi.

 

“Aku berharap kau menemukan cintamu Jaejoong-ah~~ Annyeong nae sarang~~”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

*2 tahun kemudian*

 

Terlihat seorang namja berwajah feminis tengah asyik bercanda dan tertawa dengan seorang yeoja. Wajah keduanya tampak sangat berbahagia.

 

“Jae hyung?” Sapa seorang namja muda bertubuh tinggi. Namja cantik itu menoleh dan melihat Changmin tengah berdiri di hadapannya. wajah nya tampak layu dan terkesan muram.

 

“Minnie, waeyo?” Tanya Jaejoong tersentak melihat kedatangan Changmin. Namja jangkung itupun mengeluarkan sebuah tempat CD dari dalam saku mantelnya tanpa banyak bicara.

 

“Dari Yunho hyung. Kuharap Jae hyung mau melihatnya.” Ucap Changmin. Jaejoong pun menerima CD itu dengan perasaan bingung. Sebelum Ia sempat berkata, Changmin sudah terlebih dahulu pergi meninggalkannya.

 

“Nuguseyo, oppa?” Tanya yeoja yang bersama Jaejoong. Namja cantik itu menggeleng sembari menatap CD yang berada di tangannya.

 

“Hanya seorang teman lama.”

 

 

*Malam hari*

 

Jaejoong yang baru saja pulang setelah menutup restorannya melihat CD yang diberikan Changmin tadi siang tergeletak begitu saja di atas meja tamu. Namja cantik itu melangkahkan kakinya mendekati meja dimana CD itu berada. Tangan mungilnya meraih CD itu dan membolak-baliknya. Sebuah rasa penasaran tersemat di dalam hatinya untuk mengetahui apa isi CD itu sebenarnya.

 

Klik!

 

Jaejoong pun menyalakan TV untuk melihat isi CD itu. mula-mula hanya gambar buram yang tidak jelas sebelum sebuah tubuh melangkah mundur dari kamera yang merekamnya. Tampak seorang namja berwajah tirus pucat dengan pakaian rumah sakit yang sangat dikenal oleh Jaejoong. Mata musangnya yang bercahaya tampak meredup. Namja itu tersenyum kearah kamera.

 

“Annyeong Jaejoongie~” Ucap Yunho lirih di dalam kamera. Jaejoong menatap wajah itu lekat-lekat. Ada perasaan tertusuk-tusuk melihatnya dalam keadaan seperti itu. tubuh atletis yang menyusut dengan wajah kecil yang pucat pasi.

 

“Bogoshippo~ aku tau kau pasti tidak merindukanku, eoh? Hmm,, sudah dua tahun lamanya aku tidak pernah melihatmu lagi, Boo. Mendengar suara pun aku sudah tidak pernah. Tapi tenang saja aku sudah mengingat semuanya. Tidak mungkin semua tentangmu aku lupakan begitu saja. Karena aku tidak bisa melupakanmu sedetik pun Kim Jaejoong. Kau berharga.” Ucap Yunho kemudian Ia terdiam sejenak. Menarik nafas.

 

“Mianhe, mianheyo. Selama ini aku hanya bisa merepotkanmu, membuatmu menangis,  menyakitimu dan segudang perlakuan bodohku yang memang seharusnya kau tinggalkan aku sejak lama. Gomawo sudah bertahan sejauh ini. Ehm, aku berharap kau bahagia dengan pilihanmu~ You are the only love in my life, annyeong~~ kutunggu kau di surga ne, Joongie-ah.”

 

Klik!

 

Video itupun terhenti sehingga layar berubah warna menjadi biru. namja cantik itu terdiam kaku mendengar tiap kata tulus yang Ia dengar dari mulut Jung Yunho. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Otaknya memutar seluruh memori yang pernah Ia jalani bersama Yunho tanpa diminta. Menyesalkah dia? Merasa bersalah kah? Lalu kenapa menghancurkannya sedemikian rupa?

 

“Surga?” Bisik Jaejoong bergetar mengingat kata terakhir yang disampaikan namja itu padanya. Dengan cepat Ia meraih ponsel dan menekan sebuah nomor.

 

Klik!

 

“Min! Yunho, mana Yunho!?” Pekik Jaejoong saat Ia mendengar sebuah suara menjawab teleponnya. Tidak ada jawaban selain helaan nafas yang panjang.

 

“Ia sudah tidak ada, hyung!” Ucap Changmin ambigu. Tanpa sadar Jaejoong menitikkan airmatanya. Ditutupnya telepon itu dan segera berlari menuju rumah Changmin. Dalam hati Ia bertekad untuk mencari tahu apa maksud ini semua. Leluconnya lagi kah?

 

.

 

.

 

.

*Changmin’s Place*

 

Ting tong!

 

Ting Tong!

 

Cklek~

 

“Min, cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!?” Repet Jaejoong memasuki kediaman Changmin. Namja bertubuh jangkung itupun kaget melihat hyung cantiknya ini datang secara tiba-tiba.

 

“Yunho hyung~”

 

“Mana Yunho!?” Tanya Jaejoong sudah mulai habis kesabaran.

 

“Sudah tiada, hyung~” Ucap Changmin lirih. Kedua mata Jaejoong sontak membulat kaget.

 

“Mwo!? Jangan bercanda!”

 

“Aku tidak bercanda hyung! Kali ini aku benar-benar serius!” Sentak Changmin membuat Jaejoong melangkah mundur. Airmata kembali membasahi kedua pipinya.

 

“A-apa yang terjadi?” Tanya namja cantik itu gemetaran. Changmin kembali menghela nafasnya berat.

 

“Yunho hyung terkena HIV. “ Ucap Changmin.

 

“Bagai-bagaimana bisa!? Katakan kalau ini hanya akal-akalan bodoh kalian saja!” Seru Jaejoong bergetar. Tidak terima dengan kenyataan yang Ia dengar.

 

“Yunho hyung pun tidak tahu bagaimana virus itu menggerogoti tubuhnya. Ia baru tahu dua tahun yang lalu. Dan Ia sangat ingin menghabiskan waktunya denganmu. Tapi kau hyung!? Kau menghancurkan hatinya dengan meninggalkannya begitu saja! Menghancurkan Yunho hyung hingga tidak ada lagi yang tersisa. Teganya kau hyung!” Seru Changmin dengan nada emosi. Seketika itu kaki Jaejoong pun terasa lemas. Ia pun jatuh terduduk di lantai sambil terus terisak.

 

“Min, tolong katakan padaku, bagaimana caraku meminta maaf padanya?” Ucap Jaejoong lirih dengan pandangan kosong.

 

“Tidak perlu hyung, Ia sudah lama memaafkanmu.”

 

“Yunnie~”

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

“Yunnie!!” Namja berwajah angelic itu terbangun dengan wajah tegang. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Nafasnya tersengal. Ia pun memegangi kepalanya yang serasa berdenyut.

 

“Mimpikah?” Bisiknya terhadap diri sendiri. Ia pun segera meraih ponselnya yang tidak jauh dari ranjangnya.

 

Tutt

 

Tuttt

 

Tuttt

 

“Yabuseyo?” Sapa sebuah suara bass di seberang.

 

“Yunnie!? Dimana?” Tanya Jaejoong panic.

 

“Di tempat latihan dance. Waeyo?”

 

Klik!

 

Jaejoong segera menutup sambungan teleponnya dan melompat dari ranjang. Meraih jaketnya dan segera berlari ke tempat dimana Yunho berada. Ada rasa syukur di dalam hatinya bahwa yang Ia alami hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang mengingatkannya sebelum semua perbuatannya menjadi sebuah penyesalan yang mungkin akan menguburnya dan menenggelamkannya di masa depan. Dan namja itu tidak ingin melewati rasa penyesalannya.

 

Grep!

 

“Boo?” Pekik Yunho saat sebuah tubuh ramping memeluknya dari belakang ketika Ia tengah merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.

 

“Mianhe, mianheyo Yunnie~” Ucap Jaejoong lirih masih memeluk tubuh atletis Yunho yang terasa hangat. Yunho melepaskan pelukan Jaejoong dan menghadap kearah namja cantik itu.

 

“Untuk apa?” Tanya Yunho bingung dengan sikap Jaejoong.

 

“Aku~ aku tidak mau berpisah denganmu~ hiks!” Isak Jaejoong kemudian. Tangan besar Yunho dengan lembut menghapus setiap buliran yang jatuh dari pelupuk mata indah itu.

 

“Waeyo? Bukankah kau memutuskan hubungan kita pagi tadi?” Ucap Yunho menyentuh pipi putih Jaejoong. Mata bulat itu menatap wajah kecil di depannya.

 

“Aku menarik perkataanku. Aku mencintaimu, Yun~hiks” Ucap Jaejoong sesenggukan. Yunho pun segera meneggelamkan tubuh mungil yang bergetar itu ke dalam rengkuhannya.

 

“Aku lebih mencintaimu Boojae~” Bisik Yunho lalu mengecup pucuk kepala Jaejoong lembut. Menciumi keningnya. Kedua matanya. Pipinya. Hidungnya lalu kemudian bibir cherry nya yang tampak menggoda.

 

“You are the only love in my life~” Bisik Yunho lagi lalu memeluk tubuh mungil itu. memeluknya erat seakan mereka tidak akan pernah terpisahkan.

 

Aku tidak bisa hidup tanpamu selama sehari

Kau satu, akan tetap satu

Kepadamu lah Aku akan tetap mencinta

Aku membutuhkan satu, yaitu dirimu

Ya karena aku hanya mencintaimu

(It has to be You by Yesung)

 

END

Don’t forget to leave ur comment ^0^

Kamsahamnida~~~

14 thoughts on “Regrets

  1. Untung cuma mimpi🙂
    Ya ampun ga kebayang kalau ini beneran.
    Sebel knp thu2 jae minta putus padahal yun ga pny salah. Duh baru ini kasihan yun, biasanya aku selalu benci :p hehehe
    Ditunggu ff angst happy end lainnya kak 👍

  2. astaga aku kira ini bakal berakhir tragis ternyata?????
    hah bersyukur akhir yg bahagia
    yunjae-ah bangunlah dari tidur kalian siapa tahu selama ini kalian hanya bermimpi
    hihihihi kenapa malah berhayal gini setelah baca ff ini
    aku suka!

  3. Aku pikir ini emang ff angst , tengah” udah ga mau baca karena penasaran aku lanjutin
    hahhh..syukurlah cuma mimpi

  4. Ya ampun untung cuma mimpi,,q pdahal baca ne ff dah beruraian air mata sampe ingusan loh….
    Tp msh ada yg mnurutku kurang nih,,di sini gak di jelasin alasan emak mnta cerai -ehh salah😀 – maksudku mnta putus ma babeh itu knp??
    Well mnta d bkinin prakuel bleh?? Tar prakuelnya isinya tntang alsan emak mnta putus ama babeh gtu…OK??
    Dah sgtu ajja cuap2nya pai..pai salam kecup basah wt authornya muachhhhhhhh :-*

  5. Aku suka fanfic ini . Ceritany sedih . Dan bisa buat jd inspirasi kalo mau ambil keputusan harus berpikir panjang baru mengambil keputusan yg tepat . Jgan salah ambil keputusan apalagi yg egois + keputusan sebelah pihak ) hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s