IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 5


IN THE NAME OF LOVE

chapter 5 – I hope

created by Amee

.

.

.

Suhu di Kitakyushu jauh lebih dingin dari yang seharusnya. Mungkin karena kebisuan yang tercipta di antara keduanya. Jepang yang seharusnya hidup lebih terasa seperti kota mati bagi mereka.

 

 

Jaejoong berdiri menghadap jendela besar dari dalam rumah barunya. Menatap jalanan yang terasa jauh dan gelap, meski lampu jalan dan lampu lampu pertokoan menerangi sepajang jalan utama.

 

 

“Kau mau kubuatkan susu hangat, Jae?” tanya Yunho setelah merapikan pakaian mereka ke dalam lemari.

 

 

Diliriknya Jaejoong yang masih diam bergeming. Yunho tersenyum, yang entah mengapa setiap tarikan bibirnya meninggalkan setitik rasa perih di hatinya. Mungkin ia akan segera terbiasa nanti.

 

 

“Baiklah, tunggu sebentar. Akan kubuatkan untukmu,”

 

 

Yunho segera berbalik pergi, meninggalkan Jaejoong yang diliputi kehampaan. Laki laki cantik itu mengelus perut datarnya, lantas menekan nekannya dengan lembut berusaha merasakan kehidupan yang berada di sana, lantas kembali terdiam.

 

Jaejoong menyentuh jendela besar itu perlahan. Menuliskan namanya dengan jari di sana, seolah olah ia ingin meninggalkan jejak kehidupannya sebelum ia hilang.

 

 

“Jae,” panggil Yunho.

 

 

Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah, ia mendengar panggilan itu, namun ia tidak ingin berbalik. Ada rasa ketakutan dan ketidaksiapan untuk berhadapan dengan Yunho. Dan Jaejoong hanya diam, mendadak pikirannya kembali kosong. Itu adalah jalan satu satunya untuk menguatkan diri.

 

 

“Duduklah dulu, aku sudah menyiapkan susu untukmu. Minumlah selagi masih hangat,” gumam Yunho, ia melangkah dengan pelan berusaha mempersempit jaraknya dengan Jaejoong.

 

 

Sementara itu Jaejoong tidak menjawab, bahkan berbalik pun tidak ia lakukan. Sesekali Jaejoong menghela nafas berat yang terdengar seperti keluhan dan kekecewaan di telinga Yunho.

 

 

“Jae,” ujar Yunho sambil menyentuh pundak Jaejoong, namun cepat cepat Jaejoong berbalik dan beranjak, seolah ingin menghindar, dan Yunho hanya tersenyum.

 

 

Dengan langkah yang goyah, Jaejoong berjalan menuju ranjang lantas duduk di tepinya, diikuti Yunho yang berjalan di belakangnya.

 

 

Wajah itu tetap datar, adalah hal pertama yang Yunho pikirkan begitu ia melihat Jaejoong yang bersikap layaknya mayat hidup. Ditatapnya Jaejoong lama lama lantas tersenyum. Yunho merasakan darahnya berdesir. Ia merasa penilaiannya tidak pernah salah, Jaejoong terlalu cantik seperti boneka porselain yang rapuh, mendadak senyuman di wajahnya memudar mengingat apa yang telah ia lakukan pada Jaejoong.

 

 

“Minumlah dulu,” Yunho tersenyum, namun tampak berbeda dari sebelumnya.

 

 

Jaejoong tidak menjawab, ia hanya mengambil gelas susu dari tangan Yunho. Di sesapnya sedikit, lalu digenggamnya gelas itu erat erat. Ada rasa mual, namun diabaikannya.

 

 

“Minumlah sedikit demi sedikit, tidak perlu dipaksakan,” sekali lagi Yunho tersenyum lantas diambilnya remote TV. Ia duduk di tepi ranjang yang bersebrangan Jaejoong.

 

 

Dinyalakannya televisi yang segera menayangkan berita seputar pernikahan putra bungsu keluarga Kim yang dilaksanakan diam diam. Ya, pernikahan Yunho dengan Jaejoong.

 

 

Yunho cepat-cepat melirik Jaejoong. Kedua telapak Jaejoong yang memeluk gelas tampak bergetar, pandangan matanya kosong seolah tak ingin melihat apapun.

 

 

“Maaf,” gumam Yunho cepat, ia baru saja hendak memindahkan channel televisi ketika Jaejoong menahannya.

 

 

“Biarkan saja,” gumamnya pelan. “Aku ingin melihatnya,” tambahnya lagi.

 

 

“Kalau tidak salah ada acara reality show terkenal, lebih baik kita menontonnya,” tawar Yunho, namun sekali lagi Jaejoong menahan gerakan tangan Yunho.

 

 

“Ini saja,”

 

 

“Kalau begitu aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi,”

 

 

Yunho berdiri, ditatapnya Jaejoong sebentar sebelum ia beranjak. Betapa Yunho sangat ingin mendekap Jaejoong dan memberikan kenyamanan baginya saat ini, namun tak bisa dilakukannya. Ketika Yunho beranjak menuju kamar mandi, Jaejoong menangis tanpa suara.

 

 

OOO

 

 

Acara televisi sudah berganti sejak sepuluh menit yang lalu. Yunho duduk dengan gusar, diliriknya jam dinding yang terasa berdenting dengan cepat. Sudah lebih dari satu jam, namun Jaejoong belum keluar dari kamar mandi. Apakah ia memang terbiasa mandi selama ini? pikir Yunho.

 

 

Ketika jarum panjang jam bergeser ke angka lima, Yunho berdiri dari duduknya. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi dari ini. Perasaannya terus membisikan sesuatu yang buruk dan itu membuatnya takut.

 

 

“Jae,” diketuknya pintu kamar mandi, namun tidak ada jawaban. “Jaejoong-ah,” Yunho kembali mengetuk pintu dengan lebih keras namun tetap tidak ada jawaban.

 

 

Mendadak pikirannya melayang layang dan rasa paranoid seketika menyergap pikirannya.

 

 

“Jaejoong-ah, jawab aku, kalau kau tidak menjawabnya, aku akan masuk ke dalam!” pekik Yunho, ia terus mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. “Jaejoong-ah, kumohon jangan membuatku takut, jawab aku, satu kata saja, kumohon jawab aku,” Yunho merasakan dadanya berdenyut dengan hebat hingga ia merasa sesak. “Jae, kumohon,” gumamnya sekali lagi hampir tak terdengar.

 

 

Yunho memejamkan matanya rapat rapat lantas kembali membukanya dengan cepat. Ia kembali mengetuk pintu dengan keras dengan ritme yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

 

 

Rasa takut itu semakin lama semakin memuncak, dan ketika rasa takut itu menguasainya hingga ia merasa hampir gila, Yunho memutar knop pintu hingga pintu berdecit dan terbuka dengan cepat.

 

 

Yunho segera masuk ke dalam, lantas berteriak dengan keras. “Jaejoong ah!”

 

 

Seketika dada Yunho bergetar dengan hebat, dan tangisnya pecah meskipun ia tidak terisak dengan keras. Dengan langkah gontai, didekatinya tubuh Jaejoong yang telah memucat di dalam bathub. Tubuhnya hampir tenggelam menyisakan wajahnya yang nampak di permukaan air. Bibir yang seharusnya berwarna merah seperti cherry, kini berubah menjadi ungu kebiruan.

 

 

Diangkatnya tubuh telanjang itu perlahan. Tubuh itu terasa sangat mungil di dalam pelukannya. Rasanya sangat rapuh dan lembut.

 

 

Dengan isakan tertahan, Yunho membawa Jaejoong ke luar kamar mandi. Diletakannya dengan hati-hati di atas ranjang. Ditatapnya, dikecupnya kening yang berwarna putih pucat itu, dan Yunho mulai terisak semakin keras.

 

 

“Jae, jangan menyerah, bertahanlah. Kau harus kuat, untuk dirimu sendiri, dan untuk anak kita. Kumohon jangan seperti ini,” gumam Yunho. Ia menggigit bibir bawahnya untuk meredam isakan.

 

 

Kau tahu, cinta itu datang tanpa kau menjemputnya, tapi kenapa ketika cinta itu datang justru terasa sangat menyakitkan?

 

 

Diangkatnya tangan kanan Jaejoong perlahan, dan mulai di lap dengan handuk hingga kering. Pun dengan tangan kirinya, dan tubuhnya hingga telapak kakinya.

 

 

Yunho mengelap wajah Jaejoong dengan sangat pelan seolah setiap gerakan yang dilakukannya dapat melukai kulit Jaejoong. Ia menangis dengan keras, diletakan dagunya di atas dahi Jaejoong sementara tangan kanannya terus membelai kepala Jaejoong.

 

 

“Maafkan aku, Jae. Maafkan aku. Kumohon bertahanlah sebentar lagi saja, beri aku kesempatan, kumohon,”

 

 

Dikecupnya kening Jaejoong sekali lagi, lantas ia beranjak menuju lemari. Diambilnya sebuah piyama dan segera dipakaikannya pada Jaejoong.

 

 

Yunho menghapus air matanya cepat cepat lantas tersenyum. “Kau terlihat sangat cantik, Jae,”

 

 

Yunho mengambil sebuah ember kecil berisi air dan sebuah sapu tangan. Disentuhnya kening Jaejoong perlahan. Demam.

 

 

Yunho mencelupkan sapu tangan ke dalam air, diperasnya lantas diletakannya di kening Jaejoong perlahan. Berharap sapu tangan dingin itu mampu menyerap suhu panas yang dikeluarkan tubuh Jaejoong.

 

 

Ia mengulanginya beberapa kali, hingga tanpa sadar ia tertidur di tepi ranjang, menggenggam tangan Jaejoong dengan erat.

.

.

.

Jam menunjukkan tengah malam. Jaejoong membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa hangat namun nyaman.

 

 

Ia merasakan seseorang menggenggam tangannya dengan erat. Jaejoong melirikkan matanya, dan tampak Yunho terlelap di sana dengan wajah yang lelah.

 

 

Jaejoong membiarkan pandangannya menatap langit langit kamar. “Apa aku sedang bermimpi, Tuhan?” gumamnya. Air mata meleleh dari kedua matanya, perlahan mata itu terpejam, ia kembali terlelap.

 

 

OOO

 

 

Jaejoong membuka matanya perlahan ketika sinar matahari menerobos masuk dan mengenai matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Yunho yang tengah menyibakkan tirai dengan nampan berisi makanan di tangan kirinya. Laki laki itu tersenyum, namun Jaejoong sama sekali tidak berniat membalasnya. Ia hanya menatap kosong lantas mengalihkan pandangannya dengan menatap langit langit kamar.

 

 

“Apa kau sudah merasa lebih baik? Sebaiknya kita ke rumah sakit,” gumam Yunho yang hanya di balas Jaejoong dengan tatapan tidak suka. “Aku sudah menyiapkan sarapan. Cobalah untuk memakannya walaupun hanya sedikit,” Yunho tersenyum, sementara Jaejoong cepat cepat mengalihkan pandangannya.

 

 

Yunho tersenyum kecut. Diletakkannya nampan di atas nakas. Tangan kanannya terangkat berniat menyentuh kening Jaejoong namun cepat cepat kembali di tariknya dan diletakkannya di atas paha.

 

 

“Jae,” gumam Yunho. Ketika Jaejoong tidak menjawab, Yunho cepat cepat menambahkan. “Jika aku memiliki nilai satu sampai sepuluh. Berapa kadar kebencianmu untukku?”

 

 

Jaejoong menolehkan kepalanya, lantas ditatapnya Yunho dengan pandangan menuduh yang terasa begutu menusuk hingga Yunho merasakan luka dan kesalahan dalam hatinya dihujam sehingga kembali menganga.

 

 

“Sepuluh, tentu saja,” Yunho menjawabnya sendiri dan memaksakan diri untuk tersenyum. “Jae, mulai hari ini aku akan bekerja. Aku tidak akan bisa lagi menemanimu sepanjang waktu. Maafkan aku. Jae, aku tahu kau sangat membenciku, bahkan aku tahu di setiap tarikan nafasmu penuh dengan kebencian untukku, tapi bolehkan aku memintamu untuk mencintai anakku yang berada dalam kandunganmu? Aku tidak tahu, mungkin permintaanku terlalu berlebihan, tapi kumohon jangan timpakan juga kebencianmu untuk anak itu, kumohon Jae,”

 

 

“Apa kau sudah selesai?” balas Jaejoong cepat.

 

 

Yunho menarik salah satu sudut bibirnya, mencoba untuk tersenyum, meski lebih tampak seperti sebuah seringaian duka.

 

 

“Aku sudah seleasai. Istirahatlah dengan baik. Aku akan pergi sekarang,” ujar Yunho lantas berdiri. “Kupikir aku mulai menyayangimu, maka cobalah untuk berhenti membenciku. Selama apapun itu, aku akan menunggumu,” tambahnya sebelum berbalik pergi dan menghilang di balik pintu.

 

 

Jaejoong mencengkram ujung selimut keras keras. “Diamlah,” gumamnya entah pada siapa. Dan di sana, dalam kesendiriannya, Jaejoong terisak dengan keras.

 

 

TBC

 

 

Maaf karena pendek, tapi bakal di update rutin kalo banyak yang tertarik sama ceritanya.

I need feedback, please give me some review

See you on the next chap

6 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 5

  1. Sedalam itu ya luka nya jaejoong, semoga dia bisa merasakan ketulusan hati yunho dan bisa maafin semuanya

  2. Lanjut …
    Duh puas rasanya yunpa memelas minta maaf :p
    Makanya jgn kejam2, yg salah hyunjoong knp jaejoong yg kena balasannya.
    Pagi2 dibuat emosi ama yunpa 😄

  3. ah yunho, ini baru awal masih panjang prjuanganmu, n’ jj yang akan jadi juri satu2nya utk menentukan kau pantaskah menerima perma’afaan darinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s