IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 6


IN THE NAME OF LOVE

Chapter 6-I…

Craeted by Amee

.

.

.

Jaejoong berusia dua puluh tahun, dan ia lebih tampak seperti remaja berusia lima belas tahun. Ia adalah pemuda yang pandai menyenangkan hati orang lain, dan sama sekali tidak tampak dewasa. Tapi semua pendapat itu mungkin gugur saat ini. Tidak ada lagi semangat, tidak ada lagi canda tawa yang dipancarkan olehnya.

 

 

Jaejoong berusaha menghindar dari dering ponsel yang terasa menghantuinya. Entah berapa puluh panggilan yang dilewatkannya, ia terlalu takut dan merasa belum siap menjawab panggilan telepon teman-temanya. Mungkin saja ia akan diborong banyak pertanyaan yang tak bisa di jawabnya.

 

 

Merasa sudah sangat bosan, Jaejoong melangkah ke jendela, lalu melemparkan pandangan ke taman mungilnya, dua lantai ke bawah. Jaejoong menempelkan dahinya pada jendela, sehingga hidungnya turut bersentuhan.

 

 

“Aku merindukan hidupku, ” gumam Jaejoong.

 

Jaejoong memejamkan matanya, dan yang terbayang olehnya adalah wajah Yunho yang tengah tersenyum namun penuh dengan kesakitan, sehingga cepat-cepat ia membuka matanya. Dadanya naik turun dengan cepat.

 

 

“Kau tahu, aku mencintaimu, jadi tumbuhlah dengan sehat, ” gumam Jaejoong pelan sambil menyentuh perut datarnya.

 

 

Diingatnya lagi, sejak kepindahan mereka ke Jepang, belum sekalipun Jaejoong keluar dari kamar. Hanya sebatas berjalan-jalan mengelilingi kamar, sejauh jendela-ranjang. Diambilnya sebuah buku catatan dan pulpen, lantas ditulisnya beberapa kata di sana.

 

 

Sebuah rahasia.

Rahasia yang hanya diketahuinya dan Tuhan.

Tentang perasaannya.

 

 

-AMEE-

 

 

Berkali-kali Yunho melirik jam tanganya, sudah pukul empat sore, artinya ia harus bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak ingin membuat Jaejoong menunggu, ia tidak ingin membiarkan Jaejoong sendirian terlalu lama, ia ingin berada di sisi Jaejoong selama yang ia bisa meskipun Jaejoong tak mengharapkannya. Tepat ketika jarum panjang bergeser, Yunho menutup semua berkas kerjanya.

 

 

“Aku belum terbiasa dengan rutinitas monoton seperti ini, ” keluh Yunho.

 

 

Diingat-ingatnya lagi, selama ini yang dilakukannya hanya menikmati masa muda dengan bersenang-senang dan pesta, tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya untuk duduk di belakang meja kerja dan menyelesaikan setumpuk berkas yang tercetak dengan tulisan rapat-rapat sehingga membuat kepalanya pening. Namun, ketika bayangan Jaejoong melintas di kepalanya, mendadak Yunho tersenyum.

 

 

“Ini untuk istri dan anakku, ” katanya.

 

 

Yunho menyandarkan kepalanya, mencoba merelekskan tubuhnya beberapa saat sebelum akhirnya ia berdiri dan keluar dari ruangan kerjanya. Tepat ketika Yunho membuka pintu, sekretarisnya segera berdiri dan memberikan hormat, yang hanya di jawab Yunho dengan sebuah anggukan singkat. Arogan.

 

 

Ia berjalan lurus ke depan, tanpa melirik kanan dan kiri. Jika secara kebetulan ia melihat ada yang memberi hormat, maka Yunho akan menarik salah satu ujung bibirnya singkat, kemudian berlalu.

Yunho menekan tombol elevator, menunggu beberapa saat hingga pintu elevator terbuka dan segera masuk ke dalamnya. Ketika pintu elevator akan tertutup, seseorang menahannya. Seorang pemuda masuk ke dalam dengan terengah engah, lantas memberi hormat.

 

 

“Yunho-sama, sumimasen, maaf saya lancang, tapi ada yang perlu saya tanyakan, ” ujar pemuda itu.

 

 

Yunho mengabaikannya, tidak meliriknya sedikit pun.

 

 

“Bagaimana kabar Jejung-san? Apa dia baik-baik saja? ” tanyanya lagi.

 

 

Yunho menoleh, menatap tajam pemuda di hadapannya. “Siapa kau? ”

 

 

“Yuu… Shirota Yuu, bagian pemasaran, ”

 

 

“Dia baik-baik saja, ” jawab Yunho cepat lantas kembali menatap ke depan.

 

 

Yuu menghela nafas lega, lantas tersenyum. “Syukurlah, aku benar-benar khawatir sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku sangat sulit menghubunginya akhir-akhir ini, ”

 

 

Ketika mendengarnya, Yunho merasakan sesuatu yang asing, ada perasaan kesal yang tiba-tiba menyeruak. Rasanya ia tidak terima jika seseorang memperhatikan Jaejoong, apalagi di hadapannya. Ia tidak senang ada orang lain yang bisa dekat dengan Jaejoong sementara dirinya tidak. Ia tidak suka jika Jaejoong merasa nyaman bersama orang lain, bukan bersamanya.

 

 

“Kau sangat perhatian terhadap istriku, ” ujar Yunho sarkastik dengan menekanan di kata terakhirnya.

 

 

“Eto, maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, ” balas Yuu cepat.

 

 

“Kau siapa Jaejoong? ”

 

 

“Kami teman satu universitas, dan kami sudah sangat dekat, ”

 

 

“Ehm, ” Yunho sengaja berdehem, sehingga Yuu menepuk dahinya sendiri karena menyadari apa yang ia katakan salah.

 

 

“Yunho-sama, saya permisi lebih dulu, ” ujar Yuu sambil cepat-cepat keluar ketika pintu elevator terbuka, sementara Yunho hanya diam mematung di sana, menatap punggung Yuu yang semakin menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan hingga pintu elevator kembali tertutup.

 

 

“Teman ya? ” gumam Yunho lantas menyeringai.

 

 

-AMEE-

 

 

Yunho masuk ke dalam supermarket. Menyusuri rak rak, dengan sebuah troli belanjaan yang masih kosong. Ia menghela nafas panjang. Bahkan Yunho tidak tahu apa yang harus dibelinya, ini kali pertama ia berjalan sendiri menyusuri supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

 

 

“Ramen, soba, roti, ” Yunho mengabsen setiap barang yang dimasukannya ke dalam trolly, lantas menggeleng dan kembali meletakannya di rak. “Apa yang harus kubeli? ”

 

 

Yunho memutar kepalanya. Tidak jauh darinya, ada sepasang suami istri yang berjalan bergandengan. Yunho memerhatikan keduanya, dan ia tahu bahwa wanita itu sedang hamil. Wanita itu tampak sangat bahagia, ia menunjuk apa saja yang diinginkannya, dan sang suami akan mengiyakannya.

 

 

Yunho tersenyum kecut. Apa kabar Jaejoong di rumah? Apakah Jaejoong akan senang jika ia mengajaknya berjalan-jalan dan berbelanja berdua seperti ini? Apakah Jaejoong akan tersenyum untuknya? Apakah Jaejoong akan merasa nyaman bila bersamanya.

 

 

Yunho berjalan dengan gontai, disusurinya rak-rak susu yang membuatnya semakin bingung. Pernahkah kau merasa bahwa ilusi terkadang lebih menyenangkan dibandingkan kenyataan? Yunho berdiri diam, tapi seolah-olah ia melihat dirinya dan Jaejoong berjalan berdampingan, Jaejoong tampak cantik dalam balutan mantel berwarna maroon, memilih banyak barang, sementara Yunho sesekali tertawa mendengar celotehan Jaejoong sambil mendorong trolly yang hampir penuh.

 

 

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Apa yang sedang anda cari? ” pertanyaan seorang waitress cukup menyentakan Yunho dari ilusinya.

 

 

Yunho membeku, ketika ia menyadari bahwa yang dilihatnya hanya sebuah ilusi, mendadak ia merasakan ngilu di dadanya. Entah mengapa rasanya begitu sakit, sampai Yunho tidak tahu dimana letak kesakitan itu.

 

 

“Susu untuk ibu hamil, ” jawab Yunho datar.

 

 

“Mari saya tunjukan, ” wanita muda itu tersenyum pada Yunho. Ia mengambil sekotak susu lantas diserahkannya pada Yunho. “Ini yang terbaik, ” katanya.

 

 

“Terimakasih, ” jawab Yunho cepat. Ia terdiam sejenak sebelum kembali bertanya. “Apa lagi yang kubutuhkan untuk seorang Ibu hamil? ”

 

 

Wanita muda itu tersenyum. “Anak pertama ya? ” tanyanya, namun Yunho tidak menjawab. “Keperluannya berbeda-beda. Biasanya Ibu hamil mengalami masa idam, dan apa yang diinginkannya selalu berbeda-beda, anda harus menanyakannya pada istri anda, ”

 

 

“Ini saja sudah cukup, ” jawab Yunho.

 

 

Dipeluknya kotak susu itu erat-erat, lantas berjalan gontai menyusuri koridor supermarket menuju kasir, meninggalkan trolly belanjaannya yang masih kosong. Yunho memejamkan matanya, merasakan seolah-olah kotak susu adalah Jaejoong, sehingga dipeluknya dengan sangat erat.

 

 

“Aku ingin memelukmu Jae, bolehkah? ” gumam Yunho lirih. Ketika ia membuka matanya perlahan setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

 

 

-AMEE-

 

 

“Aku pulang, ” ujar Yunho sambil membuka pintu. Tidak ada jawaban Jaejoong yang menyambutnya, dan Yunho hanya tersenyum.

 

 

Dibukanya sepatu dan diletakkannya di rak, menyusul dengan jasnya yang kemudian ia sampirkan di lengan kirinya, sementara tangan kanannya membawa kantong belanjaan berisi susu.

 

 

Yunho berjalan menaiki tangga dengan langkah perlahan. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar, lantas menarik nafas panjang berkali-kali untuk dapat menetralkan degup jantungnya.

 

 

“Jae? ” ujar Yunho sambil membuka pintu perlahan, namun tidak ada jawaban.

 

 

Yunho masuk ke dalam kamar, dan segera diedarkan pandangannya, namun tak dapat ia temukan Jaejoong dimanapun. Mendadak saja kecemasan dan ketakutan menderanya. Hal-hal yang buruk terus berputar di dalam kepalanya, dan Yunho ingin menolak satu persatu. Ia tidak ingin kehilangan Jaejoong.

 

 

Cepat-cepat ia meletakkan jas dan kantong belanjaannya. Hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah kamar mandi, yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak berkali kali lipat.

 

 

Dengan langkah yang nyaris terseret, Yunho berjalan menuju kamar mandi. Ia menatap sendu pintu kamar mandi yang tertutup, lantas dengan perlahan dibunya knop pintu, terkunci. Perasaan itu mendadak kembali, rasa ketakutan yang mendera dengan sangat kuat mengingat kejadian ketika Jaejoong tenggelam di dalam bathub.

 

 

“Jae, Jaejoong-ah, kau ada di dalam? ” Yunho mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dengan sangat keras seperti kehilangan kesadaran.

 

 

Ketika tidak ada jawaban, Yunho mengetuk pintu kamar mandi lebih keras lagi, ia hanya takut, dan ketakutan itu hampir saja membunuhnya. “Jae, jawab aku, jangan membuatku takut kumohon jawab aku! ”

 

 

Sekali lagi tak ada jawaban. Yunho hampir saja berbalik untuk mengambil kunci cadangan begitu ia mendengar suara-suara dari dalam, suara mual-mual yang diikuti dengan bunyi guyuran air di wastafel.

 

 

“Jae, kau ada di dalam benar? Apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja? Tolong jawab aku, ” kali ini Yunho menurunkan intonasinya.

 

 

“Aku baik-baik saja, diamlah Jung, ” gumam Jaejoong pelan.

 

 

“Syukurlah, ”

 

 

Yunho menjatuhkan tubuhnya di lantai, membiarkan punggungnya bersandar pada pintu kamar mandi. Ia tertawa tanpa suara, kemudian memeluk kedua kakinya dan menelungkupkan kepalanya di antara kedua lututnya.

 

 

Yunho mengeram, lantas mencengkram lantai dengan keras. Ia merasa bahagia dan kecewa di saat yang bersamaan. Merasa bahagia karena ternyata Jaejoong baik-baik saja dan hal itu membuatnya tenang. Namun di sat bersamaan ia merasakan kekecewaan, bagaiamana jawaban Jaejoong barusan membuatnya merasa bahwa antara dirinya dan Jaejoong terbentang jarak yang sangat jauh, mereka seperti dua orang asing yang dipersatukan dalam satu rumah.

 

 

“Jaejoong-ah, maafkan aku. Maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang baik, dan maaf karena aku belum bisa membuatmu bahagia. Jae, suatu hari nanti, ketika kebencianmu telah berada di puncaknya, dan rasa muakmu kepadaku sudah tidak bisa kau tutupi lagi, silahkan tendang aku dari kehidupanmu. Tapi sebelum itu terjadi aku akan berusaha membuatmu berpaling padaku. ” Yunho menggingit bibirnya.

 

 

Yunho memukul mukul dadanya dengan keras. Seharusnya ia ada di dalam sana, menemani Jaejoong, mengusap usap punggung Jaejoong, dan memberikan semangat dan kata-kata yang menenangkannya, bukan terduduk di balik pintu kamar mandi seperti seorang pengecut.

 

 

“Eomma, aku mual, ” lirih Jaejoong dari dalam, dan mendengarnya Yunho segera berdiri dengan cepat.

 

 

“Jae, apa kau baik-baik saja, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, ” ujar Yunho, lantas kembali mengetuk pintu dengan tempo sedang. “Buka pintunya, Jae. Aku mengkhawatirkanmu! ”

 

 

Jaejoong berdehem beberapa kali sebelum menjawab dengan suara serak. “Berhenti berakting seolah kau peduli terhadapku! ” dan jaejoong kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening. “Aku baik-baik saja, ”

 

 

Yunho merasa tubuhnya mendadak kaku. Ia seolah kehilangan udara untuk bernafas. “Aku mencintaimu, Jae, ” gumam Yunho pelan sekali hampir tak terdengar. Setetes air mata turun, dan tangannya bergetar hebat. “Aku akan menyiapkan makanan, cepatlah keluar, aku akan memijat punggungmu. Panggil aku jika ada apa-apa, ” ujar Yunho kemudian.

 

 

Ia berjalan gontai menuju nakas, ditatap pantulan wajahnya di cermin. Seharusnya seorang Jung Yunho tidak seperti ini. Seorang suami haruslah kuat karena ia harus melindungi istrinya. Yunho membalikan tubuhnya dengan cepat, menyenggol sebuah buku hingga terjatuh ke lantai. Diambilnya buku itu, pada bagian yang tebuka, Yunho membacanya, dan matanya membelalak seketika.

 

 

Jung Yunho,

Jika aku bukanlah adik Kim Hyunjoong, apakah kau akan tetap memperlakukanku seperti ini? Jika aku tidak mengandung anakmu dan menjadi istrimu dengan cara seperti ini, apakah kau akan tetap perhatian padaku dan menangis untukku seperti ini? Jika kita bertemu lebih dulu sebelum kejadian ini, apakah kau akan mencintaiku seperti ini? Karena aku mencintaimu, maka berhentilah berpura-pura peduli terhadapku, karena itu menyakitiku.

 

 

Jung Yunho, jika suatu saat nanti kita dilahirkan kembali, mau kah kau berada di sampingku dengan jalinan yang indah?

 

 

Jung Yunho, aku mencintaimu.

 

 

Yunho menjatuhkan buku di tangannya karena mendadak saja ia kehilangan tenaga, tepat ketika pintu kamar mandi di buka dan Jaejoong keluar dari dalamnya. Menatap Yunho dengan pandangan kekecewaan dan tatapan yang menyakitkan.

 

 

TBC

 

 

I need feedback. Please give me ome review

See you on the next chap!

7 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 6

  1. Duh knp jd saling menyiksa diri sih. Jae kalau cinta udh dong ga usah dipendam kasihan baby.
    Baru ini yunho tak berdaya menghadapi jae. Kasihan jadinya 😂ayo satukan yunjae 😄

  2. serba salah jd yun sbnernya, tapi tetep berjuang appa, paling gak yun bisa megang amanah karna d beri kepercayaan oleh keluarga jae.

  3. Come on Jae maafin Yun dong. Yun emang oernah salah tapi…sekarang dia udah tobat dan mencintai istrinya dengan tulus dan segenap hati. Karena dua-duanya saling mencintai, udah maafan aja biar sama2 bahagia ^_^
    YunJae fighting!
    Ditunggu update-an selanjutnya, fighting authornim!

  4. Ternyata jj juga cinta sama yunho
    jadi mereka berdua saling mencintai
    apa sebelumnya jae emang udah lama suka sama yun dulu?
    Daripada penasaran saya tunggu next chapt nya aja lah
    semangat author🙂

  5. hubungan yunjae disini rumit yh..
    sepertinya aq pernah baca di ffn udah sampe ending.
    tapi jj keguguran.
    mudah2an di sini enggak ya..🙂

  6. Pasti yun bingung harus gimana..
    Kalo emang umma mencintai appa kenapa ga coba memaafkan appa? Kalo kaya gini akhirnya saling menyakiti kan😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s