FF YunJae Love In The Ice chap 8


Love In The Ice – Chapter 8

by rukee

 

Cinta itu angkuh….

Membuat sakit, kecewa dan melukai.

Tapi….

Benarkah itu cinta?

Atau hanya cintaku yang seperti itu?

=================

Love in The Ice chap 8

=================

Yunho POV

Cukup.

Cukup sudah. Aku tidak akan membiarkan Jaejoong menambah luka dengan ketinggian hatinya. Mungkin jika hanya aku yang menerima lukanya, dengan sukarela aku akan tetap jatuh di hadapannya. Tapi jika ia menyeret orang lain -terlebih Jeonghyeon, aku akan berdiri dan berbalik. Menjauh dan mencari tempat terbaik untuk melindungi orang-orang kesayanganku.

Kim Jaejoong, pria cantik yang menjadi cinta pertamaku. Bahkan jika boleh jujur, sampai saat ini pun aku masih menyimpan cinta padanya. Meski tidak dipungkiri bahwa aku juga menyimpan benci padanya. Cinta dan benci, kedua rasa tersebut tumbuh berdampingan dan terus berakar tunas dalam hatiku. Dan aku benar-benar tidak bisa memilih, mana rasa yang harus aku pertahankan?

Sebelumnya, aku mencintai Jaejoong sepenuh hatiku. Hingga hari itu tiba dan benci mulai hadir dalam hatiku sedikit demi sedikit…

 

Flashback.

“Benarkah?”

Aku menghentikan langkahku di depan pintu. Menatap pria cantik yang tampak sedang menerima telepon di teras rumah. Jaejoong, wajahnya terlihat berseri, entah karena ia sedang mengandung atau karena telepon yang sedang ia terima.

“Apa? Bulan depan?”

Aku mengerutkan keningku. Bulan depan? Ada apa dengan bulan depan? Kalau tidak salah hitung, bulan depan seharusnya Jaejoong sudah melahirkan. Apa mungkin itu telepon dari dokter kandungan Jaejoong? Ah, tapi tidak mungkin. Untuk apa dia menelpon di saat kami akan pergi ke tempatnya?

“Baiklah. Aku mengerti,”

Jaejoong mengakhiri teleponnya. Aku pun menghampirinya dan merangkul bahunya perlahan, mencoba untuk tidak membuatnya terkejut. “Telepon dari siapa, Boo?”

Aku menatap mata besar Jaejoong yang selalu kupuja keindahannya. Tapi aneh, ia tidak membalas tatapanku seperti biasanya. Matanya bergerak gelisah dan penuh keraguan. “Hum? Engh.. ani. Ayo kita berangkat, aku tidak ingin terlambat,” Jaejoong melepaskan tanganku yang berada di bahunya dan ini sedikit membuatku terkejut. Biasanya Jaejoong tidak pernah menolak sentuhanku. Ia bahkan sedikit manja sejak tahu kehamilannya.

Jaejoong berjalan ke arah mobilku yang terparkir di depan rumah. Pria cantik itu meninggalkanku dan langsung masuk ke dalam mobil. Aku pun segera menyusulnya dan menjalankan mobil menuju rumah sakit bersalin. Selama perjalanan, Jaejoong terdiam dan sibuk memandang langit dari kaca jendela. Dan ini membuatku kembali terheran. Apa yang sedang dipikirkan Jaejoong?

Sesampainya di rumah sakit, kami keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang kerja Dokter Han. Kami sudah membuat janji dengan dokter kandungan tersebut. Mungkin saat ini dokter pria berkacamata itu sudah menunggu kami di ruangannya.

Begitu masuk ke ruangan Dokter Han, Jaejoong langsung berbaring di ranjang pasien untuk melakukan pemeriksaan USG seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula, aku akan duduk di samping Jaejoong dan menatap layar yang mempertontonkan calon malaikat kecilku. Meskipun usiaku terlalu muda untuk menjadi seorang ayah, tapi aku merasa sudah sangat siap untuk menjadi seorang ayah.

Setelah pemeriksaan USG selesai, Dokter Han duduk di kursi kerjanya dan tampak sibuk menulis beberapa resep. Aku dan Jaejoong mengikutinya dan duduk di hadapan Dokter Han. “Bagaimana keadaan bayinya, dok?” biasanya Jaejoong yang akan mengeluarkan pertanyaan ini, karena meskipun bayi ini hadir tanpa diduga, Jaejoong sangat antusias dengan kehamilannya. Tapi hari ini Jaejoong sangat diam, sehingga aku yang harus menggantikannya bertanya.

“Bayinya sehat seperti biasa. Ibunya juga tampak sehat. Aku hanya akan memberikan beberapa vitamin kali ini. Ah iya, aku sudah memperkirakan jadwal oprasimu bulan depan Jaejoong ssi,”

Dokter Han menyerahkan selembar resep padaku. Aku mengambilnya dan tersenyum lebar. Jaejoong akan segera melahirkan. Dan itu artinya aku akan segera menjadi seorang ayah. Aku benar-benar bahagia mendengarnya. “Benarkah? Woah, aku sangat senang mendengarnya. Terimakasih dokter—”

“—Apa bisa dipercepat?” aku dan Dokter Han sontak menatap Jaejoong. Pria cantik itu akhirnya mengeluarkan suara setelah membisu sejak tadi. “Aku ingin oprasinya dipercepat, dokter”

“Jaejoong, ada apa? Kenapa kau ingin persalinanmu dipercepat?” Aku menggengam tangan Jaejoong dan kembali menatap manik bulatnya. Dan sekali lagi aku dibuat terkejut oleh pria cantik itu. Jaejoong tidak membalas tatapan mataku, bahkan ia menepis tanganku.

“Dokter?”

“Sebenarnya semua tergantung dirimu, Jaejoong ssi. Aku menentukan tanggal berdasarkan perkiraan usia kandunganmu. Tapi jika kau ingin dipercepat, mungkin aku bisa memberimu waktu hingga 2 minggu, dan tidak bisa lebih cepat lagi. Itu untuk mengurangi kemungkinan buruk yang akan terjadi pada bayimu. Sebelumnya, aku perlu tahu kenapa kau ingin mempercepat tanggal persalinanmu,”

Aku mengangguk mendengar penjelasan Dokter Han. Jika boleh jujur, aku lebih setuju persalinan Jaejoong dilakukan berdasarkan perkiraan dokter. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada anakku. Tapi ada apa dengan Jaejoong? Kenapa ia ingin mempercepat operasinya?

“A-aku..” Jaejoong tampak menggenggam dan meremas jarinya sendiri. Aku semakin penasaran dan tiba-tiba firasatku mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik. “… bulan depan aku akan pergi ke Paris…”

Flashback off.

Aku mengusap wajahku dengan kasar. Itu adalah pertama kalinya aku tidak bisa mengerti tentang Jaejoong. Atau mungkin selama ini aku memang tidak pernah mengerti tentangnya? Hari itu, Jaejoong menerima telepon dari kedutaan Prancis untuk Korea. Mereka berkata bahwa proposal beasiswa yang Jaejoong kirimkan beberapa bulan lalu telah disetujui dan Jaejoong diterima sebagai mahasiswa di salah satu sekolah mode ternama di sana. Kami bertengkar hebat saat itu. Jaejoong berniat pergi ke Paris dan meninggalkan anaknya. Aku benar-benar marah. Dan mungkin itu pertama kalinya aku marah, lalu membentak Jaejoong. Tapi sekeras apapun aku meminta Jaejoong untuk tetap tinggal, pada akhirnya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bisa melihat betapa kuatnya keinginan Jaejoong untuk menggapai mimpinya sejak kecil, menjadi seorang designer ternama.

CKLEK!

Pintu UGD terbuka. Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu dan berdiri dari duduk. Seorang suster keluar dan menghampiriku. “Ada apa suster? Bagaimana kondisi anak saya?” suaraku sedikit bergetar. Aku menatap suster itu penuh tanya dan mengabaikan beberapa orang yang mencoba mendekatiku. Aku berharap tidak terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap Jeonghyon.

“Anak anda mengalami pendarahan yang hebat. Kami sudah menghabiskan seluruh persediaan darah yang ada di rumah sakit ini untuk menolong putri anda. Tapi oprasi masih akan berlangsung beberapa waktu lagi, dan kami butuh tambahan stok darah secepatnya untuk menyelamatkan putri anda,” aku memegang dadaku, jantungku berdetak keras dan pandanganku melayang. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Golongan darahku A dan Jeonghyeon O. Aku tidak bisa menyelamatkan putriku. Mataku mulai memanas, dan perlahan aku tidak sanggup menahan lelehan airmataku.

“A-aku…. Aku akan mendonorkan darahku,”

Deg!

Secepat kilat aku menolehkan wajahku ke belakang. Dan saat itu juga, nafasku tersangkut di tenggorokan. Kim Jaejoong. Pria itu ada disini. Seingatku, pria cantik itu tidak berada di dalam mobil saat aku membawa Jeonghyon ke rumah sakit ini. Apa…. Apa ia mengikuti kami?

POV END

 

Author POV

“A-aku…. Aku akan mendonorkan darahku,”

Jaejoong, pandangannya mengosong menatap gadis muda berpakaian suster di hadapannya. Pria cantik ini ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa ia tidak bisa mengeluarkan kata. Dia bingung, bingung menghadapi pikiran dan batinnya yang sedang bertarung. Ia ingin tidak peduli, meskipun nyatanya detak jantungnya memburu sejak tadi. “A-aku, golongan darahku O. Apa aku bisa mendonorkan darahku untuk gadis itu?”

Manik bulat itu menatap penuh tanya. Sesungguhnya ia ragu apakah darahnya akan cocok dengan Jeonghyeon. Kenyataannya dia tidak pernah tahu, apa golongan darah gadis kecil itu. Tapi begitu melihat Yunho tidak berkutik dan terdiam, Jaejoong dapat menyimpulkan sesuatu. Yunho pasti akan melakukan segala hal untuk putrinya. Jangankan mendonorkan darah, bahkan jika Jeonghyeon membutuhkan nyawa, pria tinggi itu pasti akan memberikan nyawanya. Tapi kenyataannya, Yunho hanya terdiam. Kesimpulannya hanya satu, darahnya tidak cocok dengan Jeonghyeon. Dan meskipun Jaejoong membenci kenyataan, tapi ia harus mengakui kemungkinan bahwa mungkin darahnyalah yang cocok dengan Jeonghyeon. Karena sekeras apapun ia menyangkal, kenyataannya Jeonghyeon tercipta juga dari darah dan dagingnya.

Suster muda itu tersenyum dan menghampiri Jaejoong. “Kebetulan pasien juga bergolongan darah O. Jika anda bersedia mendonorkan darah, anda bisa ikut saya ke laboratorium. Kami perlu melakukan beberapa tes, untuk mencocokkan apakah darah anda cocok dengan darah pasien,”

“Tidak perlu,” pria cantik itu kembali berucap dan menghentikan langkah suster muda yang hendak membawanya ke lab. Kali ini suster muda itu yang menatapnya penuh tanya. Tidak, Jung Yunho pun menatapnya penuh tanya. Pria tinggi itu sempat berpikiran buruk tentang Jaejoong. Ia berpikir bahwa sesungguhnya Jaejoong tidak ingin mendonorkan darahnya dan pria cantik itu hanya ingin memberinya harapan. Karena sebelumnya, Jaejoong tidak pernah peduli dengan keadaan Jeonghyeon, bahkan ketika gadis kecil itu sakit.

”Tidak perlu diperiksa. Langsung saja ambil darahku. Aku bukan pecandu! Aku selalu menggunakan pengaman saat melakukan sex! Dan aku hanya minum alcohol sedikit hari ini, hanya setengah kaleng bir. Kau bisa ambil darahku sebanyak yang dibutuhkan gadis itu. Gadis itu butuh darah secepatnya, bukan? Ambil darahku sekarang. Darahku…. Darahku pasti cocok untuknya. Aku…,”

Kim Jaejoong, tanpa disadari airmatanya mengalir dari manik bulatnya. Wajahnya menggambarkan keputusasaan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan? Dirinya dikuasai oleh kebingungan. Ia bingung, bagaimana bisa pendiriannya yang selama ini kokoh bisa digerogoti oleh kepingan-kepingan kenyataan yang selama ini berusaha ia singkirkan. Dan egonya yang selama ini tinggi, sekarang terkapar karena batinnya mengambil alih gelar juara.

Jaejoong kembali menatap suster muda itu. Ia bisa melihat wajah penasaran sang suster. Tidak hanya suster, Yunho dan juga Jihye pun menatapnya penuh tanya. “A-aku, aku…. Yang melahirkannya.” Jaejoong terkejut karena pada akhirnya ia mengakui hal ini. Tiga orang lainnya lebih terkejut mendengar pernyataan Jaejoong. Jihye dan suster muda itu menatap Jaejoong tidak percaya. Entah telinga mereka yang salah dengar atau Jaejoong sedang membuat lelucon. Tapi Yunho terkejut karena ia tidak menyangka bahwa gunung es di hati Jaejoong bisa melebur dan mencair.

“—Aku yang melahirkannya hiks…. A-aku seorang male pregnant…. Dia anakku… dan… hiks dan dia sedang sekarat. Tolong ambil darahku sekarang juga!!!” meskipun bicara sambil terisak, Jaejoong masih bisa meninggikan suaranya di akhir kalimat. Memikirkan bahwa gadis kecilnya sedang sekarat di ruang oprasi membuat emosinya meningkat. Seakan tersadar, suster muda itu langsung memegang lengan Jaejoong dan membawanya pergi.

Yunho masih tidak percaya bahwa Jaejoong meletakkan Jeonghyeon lebih tinggi dari egonya. Ia menatap kepergian pria cantik itu dengan tatapan tidak percaya. “Apa itu benar?” Seketika pria tinggi itu mengalihkan maniknya. Ia manangkap sosok perempuan yang mungkin kehadirannya tidak disadarinya sejak tadi, Jihye. Wanita itu menatap Yunho, menuntut jawaban. “Apa benar Jaejoong oppa yang melahirkan Jeonghyeon? Dia…. Dia male pregnant?” Jihye terlihat sangat terkejut. Tapi Yunho tidak ingin berbohong disaat Jaejoong sudah mengatakan kebenarannya. Jadi pria tinggi itu hanya menganggukan kepalanya. Jika Jihye terkejut, itu adalah hal yang wajar. Mengetahui ada seorang pria yang bisa hamil bukanlah sesuatu hal yang tidak mengejutkan.

 

Oprasi sudah berakhir satu jam yang lalu. Jeonghyeon pun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter berkata bahwa oprasi mereka sukses dan Jeonghyeon dapat pulih seperti sebelumnya. Yunho yang baru saja mengurus administrasi rumah sakit berhenti di depan pintu kamar inap Jeonghyeon. Pria tinggi itu mendapati Jaejoong yang duduk di kursi tunggu di depan ruangan anaknya.

“Pulanglah,”

Jaejoong mengalihkan pandangannya sebentar ke arah Yunho. Lalu ia menundukkan wajahnya dan bergeleng. “Tidak mau,”

Yunho memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Jaejoong memang selalu keras kepala. “Pulanglah. Bukankah lusa kau harus kembali ke Prancis?”

“—Yunho!” Jaejoong berdiri dari duduknya. Pria cantik itu menghampiri Yunho dan berdiri di hadapan pria tinggi itu.”Yunho aku…. Aku minta maaf,”

Yunho menaikan alis matanya sebelah. Apa sungguh seorang Kim Jaejoong baru saja mengucap kata maaf padanya? “Kau tidak perlu minta maaf Jaejoong. Kau hanya perlu meninggalkan tempat ini,” Yunho bersiap meninggalkan Jaejoong dan masuk ke kamar inap Jeonghyon. Namun langkahnya terhenti begitu tangan halus pria cantik itu menahan lengannya.

“Tidak! Yunho, aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku sadar sudah melakukan kesalahan selama ini. Jadi tolong jangan usir aku. Aku ingin menemani Jeonghyeon. Aku…. Aku menyayanginya,”

Yunho mendengus mendengar pria cantik itu berucap manis. “Apa? Sayang? Sayang seperti apa yang kau maksud? Jika kau menyayanginya, kau akan membuatnya bahagia. Tapi kenyataannya, kau selalu membuatnya sakit. Jadi aku ingin kau pergi sekarang juga! Kembalilah pada hidupmu yang sempurna itu. Aku tidak ingin melihatmu lagi. Dan jangan pernah menampakkan dirimu di hadapan Jeonghyeon!”

Jaejoong terdiam. Ia mengabaikan Yunho yang berlalu memasuki kamar rawat Jeonghyeon. Kata-kata Yunho serasa lebih tajam daripada jarum jahit yang biasa ia gunakan. Ia sering tertusuk jarum jahit saat membuat gaun-gaunnya, tapi ia tidak pernah merasa sesakit ini. Kata-kata Yunho benar-benar menusuknya di tempat yang tepat, di relung hatinya. Dan belum pernah ada yang melakukan ini padanya. Ia ingin mengumpat, memaki atau memukuli Yunho hingga puas karena membuatnya seperti orang yang kalah. Tapi kemudian ia menyadari, bahwa ia memang sudah kalah. Dan kata-kata Yunho merupakan kebenaran yang membuat Jaejoong mengaku kalah.

Jaejoong menolehkan kepalanya. Pandangannya menerobos jendela kaca yang ada di pintu kamar dan berhenti pada sosok kecil di atas ranjang. Jeonghyeon, putrinya. Anak yang pernah hidup dalam perutnya selama sembilan bulan dan ia lahirkan. Jaejoong menyentuh perut bagian bawahnya. Ya, ia yang melahirkan Jeonghyeon. Ia masih bisa merasakan garis panjang yang mengerut di perutnya, bekas luka jahit persalinannya.

Jeonghyeon masih belum sadar. Gadis kecil itu masih terlelap damai dengan dua selang infus di tangannya. Jaejoong bisa melihat bahwa darahnya mengalir ke dalam tubuh Jeonghyeon dari salah satu selang infus yang tergantung. Dan itu membuat hatinya semakin sesak. Airmatanya kembali mengalir deras, sederas rasa sesal yang mengisi relung hatinya. Seandainya saja dulu ia membawa Jeonghyeon dan tidak menganggapnya sebagai aib, ia tidak akan merasa sebodoh ini.

 

 

Flashback

Jaejoong POV.

Aku meremas kedua tanganku dengan erat. Saat ini aku sedang duduk di kursi penumpang mobil milik Yunho. Kami akan pergi ke rumah sakit bersalin untuk memenuhi jadwal rutinku memeriksa kandungan. Tapi, itu bukanlah alasan yang membuat hatiku bergetar sampai harus meremat kedua tanganku.

Tadi, saat aku menunggu Yunho di teras rumah, aku mendapat telepon dari kedutaan Prancis. Sebelum mengangkat telepon, aku sempat berpikir, untuk apa kedutaan Prancis menghubungiku? Dan semuanya terjawab setelah aku mengangkat sambungan telepon. Aku baru ingat bahwa semester lalu aku sempat mengajukan beasiswa untuk kuliah fashion di Paris. Aku benar-benar lupa hal itu setelah tahu kehamilanku. Dan telepon itu mengingatkanku akan mimpiku.

Menjadi seorang designer bukanlah cita-cita labil seperti yang sering diucapkan siswa sekolah dasar di hari pertama masuk sekolah. Meskipun aku sudah bermimpi menjadi seorang designer sejak masuk taman kanak-kanak, tapi cita-citaku sejati dan tidak berubah hingga sekarang. Aku, ingin menjadi seorang designer papan atas.

Aku bukanlah seseorang yang terlahir di keluarga kaya. Itu juga yang membuat orang tuaku menjadikanku anak tunggal di keluarga kami. Ayahku adalah suami bertanggung jawab yang menghidupi kami dengan menjadi buruh pabrik. Dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang sangat baik mengurus anak dan suami. Meskipun kami tidak kaya, tapi hidup kami tercukupi dan bahagia.

Aku tumbuh menjadi anak yang ceria dan bahagia. Setidaknya sampai usiaku menginjak 3 tahun. Saat itu, di hari ulangtahunku yang ke 3. Ayah pulang dengan wajah lesunya. Aku sudah menunggu kepulangan ayah, karena aku menanti hadiah yang ayah janjikan untukku. Tapi, bukan hadiah yang kudapat, melainkan kabar buruk yang mengubah kebahagian kami. Ayahku… di PHK.

Sejak di PHK, ayahku berubah menjadi seseorang yang tidak ku kenal. Ayah sering pulang dengan keadaan mabuk. Bahkan tidak jarang ayah membawa minuman itu ke rumah dan meminumnya di hadapanku. Emosi ayah juga tidak menentu, tapi yang pasti ia semakin sering mengomel dan memenuhi flat kecil kami dengan bentakkan. Puncaknya, ketika beberapa orang berbadan besar datang ke rumah kami. Memporak-porandakan rumah kami untuk mencari sisa-sisa harta kami. Ternyata, belakangan ini ayah sering meminjam uang untuk mencoba peruntungannya di dunia judi. Dan orang-orang berbadan besar itu adalah rentenir lintah darat tempat ayah meminjam uang.

Ibu bingung dan aku hanya bisa menangis ketakutan dalam dekapan ibu. Kami tidak punya uang saat itu. Setelahnya, ayahku tidak pulang untuk beberapa hari. Mungkin ayah mencoba menghindar dan menyembunyikan diri dari rentenir. Tapi ayah melupakan kami yang masih berada di rumah. Rentenir terus datang ke rumah dan menagih hutang ayah pada ibu. Dan di tengah keputusasaannya, ibu melihat mesin jahit tua yang selama ini hanya kami gunakan sebagai meja pajangan di sudut rumah.

Sejak saat itu, siang dan malam ibu sibuk dengan mesin jahit. Membuat pola, menggunting dan menjahit baju. Ibu membuat baju sebanyak yang ia bisa untuk di jual di pasar malam. Terkadang ibu juga ketiduran di meja jahit. Aku tidak tega membangunkannya, yang bisa aku lakukan hanya mengambil kertas pola milik ibu. Awalnya aku hanya bisa membantu menggunting pola. Tapi melihat ibu menggambar pola baju, itu membuatku tertarik. Dan akhirnya aku bisa membantu ibu membuat pola di usiaku yang ke 5.

Kehidupan kami mulai membaik sejak ibu menjahit. Hutang-hutang ayah perlahan terlunasi. Setelah beberapa tahun, ayah pulang dengan kondisi yang membuat kami terkejut. Ayah terkena struk. Saat itu aku baru berusia 7 tahun. Aku hanya bisa menatap datar ayah dan seseorang yang megantarnya dengan kursi roda. Lalu aku menatap ibu. Aku bisa lihat rasa sakit yang terpancar di mata ibu. Tapi meskipun begitu, ibu tersenyum dan membawa kursi roda ayah ke dalam rumah. Ibu menangis di dalam rumah, aku juga bisa melihat ayah menangis di atas kursi rodanya. Aku tidak mengerti, tapi aku hanya bisa ikut menangis.

Kehidupan kami kembali tentram seperti sebelumnya. Ibu kembali menjadi ibu rumah tangga yang baik untukku dan juga ayah. Dan ibu juga menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga. Meskipun hatinya tersakiti, ibu tidak pernah membenci ayah. Ibu tetap mencintai ayah. Dan itu juga yang membuat aku kembali mencintai ayah. Ibu adalah yang terbaik. Dan aku ingin menjadi yang terbaik seperti ibu.

Menginjak sekolah menengah pertama, kehidupan kami semakin membaik. Aku mendapatkan beasiswa untuk menlanjutkan pendidikan. Aku sudah bisa membantu bahkan menggantikan ibu membuat baju. Kami juga tidak lagi menjual baju kami di pasar malam. Kami menitipkan baju-baju buatan kami pada kios-kios kecil di sekitar tempat tinggal rumah kami. Semakin hari, pesanan baju ibu semakin banyak. Dan itu membuat ibu sering mengeluh sakit. Jika sudah seperti itu, aku akan mengabaikan perintah ibu untuk focus belajar. Aku akan mengambil alih seluruh pekerjaan ibu.

Di tingkat 2 menengah pertama, aku mengikuti kontes fashion untuk memenuhi nilai akhir pelajaran tata busana. Kami di bagi beberapa kelompok dan di dalam kelompok kami diberi tugas berbeda-beda. Ada yang bertugas sebagai model, penata rias, penata rambut dan aku sebagai perancang busana. Dalam kontes itu aku menduduki peringkat pertama. Dan peringkat kedua diduduki oleh Heechul dari kelas lain.

Setelah kontes usai, aku segera pulang ke rumah. Aku ingin memamerkan tropi pertamaku mendisain baju pada ibu. Aku juga ingin memberikan beberapa makanan enak yang dijadikan hadiah tambahan kepada ayah. Aku begitu gembira dan tidak sabar ingin membagi kegembiraanku pada ayah dan ibu. Tapi yang terjadi, adalah sesuatu yang melumpuhkan dunia.

Gedung flat rumahku kebakaran. Itu merupakan kebarakaran besar dan sempat muncul di berita tv selama seminggu penuh. Banyak korban meninggal terlahap api, termasuk kedua orangtuaku. Aku menangis selama seminggu. Tapi setelahnya, aku tidak menangis lagi. Karena jika aku menangis, ibu akan bersedih. Dan aku tidak ingin membagi kesedihanku pada ibu. Aku berjanji akan hidup bahagia, agar ibu dan ayah bahagia karena melihatku dari sana. Aku akan menjadi seorang desainer ternama suatu saat nanti. Aku ingin ibu bangga padaku seperti aku yang selalu membanggakannya.

Aku mulai menyewa flat kecil. Membeli mesin jahit bekas dari uang hadiah kontesku. Aku kembali menjahit dan menjuat baju-bajuku. Aku hidup dengan menjahit. Hidupku penuh dengan mendesain baju. Dan tanpa terasa, aku tidak bisa dipisahkan dari dunia mode ini.

Pikiranku kembali dari memori-memori masa lalu begitu Yunho memarkirkan mobil. Kami sudah sampai di rumah sakit bersalin. Sebelum keluar dari mobil, aku menatap perut buncitku. Mengelusnya penuh sayang. Ya, meskipun aku sempat menolak kehamilanku, aku sangat menyayangi calon anakku. Selama delapan bulan ini aku merasa benar-benar dekat dengan bayi di perutku ini. Aku sering mengajaknya bicara, dan ia akan merespon setiap ucapanku dengan tendangannya. Jika berkata ia, bayi ini akan menendang perutku sekali. Dan jika tidak dia akan menendang dua kali. Benar-benar pintar, bukan? Dan aku bangga padanya.

Aku sangat Bangga akan menjadi seorang ibu, tapi aku lebih ingin membuat ibuku bangga. Aku memasuki rumah sakit bersalin di dampingi Yunho. Sebelum sampai di ruang dokter Han, aku mengelus perutku sekali lagi dan tersenyum.

Maafkan aku anakku. Tapi tolong izinkan aku meraih mimpiku. Aku ingin membuat nenek dan kakekmu bangga padaku. Aku akan meninggalkanmu, tapi bukan karena aku tidak menyayangimu. Tolong mengerti dan maafkan ibumu ini….

END

11 thoughts on “FF YunJae Love In The Ice chap 8

  1. huuweeee…end, di saat umma mulai menyadari kesalahan nya??:'(
    tapi sayang ne yunjae gak happy ending??:-(

  2. Hapaaaah?? END beneran ini? T^T rasanya kaya digantungin gini thor T^T jebaaal jgn end dulu…. kami butuh sequel thor T^T masa yunjae ga balikan nih? itu jae udh insap tpi blm ketemu jeonghyeon lagi duh . Sequel thooor sequeeel /demo/ .-.

  3. bneran end? kurangggggggg….
    biarin jeje jadi ibu sbenarnya dong…. dia kan udah jdi designer yg sukses… biarin dia jdi ibu yg baiik jga dong…..T_T

  4. End??????
    Beneran nich end???
    Jae insyaf tpi hub yunjae msh gantung…trus nasib anak mereka gmn??
    kyaaaaa galau nich bs2 klo ending na bginiT.T
    smga author na salah tulis bkn end tapi TBC#amiiin#

  5. END……..ngga boleeh pokoknya
    Masih gantung gini ? hyeonaa belum sadar dan gimana reaksi yunho sama pengakuan JJ ? belum dijelasin …… pokoknya ngga boleh END dulu #maksa

  6. END ???
    Jangan end dong …
    masa ceritanya gantung gitu …
    jae umma juga baru insap
    bikin sekuel nya dong eon … please ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s