IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 7


IN THE NAME OF LOVE

Chapter 7 – I Love You Too

Created by Amee

.

.

.

Keduanya terperangkap oleh waktu yang mempermainkan mereka.

 

 

Jaejoong memaku di tempatnya, kedua bola matanya seolah membeku menatap sebuah buku dalam genggaman Yunho. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman penuh luka, hanya satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas. Tatapannya seolah merupakan ujung samurai yang siap menghunus,penuh kekecewaan, kekesalan, kemarahan, dan ketakutan.

 

 

Dihadapannya, Yunho balas menatap Jaejoong dengan sebuah pancaran abstrak, seperti sebuah pelangi di tengah kelam malam, keindahannya ada namun nyaris tak tampak.

 

 

“Jatuhkan buku itu, dan pergi!” gertak Jaejoong.

 

 

Bukan menjatuhkannya, Yunho justru mendekapnya semakin erat, seolah berusaha melindungi buku itu dari apapun yang mengancamnya.

 

 

“Jung, pergilah,” Jaejoong merendahkan suaranya namun tetap terdengar tajam.

 

 

“Aku tidak akan pergi. Di sini tempatku, bersamamu,” jawab Yunho tegas.

 

Jaejoong membelalakan matanya dan jantungnya berdetak dengan cepat ketika ia mendengar jawaban Yunho, namun dengan cepat ia tertawa sarkastik. “Berhenti mengasihaniku,” ujar Jaejoong sambil menatap tajam kedua mata Yunho. “Jika itu maumu, jika kau tetap tak ingin enyah dari hadapanku” Jaejoong menyeringai. “Aku yang pergi,” tambahnya.

 

 

Sebelum Yunho sempat mengedipkan mata, Jaejoong telah menghilang dari hadapannya dan yang terdengar kemudian hanyalah bunyi pintu kamar yang ditutup dengan keras.

 

 

Yunho memaku di tempatnya, seolah olah kedua kakinya merekat pada lantai. Ada sebuah kekosongan di dalam hatinya dan itu membuanya seolah tak bernyawa.

 

 

Yunho menyeringai, lantas ia menangis dan tertawa secara bersamaan, seperti seorang frustasi yang kehilangan arah. Satu yang dipikirkannya, yakni Jaejoong tak pernah menginginkannya. Yunho mengeram lantas berteriak dengan keras, kedua tangannya mencengkram kepalanya sehingga buku yang semula di pegangnya terjatuh ke lantai.

 

 

Bunyi yang ditimbulkan ketika buku menyentuh lantai seolah menyadarkan Yunho. Ditatapnya buku itu, lantas sebaris tulisan di buku itu berputar putar dalam kepalanya seolah memberikan kekuatan. Tulisan itu : Jung Yunho, aku mencintaimu.

 

 

“Jaejoong-ah!” pekik Yunho keras, namun tak ada yang menyautnya.

 

 

Diambilnya ponsel dan kunci mobil lantas segera berlari keluar kamar dengan diiringi teriakan teriakannya. “Jaejoong, Jung Jaejoong!” Yunho meneriakannya berulang ulang namun tetap tak ada jawaban.

 

 

Yunho tidak menemukan tanda tanda keberadaan Jaejoong di dalam rumah, ketika merasakan atmosfer rumah yang begitu pekat akan keheningan.

 

 

Yunho menuruni tangga dengan tergesa gesa hingga ia hampir saja terjatuh, dibukanya pintu rumah dengan cepat, lantas berlari menyusuri halaman dengan bertelanjang kaki. Dia terus berlari, setelah keluar pagar, ia berbelok ke kanan dan menyusuri jalanan beraspal dengan berlari hingga ujung jalan, ketika ia tak menemukan Jaejoong, Yunho memutar arahnya dan kembali berlari.

 

 

Yunho menghentikan langkahnya di ujung jalan yang lain. Nafasnya menderu cepat dengan dada naik turun, serta peluh yang turun membasahi pelipisnya. Ia belum menemukan Jaejoong.

 

 

“Jaejoong-ah, kau dimana, kenapa kau sangat senang membuatku khawatir?” gumam Yunho pelan. “Sial!” Yunho menonjok dinding di hadapannya hingga buku buku jarinya memerah dan menyisakan luka. Ia bahkan tidak merasakan apapun meski nyatanya kedua telapak kakinya melepuh karena ia terus berlari dengan bertelanjang kaki.

 

 

Yunho kembali berlari menuju rumahnya. Dibukanya pintu pagar lebar lebar, kemudian ia segera masuk ke dalam mobil. Ditariknya nafas dalam dalam, dari wajah lelah itu begitu tampak seberapa frustasi ia. Dipukulnya kemudi mobil dengan tangan kanannya, lantas menyandarkan kepalanya di sana.

 

 

“Jangan menyiksaku seperti ini Jaejoong-ah, percayalah padaku sekali saja,” Yunho mulai terisak.

 

 

Ia ingat seberapa cantiknya Jaejoong, dan andaikan istrinya mampu tersenyum dan tertawa untuknya, maka ia akan jauh terlihat lebih cantik. Yunho mencengkram dadanya dengan kuat, mendadak saja ia merindukan Jaejoong.

 

 

Yunho mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, bukankah akan jauh lebih baik jika ia menelpon Jaejoong, setidaknya ia dapat menduga duga di mana keberadaannya. Yunho membuka kunci teleponnya, ketika sesuatu diingatnya, ia mengeram.

 

 

“Sial, aku bahkan tidak tahu berapa nomornya!” umpat Yunho pada dirinya sendiri.

 

 

Di carinya nomor kontak seseorang di deretan panjang buku teleponnya. Setelah menemukannya, cepat cepat Yunho menekan sambungan telepon. Ia menunggu dengan tidak sabar, hingga akhirnya telepon tersambung.

 

 

“Mika, kirimkan nomor Shirota Yuu padaku, sekarang!” pekik Yunho.

 

 

“Sumimasen?” jawab Mika tergugup, sekretaris Yunho itu tersentak hingga tidak mampu mengolah data yang didengarnya.

 

 

“Kirimkan nomor Shirota Yuu sekarang, aku tidak suka menunggu!”

 

 

“Ba… Baik,”

 

 

Dan Yunho segera menutup sambungan telepon. Tidak berselang lama sebuah pesan yang memuat nomor muncul di layar ponsel Yunho.

 

 

Mendadak sebuah imajinasi liar berputar putar di kelapa Yunho hingga ia merasa mual. Bagaimana jika Jaejoong tengah bersama Yuu, bagaimana jika Jaejoong merasa nyaman dan bahagia dengan laki laki, bagaimana jika Jaejoong memilih untuk meninggalkannya dan kebersamaan mereka harus berakhir, meskipun Yunho sadar bahwa mereka tidak pernah benar benar bersama selama ini.

 

 

Dengan gugup, ditekannya tombol telepon sehingga terdengar bunyi tunggu yang akan menyambungkannya dengan Yuu. Yunho benar benar gamang, ia bahkan tidak bisa lagi berpura pura tenang dan mengontrol detak jantungnya.

 

 

“Moshi-moshi,” Yunho tersentak ketika didengarnya suara Yuu dari seberang telepon

 

 

“Ini aku, Jung Yunho,” jawab Yunho cepat.

 

 

“Aa.. Mr. Jung, apa ada yang perlu saya bantu hingga anda menelepon saya seperti ini?”

 

 

“Apa Jaejoong bersamamu?”

 

 

“Maaf?”

 

 

“Jaejoong menghilang. Apa dia bersamamu?” ulang Yunho.

 

 

“Jae menghilang?” pekik Yuu keras. “Ah, maafkan saya. Dia sedang tidak bersamaku, saya akan ban–”

 

 

Yunho cepat cepat memutus sambungan telepon sebelum Yuu menyelesaikan kata-katanya. Yunho melemparkan ponselnya ke jok penumpang lantas mengeram keras. Pada detik berikutnya ia telah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

 

 

OOO

 

 

Hari semakin malam dan udara beranjak semakin dingin ketika Jaejoong menyusuri jalanan beraspal yang terasa tak ramah. Berkali kali ia harus terisak dan menyeka air matanya dengan punggung tangan. Sementara dadanya terasa sangat sesak, akibat campuran duka yang ia rasakan dan dinginnya suhu Adachi.

 

 

Jaejoong sudah berjalan hampir 1.5 km menyusuri rute jalan Nomor 239, rasa lelah dan tubuh yang bergetar diabaikannya, yang dipikirkannya hanya berusaha untuk kabur dari kenyataan menyakitkan yang terus menghantamnya.

 

 

Ada seorang anak laki laki dalam balutan mantel biru muda dengan celana sepaha tampak berjalan dengan berpegangan tangan pada pinggang sang ibu dengan mata terpejam. Mendadak Jaejoong tersenyum lantas menyentuh perut datarnya.

 

 

“Kau harus kuat, tumbuhlah dengan sehat,” katanya dan air matanya mengalir dengan deras.

 

 

Jaejoong mulai terengah engah. Peluh mulai bercucuran membasahi pelipisnya dan kakinya mulai terasa kram. Ia berbelok kanan menuju rute jalan nomor 58, jembatan jalan Ogu, kemudian berbelok kiri di persimpangan menuju taman Toneri.

 

 

Ia mendudukan dirinya di sebuah bangku taman menghadap danau, riak air yang tenang seolah tidak menenangkannya. Diambilnya beberapa kerikil kecil lantas dilemparkannya ke danau.

 

 

Lemparan batu pertama.

 

 

“Untuk kerinduanku pada Eomma,” pekik Jaejoong

 

 

Jaejoong memejamkan matanya erat-erat sebelum melemparkan batu kedua. “Untuk kerinduanku pada pada Appa,” katanya

 

 

Lemparan ketiga, dilemparkan Jaejoong dengan kuat hingga menimbulkan riak yang cukup besar.

 

 

“Untuk kerinduanku pada Hyunjoong Hyung. Aku sudah memaafkan kesalahanmu Hyung, maka hiduplah dengan kuat untuk melindungiku!” pekik Jaejoong.

Jaejoong menggenggam batu terakhir di tangannya dengan sangat erat, seolah begitu sulit untuk melepaskannya. Dadanya kembali sesak. Sesaat Jaejoong merasa ingin menyalahkan Tuhan atas perasaan cinta yang di alaminya. Sebuah perasaan cinta yang jatuh pada tempat, waktu, dan objek yang salah.

 

 

Jaejoong merasakan tubuhnya menggigil dengan hebat, lantas memeluk dirinya sendiri dengan isakan keras, lantas ia berteriak dengan keras. Permasalahan yang muncul berasal dari dirinya, ia terlalu naif untuk mengakui ketulusan Yunho. Jaejoong hanya tidak ingi menelan kekecewaan yang lebih dalam.

 

 

Jaejoong mengangkat tangannya ke atas, hendak bersiap melemparkan batu dalam genggamannya, namun yang ia rasakan hanyalah getaran dari tangannya yang seolah tak bertenaga. Jaejoong menggigit bibirnya dengan kuat lantas dilemparkannya batu itu dengan sekuat tenaga.

 

 

“Untuk rasa cintaku yang besar terhadap dia yang menjadi suamiku, Jung Yunho!” teriak Jaejoong dengan keras lantas ia kembali terisak pilu sambil mencengkram kuat dadanya.

 

 

OOO

 

 

Yuu mengendarai mobilnya dengan cepat, mengelilingi setiap pelosok Adachi. Setiap ruas jalan dan tempat yang sering ia kunjungi bersama Jaejoong. Berkali-kali ia mengumpat tertahan ketika perjalannya terhambat lampu merah atau kemacetan, sementara ponselnya terus menerus menghubungi Jaejoong, namun tidak pernah ada jawaban.

 

 

“Kau di mana, Jae? Tolong angkat teleponku!” gumam Yuu frustasi.

 

 

Yuu tahu bahwa Jaejoong telah dimiliki seseorang, dan Yuu tahu bahwa berkilo-kilometer di luar sana ada seseorang yang juga mencari Jaejoong, namun ia tidak peduli. Ia hanya merasa bahwa Jaejoong sangat berarti dalam hidupnya, dan ia merasa hanya inilah yang bisa diperbuatnya, hanya ini lah yang bisa dilakukannya untuk orang yang dicintainya.

 

 

Yuu memarkirkan mobilnya di bawah pohon aksia, lantas berlari keluar mengelilingi taman kota, dan tidak menemukannya di sana.

 

 

“Kuso! Kami-sama, tolong beritahu aku, biarkan aku menemukannya kali ini saja,”

 

 

Yuu segera kembali menuju mobilnya, lantas memutar balik haluannya. Dan dengan kecepatan tinggi, ia menjalankan mobilnya menuju satu tempat terakhir yang pernah Jaejoong kunjungi, satu taman di dekat jembatan Ogu.

 

 

Yuu terus menerus menarik nafas panjang tanpa memutuskan doanya pada Tuhan. Lindungi Jaejoong, adalah kata yang terus digumamkannya berulang-ulang, seolah tengah merapalkan mantra.

 

 

Lima belas menit kemudian, ketika ia sampai di pintu masuk taman Toneri, Yuu segera memarkirkan mobilnya. Ia menghirup dalam dalam aroma lembab dari tanah dan aroma pahit kambium yang mengguar di sana.

 

 

Ia memeluk dirinya sendiri. Jika ia tak menemukan Jaejoong di sana maka ia tak tahu lagi ke mana harus mencari Jaejoong. Yuu tersenyum kecut, lantas mulai berjalan memasuki taman Toneri menuju satu sisi taman yang menjadi tempat rahasia bagi Jaejoong.

 

 

“Jae!” pekik Yuu spontan.

 

 

Dari kejauhan, dilihatnya Jaejoong tengah duduk dengan lemah di atas kursi taman dengan kedua tangan yang memeluk tubuhnya sendiri mengingat tak ada mantel tebal yang di kenakannya.

 

 

Yuu segera berlari dengan cepat, namun kemudian langkahnya terhenti di setengah jalan begitu kedua matanya menangkap sosok lain yang berlari mendekati Jaejoong dari arah yang berlawanan.

 

 

Yuu memaksakan dirinya untuk tersenyum, meski kemudian ia tertawa dengan keras menetap pemandangan di hadapannya. “Apa kau bahagia bersamanya, Jae? Beritahu aku! Dan kau Yunho-san, jagalah Jaejoong dengan baik. Mulai saat ini, jika kau mengecewakannya, maka aku akan merebutnya darimu!”

 

 

OOO

 

 

Yunho mencul di hadapan Jaejoong dengan terengah engah dan mata yang memerah dengan genangan buliran bening di pelupuknya. Dengan cepat dilepaskannya mantel yang dikenakannya dan dibungkuskannya pada tubuh Jaejoong yang semakin pucat.

 

 

“Jangan bertindak seperti ini lagi, kumohon. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Yunho memeluk Jaejoong dengan sangat erat, dilesakannya kepalanya pada pundak Jaejoong dan terisak di sana.

 

 

Yunho tersentak ketika merasakan sesuatu yang basah mengenai tengkuknya, dan ia semakin tersentak begitu merasakan tangan rapuh Jaejoong mengelus kepalanya dengan gerakan yang bergetar. Di angkat kepalanya perlahan, lantas di tatapnya Jaejoong. Betapa istrinya sangat cantik indah.

 

 

“Yunho, apa itu kau?” tanya Jaejoong dengan sebuah senyuman simpul, sementara air mata meleleh membasahi pipinya.

 

 

Yunho merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Itu adalah senyuman pertama Jaejoong untuknya. Diraupnya wajah Jaejoong, lantas didekatkan keningnya pada kening Jaejoong. Dan dikecup hidung bangirnya dengan sangat lembut.

 

 

“Jangan menangisi laki-laki brengsek sepertiku,” gumam Yunho pelan. “Namun aku sangat berterimakasih untuk senyumanmu. Apa kau tahu? Kau terlihat sangat cantik saat ini,”

 

 

“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanya Jaejoong lirih.

 

 

Yunho terisak dengan tempo yang lebih sering ketika didengarnya suara lirih Jaejoong dengan bibir keungu-unguan yang bergetar. “Kemana pun kau berlari aku akan mengejarmu, kemana pun kau pergi aku akan mencarimu, dan kemana pun kau bersembunyi aku akan menemukanmu,” jawab Yunho.

 

 

Senyuman tercetak semakin lebar di wajah pucat Jaejoong. “Terimakasih,” katanya lantas menarik Yunho ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu,”

 

 

Yunho balas memeluk Jaejoong dengan lebih erat sambil menciumi pundaknya berkali-kali. “Maka aku jauh lebih mencintaimu, Jae,” Yunho melepaskan pelukannya perlahan, lantas ditatapnya Jaejoong dalam-dalam. “Kalau begitu ayo kita pulang sekarang,” ajak Yunho.

 

 

Jaejoong menggeleng dalam senyumnya. “Kau pulanglah lebih dulu, aku akan menyusulmu. Aku tidak bisa pulang sekarang, karena aku tidak sanggup untuk berdiri,” gumam Jaejoong.

 

 

Yunho menggeleng dengan lebih keras. “Jika kau tidak bisa berdiri, maka ada aku yang selalu membantumu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada di sampingmu, dan semuanya akan baik baik saja.”

 

 

Yunho melingkarkan tangannya pada pinggang Jaejoong, berusaha membantunya untuk bangun, sementara mata Jaejoong semakin lama semakin meredup. “Celanaku basah,” lirik Jaejoong sambil menarik tangan Yunho dan meletakannya di pahanya.

 

 

“Jae!” Yunho membelalakan matanya.

 

 

“Aku malu harus pulang dengan kondisi seperti ini,” dan Jaejoong kehilangan kesadarannya.

 

 

“Jaejoong-ah!” Yunho berteriak histeris dengan keras ketika menyadari bahwa Jaejoong jatuh pingsan dan yang membuat celananya basah adalah darah yang terus mengalir dari selangkangannya.

 

 

Dalam kekalutannya, Yunho segera membawa Jaejoong dalam gendongannya menuju mobil, lantas mengendari mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit terdekat, rumah sakit Kinen.

 

 

TBC

 

 

I need feedback, please give me some review

See you on the last chap!

7 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 7

  1. Hufftt…akhirnya terucap juga tuh kata2 ‘I love you’ dan ‘I love you too’….mereka memamng ditakdirkan untuk bersama❤❤
    ditunggu chapter terakhirnya Author-nim, fighting! ^_^

  2. What? Darah?
    Semoga kandungan nya jaejoong baik baik aja yak..😥
    Akhirnya mereka berdua ungkapin perasaan mereka

    ga sabar nunggu lanjutanya
    fighting author!🙂

  3. jae mengakuinya juga, tapi kandungannya kenapa itu? kalau mau lahiran, air ketuban kan yg keluar, ahh… jgn bikin yun d anggap tdak bisa d pegang janjinya sama keluarg kim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s