IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 8


IN THE NAME OF LOVE

Chapter 8-Happy Ending

Created by Amee

.

.

.

 

 

Aku harus hidup. Aku harus kuat. Sekalipun banyak hal yang berusaha menjatuhkanku, aku harus bangkit. Aku akan berusaha menunjukkan bahwa tak akan ada hal yang mampu melemahkanku, kecuali kematian. Tapi aku tidak boleh mati, aku harus tetap hidup. Sekalipun bisikan kematian mendekatiku aku harus berusaha menjauhinya meski aku tak tahu bagaimana caranya. Aku harus tetap hidup, untuk anakku dan untuk suamiku, Jung Yunho.

 

.

 

 

Bau khas rumah sakit mengguar memenuhi rongga hidung. Bau obat-obatan yang membuat pening, dominasi warna putih di seluruh ruangan, serta bunyi berderak dari roda ranjang rawat yang didorong dengan tergesa-gesa menambah kegamangan Yunho.

 

 

Yunho berkali-kali meletakan genggaman kedua tangannya di dada, lantas memanjatkan doa-doa kudus, berharap Maria menjaga Jaejoong untuknya.

 

 

Yunho terus terisak dalam diam. punggungnya bergetar dan pundaknya turun karena kelelahan batin. Ia kehilangannya. Kehilangan calon bayinya. Dan ia adalah penyebabnya. Yunho terus mengutuk dirinya sendiri. Dan tangis Yunho kian dalam ketika mengingat Jaejoong, mengingat kondisi istrinya saat ini dan membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Yunho tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Jaejoong kemudian. Ia tidak sanggup jika Jaejoong semakin membencinya. Ia mencintainya, sungguh.

 

 

Yunho ingin menjerit, tapi tidak bisa. Rasanya lebih baik jika ia tidak pernah ada di dunia, dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti. Yunho mengeram keras. Ia benar-benar lelah.

 

 

Buku-buku jarinya memerah memar karena berkali-kali Yunho meninju dinding untuk melenyapkan emosinya. Ia bahkan menggigit bibirnya kuat-kuat untuk memedam teriakan yang ingin ia lepaskan. Yunho menggigit bibirnya dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas berwarna merah keunguan, bahkan ada sebuah sobekan di ujungnya. Rasanya sakit, benar-benar sakit, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesakitan yang ia rasakan dalam hatinya.

 

 

“Bodoh!” sekali lagi Yunho meninju tembok dengan sangat keras hingga seolah ruas-ruas jarinya akan remuk.

 

 

Dibalikan tubuhnya, disandarkan pada tembok lantas jatuh merosot. Yunho memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ia menangis di sana. Terisak dengan keras. Memanggil-manggil nama Jaejoong dengan sendu di setiap helaan nafasnya. Tubuh kekar itu tampak sangat ringkih, benar benar lelah.

 

 

Yunho benar-benar tampak seperti seorang frustasi. Rambutnya berantakan. Sementara wajahnya memerah dan matanya tampak sayu karena terlalu lama terisak. Bibirnya keunguan dengan darah yang mengering di sudutnya. sementara pakaiannya tampak kusut dan dipenuhi noda darah karena ia mengangkat tubuh Jaejoong dengan tergesa-gesa.

 

 

Pintu ruang rawat Jaejoong terbuka. Seorang dokter dan dua orang suster keluar. Yunho ingin berdiri namun ia kehilangan tenaganya, bahkan untuk menoleh saja rasanya tidak mampu.

 

 

Dokter Han tersenyum kecut menatap Yunho, ia sangat mengerti kondisi seperti ini, ia masih muda dan ia juga memiliki seorang istri. Ia lantas memberikan isyarat kepada suster di belakangnya untuk pergi lebih dulu.

 

 

Dokter Han menarik nafas dalam, lantas berusaha memasang wajah datar karena ia tahu Yunho tidak akan senang dikasihani.

 

 

“Jung-san,” ujar Dokter Han sambil menyentuh pundak Yunho.

 

 

Yunho berusaha untuk menoleh namun tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya ingin tidur di samping Jaejoong dan memeluknya dengan sangat erat. Namun ia terlalu lelah.

 

 

“Berdirilah,” gumam dokter Han, dibantunya Yunho untuk berdiri lantas perlahan didudukannya pada kursi. “Kau tampak sangat lelah. Sebagai seorang dokter, aku menyarankanmu untuk melakukan pemeriksaan juga,”

 

 

Yunho memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku baik-baik saja,”

 

 

“Kau tidak baik-baik saja,” sela Dokter Han cepat. “Kau memerlukan perawatan,”

 

 

“Aku baik-baik saja,” ulang Yunho.

 

 

“Jika kau tumbang akan sangat buruk. Kau tidak perlu berpura-pura kuat, kondisi fisikmu benar-benar dalam keadaan lemah. Sebagai tenaga medis, aku sangat mengetahuinya,”

 

 

“Aku baik-baik saja,”

 

 

“Baiklah, kali ini sebagai seorang lelaki aku mengingatkanmu. Kau tidak boleh tumbang di sini, istrimu membutuhkanmu, jika kau memaksakan diri dan colaps, tidak akan ada yang menjaganya,”

 

 

Mendadak Yunho mengingat Jaejoong. Ditatapnya dokter Han dengan mata terbelalak sempurna, lantas dicobanya untuk berdiri. Yunho hampir jatuh ketika kedua kakinya seolah kehilangan tenaga, namun cepat-cepat ia menyangga tubuhnya dengan berpegangan pada tembok.

 

 

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu, aku baik-baik saja,” gumam Yunho.

 

 

Yunho berusaha berjalan dengan berpegangan pada tembok. Ketika sampai di ambang pintu, ia menghentikan langkahnya, lantas menolehkan kepalanya ke arah Dokter Han sementara telunjuknya ia arahkan pada Jaejoong.

 

 

“Itu istriku, Jung Jaejoong. Bukankah dia sangat cantik?” Yunho tersenyum getir.

 

 

“Ya, dia sangat cantik. Kau sangat beruntung memilikinya,” jawab Dokter Han cepat.

 

 

“Ya, tapi aku menghancurkannya sebelum ini dan aku menghancurkannya lagi kali ini,”

 

 

“Ketika kau menghancurkannya, kau berusaha memperbaikinya setelahnya. Dia bahagia bersamamu,”

 

 

“Terimakasih, tapi kau tidak tahu apa-apa.” Yunho mengalihkan perhatiannya pada Jaejoong yang terbaring tenang dengan wajah pucat di atas ranjang rawat, dengan pergelangan tangan yang tersambung dengan selang infus. “Bagaimana keadaannya?” tanya Yunho.

 

 

“Dia baik-baik saja, istrimu sangat kuat. Dia sedang tertidur sekarang. Ia akan terbangun sekitar setengah jam lagi ketika reaksi obat biusnya telah habis,”

 

 

“Aku ingin menyentuhnya,” gumam Yunho, berusaha menyeret kakinya yang kehilangan tenaga.

 

 

“Maka masuklah, aku yakin dia juga menginginkan kau berada di sampingnya untuk menjaganya,”

 

 

Yunho mengangguk, mendadak muncul kekuatan di dalam dirinya sehingga ia mampu menghampiri Jaejoong dengan sangat cepat. Ia duduk di tepi ranjang, disibakkan poni Jaejoong yang menutupi dahi dan matanya, lantas dikecupnya kening Jaejoong berulang-ulang, di tengah tengah isakan Yunho. Sesekali Yunho menyeka air matanya yang membasahi kening Jaejoong dengan sangat lembut seolah tak ingin melukai kulit halusnya.

 

 

“Aku sangat lemah saat ini, Jae. Jika kau bangun nanti, kau akan melihat seorang laki-laki ringkih yang terus menangis terisak. Rasanya memalukan, tapi aku tidak menyesalinya, air mata ini jatuh untukmu,”

 

 

Yunho menyeka air matanya dengan kasar lantas tertawa sarkastik. Disentuhnya perut rata Jaejoong perlahan, lantas diciumnya lama-lama.

 

 

“Terimakasih telah mengandung anakku dengan sangat baik, meski kau tak sempat melahirkannya,” Yunho menggenggam tangan Jaejoong dengan sangat erat.

 

 

Pintu ruangan terbuka lantas tertutup dengan sangat cepat hingga Yunho tidak menyadarinya, hingga terdengar suara benturan sol sepatu dengan langkah yang terdengar tergesa gesa.

 

 

“Jung Yunho!” Yunho segera menoleh ketika mendengar namanya di sebut, dan sebuah tamparan keras segera mendarat di pipinya.

 

 

“Apa yang sudah kau lakukan pada putraku? Ini yang kau katakan ingin menjaganya?” jerit Jihyun keras. sementara di sampinya Kyumin berdiri dengan wajah arogan.

 

 

“Maafkan aku,” Yunho menunduk dalam-dalam, ketika rasa bersalah semakin menghujamnya.

 

 

“Ya, ini memang salahmu, seharusnya aku tidak pernah menyetujui pernikahan kalian, seharusnya aku tidak pernah mempercayaimu, dan seharusnya aku yang menjaga Joongie, bukan menyerahkannya padamu!” pekik Jihyun keras, lebih menyakitkan daripada sebuah tamparan bagi Yunho.

 

 

Kyumin merangkul istrinya, sementara tatapan tajam ia layangkan pada Yunho. “Berhenti membuang tenagamu untuk meneriakan kata-kata tidak berguna seperti itu,” katanya. “Kita pergi ke Jepang bukan untuk memainkan drama picisan seperti ini,” tambahnya.

 

 

Jihyun mendadak tersentak, seolah sadar ia cepat cepat melirik Jaejoong yang tergeletak di atas ranjang, sementara Yunho menekan dan memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak.

 

 

Jihyun menjerit keras lantas dipeluknya tubuh ringkih Jaejoong dan diciumi pipinya berkali-kali. Wanita itu menyentuh apa saja yang bisa disentuhnya, tangan pipi, kepala, perut, paha, seolah ingin memberikan energi positif pada putra bungsunya.

 

 

“Bagian mana yang terasa sakit sayang? Eomma akan mengobatinya untukmu,” gumam Jihyun pelan sambil mengelus lembut kedua lengan Jaejoong. “Apa yang terjadi pada anakku?” lirih Jihyun.

 

 

Yunho berusaha membuka glotisnya sehingga suara dapat keluar dari mulutnya, meski sesungguhnya ia tak ingin mengucapkannya. “Ia keguguran,” jawab Yunho parau, dan seketika saja Yunho ingin menghantamkan kepalanya ke tembok ketika mengingat bahwa ia tidak bisa menjaga Jaejoong.

 

 

“Itu bagus,” ujar Kyumin datar.

 

 

“Apa?” sela Yunho cepat, mendadak ia kehilangan detak jantungnya, dan hanya menyisakan gumpalan emosi sehingga giginya bergemelatukan.

 

 

“Itu bagus,” ulang Kyumin.

 

 

“Apa yang kau katakan? Kau seperti iblis! Berhenti besikap kejam dan egois!” pekik Yunho lantas ditariknya kerah Kyumin dengan mata yang membelalak merah menahan emosi. Namun dengan cepat Kyumin menghempaskannya.

 

 

“Jangan bersikap kurang ajar, kau ingat siapa aku? Jangan berlaku seperti seorang penjilat murahan!”

 

 

Kata-kata Kyumin seolah menekan Yunho semakin dalam ke dalam jurang kesalahan. Yunho tertawa dengan getir yang kemudian berubah menjadi sebuah isakan yang semakin lama semakin keras. pundak dan punggungnya bergetar dengan hebat. Yunho bersimpuh dengan kedua lutut menopang tubuhnya, lantas ia mulai berlutut sambil memegangi kedua kaki Kyumin.

 

 

“Aboeji, jeongmal mianhae,” Yunho menelan ludahnya dengan susah payah. “Aboeji, aku tidak akan memintamu untuk memaafkanku, tapi kumohon berhenti mengatakan hal menyakitkan seperti. Aboeji, aku tahu kau membenciku dan aku tahu kau sangat mengutuk perbuatanku, tapi aku sudah cukup merasa sakit, aku kehilangan anakku, dan Jaejoong akan jauh merasakan sakit yang lebih dari apanyang kurasakan. Aboeji, kumohon padamu, bermurah hatilah. Kumohon, tolong permudah kami,”

 

 

Ketika Kyumin hendak menghentakan kakinya, Jihyun lebih dulu mengangkat tubuh Yunho lantas memeluknya, membiarkan kepala Yunho bersadar di pundaknya. Ditepuk-tepuknya pundak Yunho penuh kasih sayang.

 

 

“Tidak apa-apa semuanya akan baik baik saja. Aku ada untuk kalian,” Jihyun berusaha menenangkan Yunho. “Maaf karena aku sempat terpancing emosi, aku hanya takut kehilangan Jaejoong. Kau harus kuat Yun, aku mempercayakan Jaejoongku padamu, karena itu kau harus kuat,”

 

 

Yunho tidak menjawab, ia hanya terus terisak menumpahkan semua kesakitan di dalam dirinya. Sejujurnya ia ingin melupakan hal ini, ia ingin melepaskan semua mimpi buruk yang terus menghampirinya.

 

 

“Eomma,” terdengar suara lirih Jaejoong.

 

 

Yunho cepat cepat melepaskan pelukannya lantas menghampiri Jaejoong. Diciuminya Jaejoong, lantas dipeluknya dengan sangat erat namun lembut. Ditenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher Jaejoong, lantas menghirup dalam dalam aroma khas yang keluat dari tubuh istrinya.

 

 

“Kau sudah bangun sayang. Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa sakit?” Yunho menggenggam tangan Jaejoong dengan sangat erat.

 

 

Jaejoong menggeleng dengan cepat, lantas memaksaka diri untuk tersenyum. “Aku tidak pernah merasa sebaik ini,” jawab Jaejoong, pada detik berikutnya ia mengeryitkan dahinya, merasakan seauatu yang salah terjadi pada dirinya. “Perutku rasanya kosong,” gumam Jaejoong.

 

 

“Kau bertambah langsing sekarang,” jawab Yunho dengan mata sembab.

 

 

“Apa tidak apa-apa tubuhku seperti ini? Apa bayinya akan merasa nyaman? Apa bayinya tidak akan merasa bahwa di dalam terlalu sempit?”

 

 

Yunho menggeleng dengan keras lantas terisak. Dilepaskan genggaman tangannya lantas berdiri dengan kepala menengadah menatap langit-langit, menahan air mata agar tidak jatuh meski sia-sia. “Tidak akan Jae, bayinya sudah dipindahkan ke tempat yang lebih nyaman,”

 

 

“Benarkah? Dokter bisa melakukannya? Di mana? Aku ingin melihatnya,”

 

 

“Kau tidak bisa melihatnya, Jae, dia di tempat yang sangat aman dan tidak tersentuh. Dia di sisi Tuhan, dijaga para malaikat,” Yunho terus menatap langit-langit tidak berani untuk menatap Jaejoong.

 

 

Jihyun cepat-cepat memeluk Jaejoong ketika melihat tubuh putranya mulai bergetar dan air mata jatuh membasahi pipinya.

 

 

Jaejoong tertawa sarkastik. “Jangan membuat lelucon tidak lucu seperti itu,” gumam Jaejoong. Ketika semua yang ada di dalam ruangan terdiam, Jaejoong mulai terisak dengan keras dan pada detik berikutnya ia menjerit-jerit histeris dan meraung-raung dengan suara yang begitu menyayat.

 

 

Jihyun memeluk Jaejoong dengan sangat erat, menangis bersama dalam pelukan hangat yang terasa menyakitka. Sementara Yunho terusak dengan keras tak jauh dari ranjang Jaejoong sambil memukul-mukul tembok saking frustasi.

 

 

“Jangan menangis sayang. Berhenti meneteskan air mata seperti ini. Anakmu akan sedih di sana, ia tidak akan bisa lepas bermain main dengan malaikat jika kau terus menangisnya,” Jihyun melepaskan pelukannya perlahan, lantas dihapusnya air mata Jaejoong dengan perlahan.

 

 

Jaejoong mengangguk meaki air matanya masih terus keluar. Rasanya sangat menyakutkan ketika kau kehilangan calon anak yang selalu kau impikan kelahirannya.

 

 

“Yun, kuatkan Jaejoong,” gumam Jihyun. Wanita itu berusaha untuk bersikap tegarm Ia harus kuat untuk dapat menguatkan putranya. Dilangkahkan kakinya menuju Kyumin yang hanya berdiri dengan angkuh tanpa ekspresi sekitar dua meter dari ranjang Jaejoong. “Kita akan pulang bersama mereka ke Korea,”

 

 

“Apa kau sudah gila?” balas Kyumin cepat.

 

 

“Kau yang gila. Alasan apalagi yang membuatmu menahan mereka di Jepang? Kehamilan? Tidak ada!” pekik Jihyun.

 

 

“Lakukan apa maumu,” balas Kyumin lantas berbalik pergi meninggalkan ruangan.

 

 

Jaejoong terus terisak, hingga ia tidak menyadari kepergian Kyumin, sementara Yunho terus berusaha menguatkan Jaejoong. Menggenggam tangan, memeluk, mencium, atau apa saja yang ia rasa bisa membuat Jaejoong tenang.

 

 

“Yun, aku menghilangkan anak kita,” lirih Jaejoong.

 

 

“Kau tidak menghilangkannya,” jawab Yunho sambil mengelus kepala Jaejoong.

 

 

“Tapi dia pergi, aku tidak bisa menahannya. Aku tidak bisa menjaganya,”

 

 

“Dia hanya sedang bermain-main di surga. Tuhan sedang ingin ditemani oleh seorang malaikat mungil, karena itu Tuhan meminjamnya. Ia akan mengembalikannya lagi pada kita nanti,”

 

 

“Aku akan merindukannya. Aku bahkan belum sempat melihatnya,”

 

 

“Berdoalah, agar ia cepat kembali sehingga kau bisa melihatnya dan kita bisa bermain bersama sama. Kau ingin kita melakukan apa? Kita akan melakukan semua yang kau mau,”

 

 

“Apa saja, selama itu kita,”

 

 

Dan Jaejoong kembali terisak dalam pelukan Yunho hingga ia merasa lelah dan tertidur.

 

 

OOO

 

 

Kinen Hospital, 7 days later.

 

 

Yunho duduk di tepi ranjang Jaejoong sambil mengupas sebuah apel, sementara Jaejoong terus mengamati Yunho. Ia berusaha melepaskan apa yang hilang meski pada waktu tertentu denyutan rasa sakit itu masih terasa dalam hatinya.

 

 

“Kita akan kembali ke Seoul, Yun?” tanya Jaejoong pelan.

 

 

“Ya, kau… maksudku kita, lita bisa berkumpul dengan keluargamu, bukankah kau merindukan mereka?” jawab Yunho.

 

 

“Aku tidak ingin pergi,”

 

 

Yunho menatap Jaejoong dengan cepat. “Ada apa sayang?”

 

 

“Aku tidak ingin meninggalkan anakku di sini.”

 

 

“Tidak akan ada yang meninggalkan dan ditinggalkan. Anak kita akan selalu ada bersama kita, di dalam sini,” Yunho menyentuh dada Jaejoong perlahan.

 

 

“Terimakasih,” Jaejoong tersenyum. “Kita akan mengadakan pesta pernikahan di sana?” tanya Jaejoong lagi.

 

 

“Itu yang kudengar, ada apa? Pesta seperti apa yang kau inginkan? Aku akan berusaha mewujudkannya untukku,”

 

 

“Jika bisa…”

 

 

“Apa?”

 

 

“Aku tidak menginginkan pesta,”

 

 

Sekali lagi Yunho menatap Jaejoong dalam-dalam. Diletakan pisau dan apel di atas nakas tanpa melanjutkan mengupasnya.

 

 

“Katakan apa yang mengganggu pikiranmu, Jae,” pinta Yunho.

 

 

“Aku hanya merasa aneh. Pesta pernikahan ya? Aku bahkan lupa kapan kita mengucapkan ikrar pernikahan. Bahkan aku sudah kehilangan anakku, dan aku baru akan menjalani pesta pernikahan, rasanya asing,”

 

 

Yunho menaikan ranjang rawat Jaejoong hingga Jaejoong berada dalam posisi duduk. Disibakannya selimut putih yang menutupi tubuh Jaejoong lantas dipasangkannya di kepala Jaejoong layaknya sebuah tutup kepala pengantin.

 

 

Digenggam tangan Jaejoong dengan sangat elegan, lantas dicium punggung tangannya, kanan dan kiri secara bergantian. lantas dengan suara baritonnya, Yunho mulai membawakan sebuah lagu milik Yurisangja, “To My Bride”.

 

 

The pure white dress, shy steps,

dreamy expectations

 

 

My precious you who is standing beside me, and trusting me

 

 

When the cold stares try to stop us, it’s sad but,

 

 

In no time, you wrapped me up with your love

 

 

Days of suffering caused neither by you nor I, which you endured.

 

 

No more tears will we share, I promise you

 

 

Dazzling morning, scent of afternoon, and dark night skies

 

 

Are all beautiful

 

 

Because there’s you here by my side

 

 

All joy and sadness and love in the world

 

 

I had found someone to share

 

 

No more loneliness will be, I promise you

 

 

The hardships you suffered, I will turn them into abundance of happiness

 

 

For you

 

 

The laughing face and happiness, just like now

 

 

Please keep giving me them in the future

 

 

“Di hadapan Tuhan aku mengakui bahwa kau, Kim Jaejoong adalah isteriku. Aku berjanji akan senantiasa mengasihi dan menolongmu dan setia baik di dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit sesuai dengan kewajiban seorang suami yang sampai maut meisahkan kita.” ujar Yunho lantang.

 

 

Jaejoong meneteskan air matanya penuh haru. Yunho menarik tengkuk Jaejoong, lanta disentuhkan bibirnya san bibir Jaejoong. Keduanya terjebak dalam suatu kecupan yang mesra.

 

 

“Aku mencintaimu,” gumam Jaejoong.

 

 

“Dan aku lebih-lebih mencintaimu,” jawab Yunho.

 

 

OOO

 

 

  1. Korea Selatan

 

 

Sebuah pesta pernikahan mewah putra bungsu keluarga Kim di gelar di Park Hyatt Hotel.

 

 

Ratusan pejabat dan pengusaha besar hadir dalam acara itu, pun berbagai nitizen dan para pengejar berita internasional, semuanya berlomba untuk mendapatkan gambar terbaik dari pasangan Jung Yunho dan Kim Jaejoong.

 

 

Setelah melewati seharian menerima tamu, tiba saatnya gelaran konferensi pers. Jaejoong merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat sampai ia merasa sulit untuk bernafas. digenggamnyabtangan Yunho dengan sangat erat, dan Yunho balas mengenggamnya sembari melemparkan sebuah senyuman.

 

 

“Jaejoong ssi, apakah anda mencintai Jung Yunho?”

 

 

“Aku sangat mencintainya,” jawab Jaejoong pasti.

 

 

“Apa Jung Yunho adalah tipe ideal anda? Selama ini kami tidak pernah anda menjalin hubungan dengan siapapun,”

 

 

“Jung Yunho adalah pria yang bertanggung jawab dan sangat lembut dan aku merasa sangat nyaman karenanya,”

 

 

“Pertanyaan terakhir, apa alasan kalian menyembunyikan pernikahan hingga hampir tiga bulan?”

 

 

“Itu.. karena.. itu..” jawab Jaejoong gugup.

 

 

Yunho menggenggam tangan Jaejoong jauh lebih erat lantas mengambil alih pertanyaan. “Itu karena aku berasal dari keluarga biasa. Aku yang meminta Jaejoong untuk menyembunyikan pernikahan kami. Aku tidak ingin dianggap sebagai laki-laki rendahan yang menikahi seorang anak bungsu dari keluarga kaya untuk kepentingan harta dan tahta. Karena itu kami menyembunyikan pernikahan ini, selama itu aku berusaha melakukan yang terbaik untuk menunjukan diriku, dan ketika aku berhasil dengan upayaku, aku baru berani menunjukannya pada publik,”

 

 

Semua yang berada di sana segera memberikan applause secara bersamaan, sementara Jaejoong menatap Yunho dengan pandangan penuh cinta.

 

 

“Silahkan tunjukan cinta kalian,”

 

 

Yunho segera menarik Jaejoong ke dalam pelukannya lantas mengecup bibirnya dengan menekannya dalam, mata keduanya terpejam dan blitz kamera mulai ditembakan secara bergantian.

 

 

Pada akhirnya segala sesuatu yang dilandasi cinta akan berakhit dengan bahagia. Atas nama cinta, takdir yang berliku dan terjal bahkan bisa berubah wujud menjadi gumpalan kapas yang halus.

 

 

END

 

 

I NEED FEED BACK. PLEASE GIVE ME SOME REVIEW

SEE YOU ON THE OTHER STORY

 

 

Rencananya mau bikin sequel NC . Perlu atau engga? engga ya? yabudah ga jadi

LOL

6 thoughts on “IN THE NAME OF LOVE/ YUNJAE/ CHAPTER 8

  1. akhir yg bahagia walopun awalnya bener2 bikin nyesek dada
    astaga aku ga percaya akhirnya yunjae bahagia juga huuaaaa lega
    ending yg manis dan keren meski kurang panjang hehehehe

    menunggu sequelnya!!!!!!
    jjang SEMANGAT!!

  2. Ahhhh akhirnya happy ending😀
    Yunjae kehilangan bayinya, tapi mereka mendapatkan cinta dan kehidupan yang lebih baik🙂
    Lope lope diudara author nim *kecup*

  3. Kayanya udah telat banget buat nimbrung ngomen hehe
    Tapi gapapa bentuk apresiasi sama author, aku baru nemuin blog ini :(((
    Btw sedih banget iiniii ampe mewek wkwk
    Tapi gapapa klo akhirnya happy \:D/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s